
Tengah malam Karamel terbangun, Karamel merasa sangat lelah karena suaminya ternyata menghukumnya dengan menerkam Karamel.
Leo memang memperlakukan Karamel dengan sangat lembut namun sungguh lelaki tidak ada kata lelah, Leo dan Karamel menyelesaikan permainan malam mereka hingga beberapa kali.
Karamel menatap wajah Leo yang terlelap, lalu Karamel menatap perutnya, Karamel mengelus perut datarnya.
"Boleh aku minta satu hal buat ketemu sama anak aku di dalem mimpi, sekali aja Tuhan," batin Karamel teringat akan kehilangan anaknya.
Karamel menatap langit-langit kamarnya, Karamel mengenang saat-saat dirinya bersama Vian. Tidak bisa di pungkiri, Karamel sangat sulit melupakan tangan kanan sekaligus sahabat curhatnya itu.
Apa lagi untuk keluarga kandungnya sendiri, Karamel benar-benar tidak percaya dirinya akan kehilangan banyak orang yang ia cintai.
Karamel memejamkan matanya sejenak lalu Karamel menatap ke arah Leo.
"Setelah ini aku pengen hidup bahagia sama dia, sama suami aku, Tuhan," ucap Karamel menatap wajah Leo lalu Karamel menyentuh pipi Leo dan karena sentuhan tangan dingin Karamel, Leo jadi menggeliat di buatnya.
"Aku tau kamu posesif dan juga cemburuan orangnya, maaf tadi aku keceplosan di depan kamu." ucap Karamel lagi.
Oh ternyata Leo tidak benar-benar tidur, pasalnya sebelum Karamel bangun, Leo baru saja berbaring di kasur sebab dirinya habis pergi ke kamar mandi, alhasil Leo mendengar ucapan Karamel barusan.
"I love you, Cleo Rendra Agata," ucap Karamel hendak mencium kening Leo, namun tiba-tiba tengkuk Karamel di tarik oleh Leo hingga bibir tipis Karamel menempel bibir Leo.
Karamel melebarkan matanya lalu refleks Karamel menarik kepalanya secara paksa, "Belum puas ternyata," goda Leo menarik turunkan alisnya.
Karamel mengalihkan pandangannya ke samping, "Aku cuma mau cium kening kamu bukan bibir kamu, apalagi sape mau ..." Karamel berhenti bicara dan melirik Leo.
Leo tersenyum lalu Leo menatap dalam mata Karamel, Leo benar-benar sangat mencintai wanita yang sedang menindih tubuhnya sekarang.
"Kenapa?" tanya Karamel mengerutkan dahinya.
"I love you more istri tercintanya aku." bisik Leo tersenyum tipis.
Blush! Wajah Karamel bersemu merah, Sial! umat Karamel di dalam hatinya lalu Karamel langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami sehingga Leo tersenyum senang.
"Maaf udah buar kamu cemburu tadi," lirih Karamel.
__ADS_1
"Hem," sahut Leo.
Leo memeluk tubuh Karamel dengan sangat erat seakan-akan takut akan kehilangan Karamel, Leo tidak mengizinkan Karamel untuk lepas dari pelukannya.
........
"Em! Hari ini kita jalan-jalan aja yuk?" ajak Karamel tiba-tiba merasa suntuk berdiam diri di rumah.
"Ke mana?" tanya Leo.
"Ke mana aja, yang penting bisa keluar dari rumah, bosen tauk," kata Karamel.
"Oke," demi menyenangkan suana hati sang istri, Leo tidak menolak ajakan sang istri.
Karamel merasa gembira, Leo dan Karamel pergi ke tempat-tempat yang sering ia kunjungi dan di setiap tempat juga Karamel banyak bercerita pada Leo tentang keseruan dirinya dengan Diky dan Adit.
Di Dufan Karamel tidak henti-hentinya mengajak Leo untuk bermain permainan ini dan itu, hingga Karamel merasa lelah dan Leo juga merasa mual. Karamel dan Leo istirahat sebentar untuk menghilangkan penat mereka.
Karamel kembali bercerita tentang dirinya dan kedua sahabatnya Diky dan Adit. Leo tersenyum senang karena kedua sahabatnya Diky dan Adit selalu ada untuk Karamel.
Leo yang sedang minum tiba-tiba langsung menyemburkan air yang ada di mulutnya lalu Leo batuk-batuk akibat ucapan Karamel.
Uhuk uhuk uhukk ....
"Astaga Sayang," pekik Karamel kaget, kemudian ia membantu Leo dengan menepuk-nepuk pundak Leo.
Leo mengelap bibirnya, "Ulah kamu, uhuk uhukk ...." ucap Leo menyalahkan Karamel.
Karamel melongo kaget, Leo yang ceroboh tapi dirinya yang di salahkan. Sehat kah suaminya ini?
"Salah aku dari mananya?" sengit Karamel menjepitkan kedua pipi Leo.
Leo melebarkan matanya, "Maksud aku, kamu ngagetin aku tadi," ucap Leo dengan bibir yang monyong akibat Karamel menjepit kedua pipinya.
"Apa?" kesal Karamel melepas cengkeraman tangannya.
__ADS_1
"Kamu kangen sama Diky dan Adit trus kamu juga mau ketemu sama mereka juga," ucap Leo.
"Iya, terus?" tanya Karamel.
"Kamu sendirian aja, aku mana bisa...."
"Mana bisa apa? Kalo aku ketemu sama mereka, ya kamu harus ikut dong, 'kan kamu suami aku, gimana sih." potong Karamel.
"Jangan lupa pertemuan terakhir aku sama mereka di kampus Binus University waktu itu ...." Leo menggantung perkataannya, dirinya tidak yakin akan di terima lagi oleh para sahabatnya.
"Abdi yang kalem aja marah banget sama aku, apalagi mereka berdua yang bar-bar," liriih Leo menundukkan kepalanya.
"Aku tau Adit sama Diky juga pasti marah kalo tau aku udah jadi suami kamu." tambah Leo lagi.
Karamel merasa sedih melihat suaminya, Karamel berdiri lalu Karamel menarik kepala Leo agar menempel di perutnya.
"Gak perduli seberapa besar mereka marah sama kamu, ada aku yang bakal bela kamu." ucap Karamel mengelus kepala Leo.
Leo melingkarkan tangannya ke pinggang Karamel, "Kara, apa perbuatan aku dua tahun yang lalu masih membekas di hati kamu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Leo membuat Karamel merintihkan air matanya.
"Maaf," lirih Leo dengan tatapan kosong.
Entah kenapa Karamel merasa Leo lebih merasa terpukul di bandingkan Karamel, walau Karamel banyak kehilangan orang tersayangnya. Karamel tetap banyak juga yang mendukungnya agar tidak larut dalam kesedihan.
Namun Leo, dua tahun yang lalu Leo menghadapi hidupnya sendirian dan kini para sahabatnya pun banyak yang merasa kecewa dan marah pada suaminya itu.
"Maafin aku karena demi nyelamatin keluargaku, kamu jadi di benci sama sahabat kamu sendiri, maaf Leo," batin Karamel memeluk erat suaminya itu.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1