
Brugg! Leo langsung memeluk Kara dari belakang hingga Kara tersentak dan hendak menginjak kaki Leo menggunakan kaki kanannya.
"Berani kamu nginjak kaki aku, mutilasi sekarang juga," ancam Leo sehingga kaki Kara yang sudah terangat langsung ia turunkan.
"Kenapa harus pake acara ngagetin sih?" dengus Kara tidak suka karena dirinya hampir saja akan melukai kekasihnya.
"Kamu lebih parah buat aku hampir jantungan, Karamel Listra," bisik Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya.
"Aku?" tanya Karamel.
"Aku ngeliat pacar aku balapan motor sampai di garis finish dia malah ngelepasin tangan dia tadi, tindakan kamu bener-bener buat aku hampir jantungan, Kara." ucap Leo sehingga Kara mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi kanan sang pacar.
"Kamu ngeliat semuanya?" tanya Kara.
"Dari putaran kedua," ketus Leo.
Kara melepas kedua tangan Leo dari perutnya lalu ia membalikan badannya untuk menghadap sang pacar sang memasang wajah melas, "Marah ya?" tanya Kara.
"Jangan lakuin itu lagi, aku mohon," pinta Leo.
Leo benar-benar takut dengan semua hal yang Kara lakukan hari ini, jantungnya terasa berhenti saat Kara melepas kedua tangannya tadi, ia takut Karanya kenapa-kenapa.
"Maafin aku ya," lirih Kara memegangi kedua telinganya sendiri, Leo menghela napas lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Lain kali jangan di luangin lagi, oke!" ucap Leo namun Kara hanya tersenyum dan tidak menjawab ataupun menggangguk menyetujui perkataan sang pacar.
"Jalan yuk," ajak Karamel ingin menghabiskan waktu bersama sang pacar.
.........
Pagi ini Karamel talah siap-siap berangkat ke sekolah dengan tampilan yang asli, yeah Tania yang jelek sudah tidak ada lagi, kini yang ada hanya Karamel Listra.
"Pagi, Kara." sapaan orang-orang
"Pagi juga," balas Kara pada beberapa siswa-siswi yang menyapa dirinya padahal ia tahu orang-orang yang menyapa dirinya hanyalaj orang-orang yang bermuka dua.
"Salam kenal Kara, kenalin nama aku Willi," ada juga yang mengajak kenalan dengan Karamel.
"Oh iya salam kenal juga," balas Kara ramah, sungguh malas menanggapi orang-orang ini namun dirinya tidak bisa sombong juga dengan mereka.
"Cantik banget sih Karamel,"
"Mau aku antarin sampai kelas ng ...."
"Nggak perlu, pacar gue bisa jalan bareng gue," potong sang most wanted sekolaan dari arah belakang sehingga semua orang termasuk Kara menoleh ke arah belakang.
"Pacar ?!" gumam para lelaki menatap Karamel dan Karamel membalas dengan tersenyum tipis, kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Iya, dia pacar saya," ucap Karamel langsunh mematahkan hati para lelaki yang ingin mendekatu Karamel.
Leo tampak menahan amarahnya ketika melihat Karamel tersenyum pada rombongan para pria genit itu.
"Minggir," sentak Leo menarik tangan Karamel menjauh dari beberapa siswa itu. Leo membawa Kara ke rooftop sekolah lalu mengajak Kara untuk duduk di sofa.
"Why? Why are you so beautiful, Honey?" sentak Leo menutup wajahnya dengan kedua tangannya, setelah kemarin Aryan membuatnya cemburu, hari ini lagi-lagi ia di buat cemburu karena ada banyak para pria yang memandang penuh kagum pada pacarnya.
"Maksudnya?" tanya Kara.
"You make the guys stare at you without blinking, I hate that, Honey!" lirih Leo kesal.
(Kamu membuat para lelaki menatapmu tanpa berkedip, aku benci itu, Sayang!)
__ADS_1
"Are you jealous?" tanya Kara.
"Kamu masih nanya, Sayang? Aku benci mereka natap kamu lebih dari lima detik, aku benci mereka yang ngegoda kamu kayak jin, aku benci mereka ...."
"Biarin mereka ngelakuin apapun yang mereka mau, jangan perduliin mereka karena aku enggak akan berpaling dari kamu," ucap Kara lembut.
"Aku tahu tapi aku nggak suka lihat kamu jadi primadona sekolahan, mereka bakal mandangin muka kamu terus-tertusan, aku enggak suka itu, kamu cuma milik aku!" ketus Leo membuat Karamel tertegun.
"Apa aku harus jadi cupu lagi?" tanya Karamel.
"Iya," jawab Leo.
"Enggak mau ah," ucap Karamel.
"Anji*g! Kenapa cewek gue bisa cakep banget sih, kenapa enggak tetep jadi cupu aja." batin Leo meronta-ronta kala dirinya kini memiliki kekasih yang sangat cantik.
"Dia marah gara-gara gue di pandangin banyak cowok tapi dia enggak sadar kalo dia sering buat gue marah gara-gara dengerin menjerit fans-fans cewek-cewek alay dia yang suka ngeklaim seorang Clep Rendra Agata itu milik mereka" batin Karamel bahkan tak kalah jengkelnya dari Leo namun perasaan wanita itu bisa ia simpan tanpa harus ia katakan pada Leo.
..........
Ketiga sahabat Kara mengajak Kara untuk ke kantin bersama tapi Kara terus menolak pasalnya ia ingin keluar sekolah sendirian dan setelah ketiga sahabat pegi, wanita itu pun langsung pergi ke luar menuju mobilnya di kantin bie'em.
"Astaga, pacar gue mejeng di sana lagi," dengus Kara melihat Leo, Diky, Adit dan Dito duduk di luar kantin bie'em.
Kara berjalan pelan menuju mobilnya yang di depan pohon besar lalu ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya, Leo dan yang lainnya tersentak mendengar mesin mobil Kara. Leo yang tahu pemilik mobil itu langsung melebarkan matanya.
"Kara !!" pekik Leo bangun dari duduknya lalu berlari ke arah mobil Karamel namun ia kalaj cepat dengan mobil BMW i8 milik Kara yang sudah pergi dari sana.
"Anj*r nekat banget gue, balik-balik kena omel nih sama pacar," gumam Kara namun masih menancapkan gasnya menuju arah jalanan kota Bandung.
Beberapa jam kemudian Kara sampai ke tempat tujuannya, Kara keluar dari mobilnya dengan memakai kaca mata hitam dan pakaian sekolahnya.
"Yuhuu spada," pekik Karamel langsung masuk ke dalam rumah elegan itu membuat pelayan rumah itu terkejut dan berlari menghampiri Karamel.
"Apa yang nggak sopan, orang gue cucunya Kakek sama Nenek," pekik Karamel melepas kaca matanya.
"Non Tania," pekik pelayan itu.
"Karamel! Nama gue bukan lagi Tania tapi Karamel, ingat jangan panggil gue Tania lagi," pekik Karamel malas.
"Wey-yo ada apa ini, kok ribut-ribut," ucap seorang wanita paruh baya mengalihkan pandngan Karamel pada sang nenek.
"Nenek," pekik Karamel langsung memeluk sang nenek. Perempuan yang di panggil nenek langsung terdiam dan membalas pelukan Karamel, tanpa tahu siapa orang yang memeluknya karena tidak melihat wajah Karamel.
"Karamel kangen," ucap Kara.
"Masya Allah, cucuku Tania," ucap nenek Hanna Mulya Ramora mengeratkan pelukkan mereka.
Hanna asli orang Belanda yang menikah dengan Hans dan memiliki dua anak yaitu Sofia dan Glenn, Hanna berasal dari keluarga sederhana tapi di hormati di Belanda. Sifat Hanna yang baik, lembut, mudah berbaur dengan siapa saja membuat semua orang sangat menghormatinya.
"Karamel, Nek." ucap Kara pelan.
"Is het waar?" tanya nenek Hanna dalam bahasa Belanda.
(Benarkah?).
"Dit is mijn echte naam, oma." balas Kara.
(Ini nama asliku, Nek).
"Oma weet het, lieverd." sahut nenek Hanna.
__ADS_1
(Nenek tahu, Sayang).
"Kakek ...." ucapan Kara langsung terpotong dan langsung melepaskan pelukkan.
"Hai cucuku, apa kabarmu sayang?" ucap kakek Hans Ramora datang dengan membawa sebuah pancingan.
Hans asli orang Jakarta yang menikah dengan wanita Belanda yaitu Hanna, untuk sifat Hans sangatlah tegas, cerewet dan suka kepo, wajahnya sangar tapi hatinya lembut, Hans tidak pernah menganggap dirinya sudah tua karena orang tua kadang di anggap lembek dan beliau tidak suka itu.
"Vissen?" gumam Karamel.
(Memancing?).
"Ooops jangan marah cucuku, kamu yang datang terlambat," ucap kakek Hans cepat.
Kakek Hans tahu, Kara sangat suka memancing karena dulu di setiap Kara pulang dari Amerika, kakek Hans akan menjemput Kara dari Jakarta dan mengajak ia memancing.
"Tidak masalah, besok kakek harus mengajakku memancing lagi, Oke!" ucap Karamel dengan suara anak-anak.
"Kamu mau menginap?" tanya nenek Hanna
"Apa tidak boleh?" tanya Kara.
"Oh tentu saja tidak boleh, rumah ini terlalu sempit untuk anak nakal sepertimu, Cucuku." ejek kakek Hans.
"Rumah ini tampak menyedihkan karena tidak ada anak nakal spertiku, wahai Kakek tua." balas Karamel.
"Jangan panggil aku kakek tua, Nak." ketus kakek Hans karena dirinya merasa bahwa dirinya masih sangat muda. Konyol!
"Cih! Umur anda sudah masuk tujuh puluh tahun, Kakek tua," ejek Karamel cekikikan.
"Istriku kenapa kamu diam saja melihat cucumu memanggilku kakek tua, apa kamu tidak sayang padaku lagi?" kakek Hans mengadu pada sang istri.
"Astaga, Bayi tua mengadu pada istrinya ... hahahahaha !!" ejek Karamel membuat kakek Hans menekuk wajahnya.
"Usia kita memang sudah beranjak tua, Suamiku." ucap nenek Hanna.
"Tapi jiwaku masih muda, Sayang." ucap kakek Hans.
"Tapi wajahmu sudah tua, kakek," uucp Karamel.
Karamel memang suka mengejek dan menjahili keluarganya, mau yang muda atau tua semua tidak ada bedanya, Karamel sangat berani Karena Karamel adalah anak perempuan dan cucu perempuan satu-satunya di keluarga besar Sinaja ataupun keluarga besar Ramo. Jadi bisa di bilang Karamel itu adalah anak dan cucu kesayangan mereka semua.
.........
Malam hari Karamel turun dari tangga untuk makan malam bersama sang kakek dan nenek, ia ingin menginap beberapa hari di Bandung, menghabiskan waktu bersama sang kakek dan nenek. Baru setelah itu ia akan kembali ke Jakarta.
Setelah selesai makan, kakek Hans dan Karamel duduk di bangku luar rumah.
"Kara rindu suasana tenang kayak gini," gumam Karamel karena tempat sang kakek lebih banyak tumbuhan segar.
"Sebentar lagi akan banyak anak muda di depan rumah kita," ucap kakek Hans.
"Apa tidak ada jalanan lain selain jalanan raya depan rumah ini?" tanya Kara heran.
"Mereka bukan lewat cucuku tapi mereka datang ke rumah kita," ucap kakek Hans membuat Kara terkejut.
"Datang ke rumah? Untuk apa?" pekik Karamel membuat kakek Hans menutup kedua telinganya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...