
Ketika Karamel melepaskan jewerannya, Leo mengumpat ingin membalas dendam kepada kedua sahabatnya yang laknat itu karena berani memprovokasi istrinya.
"Ciah! mata dia melototin kita mulu noh, gue pastiin abis ini dia bakal nelepon anak buah dia buat begal kita berdua di jalanan." ucap Diky kepada Adit namun sebenarnya Diky sengaja berbicara demikian agar Karamel bisa membantu mereka berdua.
"Palingan juga kita di buat babak belur dan kemungkinan juga lo bakal batal nikah gegara cedera lo yang parah akibat perbuatan lakinya Kara yang sadis." timpal Adit rasanya sangat menyenangkan bisa mengerjai Leo lewat istrinya sendiri.
Karamel melirik sinis ke arah Leo dan seketika itu juga Leo menciut karenanya, "Mereka cuma ngada-ngada aja kok sayang, aku mah mana mungkin kayak gitu." ucap Leo tertawa kaku.
"Kalian tenang aja, gue bakal nyuruh Becca buat nganter kalian pulang." ucap Karamel seakan-akan mempercayai kata-kata Diky dan Adit dibandingkan suaminya sendiri yang ia kira akan benar-benar melakukan hal buruk kepada dua sahabatnya sendiri.
"Sayang! Kamu percaya sama omong kosongnya mereka dan enggak percaya sama aku?" tanya Leo kagetlah tentunya.
"Siapa yang tahu kamu bohong atau enggak," sahut Karamel ketus.
"Gara-gara lo berdua ya ...."
"Ohya Kar, gue sama Adit ke sini karena di suruh sama Niky. Seminggu lagi 'kan gue sama Niky bakal tunangan tapi lo pasti enggak lupa 'kan hari ulang tahunnya Niky!?" ucap Diky dan Karamel menganggukkan kepalanya ingat, sedangkan Leo mengepal tangannya ingin sekali memukul Diky karena berani memotong perkataannya.
"Jadi Niky minta gue buat jemput lo sekarang, katanya ...."
"Maksud lo apaan mau jemput bini gue! Hah?" sentak Leo gantian menyela perkataan Diky.
"Mas coba di dengerin dulu ih, enggak sopan banget kamu ya orang lagi ngomong juga malah kamu potong gitu aja." ucap Karamel membuat Leo mendengus jengkel, dirinya di katakan tidak sopan oleh istrinya karena berani menyela perkataan Diky lalu bagaimana dengan Diky yang tadi berani menyela perkataannya?
Dan di samping itu, Adit tertawa pecah mengejek Leo yang takut dengan amukan istrinya, "Rasain lo di marahin ibu negara." ejek Adit.
"Kenapa Niky minta lo buat jemput gue sekarang? 'Kan entar malam juga gue pasti dateng ke pesta ulang tahunnya Niky." tanya Karamel pada Diky.
"Masalah itu Niky cuma bilang hari bahagianya dia, lo pasti bakal ngabulin permintaan dia jadi ...."
"Oke, gue bakal ikut kalian ke tempat Niky." ucap Karamel membuat Leo terbelalak.
"Apa kamu bercanda sayang, kamu mau ikut mereka ke tempat Niky!?" sentak Leo tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
"Cuma seharian aja kok, Mas." ucap Karamel.
"Oke, tapi sama aku ya." ucap Leo namun Karamel menggelengkan kepalanya cepat.
"Enggak usah, kamu ke kantor aja ya." ucap Karamel setelah semingguan lebih melarang Leo pergi ke kantor, pada akhirnya hari ini mempersilakan Leo untuk pergi ke kantor juga.
"Enggak bisa ...." ucapan Leo terpotong.
"Niky sahabat aku loh, Mas." ucap Karamel merasa heran dengan penolakkan Leo.
"Aku tahu Niky sahabat kamu tapi aku mohon kali ini aja jangan bandel ya, kamu lagi hamil sayang." ucap Leo memohon penuh harapan.
Karamel mengerutkan dahinya, ada apa dengan suaminya itu? Kenapa suaminya itu harus memohon-mohon seperti itu demi tidak mengizinkannya keluar rumah.
"Aku janji sampai siang aja ya," ucap Karamel kukuh ingin keluar namun dengan batas waktu yang hanya 5 sampai 6 jam saja.
"Possessive benget sih lo Bambang, jangan khawatir kalik Le, gue sama Adit pasti bakal jagain Kara kok." ucap Diky.
"Masalahnya semua rival bisnis gue udah pada tahu tentang Karamel, Dik. Gue enggak akan bisa tenang kalo Kara keluar rumah tanpa gue," sentak Leo dengan serius, Leo sangat mengkhawatirkan keadaan Karamel yang kini menjadi incaran para rival bisnisnya.
"Kamu pergi aku juga ikut atau aku diem di rumah kamu juga jangan pergi ke mana-mana, tetap sama aku di rumah." ucap Leo memberi pilihan.
"Ya udah iya, kamu juga ikut." kali ini bumil mengalah dan menuruti kemauan suaminya itu.
"Dasar suami overprotective," ejek Karamel malas namun Leo tidak perduli dengan ejekkan istrinya itu.
Di perjalanan menuju apartemen Niky, Karamel terus-terusan mengomeli Leo karena suaminya itu terlalu berlebihan membawa belasan bahkan mungkin puluhan bodyguard bersama mereka. Namun Leo pasrah saja di omeli oleh istrinya itu, toh ini semua demi keselamatan mereka.
Adit menutup kedua telinganya dengan malas namun suara Karamel yang mengomeli Leo tetap masih bisa ia dengar walaupun samar, hingga akhirnya Adit melebarkan matanya mengingat sesuatu yang harus ia sampaikan ke Leo, "Oh iya Le hampir lupa, tadi waktu gue sama Nanda meriksa undangan acara ulang tahunnya Niky buat entar malem, gue lihat ada nama Widia Monalisa woy, mantan lo yang bueh ...."
"Cinta mati sampai bego !! Dih jikjay." serentak Adit dan Diky berteriak lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha ....
"Nj*r inget banget gue sama tu cewek, saking tergila-gilanya sama Leo tu cewek sampai rela ngabisin harta dia demi bahagiain Leo tapi sayangnya usaha dia enggak ada yang berhasil." ucap Diky di sertai dengan tawa renyah.
"Elah, masa lalu masih di inget aja lo berdua untung enggak ada Dito di sini." ucap Leo dengan malas, namun lintasan-lintasan bayangan masa lalu itu menghampiri Leo.
...Flashback on...
Masa lalu semasa SMP Leo berpacaran dengan seorang gadis dari sekolahan lain, dia adalah Widia teman Sasya dari kampung halaman di Bogor. Saat itu Widia sengaja menanyai semua tentang Leo kepada Sasya hingga Sasya menjodohkan mereka berdua, Leo akhirnya menembak Widia di depan anak-anak SALF BADRAD.
Leo tidak bermaksud mempermainkan perasaan Widia tapi Leo ingin menghilangkan perasaannya terhadap Sasya dengan cara berusaha mencoba untuk mencintai Widia. Satu minggu, dua minggu hingga satu bulan perasaan Leo tetap tidak bisa terbuka sedikitpun untuk Widia.
Hingga akhirnya Leo menyerah dan berbicara kepada Widia bahwa dirinya ingin mengakhiri hubungan mereka, saat itu di puncak Bogor Adit dan Diky manjadi saksi Leo memutuskan hubungannya dengan Widia.
Namun siapa sangka dua bulan dari berakhirnya hubungan Leo dan Widia bahkan komunikasi antara mereka berdua juga telah putus, tiba-tiba saja Widia mendatangi rumah Leo dengan maksud ingin mengapel rumah 'Pacarnya' sekaligus ingin mengenal dekat kedua orang tua pacarnya.
Untungnya saat itu Prasetya dan Yarra sedang ada perjalanan bisnis ke Irlandia hingga Leo menemui Widia, tiba-tiba saja Widia memeluk tubuh Leo.
'Aku kangen sama kamu, sayang.' ucap Widia membuat Leo kaget, karena jelas-jelas hubungan mereka telah berakhir sejak dua bulan yang lalu namun kenapa Widia malah masih menganggap Leo sebagai pacarnya.
Padahal sejak Leo mengakhiri hubungannya dengan Widia di Bogor, Leo sudah memberitahu anak-anak SALF BADRAD tentang berakhirnya hubungan mereka bahkan di hari Leo mengatakan, 'gue sama Widia udah enggak ada hubungan apa-apa lagi, gue udah putus sama dia.'
'Gue enggak bisa jatuh cinta sama dia jadi kemarin gue dateng ke Bogor buat mengakhiri hubungan gue sama dia."
Saat itu juga Dito berteriak 'Woah !! Jadi gue punya kesempatan nih buat deketin neng Widia, makasih ya Le udah kasih gue kesempatan hehe!'
Tapi dua hari dari kejadian Widia mendatangi rumah Leo, Widia juga datang ke sekolahan mereka dengan langsung mencari Leo, otomatis satu sekolahan menjadi heboh karena selama ini hubungan Leo dan Widia hanya SALF BADRAD yang tahu.
__ADS_1
SALF BADRAD merasa dibohongi oleh Leo, Diky dan juga Adit tapi mereka tidak marah karena bagaimanapun juga itu adalah urusan pribadi Leo dan mereka tidak bisa ikut campur so'al itu, namun berbeda dengan Dito yang merasa sangat-sangat kecewa.
'Jadi kalian masih pacaran!? ' ucap Dito dengan mengepal tangannya lalu pergi meninggalkan mereka semua di depan gerbang sekolah.
Melihat Dito pergi, Leo merasa tidak enak lalu Leo mendesak Widia untuk mengatakan yang sebenarnya di depan anggota SALF BADRAD yang lain bahwa hubungan mereka telah berakhir sejak dua bulan yang lalu namun Widia menggelengkan kepalanya menangis dan mengatakan.
'Enggak, kamu enggak pernah mutusin aku.' ucap Widia bohong hingga Leo, Diky dan Adit di buat terkejut olehnya.
Sejak pengakuan bohong Widia, Leo merasa muak dan marah kepada Widia karena ulah kebohongannya itu, Sasya menjadi tidak mau menegur Leo selama berminggu-minggu lamanya.
Kedatangan Widia yang selalu membawakan hadiah ini itu untuk Leo dan sahabat-sahabatnya, tidak pernah sekalipun Leo menanggapinya dengan kata 'terima kasih' malahan saat hadiah itu di berikan kepada Leo, Leo menolaknya dengan mengatakan.
'Gue bukan orang yang bisa lo bayar pake barang-barang mahal ini, gue enggak tertarik jadi mendingan lo kasih ke orang yang lebih membutuhkan aja.' ucap Leo cuek.
Bahkan Adit dan Diky juga menjadi tidak suka melihat kedatangan Widia namun sayangnya salah satu sahabat mereka terlalu mendambakan wanita pembohong itu, Dito terlalu di bodohi oleh rasa kagumnya terhadap Widia.
...Flashback off...
"Dito? Kenapa sama Dito?" tanya Karamel cuek, sepertinya Karamel sedang memendam kecemburuan terhadap suaminya itu karena nanti malam suaminya itu akan bertemu lagi dengan mantan pacarnya yang mungkin di masa lalu banyak kenangan terindahnya.
"Aku bisa jelasin ...." ucap Leo terpotong.
"Gue nanya sama lo berdua yang di depan," ucap Karamel membuat Leo menelan salivanya dengan sangat kesusahan, saat ini istrinya benar-benar sedang dalam mode bad mood.
"Caritanya itu Leo pacaran sama Widia selama sebulan tapi karena Leo enggak bisa bertahan sama tu cewek jadi Leo ngajak gue sama Diky buat dateng ke kampung halamannya tu cewek di Bogor," ucap Adit yang langsung si sela oleh Karamel.
"Ngapain?" tanya Karamel mengerutkan dahinya.
"Ya buat mutusin hubungan mereka lah," sahut Adit santai.
"Tapi Kar dua bulan kemudian si Widia malah dateng nyariin Leo, dia ngomong kalo Leo itu masih jadi pacar dia padahal jelas-jelas Leo udah mutusin tu cewek di puncak." ucap Diky.
"Dan lo tahu Dito yang punya perasaan lebih sama Widia ngerasa di bohongin sama kita bertiga, dia kecewa karena pada saat Leo sama Widia putus waktu itu Dito ngomong kalo dia mau coba buat deketin Widia tapi sayangnya Widia ngilang selama dua bulan, muncul-muncul langsung nyariin Leo tu cewek." timpal Adit.
"Pokoknya parah banget dah tu cewek, semenjak dia ngilang terus muncul lagi di kehidupannya SALF BADRAD, banyak banget percekcokan yang terjadi mulau dari Sasya yang enggak mau negur Leo, Dito yang marah sama Leo bahkan marahnya tu anak kena di gue sama Adit juga tahu enggak, dan parahnya lagi Widia kayak yang sengaja gitu sok akrab sama Dito tapi waktu Leo dateng, Dito malah di tinggalin gitu aja sama Widia." ucap Diky.
"Ya makin panas lah si Dito gara-gara Widia ninggalin dia dan berpaling ke Leo." timpal Adit.
"Terus sampai kapan tu cewek pergi?" tanya Karamel ingin tahu segalanya tentang Widia.
Leo, Adit dan Diky berdecih bersama, "Cihh! Sampai ketahuan hamil," ucap mereka bertiga serentak.
"Hamil?" beo Karamel mengerutkan dahinya.
"Iya, tu cewek hamil tapi dulu kita enggak tahu siapa bapaknya, waktu itu sih dia nuduh Leo yang udah ngehamilin dia tapi bulan dia hamil beda banget sama waktu mereka berengan, jadi gue sama Adit sengaja deh nuduh si Dito yang udah ngehamilin dia sampai Dito marah besar sama kita berdua, ujung-ujungnya dengan be*onya dia malah keceplosan ngomong ...." ucap Diky yang langsung di sambung oleh Adit.
"Cukup, udah cukup! Bukan dia, bukan Dito yang ngehamilin gue tapi Lay yang udah ngehamilin gue," pekik Adit memperagakan kejadian di masa lalu saat Widia berteriak sembari mencengkeram kuat kepalanya.
"Jadi dia udah punya suami sekarang." ucap Karamel seperti bertanya.
"Enggak ada lah, orang kandungannya aja dia gugurin." ucap Diky membuat jantung Karamel berdegup sangat cepat bahkan perut Karamel tiba-tiba saja mengencang, dan itu menimbulkan rasa sedikit sakit di bagian perutnya.
"Akk!" ringis Karamel refleks menyentuh perut buncitnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Leo menyentuh perut Karamel juga.
"Dia berani gugurin kandungannya? Apa itu karena dia masih berharap sama suami gue?" batin Karamel mengepal tangannya dengan sangat kuat.
"Sayang ...." panggil Leo kala Karamel tidak menanggapinya.
"Em! Eng-enggak apa-apa, aku enggak apa-apa kok." ucap Karamel menahan sakit sekaligus kesalnya karena mantan pacar suaminya ternyata masih sendirian.
"Beneran enggak apa-apa atau perut kamu sakit? Kita ke rumah sakit ...."
"Enggak usah, aku enggak apa-apa Mas." sela Karamel karena suaminya itu selalu saja khawatir yang berlebihan.
"Ya udah kalo kamu enggak apa-apa tapi kalo kamu ngerasain sakit di bagian perut kamu, kamu harus ngomong sama aku biar kita bisa langsung priksa di rumah sakit ya." ucap Leo dan Karamel hanya menganggukkan kepalanya patuh saja.
.........
Ketika mereka sudah sampai di apartemennya Niky, berjam-jam lamanya mereka menghabiskan waktu bersama. Ya Niky menyuruh Karamel datang ke apartemennya karena Niky ingin menghabiskan waktu bersama dengan sahabatnya itu bahkan Niky dan Karamel juga melakukan video call dengan kedua sahabat mereka yang lain yaitu Firgy dan Mika, rasanya jarang sekali mereka bisa menghabiskan waktu bersama apalagi semenjak Karamel menikah dengan Leo. Tidak ada lagi waktu kumpul bersama seperti dulu saat masa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) yang selalu berkumpul dan bersenang-senang bersama.
Hingga matahari mulai menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat, tibalah waktunya Karamel dan Leo pamit pulang karena ingin mempersiapkan diri untuk datang ke acara ulang tahun Niky malam ini.
"Kamu kenapa sih sayang dari tadi cuek mulu sama aku, bawaan bayi atau emang kamunya yang lagi ada masalah sama aku?" tanya Leo lirih.
"Em! Menurut kamu cantikkan mana aku sama mantan kamu si Widia itu?" tanya Karamel membuat Leo tersentak, kenapa istrinya itu bertanya demikian. Fikir Leo heran.
"Of course istriku lebih cantik darinya." sahut Leo namun tidak membuat suasana hati Karamel tenang dan senang.
"Segitu ada banyaknya ya cewek-cewek pada tergila-gila sama suami gue. Ah! Gue kurung juga ni satu suami biar enggak ada yang bisa pandangin muka ganteng dia kecuali gue, istri dia." batin Karamel lirih.
"Bohong, di mata kamu dia pasti lebih cantikkan dari aku." ucap Karamel datar.
"Astaga! Muka dia itu biasa aja sayang, enggak kayak yang wow banget gitu, enggak. Terus juga sikap dia bertolak belakang banget sama kamu, dia enggak semandiri kamu dan enggak sekuat kamu, dia juga enggak sebaik kamu. Aku tahu kamu orang yang lemah lembut dan mudah kasihan sama orang lain, beda banget sama dia yang lebih mementingkan dirinya sendiri di bandingkan orang lain." ucap Leo dengan lembut.
"Beneran, enggak bohong?" tanya Karamel sembari menampilkan wajah cemberut.
"Your Lion of course is telling the truth, Sayang." ucap Leo membuat Karamel berusaha menahan tersenyumnya karena Leo masih mengingat nama panggilan sayangnya saat masa SMA dulu.
"Maaf karena aku terlalu negative thinking so'al masa lalu kamu, Mas." ucap Karamel merebahkan kepalanya didada bidang Leo, merasakan hangatnya pelukkan sang suami.
Leo mengelus rambut Karamel lalu mencium lembut kening sang istri dengan penuh cinta, "Enggak apa-apa sayang, aku ngerti kok apalagi sekarang kamu udah hamil enam bulan, wajarlah sikap kamu mudah kesentuh 'kan." ucap Leo begitu menyentuh hati Karamel.
__ADS_1
Karamel memejamkan matanya semakin mengeratkan pelukkannya, seperti takut untuk di tinggalkan suaminya itu.
"Kapan kamu pernah marahin aku, Mas?!" batin Karamel mengingat setiap waktu dirinya bersama Leo, tidak pernah sekalipun Leo memarahi Karamel sampai Karamel menangis seperti mantan suaminya dulu.
"Enggak pernah, kamu justru selalu sabar ngehadapain istri kamu yang bandel dan pemarah ini." batin Karamel lagi.
"Makasih karena udah mencintai aku dengan tulus, aku sayang kamu Mas." ucap Karamel mendongakkan kepalanya.
Leo terpaku melihat pemandangan wajah istrinya yang sangat cantik dan menggemaskan itu, "Sial, istri gue imut banget." batin Leo, jarang sekali dirinya memandangi wajah istrinya yang tersenyum seimut sekarang.
Cup....
"Aku juga sayang kamu, istriku Karamel Listra." ucap Leo mengedipkan sebelah matanya karena berhasil mencuri satu ciuman di bibir istrinya.
Karamel melipat bibirnya ke dalam lalu menyembunyikan kepalanya didada bidang sang suami, Karamel merasa malu kerena diposisi mereka berdua sekarang ada Jeffry yang sedang menyetir mobil.
Leo pernah mengatakan tentang Jeffry tidak pernah tertarik dengan wanita manapun juga karena di masa lalu Jeffry pernah dikecewakan kekasihnya yang ternyata sudah punya suami bahkan punya anak di belakangnya.
Dulu Jeffry terlalu menyayangi kekasihnya hingga kekecewaan itu di berikan kepadanya, Jeffry telah hilang kepercayaan terhadap wanita. Itu juga pernah berlaku pada Karamel ketika Leo meninggalkan Karamel selama satu tahun, namun karena Leo sangat mempercayai Karamel dan Karamel juga berasal dari keluarga Ramo yang kental akan sebuah kejujuran maka satu-satunya wanita yang Jeffry percayai adalah Karamel seorang.
Terkadang Karamel merasa kasihan dengan Jeffry yang selalu melihat keromantisan dirinya dan suaminya saat di dalam mobil, jiwa kesepian Jeffry pasti di buat meronta-ronta karena ulah mereka.
"Percepat sedikit Jeffry, istriku sudah tidak sabar ingin melakukannya." goda Leo membuat Karamel terbelalak kaget.
"Aw! Sakit sayang." pekik Leo karena Karamel mencubit pinggangnya yang keras.
"Aku pastiin kamu bakal puasa selama satu tahun, enggak akan aku izinin kamu nyentuh aku, Mas." sengit Karamel kini membuat Leo terkaget-kaget, apakah istrinya itu bercanda?
Menahan diri melihat kemolekan tubuh se*si istrinya tanpa di perbolehkan untuk menyentuhnya selama enam bulan terakhir ini saja, sudah membuat Leo harus datang ke markas dan menghabiskan ratusan peluru untuk memburu di hutan sebagai bentuk pelampiasannya. Bagaimana jika menunggu sampai satu tahun? Bisa-bisa hutan akan kehilangan penghuninya karena Leo pasti akan membantai segala jenis hewan untuk bisa melampiaskan segala perasaan gelisah sekaligus rasa kesalnya.
"Kejam banget ni istri siapa sih," batin Leo sembari berfikir harus mengatakan apa agar istrinya itu menarik kata-katanya dan akhirnya Leo mendapatkan ide.
Saatnya memainkan trik licik Celo Rendra Agata, memohon hingga bertekuk lutut akan membuat istrimu merasa dirimu adalah laki-laki yang mudah di ancam dan pastinya istrimu akan sangat senang untuk mempermainkanmu, namun jika dirimu mengalah sedikit saja dengan bumbu sebuah kesabaran, istrimu pasti akan merasa iba dan kasihan. Mari kita coba fikir Leo.
"Ehem! Aku murni cinta sama kamu tanpa adanya kekerasan ataupun paksaan, kamu tahu aku bakal terus sabar nunggu kamu sampai kamu izinin aku buat nyentuh kamu lagi sayang." ucap Leo dengan tersenyum paksa, percayalah kata-kata Leo ada makna tersembunyi untuk istrinya itu agar merasa iba kepadanya.
Dan untungnya berhasil! Mendengar suaminya tidak menolak ancamannya, raut wajah Karamel langsung berubah murung, entah kenapa Karamel merasa dirinya terlalu berlebihan karena telah mengancam suaminya.
"Dasar suami nyebelin, aku enggak jadi ngancem kamu," kesal Karamel menjauh dari suaminya dan memalingkan pandangan ke luar jendela.
"Alhamdulillah, berhasil." batin Leo bisa bernapas lega.
.........
Pesta ulang tahun Niky malam ini ramai tamu-tamu undangan yang sudah berdatangan namun sahabat Niky yaitu Karamel serta suaminya belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Apa jangan-jangan Kara enggak bisa dateng ya!?" gumam Niky menghela napas gusar.
"Kamu jelas tahu dong sayang, suaminya Kara itu udah jadi bos besar sekarang wajarlah kalo mereka belum dateng, mungkin Leo ada sedikit urusan yang menunda waktu mereka buat dateng ke sini tapi aku yakin mereka pasti dateng kok." ucap Diky pelan sembari mengelus rambut Niky.
Niky memanyunkan bibirnya, "Mika, Firgy sama Leta jauh dari sini cuma Kara yang deket, masa iya keempat sahabat aku enggak bisa dateng semua." lirih Niky manja.
"Bukannya sahabat lo yang Leta itu tinggal di Malaysia ya, kenapa enggak suruh dia dateng ke sini naik pesawat aja?" tanya Bobby.
"Kenapa? Lo mau gebetin sahabat tunangan gue?" sambar Diky terdengar mengejek.
"Kalo dia-nya mau, ya gue sih ayok aja." ucap Bobby tidak menolak jika ada wanita cantik mau dengan dirinya yang doyan makan.
"Lo tanya Karamel gih, kira-kira Kara mau enggak sama lo." ucap Adit membuat Bobby mengerutkan dahinya tak paham.
"Yang kita bahas itu sahabatnya Niky si Leta bukan Karamel, Bebek." pekik Bobby dengan suara cempreng.
"Heh gembrot, gue ngomong kayak gitu karena Niky pernah bilang kalo sahabat dia si Leta itu hampir sama kayak Karamel tapi ya itu bedanya Karamel pimpinan mafia terbesar sejagat raya dunia ini tapi si Leta itu cuma salah satu anggota gangstar jalanan doang, eh tapi gangsternya terbesar se-Asia." ucap Adit berbisik di tengah-tengah Niky, Diky, Dito dan Bobby.
"Anggota gangstar? Cewek?" pekik Bobby memelotot kaget.
"Bacot lo segede toa," ucap Diky.
"Sahabat lo nyeremin banget sih, Nik. Udah Karamal yang keliatannya kalem dan lemah lembut tapi tau-taunya dia jadi pemimpin mafia ... Hoh mafia woy! Ini pula si Leta, kagak tau rupanya kayak apa ternyata eh ternyata jadi anggota gangster. Hah! Kagak mikir apa orang tua susah payah nyekolahin biar anaknya jadi bener, ini malah anaknya jadi enggak bener. Amit-amit deh semoga di masa depan anak gue enggak kayak gitu." oceh Bobby bagaikan seorang mak-mak yang sedang ceramah.
"Dih si Bobby, mulut lo sembarangan banget tahu enggak. Walau Karamel sama Leta itu hidupnya penuh kekejaman di dunia gelap kayak mafia sama gangster jalanan tapi mereka enggak sejahat itu, gue juga enggak bakalan mau kalik sahabatan sama mereka kalo merekanya jahat." ucap Niky pelan.
"Lo enggak tau aja alasan mereka masuk ke dunia kekerasan itu apa," tambah Niky tersenyum miring.
"Emang apaan?" tanya Bobby.
"Au ah males cerita," ucap Niky membuat Diky, Adit, dan Dito menertawakan Bobby yang di buat penasaran karena mereka tahu penyakit insomnia Bobby akan muncul jika ia di buat penasaran.
"Tega lo Nik buat gue enggak bisa tidur malem ini." ucap Bobby jengkel.
"Ehem, malem semua ...."
.
.
.
::: Bersambung :::
Selama thor vakum, ternyata nggak ada perubahan apa-apa ya dari vote, hadiah maupun likenya hihi. Tapi enggak apa-apa thor bakal tetap lanjutin ceritanya sampai selesai.
But, kalo enggak ada vote sama hadiahnya, updatenya juga bakal lama ya. Jadi banyak-banyak vote dan kasih hadiah ya biar thor upnya setiap hari.
__ADS_1