
Hari ini adalah hari pertama sekolah rasanya tidak ada semangat baru, apalagi Karamel pisah kelas dengan Kenzi dan Faza tapi untungnya ada Adit dan Diky yang satu kelas dengan Karamel.
Karamel keluar dari mobil lalu berjalan menuju koridor sekolah tapi baru saja akan melangkah naik ke atas tangga tiba-tiba saja ada teriakan seseorang yang memanggil nama Karamel.
"Kara, oy Karamel," pakiknya hingga membuat Karamel menoleh ke belakang namun wanita itu hanya diam menatap seorang pria yang terngah berlari kencang ke arahnya.
"Woy !! Lo budek ya, di teriakin juga bukannya nyaut atau apa 'kek." sengitnya dengan nada kesal namun Karamel tetap diam saja.
"Kusut banget tu muka? Semangat dong, masa hari pertama sekolah udah hilang semangat aja lo," pekiknya lagi.
Inilah Aditya, saat Karamel sakit Adit selalu datang ke rumah dan terus merawat Karamel seperti anaknya sendiri, alasannya sih karena Karamel pingsan di pangkuan pria itu jadi dia ingin merawat Karamel sampai sembuh total.
Tapi setelah Karamel sembuh total, Adit masih sering datang ke rumah dan lihatlah sekarang saking sudah akrabnya dengan Karamel, dia sudah berani meneriaki Karamel tanpa rasa takut.
Karamel menghela napas panjang kemudian ia mengepal tangan kanannya dan mengangkatnya ke udara dengan loyo.
"Semangat," ucap Karamel pelan bahkan mungkin tidak terdengar suaranya, sontak Adit menganga karena melihat tingkah Karamel yang super mageran.
"Lembek banget lo," ejek Adit.
"Haiss," Karamel melirik tajam ke arah Adit namun Adit malah tersenyum dan merangkul bahu Karamel.
"Ke kelas bareng kita," ucap Adit langsung menarik Karamel menaiki tangga hingga ke tengah lapangan, kedua orang itu menjadi pusat perhatian.
"Lepasin tangan lo," sengit Karamel memukul tangan kanan Adit yang merangkulnya, wanita itu risih di pandang banyak murid.
"Suttt! Gue mau buat iri cowok-cowok sekolahan karena bisa sedekat ini sama primadona sekolahan, jadi diam dan ikutin aja permainannya," bisik Adit.
"Primadona?" gumam Karamel.
'Aku nggak suka lihat kamu jadi primadona sekolahan, mereka bakal mandangin muka kamu terus-terusan, aku enggak suka itu, kamu cuma milik aku!'
"Leo," gumam Karamel mengingat ucapan Leo saat di rooftop sekolah waktu itu, saat itu adalah pertemuan terakhir mereka berdua.
"Hah?! Siapa?" tanya Adit membuyarkan lamunan Karamel lalu ia melepas paksa tangan Adit.
"Gue nggak mau jadi primadona sekolahan, Leo nggak suka itu," ucap Karamel datar.
"Ya ya ya, bukan primadona sekolahan tapi tetep jadi idola sekolahan, apa bedanya coba." cibir Adit.
"Haisss," Karamel menatap tajam ke arah Adit membuat Adit terkekeh dan menarik tangan pergelangan tangan Karamel menuju kelas baru mereka.
..........
Dua minggu kemudian, Mika dan Biyan di pertemukan oleh Karamel di rumahnya, mereka saling berpelukkan, menangis bersama, saling berucap rindu satu sama lain. Walau pada akhirnya mereka akan berpisah lagi tapi mereka sudah berjanji akan saling mengabari lewat whatsapp.
Karamel menghela napas panjang lalu ia menutup buku hariannya dan menenggelamkan wajahnya di atas meja belajar, memejamkan mata dan membayangkan hari-hari indahnya bersama sang kekasih.
"I miss you so bad," gumam Karamel tanpa sadar merintihkan air matanya, wanita itu sangat merindukan kekasihnya.
"Apa yang buat Leo harus pergi ninggalin Ara," gumam Faza berdiri di ambang pintu kamar Karamel, pria itu menatap sedih adik sepupunya.
"Mungkin Leo juga terpaksa ninggalin Kara, secara kita tau bokap Leo terlalu tegas dan terlalu menuntut Leo buat jadi anak yang patuh sepatuh-patuhnya sama orang tua," ucap Kenzi seraya menatap sedih adik kesayangannya itu.
"Gue enggak bisa liat Ara kayak gini," ucap Faza langsung pergi dari pintu kamar Karamel, Faza paling tidak bisa melihat air mata adik sepupunya itu.
"Kakak kangen lo yang dulu, Kara," gumam Kenzi sebelum pergi menuyusul Faza.
.........
Dua bulan kemudian, Karamel melempar sepatunya sembarangan lalu ia duduk di sofa ruang keluarga dengan memasang raut wajah kesal.
Kenzi, Faza, Adit dan Diky yang baru saja datang menatap aneh ke arah Karamel, kemudian keempat pria itu berjalan masuk mendekati Karamel.
__ADS_1
"Kenapa lo? Kusut amat tu muka," tanya Adit duduk di samping sisi sebelah kanan Karamel.
"Tamu bulannya dateng kali," sahut Diky duduk di sofa lainnya, begitu juga Faza dan Kenzi.
"Lo pada kenal nggak sama kembarannya ulat bulu yang gatel, dia sekolah di SHSI, namanya Ula Cidel ... apalah itu gua gak terlalu inget?" tanya Karamel dengan nada tinggi seperti ingin marah, ya memang sebenarnya lagi marah sih.
"Enggak," jawab mereka kompak kecuali Diky karena pria itu sedang mager bicara.
"Kenapa emang?" tanya Faza.
"Kata tu cewek, kapten basket SHSI suka sama gue, makanya dia nyamperin gue sampai berani jambak rambut gue." ucap Karamel dengan penuh kekesalan.
"Danu suka sama lo?" pekik empat pemuda itu kompak membuat Karamel tersentak kaget.
"Danu? Danu siapa?" tanya Karamel.
"Sekolahan tante Sofia itu saingan sekolah kita, Ra, dan Danu itu saingannya Leo." ucap Faza dan di iyakan oleh Kenzi, Adit serta Diky.
"Gue, Rio sama Leo pernah beberapa kali berantem sama Danu karena tu cowok iri sama Leo yang selalu berhasil ngalahin team basket sekolahan mereka," ucap Diky membuat Karamel bangga akan kekasihnya yang mampu membuat orang lain iri.
"Terus juga ...."
"Udah, gue enggak mau denger," ucap Karamel kemudian berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.
Dengan raut muka yang masih kesal, Karamel menutup buku hariannya dan ia letakkan di atas nakas. Wanita itu membaringkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit atas kamarnya sebentar kemudian memejamkan matanya.
.........
Tiga bulan kemudian, di hari minggu ini, Karamel dan para sahabatnya serta anak-anak SALF BADRAD juga berencana ingin jalan-jalan ke Bandung, mereka semua membawa motor besar mereka masing-masing kecuali Niky dan Mika yang memakai mobil.
Hingga pada saat mereka sampai di Bandung, mereka semua bertemu dengan Biyan, Kevin dan Rendi. Alhasil ketiga pria itu ikut gabung mengelilingi kota Bandung.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam, sore-nya mereka sepakat untuk beristirahat di lapangan alun-alun Bandung, lagi-lagi saat mereka memarkirkan motor mereka, ada banyak mata yang memandang ke arah mereka apalagi saat helm full face mereka di buka. Ada puluhan ciwi-ciwi memandang penuh ketertarikan pada para pemuda tampan itu, ada juga yang memandang kagum Karamel dan Firgy yang ikut serta menggunakan motor besar bersama para pemuda-pemuda tampan itu.
"Gilak, cape banget," rengek Mika.
"Baru juga jalan-jalan sepuluh jam udah ngeluh aja lo," ejek Biyan mengacak-acak rambut adiknya.
"Lagian lo sama Niky 'kan naik mobil," tambah Biyan lagi, kini mencubit gemas pipi gemuk adiknya.
"Astaga kak Biyan, di Singapura, Kanada dan Jakarta kerjaan gue cuma jalan ke mall doang dan Ini pengalaman pertama gue jalan-jalan keliling kota besar kayak gini jadi wajar dong kalo gue ngeluh kecapean," ceplos Mika pada sang kakak.
"Ngerengek aja sama Rio, jangan sama gue," tunjuk Biyan membuat yang lainnya terkejut kecuali Diky dan Adit yang terlihat santai memakan kacang-kacangan.
"Apaan sih lo," sengit Mika memelotot.
"Lah, bukannya lo sering chat ... hamppp." Biyan tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Mika sudah membungkam mulut sang kakak.
"Cieeee! Yang sering chatan," goda Bobby.
"Ternyata si Rio diam-diam pandai menggoda juga," ucap Dito ikut menimpali.
"Gue nggak pernah goda cewek," sengit Rio seraya memelotot.
"Ehem ehem! Masa pendekatan mode on nih," tambah Bobby membuat Rio diam agar mereka semua berhenti menggoda mereka tapi lain dengan si mulut besar, Mika.
"Pendekatan apaan coba, orang dia-nya aja udah punya tunangan," ketus Mika seraya melepas tangannya dari mulut sang kakak.
"Anj*y! Mika bisa cemburu juga," goda Adit mulai mengeluarkan suaranya, sehingga Rio dan Mika menjadi was-was. Ada apa kah gerangan?
"Ternyata si cerewet jatuh cinta sama si muka datar, si muka datar cinta nggak nih sama si cerewet? Pasti cinta dong," timpal Diky semakin membuat Rio dan Mika semakin salah tingkah.
"Oh ya pasti dong, bukannya hari kamis kemaren lo berdua abis mojok di halaman belakang sekolah ya," ucap Adit sengaja membongkar apa yang menjadi ketakutan Rio dan Mika atas kepergoknya mereka berdua saat sedang berduaan di sekolah, dasar mulut Adit ember!
__ADS_1
"Hampir aja pengen pegangan tangan tapi malah gagal gara-gara di ganggu Adit sama Diky," timpal Diky membuat yang lainnya gencar menggoda Rio dan Mika.
"Apaan sih lo berdua ember banget," ceplos Mika membuat tawa mereka semua meledak seketika.
Karamel menatap buku yang baru saja ia keluarkan dari tas kecilnya, kemudian tangan mungil wanita itu mulai menulis sesuatu di kertas kosong itu.
Setelah selesai menulis Karamel kembali menutup buku hariannya lalu ia letakan kembali ke dalam tasnya, Karamel diam menatap rombonganannya yang tertawa bahagia karena terus menggoda Rio dan Mika.
"I Miss you, Leo," gumam Karamel pelan dan tanpa sadar wanita itu meneteskan air mata, namun segera wanita itu hapus air matanya.
Faza mengeraskan rahangnya seraya membuang mukanya tidak suka saat dirinya baru saja melihat adik sepupunya menghapus air matanya, Faza benci air mata adik sepupunya tumpah sia-sia karena merindukan kekasihnya.
.........
Ke esokkan harinya Karamel lebih dulu datang ke sekolah karena Karamel ingin duduk di rooftop sekolah tanpa adanya suara keramaian para murid-murid.
'Jangan larut dalam kesedihan, Kara.'
'Dia pergi ninggalin lo, itu pasti dia punya alasan tersendiri jadi lo harus sabar, oke.'
Karamel mengingat ucapan Kenzi semalam saat Karamel lagi-lagi menangis di dalam kamarnya, wanita itu memejamkan matanya. Lemah! Karamel menyadari bahwa dirinya kini sudah kekurangkan semangat hidup.
"Nggak heran sih kenapa ada banyak kasus-kasus bunuh diri gara-gara di tinggal pacarnya," gumam Karamel.
"Ngerasa sedih karena orang yang selalu buat kita bahagia menghilang secara tiba-tiba, ngerasa kesepian karena hari-hari yang di jalani penuh canda tawa seketika menghilang juga," racau Karamel.
"Lemah karena cinta," gumam Karamel pelan.
"Ya! Gue bukan Kara yang kejam kayak dulu lagi, gue sekarang udah lemah dan udah bisa ngerasain jatuh cinta tapi kenapa perjalanan cinta pertama gue harus ada ujian seberat ini?" gumam Karamel meneteskan air mata kemudian wanita itu menyentuh pipinya yang basah.
"Yeah! Nangis lagi," ketus Karamel, ia lelah menangis namun matanya malah senang sekali mengeluarkan air mata.
"Kenapa lo betah banget sih diem di sini," ucap Faza dengan napas terengah-engah, mungkin karena mencari keberadaan Karamel dengan berlari ke sana-kemari. Karamel menoleh ke arah samping kanan.
"Nggak tau," jawab Karamel mengalihkan pandangannya ke depan sehingga Faza berjalan mendekati Karamel dan duduk di samping Karamel.
"Ra, lo nangis lagi," sentak Faza begitu keras. Sudah di katakan Faza tidak suka melihat adik sepupunya menangis, kini malah dirinya melihat adik sepupunya menangis lagi.
"Untuk yang ke tiga ratus dua puluh dua kalinya gue cengeng lagi, Za." ucap Karamel sehingga Faza menghapus air mata adik sepupunya.
Dari hari sabtu, di mana Leo pergi meninggalkan Karamel. Wanita itu tiada hari tanpa mengeluarkan air mata hingga entah kenapa Karamel selalu menghitung hari-harinya yang menangisi kepergian Leo.
"Gue tau lo kangen sama Leo, gue yakin sampai waktunya tiba tangisan lo bakal terbalaskan oleh datangnya kebahagiaan, Ra." ucap Faza seraya menarik kepala Karamel pelan untuk ia peluk.
"Jangan nangis lagi, gue enggak suka." ucap Faza seraya mencium puncak kepala adik sepupunya.
"Em," sahut Karamel membalas pelukkan Faza.
.........
Di lain tempat ada seorang laki-laki berkaca mata hitam, berbadan kekar dan juga tampan yang baru saja turun dari pesawat Gulfstream G550 miliknya sendiri.
"Welcome to Indonesia, Sir." sambut anak buahnya.
Laki-laki itu tidak tersenyum ataupun membalas ucapan anak buahnya itu, ia langsung berjalan menuju mobilnya dan pergi meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1