
"Babas," pekik Tania jengkel karena melihat isi amplop itu ada banyak foto-foto jeleknya, sungguh aib yang sangat memalukan.
"Siapa yang tahu foto itu selain aku? Sepertinya tidak ada, benar 'kan Kara?" tanyanya
Yeah, Babas sangat suka mengambil gambar Tanua di setiap harinya, dan inilah hasilnya foto Tania yang jelek dan dekil, persis seperti anak gelandangan. Ck! Memalukan!
"Sekarang percaya?" tanya Aryan.
"Em! Percaya." ucap Tania tersenyum tipis namun sialnya wajah Tania sedikit tertutup oleh rambut-rambut kecilnya hingga tangan Aryan bergerak untuk merapikan rambut Tania yang terus diterpa oleh angin malam.
"Cantik! Apa benar kau membuat dirimu menjadi dua orang yang berbeda karakter? Satu Tania dengan paras palsu dan satunya lagi Karamel yang asli?" tanya Aryan dan Tania hanya membalas anggukan kepalanya.
"Aku tertipu olehmu little girl," ucap Aryan.
"Jika kau muncul lebih awal, aku juga tidak akan mungkin berbohong denganmu, Bas." sahut Tania membuat raut wajah Aryan berubah sedih.
"Maafkan aku, Kara." lirih Aryan.
"Bagaimana pesta ulang tahun Kak Aldy?" tanya Tania lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kenapa kau tidak muncul di pesta ulang tahun kalian?" tanya Aryan balik.
"Apa kau mau tahu kenapa aku tidak muncul?" tanya Tania menyipitkan matanya.
"Kenapa?" tanya Aryan.
"Karena kau ah tidak, bukan kau tapi karena aku yang keras kepala, aku tidao mau di ganggu oleh banyaknya keterkejutan abanyak orang karena mengetahui identitas asliku maka dari itu aku mau mencari informasimu terlebih dahulu tapi ...."
"Apa kamu berdebat dengan Aldy?" tanya Aryan memotong cepat.
"Tidak juga tapi dia seperti sangat membencimu dan aku rasa itu terlalu berlebihan," sahut Tania.
Babas tersenyum kepada Tanua lalu dia merentangkan kedua tangannya ke arah wanita itu. Apa maksudnya? Apa dia menyuruh Tania untuk meneluknya? Benarkah itu?
"Apa kau tidak mau memelukku?" tanya Aryan akhirnya mengeluarkan suara karena Tania hanya diam menatapnya saja.
"Haruskah aku memelukmu?" Tania balik bertanya dan itu membuat Aryan langsung menarik tangan Tania dan memeluknya.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu gadis kecilku Karamoy," ucapnya terus mengelus lembut kepala Tania.
Tania bergeming dalam pelukkan Aryan hingga cukup lama mereka berpelukkan, Aryan melepaskan pelukkan mereka dan setelah itu ia mengecup lembut kening Tania.
"Maaf membuatmu menungguku, aku kira kau akan melupakan aku," ucapnya menempelkan keningnya pada kening Tania.
"Bas, apa kau mencintaiku?" tanya Tania ingin tahu bagaimana perasaan Aryan saat ini, beberapa tahun yang lalu sebelum Tania dekat dengan tangannya, ia lebih dulu dekat dan menjalin persahabatan dengan Aryan, apakah sekarang mereka akan sama seperti dulu menjadi dekat tanpa ada rasa suka sama suka?
"Menurutmu?" tanya Aryan.
"Jika aku bertanya cobalah untuk menjawab bukan malah balik bertanya," kesal Tania membuat Aryan kembali memeluk wanita itu.
"Aku sangat menyayangimu, Kara. Dan jauh dari lubuk hatiku kau adalah wanita yang paling spesial bagiku," ucap tulus.
"Apa itu artinya kau mencintaiku?" tanya Tania.
__ADS_1
"Oh little girl, apa kau bertanya seperti ini karena kau mencintaiku?" tanyanya balik sehingga Tania melepas peksa pelukkannya.
"Aku yang bertanya denganmu duluan, bisakah kau menjawab pertanyaanku tanpa harus bertanya balik, membuatku kesal saja." pekik wanita itu
"Ah'haaa! Kau lebih suka bertanya ternyata, baiklah aku akan menjawabnya, aku tidak mencintaimu karena di lubuk hatimu tidak terdapat diriku, benarkan?" ucapnya seperti lelucon.
"Tentu saja, aku tidak akan mungkin memberikan hati istimewaku ini pada laki-laki yang ingkar janji sepertimu," balas Tania seraya mengerutkan dahinya aneh.
"Apa? Aku ingkar janji apa?" sengitnya tanpa rasa bersalah.
"Delapan tahun bukanlah waktu sebentar bagimu untuk pergi jauh dariku," ucap Tania menggertakkan giginya kesal.
"Jangan salahkan aku, Kara. Keadaanlah yang memisahkan kita," elaknya.
"Jika aku tidak membalas pesanmu, kau pasti tidak akan kembali lagi padaku," ketus wanita itu.
"Kau salah besar, walau kau melupakan aku, aku akan tetap kembali jadi berbahagialah atas kembalinya diriku," sahutnya cepat.
"Woah! Aku sangat bahagia sekali, puas!" sentak Tania seraya memelotot kemudian ia membuang muka.
"Kurang keras," ucap Aryan membuat Tania menarik bahu Aryan untuk mendekat.
"Aku sangat bahagia, bahagia sekali, apa kau dengar itu. Dasar tuli!" pekik Tania tepat di daun telinga Aryan membuat pria itu menutup telinganya kuat bahkan matanya ikut terpejam.
"Menyebalkan," umpat Aryan.
"Oh," balas Tania menyudahi perdebatan kecil mereka. Seketika suasana menjadi hening! Namun beberapa detik kemudian mereka berdua kompak menertawai perdebatan receh mereka.
Inilah mereka, bersahabat namun tidak bisa damai ada saja permasalahan mereka sepele yang suka nereka besar-besarkan seperti anak kecil.
.........
"Masuk gih," ucap Aryan menepuk kepala Tania beberapa kali hingga beberapa siswi di buat iri karena melihat perlakuan lembut pria tampan itu.
"Peluk dulu tapi," ucap Aryan ketika Tania hendak melangkah ke arah koridor sekolah.
"Hm!" Tania pun memeluk Aryan sebentar hingga teriakkan histeris beberapa siswi membuat Tania cepat-cepat melepaskan pelukkannya.
"Udah, aku masuk sekarang ya," ucap Tania dan Aryan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya kemudian Tania berjalan menuju koridor sekolah.
"Cie! Makin lengket aja nih kayaknya sama Kak Aryan," goda Niky membuat Tania tersentak kaget, karena ketiga sahabatnya tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Iri tanda tak mampu," ejek Tania membuat ketiga sahabatnya membulatkan mata.
"Cih! Gue mah ada kalik," ucap Niky membuat ketiga sahabatnya langsung menatap penasaran ke arah Niky.
"Siapa?" tanya Tania.
"Kepo 'kan lo," ejek Niky.
"Niky bohong," ucap Mika.
"Mana ada gue bohong, gue emang udah ada kalik tapi ...."
__ADS_1
"Bertepuk sebelah tangan kah?" tanya Firgy membuat Tania dan Mika tertawa mengejek sedangkan Niky memasang wajah cemberut.
"Sembarangan aja kalo ngomong," sengit Niky namun mereka masih saja tertawa mengejek Niky seraya mereka bertiga berjalan menuju kelas.
Yeah! Beberapa hari yang lalu semua penghuni sekolahan di buat heboh kala Tania mengungkapkan persahabatannya dengan ketiga wanita yang di kenal sebagai perusuh di sekolahan, sekarang pun ada banyak siswa-siswi yang masih tidak percaya bahwa si cupu dan si jelek Tania memiliki sahabat baik dan cantik seperti Firgy, Niky dan Mika.
Namun itulah kenyataannya, Tania tidak mau lagi membuat sedih ketiga sahabatnya yang selalu merasa tidak di anggap oleh Tania maka dari itu Tania mengungkap persahabatan mereka berempat kepada semua orang.
.........
Di lapangan ada empat pria yang sedang asik bermain basket milik Leo namun salah satu dari mereka berhenti bermain kala dirinya melihat pemandangan yang sangat indah baginya, hingga Diky pun menghampiri Leo dan menepuk pundak pria itu.
"Pandangin apaan sih lo? Tania?" tanya Diky mengikuti arah mata Leo yang sedang tersenyum seraya memandang mantan kekasih pria itu.
"Bukannya beberapa hari ini lo di abaiin terus ya sama mantan pacar lo itu?" tanya Diky membuat raut wajah Leo menjadi suram.
"Semenjak deket sama Kak Aryan," pekik Rio seakan-akan sedang memanas-manasi sahabatnya itu tapi pria itu masih asik bermain basket dengan Abdi.
"Pengganti Leo nih ceritanya?" tanya Diky menatap Rio dan Rio menganggukkan kepalanya sekali.
"Patah hati dong ni sahabat kita," ucap Diky membuat Leo mengeraskan rahangnya seraya tangannya terkepal kuat, pria itu seakan-akan ingin memukul sesuatu agar bisa melampiaskan amarah yang selama beberapa hari ini ia pendam namun apa target yang harus oa gunakan, apakah Diky?
Leo melirik Diky yang berada di sampingnya, mulut pria itu komat-kamit mengasihani Leo membuat Leo semakin geram mendengar celotehan pria itu dan. Bugg! Leo memukul wajah Diky sekali hingga tubuh pria itu terpental ke hadapan Leo.
Abdi dan Rio sampai membulatkan mata kaget akan tindakkam yang di lakukan Leo kemudian mereka berdua berlari ke arah Leo dan Diky
"Erghh! Lo apa-apaan sih ...."
"Mulut lo bau pete makanya gue pukul, biar lo berhenti ngoceh," ucap Leo santai membuat Diky membulatkan matanya dan menutup mulutnya rapat, sedangkan Rio dan Abdi seketika langkah mereka terhenti dan malah tertawa terbahak-bahak kala mendengar kata-kata Leo.
Kemudua Leo pergi meninggalkan ketiga sahabatnya, sedangkan Abdi dan Rio berjalan mendekati Diky yang masih terduduk di lantai.
"Perasaan gue enggak makan pete dah," gumam Diky heran kenapa Leo bisa mengatakan mulutnya bau pete. Hah! Diky memeriksa mulutnya sendiri apakah memang bau pete atau tidak.
"Ternyata emang bauk ye! Eh enggak deng, ini mah bau surga bukan bau pete," ucap Diky sendirian.
"Makan pete berapa kilo lo?" ejek Abdi seraya dirinya dan Rio membantu Diky untuk bangkit dari tempat duduknya kemudian Diky menarik dasi kedua pria itu.
"Hah! Hah!" Diky menghembuskan bau mulutnya ke wajah Abdi dan Rio sehingga kedua pria itu berteriak histeris, dan Diky merasa sangat puas sampai dirinya tertawa terbahak-bahak.
"Jigong lo Diky bau ******," pekik Rio.
"Agh! Bisa-bisanya lo makan kotoran Ba*i, Dik." pekik Abdi pula membuat Diky menatap datar kedua sahabatnya itu.
"Sahabat biad*b lo berdua," ucap Diky.
"Elo yang biad*b, Anji*g!" pekik Rio dan Abdi kompak hingga perpaduan suara keras mereka berdua berhasil membuat telinga Diky berdengung.
.......
.......
.......
__ADS_1
.... Bersambung ....