Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part - 226 (Takdir)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali setelah Leo berangkat ke kantor, Karamel ikut pergi dari rumah menuju rumah sakit kandungan, Karamel ingin tahu perkembangan kehamilannya seperti apa namun baru saja setengah perjalanan tiba-tiba empat mobil sedan menghalangi jalan Karamel.


Mata Karamel membulat sempurna ketika melihat seorang pria berpakaian formal keluar dari mobilnya, dia adalah Justin. Sahabat lamanya ketika di Amerika dulu.


Karamel keluar dari mobil lalu tiba-tiba Justin memeluk erat tubuh Karamel membuat Karamel kaget dan menepuk-nepuk punggung Justin kala merasa sesak di peluk erat olehnya.


"Jus-Justin, napasku ...."


"Oh maaf maaf maaf, aku terlalu senang sampai tidak sengaja menyakitimu," ucap Justin langsung melepas pelukkannya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Menghalangi jalanku untuk apa kau mencegatku?" tanya Karamel dengan nada tinggi.


"Huft! Berpisah selama tiga tahun tidak membuatmu berubah, selalu saja cerewet, pemarah juga." gumam Justin memutar bola mata jengah.


Ctakkk! Karena merasa kesal Karamel langsung menjitak kening Justin yang pastinya membuat Justin meringis kesakitan, tangan Karamel memanglah kecil tetapi tenaganya sangatlah kuat.


"Jawab aku, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Karamel lagi.


"Jangan salah paham, Nona. Aku di sini karena orang tuaku yang mengajakku untuk ikut dalam perjalanan bisnis mereka." sahut Justin masih mengelus-elus keningnya.


"Lalu, kenapa kau bisa tau kalau aku berada di dalam mobil ini?" tanya Karamel merasa curiga dengan Justin yang mungkin saja diam-diam mengikuti dirinya.


"Saat di perempatan lampu merah aku melihatmu membuka kaca mobilmu tadi, kau ingat 'kan tadi kau membuka kaca mobilmu," kesal Justin.


"Ah! Hanya kebetulan ternyata," desis Karamel tiba-tiba merasa senang bisa bertemu dengan sahabatnya, Justin.


"How are you ?" tanya Karamel tersenyum gembira membuat Justin memasang tampak aneh.


"Aku merasa sakit karena ulah sahabat lamaku yang begitu tega memukul keningku," sahut Justin menyindir Karamel yang tadi menjitak keningnya.


"Sepertinya kau ingin meminta lebih ya," ucap Karamel mengepal tangan kanannya lalu mengelus kepalan tangan itu bermaksud untuk menakut-nakuti Justin.


"Setelah aku memberitahumu sekarang kita sedang di awasi seseorang, apakah kau masih mau memukulku, Nona?" tanya Justin dengan wajah penuh senyuman namun tatapannya menujukkan keseriusan.


Karamel sedikit melebarkan matanya, "Siapa?" tanya Karamel was-was.


"Bisa kau lihat dari kaca mobilmu, Nona." ucap Justin masih dengan senyuman merekah.


Karamel mengerutkan dahinya kemudian Karamel melirikkan matanya ke arah kaca pintu kemudinya, benar adanya yang di katakan Justin ada seseorang yang sedang bersembunyi di semak-semak pinggiran jalan. Dia memakai pakaian serba hitam bahkan orang itu memakai topeng wajah berwarna hitam namun yang Karamel lihat orang itu berambut panjang seperti seorang wanita.


"Apa kau kemari membawa musuh, Just?" tanya Karamel menatap sinis ke arah Justin.


"Ini Indonesia, tidak ada orang yang mengenalku di sini, Kara." sahut Justin.


"Dia adalah seorang wanita, Justin. Aku yakin dia mengikutimu." ucap Karamel sangat-sangat yakin.


"Baiklah, salahkan semuanya pada diriku, sekarang lebih baik kita pergi dari sini, aku takut dia akan mencelakai kita nanti." ucap Justin mengalah lalu menyuruh Karamel untuk pergi sebrang karena dirinya yang akan menyetir mobil Karamel.


Karena sudah terlanjur bertemu dengan Justin, niat Karamel yang ingin pergi ke rumah sakit kandungan ia urungkan kemudian mengajak Justin pergi ke sebuah cafe terdekat untuk mengobrol bersama.


"Aku dengar kau sudah menikah dengan pengusaha ternama, benar?" tanya Justin ketika mereka sudah berada di cafe dengan sajian makanan dan minuman.


"Seperti yang kau tahu," sahut Karamel meminum jus sirsaknya.


"Kapan kau menikah? Dan di mana kau menikah? Kenapa tidak mengudangku? Siapa pria yang menikah denganmu? Apakah pernikahanmu sudah berlangsung lama? Atau kau sudah punya anak? Berapa bayi yang kau lahirkan?" tanya Justin beruntun.


Karamel melipat kedua tangannya di perut lalu Karamel menatap nanar wajah Justin yang penuh rasa penasaran.


"Aku tau sudah tiga tahun kau tidak melihat wajahku, kau semakin terpesona dengan ketampanan sahabatmu ini 'kan tapi lebih baik kau simpan dulu rasa kagummu itu dan jawablah pertanyaanku ini, Nona." oceh Justin dengan bangganya.


"Ulangi pertanyaanmu!" titah Karamel.


"Kapan kau menikah? Dan di ...."


"Sekitar beberapa bulan yang lalu," sahut Karamel cepat agar Justin bisa menjeda pertanyaannya yang beruntun itu.


"Di mana?" tanya Justin.


"Di mansion tertua Del Nixon, Kanada." jawab Karamel membuat Justin membelalakan matanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Kau menikah di mansion ... ti-tidak, maksudku bagaimana bisa kau menikah di mansion tertua Del Nixon yang paling berpengaruh itu? Apa kau menikah dengan ...."


"Aku menikah dengan putra kedua keluarga Mahendra," ucap Karamel membuat Justin mengerutkan dahinya lalu memiringkan kepalanya bingung.


"Suamiku adalah Cleo Rendra Agata, CEO dari Binondra Group." ucap Karamel kini membuat mata Justin semakin melebar namun beberapa detik kemudian Justin malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha ... Binondra Group? Kara aku bertanya serius, kenapa kau malah menjawab asal-asalan, tidak mengasikkan sekali, ini sama sekali tidak mengasikkan." ucap Justin tidak percaya dengan kata-kata Karamel.


"Terserah kau percaya atau tidak aku tidak perduli, yang jelas aku sudah menjawab pertanyaanmu." sahut Karamel malas memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Huftt! Apa kau dengan CEO Binondra palsu itu sudah punya bayi?" tanya Justin mengejek secara terang-terangan.


"Belum," sahut Karamel tidak memperdulikan kata-kata Justin yang menyebutkan suaminya sebagai CEO Binondra yang palsu.


"Kau belum hamil sama sekali?" tanya Justin membuat detak jantung Karamel berdegup sangat kencang.


"Ehem, belum!" sahut Karamel gelagapan.


"Bagaimana bisa ...."


"Karamel!?" dari arah pintu cafe, seseorang memanggil nama Karamel.


"Adit–Diky," sahut Karamel.


Adit dan Diky mendekati meja Karamel dan Justin, mata kedua pria itu tidak lepas memandang Justin dengan tatapan aneh membuat si empu'nya sedikit merasa risih.


"Lo berdua kenapa bisa ada di sini?" tanya Karamel heran.


"Biasa cari tongkrongan baru," sahut Diky dan Karamel mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jauh banget," ucap Karamel.


"Namanya juga cari suasana baru, Kar." timpal Adit membuat Karamel tidak menyahut lagi.


"Oh iya Just, perkenalkan mereka sahabat terdekatku, yang ini Adit dan yang ini Diky." ucap Karamel memperkenalkan Adit dan Diky kepada Justin.


"Dit-Dik kenalin dia sahabat gue dari Amerika, namanya Justin Monkey." ucap Karamel membuat Justin memelototi Karamel sedangkan yang di tatap hanya tersenyum mengejek.


"Jadi dia, Justin yang pernah dekat sama lo di Amerika dulu?" tanya Adit pada Karamel.


"Justin sahabat gue juga bahkan sebelum kenal sama kalian, gue udah lebih dulu deket sama Justin jadi jaga nada bicara lo yang kayak enggak suka gitu sama dia," sahut Karamel memprotes nada bicara Adit yang secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya dengan Justin.


"Karamel udah nikah," ucap Diky tiba-tiba dan tentu Karamel menjadi bingung dengan kata-kata Diky.


"Aku sudah tau...."


"Dia udah tau duluan," sahut Karamel memotong perkataan Justin.


"Kalo udah tau, ngapain dia nyamperin lo ke sini?" tanya Adit membuat Karamel mengerutkan dahinya.


"Lah emangnya kenapa kalo gue sama Justin ngobrol bareng?" tanya Karamel.


"Masalahnya lo udah punya suami, Kara." ucap Diky.


"Terus kalo udah punya suami enggak boleh dekat-dekat sama sahabat sendiri gitu?" tanya Karamel.


"Enggak boleh lah," sahut keduanya serentak.


"Lo berdua 'kan sahabat gue juga jadi lo beruda enggak boleh dekat-dekat gue lagi dong." sarkas Karamel membuat kedua pria itu terkejut.


"Bu-bukan gitu, masalahnya dia ..."


"Halah lo berdua mikir negatif ya tentang gue sama Justin, lo berdua mikir gue sama Justin punya hubungan di belakang suami gue, gitu?" ucap Karamel menyelidik dan tentu perkataan Karamel membuat Adit dan Diky sangat terkejut.


"Enggak, bukan gitu Kar. Kita cuma nanya doang kenapa dia masih nyamperin lo padahal dia udah tahu lo punya suami." ucap Adit.


"Kita kebetulan ketemu di jalan tadi," ucap Justin.


"Udah tau jawabannya 'kan." timpal Karamel ketus.

__ADS_1


"Lo ngikutin Karamel!?" ucap Diky kepada Justin.


"Aku melihat karamel di perempatan lampu merah jadi aku mengikutinya karena aku ingin bertemu dengannya." ucap Justin marasa canggung.


"Lo udah tau dia punya suami 'kan, terus ngapain lo mau ketemu sama Karamel lagi?" tanya Adit lebih jauh.


"Sebagai sahabat yang sudah lama tidak bertemu, apakah salah jika aku ingin bertemu dengannya?" Justin balik bertanya.


"Sahabat? Yakin lo cuma nganggap Karamel sebagai sahabat lo doang?" tanya Diky terdengar tidak percaya dengan kata-kata Justin.


"Tentu aku menganggap Karamel sebagai sahabatku," sahut Justin lugas.


"Lo berdua apa-apa sih, gue sama Justin itu cuma sahabatan aja," timpal Karamel namun mata kedua pria itu serentak menyipit ke arah Justin sedangkan Karamel menatap Adit dan Diky dengan tatapan curiga.


Kenapa tiba-tiba dua pria itu muncul di cafe ini padahal biasanya mereka pergi ke cafe Gourmet? Kenapa sepertinya dua pria itu ingin memprovokasi Justin? Mungkinkah mereka sedang mencurigai Justin? Atau mungkin mereka ....


"Oooooh," Gue paham sekarang," ucap Karamel tersenyum miring menatap Adit dan Diky.


"Paham apaan?" tanya Diky.


"Gue tau kalian pasti khawatir 'kan sama gue, kalian repot-repot dateng ke sini cuma mau bantuin gue buat ngatasin cowok yang ada di depan gue ini 'kan." ucap Karamel dengan wajah sendu, padahal Karamel hanya berpura-pura.


"Lo paham sekarang kita khawatir sama lo, kita enggak mau lo dekat-dekat sama orang yang belum tentu baik buat lo jadiin sahabat." ucap Adit mulai masuk ke dalam perangkap Karamel.


"Ya, gue juga baru mikir kenapa juga gue bisa mau datang ke cafe ini sama dia." sahut Karamel membuat Justin menampilkan tampang malas ke arah Karamel.


"Udah lokasi tempatnya jauh, enggak memungkinkan banget buat orang-orang yang biasanya datang ke cafe Gourmet tiba-tiba datang ke sini 'kan." tambah Karamel menyindir kedua pria itu, jika mereka sadar.


"Jelas lah, kita aja yang datang ke cafe ini hampir kesasar tadi." sahut Adit membuat Karamel tersenyum miring karena ternyata mereka tidak sadar akan jebakannya.


"Kok bisa kesasar, emangnya kalian terpaksa datang ke sini?" tanya Karamel pelan.


"Bueeehh! Terpaksa banget." sahut keduanya serentak.


"Siapa yang nyuruh kalian datang ke sini?" tanya Karamel garang, sekarang sudah terbukti dugaan Karamel ternyata benar, Adit dan Diky datang ke cafe itu bukan untuk mencari suasana baru.


"Lo fikir siapa lagi coba, jelas dia itu su ...." mulut Adit langsung membungkam, matanya melebar sempurna, Adit baru sadar akan pertanyaan Karamel ketika akan melanjutkan perkataannya. Begitu juga Diky yang langsung berdeham kala Adit hampir membuka mulutnya.


"Siapa?" tanya Karamel.


"Su-sundel bolong," sahut Adit mendapatkan pukulan dari Diky di bagian kepalanya.


"Dasar gila lo," umpat Diky merasa merinding kala membayangkan bagaimana mereka berdua bertemu sundel bolong sungguhan.


"Sebenarnya kita dapat rekomendasi makanan enak di sini, kita udah nolak buat dateng ke sini karena kita enggak tau jalan tapi kita berdua tetap di paksa sama teman kampus kita buat ke sini, sekalian mereka juga mau pesan makanan sama kita dan yeah ... kita terpaksa ke sini sampai-sampai kita kesasar tadi." ucap Diky santai hingga yang mendengarnya pasti langsung percaya dengan kata-katanya.


Namun Karamel tidaklah bodoh hingga harus percaya dengan kata-kata Diky.


"Percaya," ucap Karamel membuat kedua pria itu bernapas lega.


"Kalo kalian ngomong sama orang be*o," lanjut Karamel dengan nada bicara yang mengejek.


"Kalian di paksa sama temen kampus kalian buat dateng ke sini? Come on! Sejak kapan anggota SALF BADRAD jadi babu orang lain hah?" tanya Karamel membuat tenggorokan kedua pria itu kering.


Ingatlah akan siapa orang yang mereka hadapi, tidak ada gunanya mereka untuk membuat alasan lagi, kini Karamel sudah berhasil memancing kedua pria itu bahkan Karamel juga tidak mempan akan alasan kebohongan mereka jadi mau mengelak pun sudah tidak mungkin.


"Kalian enggak ada kesempatan buat nyari alasan lagi, sekarang jawab gue siapa yang nyuruh kalian buat datang ke sini?" tanya Karamel menatap tajam Adit dan Diky secara bergantian.


Tangan Adit dan Diky penuh dengan keringat dingin, Wajah Adit dan Diky juga menjadi sedikit pucat, mereka berdua saling pandang.


"IQ tinggi emang susah buat di beg*in," batin Diky dengan wajah melasnya.


"Gue pengen menghilang dari bumi," batin Adit tidak sanggup jika harus menghadapi kemarahan Karamel yang pastinya sangatlah menyeramkan.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2