Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 107


__ADS_3

Karamel bangun saat siang hari karena bik Asih terus menggedor pintu kamarnya, dan setelah Karamel membuka pintu, bik Asih mengatakan sang mama menyuruh bik Asih untuk membangunkannya karena harus makan siang.


Karamel mendengus tapi ia menurut saja dan turun ke bawah untuk makan siang, selesai makan Karamel naik lagi ke kamarnya dan menunaikan ibadah salat zuhur.


Setelah selesai Karamel kembali berbaring di tempat tidur, niatnya hanya ingin berbaring saja tapi ternyata ia tertidur lagi, hingga pukul tujuh malam Karmel baru bangun dari tidurnya.


Karamel pergi dengan mobil BMW i8 miliknya menuju rumah sakit, setelah sampai rumah sakit Karamel langsung menuju ruangan perawatan Henry.


Karamel berdiri di luar ruangan perawatan Henry, "Kenapa gue nggak dengar suara apa-apa di dalem." gumam Karamel.


Karamel melirik para bodyguard Henry yang berjaga di luar ruangan, "Apa Tuan Nixon belum bangun?" gumamnya lagi.


Karamel berjalan mendekati salah satu bodyguard Henry, "Permisi, saya mau bertanya di mana Luhan?" tanya Karamel.


"Tuan Luhan sedang pergi ke kantor dengan Tuan Andi, Nona." sahut bodyguard itu.


"Kalo Luhan pergi, terus Henry gimana?" gumam Karamel perasaan yang bimbang.


"Bismillah," Karamel membuka pintu ruang perawatan Henry, kemudian di lihatnya Henry yang masih berbaring menutup mata. Glukk! Perlahan Karamel berjalan mendekati Henry, tubuhnya bergemetar.


"Apa dia belum bangun?" batin Karamel terduduk di kursi samping brankar Henry.


"Tuan Nixon?!" panggil Karamel namun tidak ada respon dari Henry kemudian Karamel menyentuh tangan Henry.


"Tu-Tuan?!" panggilnya lagi.


"Tuan apa anda mendengar suara saya?" lirih Karamel melepas genggaman tangannya.


Karamel membenamkan wajahnya di kasur brankar Henry, dirinya merasa bersalah sekarang, orang yang tidak ia kenal kini terluka karena dirinya, orang yang ia benci kini terbaring lemah di atas brankar karena dirinya.


"M A A F !!" kata maaf yang jarang sekali keluar dari mulut Karamel, kini ia ucapkan atas rasa bersalahnya kepada Henry.


Namun tiba-tiba kepala Karamel di sentuh oleh seseorang. Degg! Karamel terdiam sejenak lalu ia menyentuh tangan yang ada di kepalanya, tak lama kemudian Karamel mendongakan kepalanya.


"Tuan," gumam Karamel pelan.


Henry tersenyum tipis menatap Karamel, "Kau ... kau ...."


"Semua sudah beres Bos ... Nona." ucap Luhan pelan namun akhir kalimatnya langsung meninggi saat melihat Karamel.


.............


karamel terdiam beberapa jam, begitu juga dengan Luhan yang tidak mengeluarkan sepatah katapun, hingga dokter Gary datang memeriksa Henry pun Karamel dan Luhan tidak mengeluarkan suara.


"Saya ada urusan di luar jadi saya ...." Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena tangannya di genggam oleh Henry bahkan Henry juga menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya Bos tidak mau anda meninggalkan dia, Nona. Jadi saya mohon tetaplah di sini." ucap Luhan pelan.


"Tapi saya ...."


"Saya ada urusan di kantor, saya permisi Bos–Nona." pamit Luhan langsung keluar dari ruangan.


Awkward! Suasana ruangan menjadi hening, Karamel terus saja menunduk, ia tidak mau bertatap muka dengan Henry yang pastinya sedang menatap dirinya.


"Maafkan saya, karena menyelamatkan saya, anda jadi terluka begini." ucap Karamel tulus.


Henry hanya tersenyum mendengar perkataan Karamel yang begitu lembut walau kata-katanya masih formal.


Seminggu kemudian, selama Henry di rumah sakit Karamel selalu setia merawat Henry. Ralat, wanita itu di paksa sang papa untuk merawat Henry hingga sekarang pun Karamel masih di rumah sakit menjaga Henry yang sedang tertidur.

__ADS_1


Karamel menatap lama wajah Henry hingga tanpa sadar Karamel tersenyum tipis, walau Leo yang paling ganteng tapi muka cowok mesum ini keliatan sedikit ... yeah


"Berkarisma," gumam Karamel.


Setelah Karamel mengucap kalimat 'Berkarisma,' tiba-tiba Henry tersenyum di buatnya, sehingga raut wajah Karamel yang tersenyum langsung berubah seketika.


"Astaga, jangan-jangan dia nggak tidur lagi," batin Karamel hendak melarikan diri namun sayang, gerakannya kalah cepat dengan Henry yang sudah menggenggam pergelangan tangannya.


"Kau harus bertanggung jawab karena sudah mengganggu tidurku, Kara." ucap Henry.


"Hah?" pekik Karamel menatap Henry sehingga Henry membuka kedua matanya.


"Kenapa wajahmu sangat merah? Apa kau merasa malu?" goda Henry menaik turunkan alisnya sehingga Karamel melepas paksa genggaman tangan Henry.


"Apa benar wajah saya memerah?" tanya Karamel menyentuh kedua pipinya, tapi ia tidak merasa panas di bagian pipinya lalu kenapa Henry mengatakan wajahnya memerah? Apa Henry berbohong? Apa Henry hanya menggoda dirinya saja?


"Kau ... apa kau mempermainkanku?" pekik Karamel membuat Henry tersenyum lebar karena tanpa sadar Karamel mengubah panggilannya.


"Jangan menatapku secara terang-terangan atau kau akan semakin terpesona dengan calon suamimu ini," goda Henry membuat Karamel menatap ke sembarang arah.


"Aku mencintaimu, Baby Girl." ucap Henry pelan


"Baby Girl?" batin Karamel.


"Jangan-jangan dia orangnya?" batin Karamel teringat akan bunga-bunga yang ia dapat di setiap harinya dengan tulisan 'Hai baby girl'


"Apa yang kau fikirkan, Kara?" tanya Henry membuyarkan lamunan Karamel.


"Tidak! Aku hanya ...."


"Hanya apa?" tanya Henry menyelidik.


"Kau mengingatnya." ucap Henry.


"Jadi benar itu kau?" selidik Karamel lagi.


"Iya, itu aku." ucap Henry.


"Menyebalkan, apa kau tau bunga-bunga yang kau berikan itu membuatku terganggu," sengit Karamel.


"Walau kau terganggu tapi kau tidak pernah membuangnya, kau justru memberikannya pada anak-anak secutity rumahmu," ucap Henry.


"Cih! Kau menguntiti diriku rupanya," ucap Karamel malas.


Henry terus menghela napas guser kala menahan diri untuk tidak memeluk atau bahkan mencium wanita yang menggemaskan di sampingnya ini.


"Aku tidak menguntitimu, Baby. Aku hanya menyelidikinya saja," sahut Henry.


"Oh iya, aku tidak mau bahas lagi." ucap Karamel datar.


"Aku menyelidiki semua tentang dirimu, Baby." ucap Henry tidak mau berhenti.


"Sudahlah, jangan di bahas lagi," pinta Karamel.


"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin bercerita masalah penyelidikanku tentang dirimu, Baby," goda Henry membuat Karamel jengah.


"Kau menyelidikinya, jika kau menyelidikinya kau pasti tahu aku pernah bertengkar dengan Leo karena kiriman bungamu itu, Tuan Nixon yang terhormat?" sengit Karamel dengan nada nyolot.


"Baiklah, jangan di bahas lagi ya." ucap Henry.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah kau yang memulainya? Dan bukankah sekarang kau bahagia melihat aku berpisah dari orang yang sangat aku cintai? Ohh! Atau jangan-jangan Leo meninggalkan aku karena dia marah denganku yang terus-menerus mendapatkan kiriman bunga darimu," tuduh Karamel.


Entahlah, Karamel sudah memperingati Henry untuk berhenti tapi Henry tidak mendengarkannya, Karamel merasa kesal sekarang, tidak tahu karena ucapan Henry atau karena berita yang Karamel baca semalam.


...Flasback on....


Setelah selesai makan malam, Karamel duduk di ruang keluarga dengan asik memainkan handphonenya.


"Berita terbaru dari CEO Rendra Agata dan juga tunangannya Jessy Mon Andrea yang sebentar lagi akan mengadakan pernikahan ...." Karamel yang membaca di dalam hati langsung berhenti seketika.


"Pe-pernikahan?" gumam Karamel gelagapan.


"Secepat itu?" pekik Karamel, tanpa mau tahu lebih lanjut berita tentang Leo, Karamel meletakan handphonenya di sofa ruang keluarga.


"Enggak, gue masih belum bisa tapi ...."


"Aku tahu, Tuhan udah punya rencana hidup untuk setiap umatnya tapi kenapa aku enggak bisa terima kalo kamu bakal jadi milik orang lain," gumam Karamel.


"Apa aku harus bisa ikhlas ngelepas kamu, Leo?" gumam Karamel menahan sesak di dadanya.


...Flasback off....


Masih di ruang yang sama, Henry tampak bingung dengan emosi Karmel yang tiba-tiba mengungkit so'al Leo.


"Kenapa kau mengatakan hal yang mustahil terjadi, Kara?" tanya Henry.


"Aku tidak punya masalah dengannya tapi tiba-tiba dia pergi tanpa ku ketahui sebabnya apa, dia pergi, Henry. Itu pasti karena kau, karena kau," lirih Karamel kembali meneteskan air matanya untuk Leo.


"Cintamu begitu besar pada Leo tapi kau dan Leo sudah tidak bisa bersama lagi, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, Kara." batin Henry tidak suka melihat Karamel menangisi Leo lagi.


"Kara, maafkan aku ...."


"Tidak! Jangan katakan maaf," potong Karamel, dia muak mendengar kata maaf dari mulut Henry, wanita itu berdiri dan hendak pergi namun Henry langsung meraih tangan Karamel dan menarik Karamel ke dalam pelukannya.


"Lepas ...."


"Sebentar, biarkan aku memelukmu sebentar saja," pinta Henry mengeratkan pelukannya.


Karamel terdiam dan tidak membalas pelukan Henry, hingga beberapa menit berlalu Henry tetap tidak mau melepaskan pelukannya.


"Di sini yang bersedih 'kan gue dan harusnya yang butuh pelukan 'kan gue, terus kenapa dia yang meluk gue." gerutu Karamel pelan namun Henry bisa mendengar itu.


"Jika kau butuh pelukan, maka balaslah pelukanku ini, Baby." bisik Henry tepat di telinga kanan Karamel, membuat Karamel terbelalak dan speechlees seketika.


Bukan! Bukan karena sahutan Henry yang membuat Karamel kaget tapi karena telinganya. Iya, bagian sensitifnya terkena hembusan napas Henry yang hangat.


"Fu*k!" pekik Karamel melepas paksa pelukannya dengan mendorong tubuh Henry.


"Aghhh ....!!!" ringis Henry memegangi bekas tembakan di dadanya yang terkena telapak tangan Karamel.


"Ck! Lemah," ejek Karamel tidak merasa kasihan sedikitpun.


"Aku akan panggilkan Dokter," ucap Karamel santai kemudian ia langsung keluar meninggalkan Henry yang sudah menahan perih di bagian dadanya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2