Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 243 (Takdir)


__ADS_3

Wanita tomboy itu langsung mengambil posisi ancang-ancang untuk melawan tiga orang yang ada di depannya, dan tanpa basa-basi ketiga orang itu langsung maju untuk bertarung.


Brukk ....


Brukk ....


Brukk ....


Terjadilah pertarungan yang tidak seimbang antara satu wanita melawan tiga pria sekaligus hingga bermenit-menit kemudian dari arah belakang wanita tomboy itu, salah satu dari tiga pria itu mengeluarkan pisau dan mengarahkannya ke arah si wanita tomboy itu. Perlahan namun pasti pria itu berjalan mendekati punggung wanita tomboy yang sedang bertarung dengan dua pria lainnya.


Mata Faza yang melihat pergerakan pria itu, langsung berlari untuk menggalanginya tapi tanpa di sengaja tangan Faza malah menggenggam kuat tangan pria itu lalu memutarnya ke arah bagian perut pria itu hingga pisaunya tertancap keperutnya sendiri. Seperti pepatah 'senjata makan tuan' pria itu ingin menusuk orang lain namun malah dirinya sendiri yang kena.


Tsukk ....


"Oh **** ....!!!" pekik Faza kaget.


"Maaf bang, saya tak sengaja." ucap Faza cepat membuat wanita tomboy itu menoleh ke arah belakangnya begitu juga dengan Faza yang menoleh ke arah belakangnya hingga mereka berdua saling bertatap muka.


"Siapa kamu?" tanya si wanita tomboy dengan logat Indonesia.


Faza mengerutkan dahinya sejenak sebelum menjawab, "Aku Faza ... em bukan! Maksudku, aku hanya membantumu saja karena pria itu hendak menusuk kamu dengan ...."


"Tusukanmu tidak terlalu menyakitkan baginya, dia sadar kembali mungkin ingin balas dendam kepadamu." ucap si wanita tomboy membuat Faza melebarkan matanya dan menatap pria yang tanpa sengaja barusan ia tusuk hendak bangkit dan mungkin akan membalas dendam kepada orang yang telah menusuknya, dia adalah Faza.


Brukk ....


Brukk ....


Brukk ....


Faza menoleh ke belakangnya sejenak dan ternyata si wanita tomboy sudah bertarung kembali dengan dua pria lainnya.


Glukk ....


"Sial! Gue pernah ngehadapain masalah kayak gini sama Kara jadi enggak ada salahnya buat nyoba lagi." gumam Faza mengambil ancang-ancang untuk bertarung.


Tanpa memandang wajah lawannya, pria itu langsung menyerang ke arah Faza hingga terjadilan pertarungan yang sengit di antara mereka berdua. Ralat, terjadilan pertarungan sengit di antara dua orang yang melawan tiga orang.


Salah satu yang di lawan wanita tomboy itu berhasil ia kalahkan sedangkan Faza masih belum berhasil membuat lawannya tumbang.


"Za, awas di belakang lo." pekik Lily memberitahu Faza bahwa di belakangnya ada yang ingin menyerangnya.


Brukk ....


Si wanita tomboy menendang kepala pria yang hendak menyerang Faza ke arah samping hingga tubuhnya terbentur tiang dan pingsan.


"Menunduk !!" pekik si wanita tomboy dan Faza langsung menundukkan kepalanya lalu wanita tomboy itu melempar kursi ke arah pria yang berlum berhasil Faza kalahkan tadi.


Si wanita tomboy berlari lalu melompat melewati tubuh Faza, "Katakan siapa yang telah menyuruh kalian untuk menghalangi jalanku!?" desak si wanita tomboy menarik kerah pria yang sudah terluka parah akibat tusukan di perutnya dan juga luka di bagian kepalanya.


"Master Hong yang menyuruh kami." ucap pria itu membuat si wanita tomboy mengeraskan rahangnya kemudian memukul wajah pria itu sampai tersungkur di lantai.


Si wanita tomboy berdiri lalu menghadap ke arah Faza, mata wanita tomboy itu menyipit dan memandangi penampilan Faza dari atas sampai bawah kemudian kembali lagi dari bawah sampai atas, "What's your name?" tanyanya datar.


"Faza Bramasta," sahut Faza mengernyitkan dahinya aneh kala wanita tomboy itu memandangi penampilannya dari atas sampai bawah.


"Besar juga nyalimu mau membantuku," ucapnya tidak tahu apakah itu sebuah pujian atau ejekan karena Faza berani membantunya walau pada akhirnya tetap wanita tomboy itu yang menghabisi semua lawannya.


"Aku hanya ...."


"Membantu seseorang tidak harus tanggung-tanggung bukan, alangkah baiknya jika kamu mau membantuku menyelesaikan permasalahanku ini agar kamu layak di katakan orang baik. Bantu aku bertemu seseorang lalu kamu hanya perlu mengatakan 'iya' saja di depannya, tidak susah 'kan, Bramasta." sela si wanita tomboy dengan cepat.


"Iya untuk apa?" tanya Faza.


"Aku yang akan berbicara dan kamu hanya perlu menjawab iya saja," ucap si wanita tomboy tidak menjelaskan apa-apa kemudian menarik tangan Faza untuk keluar dari cafe.


"Woy Za, mau ke mana lo." pekik Dafa.


"Ih babe! Faza kenal sama tu cewek?" tanya Lily kepada kekasihnya.


"Enggak tahu juga babe, mungkin iya." sahut Dafa tidak tahu pasti.


"Apa jangan-jangan alasan Faza enggak mau sama Gina itu karena cewek yang tadi!?" ucap Lily menerka-nerka.


"Cewek tomboy itu bukan sepupu dia, Babe. Aku 'kan pernah bilang Faza itu sukanya sama sepupu kandung dia." ucap Dafa.


"Oh bukan ya," sahut Lily.


Sementara itu di luar cafe, si wanita tomboy sibuk memaksa Faza agar mau ikut dirinya naik motor sedangkan Faza menolak ikut jika si wanita tomboy tidak memberitahukan tujuan mereka akan ke mana.


"Beritahu saja tepatnya, apa susahnya." ucap Faza mulai kesal karena wanita yang ada di depannya itu terus saja memaksa dirinya untuk ikut sedangkan dirinya sendiri tidak tahu mau di bawa ke mana oleh wanita tomboy itu.


"Fine, Master Hong adalah si tua bangka yang berasal dari China, dia menginginkan diriku untuk menjadi istrinya yang kedelapan tapi aku tidak akan pernah mau menerimanya, jadi aku minta bantu aku untuk mengatakan kepadanya bahwa kita berdua sudah menikah, maksudku kita bersandiwara sudah menikah." ucap si wanita tomboy membuat Faza membelalakkan matanya sangat kaget.


Mimpi apa dirinya semalam bisa bertemu dengan wanita yang ingin meminta bantuannya dengan cara bersandiwara menjadi pasangan suami-istri.


"Apa kau sudah gila memintaku bersandiwara sudah menikah denganmu," pekik Faza.


"Dengan cara dia mengetahui aku sudah menikah, dia tidak akan mengejarku lagi bahkan pastinya dia akan kembali ke tempat asalnya di China." ucap si wanita tomboy dengan nada santai.


"Tidak tidak aku tidak mau! Fikirkan resikonya, bagaimana jika dia tidak terima kamu sudah menikah, dia akan membunuh kita berdua nanti. Tidak, mungkin saja hanya aku yang akan mati di tangannya. Lagi pula kita tidak saling mengenal, kamu cari saja bantuan orang lain." bentak Faza merasa merinding jika dirinya harus mati sekarang juga.


"Oh ayolah! Kamu tidak akan mati sia-sia di tangannya, Bramasta. Aku yang akan bertanggung jawab atas keselamatanmu." ucap si wanita tomboy itu kukuh ingin meminta bantuan Faza.


"Apa kamu kira aku bod*h, minta saja bantuan orang lain jangan minta bantuan diriku karena aku tidak akan pernah mau membantumu. Lagian Master Hong itu pastinya orang besar yang sulit untuk di kalahkan bukan, apa salahnya kamu terima saja tawarannya untuk menikah denganmu, tolong jangan libatkan orang lain atas permasalahanmu itu, Nona." ucap Faza mengoceh panjang dengan wanita yang baru ia kenal itu.


Si wanita tomboy itu menyipitkan matanya tampak marah, "Jawab aku, apa kamu mau menikah dengan wanita kontor seperti *****? Apa kamu mau menikah dengan wanita gila pria hingga jika dia sudah bosan, dia akan membunuh pria itu? Lalu yang terakhir apa kamu mau menikah dengan wanita yang berbeda keyakinan dengan dirimu? Satu penganut Islam dan yang satunya lagi penganut Katolik." ucap si wanita tomboy menatap dalam mata Faza.


"Selama hidupku tidak pernah aku temukan pria seberani dirimu jadi aku berfikir untuk meminta bantuanmu tapi ... lupakan, memang benar masalahku sendiri seharusnya tidak melibatkan orang lain, aku akan menyelesaikannya sendiri." ucap wanita tomboy itu menyerah untuk memaksa Faza.


"Baiklah, terima kasih karena sudah membantuku. Aku permisi!" ucap si wanita tomboy itu tersenyum sejenak kemudian menaiki motornya lalu hendak memakai helmnya.


Tapi tangan Faza menggenggam tangan si wanita tomboy membuat si wanita tomboy menatap aneh ke arah Faza.


"Biarkan aku yang membawanya," ucap Faza sehingga wanita tomboy itu menaikkan kedua alisnya bingung.


.........


Di perjalanan, Faza bertanya apakah si wanita tomboy itu yakin jika hanya mengatakan bahwa mereka berdua sudah menikah di depan Master Hong, maka Master Hong akan langsung percaya tanpa mau meminta bukti apapun.


"Berapa tanggal lahirmu?" tanya si wanita tomboy itu tidak menjawab pertanyaan Faza.


"Untuk apa kamu ...."


"Jawab saja apa yang aku tanyakan," sela si wanita tomboy itu dengan cepat.


"Sebelas April." sahut Faza sedikit berteriak.


"Tempatmu lahir?" tanya si wanita tomboy itu lagi.


"Di Indonesia," sahut Faza singkat.


"Berapa usiamu?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Dua puluh," sahut Faza.


"Ngapain sih ni cewek nanyain tanggal lahir gue, jangan-jangan centil nih cewek mau sok-sokan ngasih gue hadiah ulang tahun." batin Faza tidak tahu sejak kepan dirinya menjadi senarsis ini.


"Alright! Jika Master Hong bertanya kapan dan di mana kita menikah, ucapkan saja tanggal lahir dan juga tempat lahirmu. Jika dia bertanya sudah berapa tahun kita menikah, ucapkan saja sudah dua tahun yang lalu." ucap si wanita tomboy itu dengan mudahnya.


"Salah dugaan gue," batin Faza salah menduga wanita tomboy itu tertarik dengan pesona ketampanannya.


"Apa kamu bisa mengingatnya?" tanya Faza dengan ketus, entah apa sebabnya.


"Tempat menikah di Indonesia ...."


"Lebih tepatnya di Bandung," sela Faza cepat.


"Baiklah, kita menikah di Indonesia lebih tepatnya di Bandung pada tanggal sebelas April dua tahun yang lalu." ucap si wanita tomboy itu dengan cepat mengingat apa yang di ucapkan Faza tadi.


"Lalu bagaimana aku akan memanggilmu, apakah dengan memanggil Istriku atau jika ingin lebih meyakinkan aku harus memanggilmu dengan panggilan sayangku?" ucap Faza membuat si wanita tomboy itu memukul helm yang di kenakan Faza.


"Menjijikkan," desis si wanita tomboy membuat Faza memelotot kaget.


"Kamu ...."


"Fokus di jalanan atau aku akan memukulmu lebih banyak lagi," ucap si wanita tomboy berani mengancam Faza.


"Sialan ni cewek, gue nanya baik-baik dia malah mukul kepala gue." batin Faza mengumpat.


Sesampainya di sebuah gerbang rumah yang besar dan juga menjulang tinggi, si wanita tomboy itu turun dari motornya namun ketika Faza ingin menyusul turun, si wanita tomboy itu memberitahu namanya kepada Faza.


"Tersarah kamu mau memanggilku apa," ucapnya kemudian Faza turun dari motor.


"Sejak awal kamu selalu memanggil nama belakangku Bramasta jadi aku juga akan memanggilmu dengan nama belakangmu. Chevelle, Elle!" seru Faza membuat si wanita tomboy yang di panggil Elle oleh Faza mengerutkan dahinya.


"LA? Los Angeles?" ucapnya mengira Faza memanggilnya dengan panggilan kota Los Angeles.


"Bukan LA tapi E-L-L-E , Elle." ucap Faza dengan sangat pelan agar wanita itu paham.


"Elle? is it Indonesian?" tanyanya karena Faza mengeja dan membaca dengan cara baca Bahasa Indonesia.


"Yeah, aku akan memanggilmu Elle bukan Chiev, Vell atau Ell." ucap Faza.


"Nama yang menarik!" batin si wanita tomboy.


"Not bad," sahutnya tidak keberatan Faza memanggilnya dengan panggilan 'Elle'


"Apa kita akan masuk?" tanya Faza.


"Jika kamu ingin mati, silahkan saja." ucap Elle santai.


"Tidak, terima kasih." sahut Faza malas.


Elle mengeluarkan handphonenya lalu menelepon seseorang yang Faza yakini dia adalah Master Hong.


"Selamat, rencanamu mencegah kepergianku sudah berhasil! Keluarlah, aku ada di depan gerbang rumahmu." ucap Elle dalam bahasa Inggris kemudian Elle mematikan sambungan teleponnya.


"Jika aku menarik jari kelingking kirimu, kamu harus mengangkat tanganmu seperti ini." ucap Elle menunjukkan finger guns pose ke arah atas.


"Kemudian kamu gerakkan ke arah Master Hong seperti ini," ucap Elle mempraktekkan caranya.


"Untuk apa aku lakukan itu?" tanya Faza harus tahu apa tujuannya melakukan gerakan yang di peragakan oleh Elle barusan.


"Untuk menunjukkan kehebatan suamiku agar Master Hong tidak akan berani mengganggu hidupku lagi." jawab Elle tersenyum lebar di depan Faza membuat jantung Faza berdegup tak karuan.


Deg ... deg ... deg!!!


"Kenapa pipi gue panas gini" batin Faza mengembungkan kedua pipinya.


"Apa yang aku katakan tadi," batin Elle tersadar akan kata-katanya yang menyebut Faza sebagai suaminya.


"Tsk! Maksudku untuk menunjukkan kehebatanmu." ralat Elle cepat.


"Satu lagi, jika para bodyguard Master Hong bergerak maju, kamu harus berteriak 'Berhenti, atau kalian akan mati' dengan sedikit tegas dan lantang." ucap Elle mengacungkan jari jempolnya.


"Bukannya tadi di cafe kamu bilang aku hanya mengatakan 'Iya' saja," sahut Faza.


"Jika kamu ingin selamat, lakukan saja apa yang aku katakan." kata Elle membuat Faza mendengus, kemudian mereka berdua saling diam.


"Darling! Akhirnya kau datang juga kepadaku, apakah kau sudah berubah fikiran sekarang." ucap Master Hong berjalan bersama dua wanita paruh baya di samping kiri dan kanannya.


Faza yang sedang bersandar di motor, seketika berdiri tegap menghadap ke arah Master Hong serta kedua wanita patuh baya dan juga enam bodyguard di belakang Master Hong.


"Udah tua kriput gini masih mau nikah sama Elle, cocok di panggil kakek buyut ini mah." batin Faza dengan sinisnya.


"Aku datang bukan untuk menyerahkan diriku tapi aku datang ke sini untuk memberitahumu sesuatu yang penting." ucap Elle menoleh ke arah Faza sehingga Faza juga menoleh ke arahnya.


"Who is him?" tanya Master Hong menunjuk Faza.


"He's my husband," sahut Elle cepat.


"Your husband?!" sentak Master Hong memelotot kaget.


"Jangan menipuku Darling, aku tahu kau tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun jadi mana mungkin kau sudah mempunyai suami." ucap Master Hong tidak percaya.


"yeah! I really sorry i let you down, Master Hong." ucap Elle tersenyum menyeringai.


(Yeah, maaf aku mengecewakanmu, Master Hong).


"Tapi dia memang suamiku !! Sama seperti dirimu yang sudah memiliki enam istri tapi salah satu wanita yang benama Linsui sengaja kau jebak agar kau bisa menghamili dirinya hingga dengan sangat terpaksa Linsui harus menikah denganmu tanpa di ketahui banyak orang termasuk istri-istrimu yang lain. Aku juga memiliki suami tanpa harus di ketahui banyak orang termasuk dirimu, Master Hong." ucap Elle membongkar kelicikan Master Hong beberapa tahun yang lalu.


"Tapi melihat dari ekspresi wajah kedua istrimu ini, sepertinya mereka sudah tahu tentang istri ketujuhmu itu. Apa menurutmu mereka tidak akan keberatan jika aku menjadi istri kedelapanmu?" tanya Elle sinis.


"Oh tidak, sepertinya suamiku yang akan marah dengan dirimu." tambah Elle lagi dan lagi.


"Apa kau tahu Master Hong, beberapa anak buah suruhanmu tadi telah tumbang di tangan suamiku." ucap Elle tidak henti-hentinya berbicara.


"Darling ...."


Faza mengangkat tangan kanannya dengan pose pistol jari ke arah atas kemudian mengarahkannya ke Master Hong membuat para bodyguard Master Hong hendak maju untuk melindungi bos mereka.


"Ni cewek ngasih aba-abanya tiba-tiba banget sih, untung aja gue orangnya peka, kalo enggak tadi bisa berabe ni urusan." batin Faza jengkel karena Elle menggenggam jari kelingking sebelah kirinya secara tiba-tiba.


"Berhenti atau kalian mati," pekik Faza dengan lantang hingga para bodyguard Master Hong tidak jadi bergerak.


"Oh tidak, suamiku sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Sepertinya penembak jitu milik suamiku akan merenggut nyawamu jika kau masih memaksakan diri untuk menjadikan diriku sebagai istrimu." ucap Elle membuat Mastet Hong menatap ke arah dadanya, satu titik laster merah tepat di bagian jantungnya.


"Tahan amarahmu, suamiku. Master Hong yang bijak pasti akan mengambil keputusan yang terbaik, iya 'kan Master Hong!?" tanya Elle tersenyum jahat.


Master Hong menatap tajam ke arah Faza membuat Faza agak tidak berani membalas tatapannya namun secara tiba-tiba Elle menggenggam tangan Faza, "Jangan takut, aku bersamamu." ucap Elle memberi dorongan untuk Faza agar tidak merasa takut.


Faza mendongakkan kepalanya untuk membalas tatapan Master Hong, "Aku dan Elle sudah menikah dua tahun yang lalu, selama ini hibungan kami tidak ada yang mengetahuinya tapi aku selalu ada di samping Elle, menjaga dirinya dari orang-orang jahat seperti dirimu." sengit Faza.


"Tidak perduli sehebat apapun dirimu, jika kau berani mengganggu kehidupan rumah tangga kami, aku pastikan neraka akan segera menyambut kedatanganmu." ancam Faza entah keberanian dari mana yang ia dapat sampai berani mengancam Master Hong.


"Jika perlu aku akan membunuhmu sekarang agar kehidupan kami aman tanpa pengganggu sepertimu." ucap Faza hendak mengangkat tangannya, entah ingin melakukan apa.

__ADS_1


"Alright! Aku memang tertarik dengan istrimu tapi jika memang dia tidak bisa aku jadikan sebagai istriku maka aku akan melepaskan dirinya." ucap Master Hong ternyata masih perduli dengan nyawanya.


"Apa kata-katamu bisa di percaya," ucap Faza ingin memastikan setelah ini dirinya tidak akan berurusan lagi dengan si Master Hong tua bangka itu.


"Aku masih ingin hidup senang menikmati semua harta kekayaanku jadi kau jangan khawatir aku akan mengingkari janjiku." ucap Master Hong dengan jujur.


"Udah bau tanah aja belagu ni kakek-kakek." batin Faza mencemooh.


"Aku tidak ingin melihatmu ada di Malaysia lagi, kembalilah ke China jika kau masih menyayangi nyawamu." sengit Faza memerintahkan Master Hong untuk pergi dari Malaysia.


"Apa hakmu ...."


"Tembak," pekik Elle mengarahkan tangan Faza ke arah salah satu bodyguard Master Hong.


Dorr ....


Faza melebarkan matanya sangat kaget, Faza kira Elle hanya ingin bermain trik saja agar Master Hong merasa terancam namun siapa sangka ternyata di belakang mereka benar-benar ada orang-orang suruhan Elle.


.........


Tiga puluh menit telah berlalu, kini Faza dan Elle berada di dalam pesawat pribadi entah siapa, Faza pun tidak diberitahu oleh Elle.


"Kamu tidak memberitahuku hal penting apa yang akan kita lakukan di Indonesia," ucap Faza benar-benar di buat marah karena Elle memaksa Faza untuk ikut dengan Elle ke Indonesia.


"Dia memberitahuku, aku harus membawa pasangan ke acaranya jadi aku membawamu bersamaku untuk berpura-pura menjadi pasanganku." sahut Elle dengan santai.


"Hanya untuk beberapa menit saja, setelah itu kita akan kembali ke Malaysia." tambah Elle.


"Astaga siapa lagi yang harus aku hadapi kali ini, apakah kamu kurang puas melihat aku berbicara lantang di depan Master Hong tadi, apa kamu kira aku sengaja melakukan itu. Tidak! Sama sekali tidak, entah keberanian dari mana yang aku dapat hingga kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutku." celoteh Faza panjang lebar membuat senyuman tipis terpatri di bibir Elle.


Lucu! Fikir Elle.


"Kamu tidak akan mengenal siapapun di sana jadi tenangkan dirimu, bersikaplah selayaknya kamu memiliki pasangan dan aku adalah pasanganmu." ucap Elle menaik turunkan alisnya menatap Faza.


"Besok aku harus pergi kuliah, Elle." sentak Faza.


"Perjalanan kita masih satu jam-an lagi, tidurlah." sahut Elle membuat Faza geram karena cara bicara Elle sangat santai seperti tidak ada beban apapun dalam hidupnya.


"Sial! Nyesel gue nolongin ni orang, dibantuin sekali malah mintanya berkali-kali." umpat Faza dalam bahasa Belanda hingga Elle tidak mengerti apa maksudnya.


Elle melirikkan matanya ke arah wajah Faza yang sedang menampilkan tampang kesal dan marah. Dibenak Elle, apa yang tadi di ucapkan Faza? Kenapa terdengar asing ditelinganya? Mungkinkah itu bahasa daerahnya? Entahlah, Elle mengedikkan bahunya tidak perduli walau sedikit penasaran dengan artinya.


Lama mereka berada di pesawat kini merasa telah mendarat di bandara Indonesia, "Bramasta !!!" panggil Elle menepuk-nepuk pipi Faza.


"Bramasta kita sudah sampai, bangun sekarang atau aku akan menggendongmu." ucap Elle membuat mata Faza tiba-tiba terbelalak hingga mata mereka saling bertemu.


"Sekuat apa tenagamu mau menggendongku," sengit Faza menyipitkan matanya.


"Mau mencobanya?" tawar Elle menaikkan sebelah alisnya sembari menaikkan kakinya.


Faza tertegun menatap mata Elle yang indah, "Lupakan, aku bisa berjalan sendiri." ucap Faza bangkit dari tempat duduknya namun sedetik kemudian Faza menatap pakaian kemeja coklat dan jens hitam yang ia kenakan.


"Tapi ...."


"Tidak perlu, ini hanya acara ulang tahun. Kita hanya sekedar menyapa saja setelah itu kita kembali ke Malaysia." ucap Elle mengerti maksud Faza.


"Acara ulang tahun, pantaskah pakaianmu seperti itu." ucap Faza membuat Elle langsung mengambil jaket lalu mengikatkan jaket itu ke pinggangnya.


"Apa kamu tahu, penampilanmu ini mirip sekali seperti preman yang ingin mengacaukan acara ulang tahun orang lain." ucap Faza menujuk penampilan Elle yang mengenakan kaos putih oblong dengan hot pans yang di lilit jaket di pingangnya.


"Baiklah!" ucap Elle melepas ikatan jaketnya lalu memakainya dengan benar.


"Sudah cukup!?" tanya Elle merentangkan kedua tangannya.


"Terserahlah," ucap Faza tidak perduli, toh dirinya tidak akan mengenal siapa-siapa di acara ulang tahun yang Elle maksud.


"Kita pergi sekarang," ucap Elle berjalan mendahului Faza kemudian di susul pula oleh Faza.


Ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil, sang supir langsung membawa Elle dan Faza ke acara ulng tahun entah siapa Faza masih tidak tahu.


"Jangan-jangan ini acara ulang tahun salah satu anggota keluarga dia lagi, wah wah bisa panjang ni urusan kalo sampai keluarganya ngira gue sama dia pacaran." batin Faza baru terfikir olehnya tentang acara ulang tahun siapa yang akan mereka datangi malam ini.


Tak berselang lama mereka sampai di sebuah restoran yang membuat Faza langsung membulatkan matanya tidak menyangka bahwa acara ulang tahun yang Elle maksud itu mungkin acaranya seseorang yang Faza kenal.


"Gawat! Jangan-jangan ini acara ulang tahunnya ... astaga rumit nih urusannya." batin Faza dibuat gelisah.


"Silahkan, Nona." ucap sang supir mempersilahkan mereka untuk keluar karena mereka telah sampai.


"Ayo keluar," suruh Elle namun Faza malah menggenggam tangan Elle.


"Tiba-tiba gue sakit perut, Elle sepertinya aku ...."


"Jangan membuatku harus memukul perutmu, Bramasta. Aku tahu itu hanya alasanmu saja, sekarang kita turun atau aku akan membuangmu pada Master Hong." acam Elle dengan sangat serius hingga Faza hanya bisa menghela napas pasrah saja.


Laki-laki jika berdebat dengan wanita itu pasti ujung-ujungnya akan kalah juga jadi lebih baik Faza patuh saja dari pada harus berdebat dengan Elle.


.........


Niky tersenyum senang karena salah satu shabatnya yang sudah beberapa tahun tidak bertemu kini mengiriminya pesan bahwa dirinya sudah berada di acara ulang tahunnya.


"Bentar ya, gue mau nyambut tamu jauh dulu." pamit Niky pada para sahabatnya.


"Biar gue aja yang nyambut Kak ...." ucapan Nanda terpotong oleh Adit.


"Enggak betah banget sih lo deket-deket sama gue, mau langsung kabur aja kerjaannya kalo udah ketemu gue." cibir Adit dengan malas.


"Dih! Apaan sih ni anak ngajak ribut mulu deh kerjaannya." pekik Nanda kesal.


"Gue mah maunya damai ya sama cewek masa depan gue, tapi yeah dasarnya aja enggak peka." ucap Adit mendapat sorakan heboh dari para sahabatnya.


"Kasian Adit, biar gue aja yang nyambut ...."


"Niky !!!" pekik seorang wanita dari kejauhan.


Semua orang yang ada di pesta itu mengalihkan pandangan mereka ke arah wanita itu dan seketika itu juga Niky langsung berteriak.


"Alleta !!!" Niky berlari mendekati wanita yang bernama Alleta itu kemudian memeluknya dengan erat.


"Oh My Gosh! Aku bahagia banget kamu bisa nyempatin diri buat datang ke acara ulang tahunku." ucap Niky dengan sangat-sangat gembira.


"Tapi tunggu! Sesuai permintaanku kemarin malam kalo kamu mau datang ke perta ulang tahunku, kamu harus datang bersama pasanganmu so kamu membawa pasanganmu 'kan?" tanya Niky sangat bersemangat ingin berkenalan dengan pasangan sahabatnya itu.


"Ini dia pasanganku." ucapnya menggeser tubuhnya ke samping hingga wajah seorang Faza Bramasta berhasil membuat mereka semua terbelalak tak percaya.


"Faza !!!" pekik mereka dengan serentak.


"Hai semua !!!" Faza merasa sedikit canggung kala dirinya datang bersama seorang wanita, mungkinkah setelah ini dirinya akan digoda oleh para sahabatnya yang super nyinyir semua itu.


.


.


.

__ADS_1


::: Bersambung :::


Salam hangat semuanya, rajin-rajin kasih vote dan hadiah ya kakak-kakak , biar thor bisa rajin up juga. Like dan komen jangan lupa juga.


__ADS_2