Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ,, 101


__ADS_3

Pagi ini Karamel akan pergi ke perguruan The Shadow of the King and Queen karena dirinya ingin melampiaskan segala permasalahannya dengan berlatih bela diri dengan paman Boy.


"Kara, Sayang." panggil Sofia ketika Karamel turun tangga, Karamel menoleh ke arah sang mama tanpa mengeluarkan suara.


"Bantu Mama masak ya," pinta mama.


"Tumben, biasanya Kara nggak di izinin masak," ucap Karamel karena memang Sofia tidak pernah mengizinkan Karamel memasak, takut anaknya terluka.


"Rekan bisnis papa mau makan siang di rumah jadi mama butuh bantuan kamu, Sayang." ucap mama.


"Oooh, oke," sahut Karamel membantu sang mama dan bik Asih memasak.


Setelah selesai Karamel berpamitan dengan sang mama untuk pergi ke perguruan karate miliknya. Satu jam, dua jam hingga empat jam lamanya Karamel selesai berlatih.


Wanita itu pun pulang ke rumahnya!


"Akhirnya kamu pulang juga, sayang," ucap mama Sofia menghampiri Karamel.


"Mama nungguin Kara?" tanya Karamel bingung, tidak biasanya Sofia menunggu Karamel pulang.


"Tentu, Mama pengen nanya banyak sama putri kesayangan Mama tentang hubungan kamu sama Tuan Nixon." ucap mama Sofia membuat Karamel menaikkan sebelah alisnya aneh.


"Hubungan siapa?" tanya Karamel.


"Mama seneng kamu bisa membuka hati kamu lagi. Kara, kalo kamu udah siap mau menikah, Mama sama Papa enggak akan ngelarang kamu, Sayang." ucap mama Sofia.


"Siapa mau nikah sama siapa?" tanya Karamel.


"Apa kamu malu, Sayang?" tiba-tiba papa Sanjaya datang bersama laki-laki yang tidak Karamel suka.


"Malu? Buat apa?" tanya Karamel.


"Malu karena kamu punya hubungan spesial dengan Tuan Nixon." ucap sang papa namun tidak membuat Karamel terkejut.


"Omong kosong! Mama sama Papa jelas tau siapa yang aku cinta, dia adalah Leo, aku cuma cinta sama Leo bukan sama orang lain apalagi sama Tuan Nixon yang Papa maksud." ucap Karamel membuat speechlees kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ehem! Sepertinya kita harus pergi dari sini, Pah." ucap sang mama malah ingin meninggalkan Karamel dengan si mesum itu


"Oh iya tentu, kita harus pergi sekarang." sahut papa.


"Ck! ...."


"Biarkan mereka pergi, Kara." ucap laki-laki mesum itu mencekal tangan Karamel sehingga Karamel langsung melepas paksa cekalan tangannya.


"Tuan Nixon yang terhormat, saya harap anda bisa paham dengan ucapan saya kali ini, saya tidak suka di ganggu jadi saya harap anda menjauh dari kehidupan saya." tekan Karamel.


"Tidak Kara ...."


"Saya sudah pernah bilang, tolak tawaran Papa saya dan anda pergi jauh dari kehidupan saya," sengit Karamel lagi.


"Mungkin aku akan menolaknya tapi kau tahu harapan Tuan Sinaja akan hancur, Kara." ucapnya datar namun Karamel berpura-pura tuli dan pergi meninggalkan henry.


................


...Perusahaan GV Del Nixon Internasional....


"Besok kau harus membobol keuangan Sinaja Company Grup yang di Australia, Luhan." titah Henry.


"Baik, Bos." patuh Luhan, IT terbaik Henry.


"Apa tindakan anda tidak akan membuat curiga Tuan Sinaja, Bos?" tanya sang tangan kanan Henry yaitu Andi.


"Tuan Sinaja tidak akan mungkin curiga denganku, walau anaknya Karamel mengatakan aku adalah pelakunya, Tuan Sinaja tidak akan mungkin percaya, Andi." sahut Henry.


"GV Del Nixon Internasional adalah perusahaan ternama di Kanada bahkan di Asia seklipun, tidak akan mungkin bagiku untuk mengusik perusahaan orang lain tanpa sebab, Andi. Walau kenyataannya memang aku yang melakukannya tapi fikirkanlah mereka tidak akan mungkin percaya seorang CEO GV Del Nixon Internasional melakukan hal rendahan seperti itu." ucap Henry.


"Masalah keuangan perusahaan Sinaja Company Grup tidaklah sebanding dengan kekayaan yang aku miliki, Andi. Jadi berhentilah untuk takut di curigai, apalagi Tuan Sinaja menganggap aku adalah rekannya jadi dia tidak akan percaya begitu saja," jelas Henry.


"Ini bukan dirimu, Bos. dua perusahaan yang bisa saling menguntungkan sangat di sayangkan jika anda menolaknya, Bos." ucap Luhan menggoda Henry.


"Kau benar, Lu. Perusahaan itu baguna untuk di ajak kerja sama dengan perusahaanku, aku hanya bermain santai saja dan akan di pastikan aku menerima tawaran Tuan Sinaja tapi setelah Kara datang kepadaku." ucap Henry dingin.

__ADS_1


................


Beberapa hari kemudian, Sejak kemarin Sanjaya tampak tidak tenang karena berita keuangan Sinaja Company Grup yang di Australia di bobol oleh orang lain.


"Hanya orang profesional yang bisa membobol keamanan keuangan perusahaanku, orang profesional? Siapa orang itu." gumam Sanjaya terus berfikir keras.


"Mas, apa masalah kemarin belum di ketahui pelakunya siapa?" tanya Sofi langsung masuk ruangan kerja sang suami dan memberikan segelas kopi panas.


"Belum." lirih Sanjaya.


Sofia menghela napas lalu ia berdiri di belakang sang suami dan memijat bahu suaminya dengan penuh kelembutan.


"Aku tidak tahu Sofia, selama keuangan perusahaan masih di tangani oleh Arjun tidak ada siapapun orang yang bisa membobol keamanannya tapi kali ini, aku yakin pelakunya sangat ahli di dunia cyber dan pastinya dia punya masalah besar denganku," ucap Sanjaya.


"Harapanku sekarang hanya di keputusan Tuan Nixon, jika Tuan Nixon menolak kerja sama yang aku tawarkan, aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan keuangan perusahaan seperti semula." ucap Sanjaya merasa kebingungan.


"Tenangkan dirimu, Mas." sahut Sofia memeluk leher sang suami.


Di sudut pintu Karamel sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya yang membahas soal keuangan perusahaan di Australia, karena sejak kemarin Karamel melihat ada perubahan yang aneh dari tingkah papanya, maka dari itu ia penasaran dan menguping pembicaraan orang tuanya.


"Apa harapan Papa cuma sama keputusan si cowok mesum itu doang? Kenapa papa nggak ngajuin kerja sama dengan perusahaan Binondra Group milik Leo juga?" gumam Karamel karena perusahaan milik Leo tak kalah hebatnya dari milik Henry.


'Mungkin aku akan menolaknya tapi kau tahu harapan Tuan Sinaja akan hancur, Kara.'


Karamel mengingat ucapan Henry dua hari yang lalu dan otak wanita itu langsung mengerti maksud dari kata-kata pria mesum itu.


"Gue yakin ini pasti perbuatan cowok mesum itu," gumam Karamel mengepal tangannya, rasanya sangat sedih melihat keadaan sang papa.


"Hais," Karamel merasa kesal dan mengambil kontak mobilnya lalu pergi dari rumahnya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2