
Kevin menyuruh Rendi untuk datang ke rumahnya dan sekarang Rendi baru saja smpai, gumaman Kevin yang menyebut nama Karamel terdengar jelas ketika Rendi berdiri di depan pintu kamar Kevin.
"Kevin masih suka sama Kara?" gumam Rendi.
Rendi di beritahu oleh Biyan bahwa Kevin menyukai Karamel, namun Kevin tidak bisa mendapatkan Karamel karena mereka semua tahu dulu Karamel masih menunggu seseorang yang sangat ia cintai.
Kevin berusaha untuk selalu dekat dengan Karamel, sudah banyak berbagai cara Kevin menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap Karamel bahkan beberapa kali Kevin berpura-pura keceplosan di depan Karamel bahwa dirinya menyukai Karamel namun semua itu tidak ada pengaruhnya, hingga Kevin ragu untuk mengungkapkan perasaannya dan lebih memilih untuk mengubur dalam-dalam perasaannya itu.
Ceklek ....
Tanpa mengetuk pintu Rendi langsung masuk hingga Kevin di buat kaget olehnya.
"Hayo lo! Lagi ngoceh sama foto Karamel, lo ya." goda Rendi membuat Kevin gelagapan.
"Gila kali lo ya," umpat Kevin.
Kevin merasa dirinya seperti sedang kepergok maling karena kedatangan Rendi secara tiba-tiba membuatnya langsung menyembunyikan handphone yang tadinya menampilkan gambar Karamel.
"Kara udah jadi milik orang lain, lo nggak ada harapan buat dapatin dia." ejek Rendi berbaring di sofa.
"(....)" Kevin bergeming.
"Kalaupun lo mau berusaha buat dapatin Kara. Lo harus inget satu hal, tandingan lo itu milyader dunia. CEO Henry!" tambah Rendi membuat Kevin geram.
Kevin mengepal tangannya ketika Rendi terus mengejek dan meremehkan dirinya tanpa henti.
..............................
...Singapura...
Semalam Prasetya pergi ke Kanada sendirian untuk bisa bertemu dengan sahabat lamanya, lalu siang ini giliran Leo dan Karamel yang memutuskan untuk pergi ke Indonesia.
Yarra mencoba untuk meminta waktu satu hari lagi untuk mereka tinggal di Singapura, namun Karamel meminta maaf dengan sang mama mertua karena mereka akan tetap pergi ke Indonesia hari ini juga.
Alasan Karamel yang ingin pergi ke Indonesia karena Karamel tidak mau menunggu waktu lebih lama untuk menyelesaikan rencananya, namun lain halnya dengan Leo yang sejak semalam terlihat murung dan gelisah akan keputusan Karamel yang menurutnya terlalu terburu-buru.
Leo tahu semua yang ia lakukan hanyalah sandiwara tapi sungguh berat bagi Leo harus menjadi kekasih wanita pembully dan juga wanita sombong seperti Clara.
Leo dan Karamel kini telah berada di jet pribadi Leo, "Sayang," panggil Leo dengan Karamel yang sedang memejamkan matanya.
Karamel membuka matanya lalu Karamel menatap Leo dengan menaikkan kedua alisnya, tanda ada apa Leo memanggilnya.
"Are you okay?" tanya Leo tiba-tiba membuat Karamel mengerutkan dahinya aneh.
"Ya, of course," ucap Karamel terlihat bohong.
Leo menyadari wajah Karamel yang tampak pucat dan bahkan tangannya yang di genggam Leo terasa sangat dingin.
"Kara ...."
__ADS_1
"Aku cuma ngerasa kedinginan aja," Kara mengingat Leo bukanlah orang yang pandai di bohongi ataupun di bodohi, maka dari itu Karamel lebih memilih jujur dari pada menghindar.
Leo berdiri dari tempat duduknya lalu Leo mengajak Karamel untuk pergi ke kamar pribadinya.
"Istirahat di sini aja ya," ucap Leo dan Karamel berbaring di kasur dengan Leo yang duduk di sampingnya.
Selama beberapa menit Leo menatap wajah Karamel yang sudah terlelap.
"I love you, Baby." ucap Leo pelan lalu mengecup kening Karamel.
Setelah menempuh waktu hampir dua jam, jet pribadi Leo mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-hatta.
Leo berusaha membangunkan Karamel namun Karamel enggan membuka mata dan malah menggeliat ke sana ke mari seperti bayi.
Karena tidak ada pilihan lain, alhasil Leo memilih untuk menggendong Karamel hingga ke dalam mobil.
Sesampainya di Kediaman keluarga Mahendra, Leo menepuk-nepuk wajah Karamel agar bangun namun tidak ada hasil Karamel terus bergeming hingga Leo kembali menggendong Karamel menuju kamarnya.
"Akhir-akhir ini kamu keliatan gelisah terus, apa mungkin kamu lagi sembunyiin sesuatu dari aku, Kara?" gumam Leo menatap wajah Karamel.
Sejak mereka pergi ke Kanada untuk mengunjungi makan Grandma Bertty dan Mama Sofia, Leo menyadari Karamel sering memegangi kepalanya lalu sering mendengar Karamel mengeluh sakit kepala dan juga merasa lelah secara tiba-tiba.
Leo benar-benar tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada Karamel.
...........
Entah tubuhnya yang sedang kelelahan atau memang semalam dirinya kekurangan tidur, hari ini Karamel berbaring di ranjang milik Leo hingga malam hari. Bukan berarti Leo tidak menghiraukan Karamel, Leo sudah berusaha membujuk Karamel untuk bangun karena ingin makan namun tanpa sadar Karamel mengigau 'jangan ganggu bisa gak sih,' sontak saja Leo terdiam dan tidak berani mengganggu tidur Karamel.
Apa kara sedang bermimpi memukul orang lain — Fikir Leo sambil memegangi kepalanya.
Seperti anak kecil yang tidak menyadari sekelilingnya, Karamel bangun dengan mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.
Karamel berusaha mengumpulkan tenaganya dengan mengusap-usap matanya hingga tanpa di duga suara seorang laki-laki mengagetkan Karamel.
Leo tersenyum melihat Karamel yang sedang mengumpulkan tenaganya, "Apa istirahat kamu cukup?" tanya Leo berbaring di samping Karamel dengan pakaian piyama tidur.
Karamel tersentak memelototi Leo, "Kenapa? Ada yang aneh di muka aku?" tanya Leo kini merubah raut wajahnya tanpa ekspresi.
Karamel mengedipkan matanya lalu Karamel mengambil posisi duduk, "Kita udah sampe?" tanya Karamel.
Leo merasa kesal karena sudah empat kali Leo berusaha membangunkan Karamel tapi Karamel tidak juga bangun dan malah memukulnya hingga Leo menyerah dan membiarkan Karamel tertidur sampai ia terbangun sendiri.
Leo ikut mengambil posisi duduk, "Udah enam jam yang lalu, Kara!" ucap Leo membuat Karamel terkejut.
"Hah?!" kata itu yang keluar dari mulut Karamel.
"Gue ke*o banget ya?" batin Karamel.
"Kamu bahkan belum makan siang," ucap Leo.
__ADS_1
Leo memang merasa kesal, namun Leo juga merasa khawatir akan keadaan Karamel yang di mana perutnya belum di isi makanan ataupun minuman sedikitpun.
Karamel memberanikan diri untuk menatap Leo tapi sebelum Karamel mengucapkan sesuatu, Leo sudah lebih dulu mengatakan.
"Mandi dulu sana! Aku tunggu di sini, abis itu kita makan malam bareng di bawah," Leo berkata sangat lembut hingga Karamel mengangguk dan bangun dari tempat duduknya lalu pergi menuju kamar mandi.
Setelah selesai, Leo dan Karamel turun ke lantai satu untuk makan malam bersama.
Karamel menatap meja yang begitu banyak jenis makanan Indonesia lalu Karamel menatap Leo.
"I know your hobby is eating," ucap Leo membuat Karamel terperangah.
Karamel memang sangat suka makan tapi bisakah hobinya yang satu itu tidak di bocorkan?
"Kenapa? Kok keliatannya kamu kayak lagi kesel gitu sama aku?" tanya Karamel kini menyadari sikap Leo yang begitu dingin.
Sekilas pria itu menatap Karamel membuat Karamel mengerutkan dahinya sangat aneh.
"Enggak!" sahut Leo duduk bagitu pula dengan Karamel ikut duduk di samping Leo.
..............................
...Kediaman Clark Damyan...
Setelah selesai makan malam, Clara mencoba untuk menghubungi nomor yang di berikan oleh sang papa tadi.
Kekasih....
Nama itu yang di buat Clara pada nomor yang ingin ia hubungi, "Dia lagi apa ya sekarang?" gumam Clara.
"Kayaknya sebelum nelpon dia, gue kirim pesan dulu aja deh," gumamnya mencoba mengetik sesuatu namun kemudian Clara menghapus semua kata-katanya.
"Gimana ya?" gumam Clara bingung harus mengirim pesan seperti apa.
Clara (19 :43)
Hai, apa kabar Leo?
Clara (19 :45)
Aku Clara Olivia, kamu masih inget kan sama aku?
Dengan senyum sumringah Clara berkali-kali membaca pesan yang ia kirimkan pada Leo, berharap Leo akan cepat membacanya dan tentunya membalas pesannya juga.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...