Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 65


__ADS_3

Tania menatap Faza lama, pria itu benar-benar serius ingin tahu semua hal tentang Tania membuat Tania berdecak kala dirinya sangat malas bercerita panjang namun jika dirinya tidak bercerita, Faza pasti akan mendesaknya terus-menerus.


"Kak Aldy pernah bilang tentang The Shadow Of The King and Queen?" tanya Tania ketus.


"Pernah, malahan SALF BADRAD jadi Sensei di sana," ucap Faza dan Tania mengangguk tahu akan hal itu.


"Kalian semua tahu The Shadow Of The King and Queen itu cuma perguruan tinggi karate doang? Nggak ada cerita lainnya atau apa gitu?" tanya Tania menyipitkan matanya.


"Soal Aldy dulunya jadi leader mafia The Shadow Of The King?" tanya Faza.


"SALF BADRAD tahu itu?" tanya Tania.


"Kayaknya cuma gue yang tahu," sahut Faza membuat Tania menghela napas lega.


"Waktu Kak Aldy jadi leader mafia, apa dia cerita soal nama dia?" tanya Tania.


"Enggak," jawab Faza.


"Bakal panjang nih ceritanya," ucap Tania.


"Singkat aja deh kalo gitu," kata Faza.


"Dulu waktu sd grandpa Berro maksa gue sama Kak Aldy buat latihan bela diri, kalo di fikir-fikir anak usia lima tahun itu enggak wajar di paksa buat belajar bela diri tapi grandpa Berro tetep maksa gue sama Kak Aldy buat belajar bela diri bahkan kita juga di ajarin senjata tajam," ucap Tania.


"Sampai pada akhirnya gue sama kak Aldy pisah gara-gara suatu hal, Paman Boy adalah anak dari sahabatnya grandpa Berro, beliau di beri tanggung jawab buat ngelatih Kak Aldy yang tinggal di Jakarta sedangkan gue di latih sendiri sama grandpa Berro di Amerika," ucap Tania lagi.


"Sampai sekitar umur kita sebelas atau dua belas tahunan lah ya gue lupa, gue sama Kak Aldy resmi jadi pimpinan mafia tapi gue lebih besar tanggung jawabnya ketimbang Kak Aldy karena gue tinggal di negara banyak musuh," ucap Tania.


"Hah! Lo leader mafia juga?" tanya Faza.


"Gue leader mafia The Shadow Of The Queen yang di kenal nomor dua di dunia," jawab Tania mengeraskan rahangnya.


Tania tampak kesal mengingat dulu ia ingin menjadikan The Shadow Of The Queen menjadi nomor satu di dunia tapi karena ada kemafiaan lain yang di akui kehebatan mereka oleh dunia, maka kemafiaan misterius itu menjadi kemafiaan nomor satu yang tiada tanding, padahal identitas mereka sangat tersembunyi dan tidak tahu siapa anggota mereka.


"Kenapa lo jadi kesel gini?" tanya Faza heran dengan tatapan membunuh Tania.


"Impian gue buat jadiin The Shadow Of The Queen nomor satu di dunia udah musnah, Za. Waktu itu mafia The King milik Kak Aldy udah gue buat di bawah The Queen milik gue tapi nggak tahunya ada mafia lain yang ngambil pimpinan tertinggi di dunia," ketus Tania.


"Polar prince," ucap Faza dan Tania menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Gitu banget ya dunia mafia, ngerebutin kekuasaan, serem banget sih Tan." ucap Faza.


"Cih! Ya emang serem tapi nggak semua kelompok mafia itu ngerebuti kekuasaan dengan cara ngebunuh kali Za, buktinya gue nggak pernah bunuh orang tapi gue sering nyiksa aja sih," imbuh Tania tanpa rasa bersalah.


"Gilak lo," ucap Faza.


"Mereka pantes dapatin hukuman karena mereka yang duluan buat masalah," sahut Tania.


"Cerita lo yang itu nggak usah di lanjut lagi, mending lo ceritain kenapa nama lo di ganti Kara aja." ucap Faza cepat.


"Nah itu dia, waktu gue sama Kak Aldy jadi leader mafia, nama kita berdua bukan Tania sama Aldy." ucap Tania.


"Jadi kalian pake nama samaran?" tanya Faza.


"Yang bener itu nama asli kita berdua adalag Karamel Listra Najasi Aramoy dan Kenziro Syaputra Ramoya Sinaja," ucap Tania.


"Jadi nama kalian yang sekarang ...."


"Yap! Nama Aldy sama Tania itu nama samaran kita di luar dunia gelap," potong Tania.


"Kak Aldy pernah nggak tunjukin hasil raport atau ijazah dia sama kalian?" tanya Tania.


"Nama yang tercantum di sana bukan Aldy tapi Kenziro, makanya dia nggak pernah kasih tunjuk kalian," ucap Tania.


"Lo udah tahu nama asli kita berdua, sekarang lo mau tahu kenapa gue kenalin diri gue sebagai Kara bukan Tania sama Aryan? Gue ngelakuin Itu karena gue nggak mau Aryan kenal tampilan gue yang asli dengan nama Tania, gue mau Aryan tahu muka asli gue sebagai Kara," jelas Tania.


"Jadi itu alasan lo," sahut Faza.


"Kara sama Ken, jadi lo berdua pake nama samaran sekarang dan sepupu kalian sendiri nggak di kasih tahu," sentak Faza membuat Tania melirik wajah Faza yang tampak jengkel.


"Lo kalo mau marah jangan sama gue, sama Kak Aldy sono, orang dia yang deket sama lo." ucap Tania.


"Siapa aja yang tahu nama asli kalian berdua?" tanya Faza meniak turunkan kepalanya.


"Banyaklah. Grandma, Grandpa, Kakek, Nenek, Mama, Papa, Firgy, Mika, Niky, Om Glenn, Tante Santi. Itu doang yang gue inget!" ucap Tania.


"Oh enggak ... ada satu lagi yang gue inget, Babas! dia salah satu orang yang tahu nama asli gue, bahkan dia juga buat nama panggilan yang spesial buat gue, maksudnya kayak nama panggilan sayang gitu." ucap Tania.


"Bunda sama Ayah tahu nama asli kalian?" pekik Faza dan di balas anggukan oleh Tania.

__ADS_1


"Babas siapa lo?" tanya Faza tiba-tiba.


"Sahabat," jawab Tania.


"Alah, pasti orang spesial ... oh atau jangan-jangan bener yang gue omongin kemaren, lo putus sama Leo karena ada cowok lain dan cowok itu si Babas lo itu 'kan?" tuduh Faza.


"Ck! Nyesel gue cerita sama ni anak." batin Tania jengkel karena setelah Tania cerita bagaimana ia bisa putus dengan Leo, Faza terus-terusan menuduh Tania memutuskan Leo pasti karena ada penggantinya.


"Babas itu sahabat masa kecil gue, Babas selalu bisa buat gue tenang di setiap gue lagi marah sama orang, walau dia tahu gue selalu di ajarin kekerasan sama Grandpa tapi dia nggak pernah takut sama gue." jelas Tania.


"Babas pergi waktu umur dia baru sepuluh tahun dan gue baru masuk delapan tahun, dia buat gue lupa akan wajah sama namanya," ucap Tania.


"Kalo lo nggak tahu namanya, kenapa lo manggil dia Babas?" tanya Faza.


"Babas itu nama panggilan gue buat dia, kalo nama aslinya gue lupa, lo tahu sendiri Za, anak umur delapan tahun pasti bakal mudah lupa sama masa kecilnya. Sebenarnya gue inget di setiap harinya gue selalu sama dia tapi entah kenapa gue lupa sama muka dia." jelas Tania.


"Umur delapan tahun ya? Sembilan, sepuluh, sebelas ... bentar lagi tujuh belas, sekitar delapan atau sembilan tahunan lo pisah sama dia, gimana nggak lupa coba udah delapan tahuanan pisah juga," ucal Faza panjang dan di balas anggukan oleh Tania.


"Udah sekalian lupain semuanya tentang dia, gampang 'kan." saran Faza bersandar di sofa.


"Itu dia masalahnya di saat gue udah mulai lupa sama dia, dia malah kembali." lirih Tania dengan tatapan kosong.


"Beberapa hari yang lalu dia nanyain kabar gue sambil manggil nama spesial dia buat gue," ucap lagi.


"Bilang sama gue, lo putus sama Leo karena dia kembali lagi ya?" selidik Faza menatap Tania.


"Babas kembali bukan berarti gue berharap bisa jadian sama dia, gue cuma pengen ketemu sama dia karena gue kengen sama dia, gue kangen cowok yang selalu bilang 'Gadis kecilku,' ke gue, gue kangen dia acak-acain rambut gue, gue kangen dia jitak jidat gue, gue kangen semua tentang dia, Za." ucap Tania.


"Apa gue salah, kangen sama dia kayak adik kangen sama kakaknya?" tanya Tania lirih.


"So'al gue putus sama Leo, dia yang duluan buat gue kecewa, gue bisa maafin dia tentang kesalah pahaman tentang Sasya dan dua budak perempuannya itu tapi susah buat gue ngilangin kekecewaan gue ke dia. Gue sama Kak Aldy aja yang notabenenya mantan leader mafia nggak pernah tuh nyakitin perasaan orang lain dengan cara main taruhan ataupun perselingkuhan. Lah dia, karena di tinggal pergi sama Sasya aja berubah jadi playboy gimana gue bisa terima coba, pemikiran dia itu loh, Za. Lo bayangin aja dia nyari pelampiasan sama para cewek-cewek yang mungkin bener-bener sayang sama dia, nggak punya perasaan banget, sumpah." kesal Tania nemun Faza menyipitkan matanya.


"Tapi gue tahu dari sorot mata lo, lo masih cinta sama dia, Ra." batin Faza tersenyum miring menatap wajah kesal Tania.


.......


.......


.......

__ADS_1


...,,, Bersambung ,,,...


__ADS_2