
Mendengar bel jam istirahat telah berakhir, Faza jadi mengurungkan niatnya lalu ia pergi dari ruang UKS menuju kelasnya.
Begitu juga dengan Tania dan ketiga sahabat Aldy yang mendengar suara bel istirahat berakhir, mereka pun berjalan pergi ke kelas mereka dan meninggalkan Aldy beristirahat di ruang UKS.
Saat mereka sudah di dalam kelas, Bobby memilih untuk duduk di tempat Aldy karena ia ingin berbicara pada Tania.
"Kali ini kita nggak bisa bantu lo karena hukuman itu dari Faza bukan dari Buk Lilak, Tan." ucap Bobby membuat Tania membulatkan matanya, biasanya ketiga sahabat Aldy akan membantu Tania melaksanakan hukumannya namun selama ini yang memberi hukuman adalah buk Lilah bukan Faza.
"Emang apa bedanya?" tanya Tania.
"Faza pasti bakal ngawasin lo jadi mustahil buat kita bertiga bantuin lo," ucap Bobby membuat bibir wanita itu manyun.
"Ya udahlah, anggap aja ini cobaan buat gue," ucap Tania memelas.
Empat jam berlalu bel pulang sekolah terlah berbunyi beberapa detik yang lalu sehingga semua bersorak dan bersemangat untuk pulang ke rumah, tapi sayangnya tidak untuk Tania yang harus membersihkan toilet terlebih dahulu dan setelahnya baru ia bisa pulang.
.........
Kini Tania sudah berdiri di depan pintu toilet, memandangi lantai yang begitu kotor dengan bau yang tidak mengenakkan tentunya.
"Ergh! Sial banget sih hidup gue hari ini," ucap Tania dengan wajah masam. Huekk! Tania merasa ingin mual kala melihat banyak sekali tisu di lantai yang entah di gunakan untuk apa oleh para siswi-siswi sekolahan itu.
"Gimana bisa bersih, kalo toiletnya aja kayak kandang kebo gini." keluh Tania.
"Kalo lo pandangin doang, itu toilet nggak bakalan bisa bersih." ucap Faza berdiri di belakang Tania sehingga wanita itu tersenak sembari memegangi dadanya.
"Astagfirullah! Bisa nggak sih lo kalo muncul di depan gue itu enggak usah pake ngagetin, gue jantungan lo mau tanggung jawab?!" dengus Tania.
"Gue di belakang lo bukan di depan lo," ralat Faza datar membuat Tania memutar bola mata jengah.
Faza menatap Tania dari bawah sampai atas, lalu ia melempar sapu, lap kain, ember, pengepel dan sebagainya secara mendadak sehingga refleks Tania menangkap benda yang di lempar oleh Faza.
"Kerjain sekarang!" titah Faza bersandar di salah satu tiang luar toilet.
"Harus di sapu juga?" tanya Tania.
"Hemm." sahut Faza sehingga Tania masuk ke dalam toilet lalu ia mulai mengelap, tapi saat sedang fokus mengelap tiba-tiba saja Faza membuat kaget Tania.
"Dua wastafel itu belum bersih, semprot dan di lap lagi," titah Faza bersandar di pintu toilet wanita.
"Untung gue nggak punya penyakit jantung, Faza gila," batin Tania mengelus dadanya lalu mengelap wastafel yang di tunjuk Faza hingga urusan mengelap selesai sekarang Tania beralih menyapu lantai.
"Nyapunya yang bener, di situ tu kotor banget, bersihin sekarang!" tunjuk Faza.
"Baru juga gue pegang ni sapu udah main printah-printah aja ni orang," batin Tania kesal.
"Di situ kenapa belum bersih, sapu lagi!" tunjuk Faza padahal bagaian yang di tunjuk Faza memang belum di sentuh oleh Tania.
"Tuh mata pak ketos buta kali ya, yang di sana 'kan emang belum gue sapu pak ketos." batin Tania semakin di buat kesal.
__ADS_1
"Tisunya di ambil bukan di biarin aja di situ," ucap Faza lagi dan lagi hingga Tania hanya bisa mengucap kata 'sabar' di dalan hatinya.
"Di pel ke seluruh sudut jangan sampe gue cek masih kotor." ucap Faza membuat Tania terus-terusan mengumpat di dalam hatinya.
"Barisan itu belum di pel." tunjuk Faza.
"Ergh! Kenapa mulut ni orang bisa bawel banget sih kayak cewek," batin Tania menjerit di dalam hatinya lalu ia mengepel bagian yang di tunjuk oleh Faza.
"Selesai!" dengus Tania lelah.
"Gue udah se ..." Tania yang hendak berjalan mendekati Faza dan bicara menjadi diam. Brukk! Byurr! Karena ia menendang ember yang isinya air kotor bekasnya mengepel tadi, mata wanita itu melebar, mulutnya menganga dan tubuhnya kaku karena melihat lantai yang sudah ia bersihkan sekarang malah banjir oleh air ember yang di tendang olehnya sendiri.
Faza yang melihat tindakan dan juga ekspresi wajah konyol Tania, tidak bisa menahan tawanya.
"Pfttt !! hahahahaha !!" tawa Faza pecah hingga membuat Tania tersadar dari keterkejutannya lalu ia melihat Faza sedang memegangi perutnya sembari terus menertawainya.
"Jahat banget sih lo, Pak ketos," lirih Tania mengerucutkan bibirnya hingga. Huft! Faza berusaha mengontrol tawanya.
"Makanya kalo ... bhahaha !!!" Faza kembali tertawa karena melihat wajah Tania yang sudah mirip seperti kepiting rebus dengan bibirnya yang mengerucut dan dahinya juga ikut mengerut.
"Nyebelin banget sih," kesal Tania seraya mengambil air di wastafel lalu itu siram ke wajah Faza hingga sekejap tawa Faza berhenti karena terkejut.
"Hehe !!" Tania menyengir karena melihat mulut Faza yang terus menganga lalu kedua tangannya terangkat membentuk huruf C.
"Tania!!" pekik Faza menatap tajam Tania.
"Apa? Lo mau marah? Salah sendiri lo malah katawain gue jadi sekarang kita berdua impas," ucap Tania menjulurkan lidahnya.
"Apa-apaan lo, nggak ada ya peraturan kayak gitu," sentak Tania melebarkan matanya.
"Itu peraturan gue." ucap Faza
"Emang lo siapa? Bos gue?" tanya Tania.
"Udah salah nggak mau ikut aturan lagi ni anak," kesal Faza membuat Tania menghela napas panjang.
"Ya kalik gue harus ikutin aturan konyol lo itu pak ketos, emangnya lo bos di sekolahan ini? Suka banget merintah ini-itu." kesal Tania.
"Terserah! Pokoknya lo harus kerjain hukuman tambahan dari gue." ucap Faza.
"Kalo gue nggak mau, lo mau apa! Hem?" tanya Tania rasanya sudah tidak bisa lagi mengontrol diri untuk tetap bersikap tenang.
"Ya udah gue banting handphone lo." ancam Faza mengeluarkan handphone Tania membuat mata Tania hampir copot karena kaget.
"Waduh, handphone gue mau di banting?" batin Tania menciut karena handphone kesayangannya ingin di banting oleh Faza.
"Enggak perduli, entar juga gue bisa maling lagi," ucap Tania kini giliran Faza yang membulatkan matanya.
"Buset !! Jadi handphone ini hasil dia maling? Lagian mimpi apa sih gue semalam bisa adu bacot sama ni cewek aneh." batin Faza.
__ADS_1
"Ck, sekarang lanjutin hukuman lo," ucap Faza berjalan keluar dari toilet sehingga Tania mendengus dan mengambil pengepel di sudut dekat wastafel. Brakk! Tania membalikkan badannya saat mendengar pintu tertutup oleh Faza.
"Masih ada orang woy di dalem, pak ketos buka pintunya." pekik Tania menjatuhkan pengepelnya lalu Door! door! door! Ia menggedor pintunya kuat.
"Kalo gue nggak mau, lo mau apa?" tanya Faza membalikkan pertanyaan Tania tadi.
"S*tan dia ngibulin gue," batin Tania.
"Lo mau tanggung jawab apa enggak?" pekik Faza bertanya dari luar sana.
"Iya ya ya, gue bakal tanggung jawab," ucap Tania dengan sangat-sangat terpaksa.
"Janji enggak lo?" tanya Faza.
"Iya gue janji," sahut Tania membuat Faza tersenyum puas kemudian ia membuka pintu toiletnya.
"Bersihin lagi semuanya," titah Faza mengusap wajahnya yang basah.
Tak terasa sudah satu jam lebih Tania membersihkan toilet siswi sekolahan dan juga toilet guru, beberapa menit yang lalu Faza sudah pergi meninggalkan Tania tapi pria itu menyuruh Tania untuk pergi ke kantin bie'em hingga akhirnya ia pun pergi ke kantin bie'em.
"Cape." gumam Tania duduk di kursi seraya dirunya merenggangkan otot tangan dan kakinya yang terasa pegal-pegal.
"Nih minum," ucap Faza menyodorkan botol aqua, dengan cepat Tania langsung mengambil dan meneguk airnya hingga tersisa setengah.
"Nih handphone lo." ucap Faza pula sehingga Tania tersenyum senang kemudian ia mengangkat tangannya untuk mengambil handphonenya dari tangan Faza, tapi herannya Faza malah menarik kembali handphonenya.
"Kenapa malah lo tarik lagi?" tanya Tania namun Faza malah menatap Tania dengan sangat lekat.
"Lo suka sama Aldy?" tanya Faza, seketika mata Tania melebar seraya dahinya mengerut aneh.
"Siapa? Gue suka sama Aldy?" beo Tania menunjuk dirinya sendiri, dan Faza langsung membuka layar handphone Tania.
"Ini buktinya." ucap Faza menunjukkan wallpaper handphone Tania.
"Ini foto Aldy sama grandpanya waktu di Amerika 'kan?" tanya Faza bisa tahu itu adalah foto Aldy dan grandpanya saat di Amerika.
"Mamp*s! Gue lupa kalo wallpaper handphone gue foto Kak Aldy sama grandpa," batin Tania menggerutui kebodohannya di dalam hati.
"Iya itu foto Aldy," jawab Tania jujur.
"Lo suka sama dia?" tanya Faza lagi.
"Bukan urusan lo." sahut Tania merampas handphonenya dari tangan Faza lalu ia pergi meninggalkan Faza.
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...