Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 110


__ADS_3

Satu tahun kemudian, kedekatan Henry dan Karamel berjalan dengan baik bahkan mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, setiap ada waktu luang Henry akan menyempatkan diri untuk menghubungi atau mendatangi Karamel ke rumahnya begitu juga Karamel yang sudah mulai sibuk dengan urusan perkuliahannya, tapi masih ada waktu luang untuk bermain dengan Henry.


Hari ini Henry ada waktu luang untuk Karamel dan Karamel ingin datang ke rumah Henry, sebenarnya Henry yang ingin datang ke rumah Karamel tapi Karamel mengatakan di rumah sedang ada rekan bisnis papanya jadi biar Karamel saja yang datang ke rumahnya.


"Sayang, Luhan akan menjemputmu," ucap Henry terpotong oleh Karamel.


"Jangan Henry, aku akan datang ke rumahmu sendirian saja," tolak Karamel lewat telepon.


"Kau tahu aku tidak suka penolakan, Kara." ucap Henry dengan nada suara menekan.


"Ayolah Henry, kau pasti tahu aku tidak suka di perintah atau di atur-atur 'kan," sahut Karamel.


"Kau selalu melawanku, Kara." sengit Henry.


"Biarpun begitu kau tetap mencintai diriku "kan," ucap Karamel membuat di seberang sana tersenyum senang.


"Apa sekarang kau sedang menggoda diriku, Sayang." ucap Henry mencincingkan matanya.


"Astaga! Apa kau merasa tegoda sekarang?" lanjut Karamel menahan tawanya.


"Jangan memancingku, Kara." ucap Henry gemas dengan jawaban Karamel.


"Kau bukan duyung yang harus aku pancing, Henry." sahut Karamel terus menahan tawanya.


"Hentikan, Kara." ucap Henry kehabisan kata- kata, kekasihnya itu terlalu ahli dalam berargumen mulut dengannya.


"Jika aku berhenti, aku tidak akan sampai ke rumahmu, Henry." Karamel semakin menggoda Henry yang sudah tidak bisa menyahuti dirinya lagi.


"Kau menang, cepatlah datang aku sangat merindukanmu, Sayang." ucap Henry membuat Karamel tertawa lepas.


"Baiklah! Aku menuju garasi sekarang," ucap Karamel merasa puas.


"Bawa empat bodyguard bersamamu, kali ini jangan menolak lagi." ucap Henry cepat


"Baiklah, aku akan membawa bodyguard." sahut Karamel mendengus pasrah.


.........


Sesampainya di mansion Henry, Karamel langsung memerintahkan para bodyguardnya untuk kembali lagi ke rumahnya.


"Selamat datang, Nyonya." sapa kepala pelayan mansion Henry.


"Tuan sudah menunggu anda di halaman samping rumah, Nyonya." ucap kepala pelayan mansion Henry.


"Hei si manis," sapa Fico dari arah tangga sehingga Karamel menoleh ke arah tangga.


"Fico? Bukankah kau ada di Kanada?" tanya Karamel bingung melihat Fico ada di mansion Henry.


"Aku di suruh datang ke Indonesia untuk mengurus perusahaan kakak selama beberapa minggu ke depan, apa kau tahu kakakku itu suka sekali memerintah diriku yang sedang asik-asiknya menetap di Kanada, menyebalkan bukan." celoteh Fico membuat Karamel menahan tawanya.


"Sangat menyebalkan," sahut Karamel.


"Oh manisku, aku merindukanmu," ucap Fico merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Karamel dan Karamel hendaj mendekati Fico.

__ADS_1


"Jika kau berani memeluk kekasihku jangan harap aku akan mengampunimu, Fico." suara dingin Henry membuat kaget Karamel dan Fico bahkan langkah kaki Karamel langsung berhenti.


"Cih! Dia adalah si manisku, Kakak." sengit Fico hendak mendekati Karamel.


"Maju selangkah lagi, akan kuhancurkan kesayanganmu yang di Irlandia, Fico." ancam Henry membuat Fico berhenti.


"Ancamanmu sangat menakutkan, Kakak." ucap Fico melangkah mundur.


"Kesayangan? Apa kau punya kesayangan? Wah! Aku jadi penasaran dengan kesayanganmu yang di Irlandia, Fico." goda Karamel pada Fico.


"Baby Girl?!" panggil Henry datar membuat senyum Karamel berubah menjadi tanpa ekspresi sekarang.


"Iya," ketus Karamel berjalan mendekati Henry.


"Dasar, pecemburu akut," dersis Fico langsung melarikan diri.


..............


...Ruang album foto....


Di ruangan penuh foto ini, Karamel berjalan sembari melihat pajangan di dinding, "Sejak kapan kau menyimpan foto-foto ini?" tanya Karamel menyentuh setiap pajangan foto dirinya.


Henry yang duduk di sofa langsung tersenyum mendengar pertanyaan Karamel, "Sudah lama sejak aku mencintaimu." jawab Henry.


Ini pertama kalinya Henry mengajak Karamel masuk ke ruangan penuh foto-foto ini. Menakjubkan, semua foto masa kecil Henry, masa kecil Fico dan masa mudah merekapun ada di ruangan ini.


Karamel tersenyum melihat foto dirinya ada di ruangan megah ini juga, bukan hanya satu tapi berpuluh-puluh pajangan fotonya ada di ruangan ini.


"Sebesar itukah cintamu, Henry?" batin Karamel membuat Henry berdiri dari tempatnya lalu ia berjalan mendekati Karamel dan langsung memeluk Karamel dari belakang.


"Sering aku katakan, jangan peluk aku dari belakang." ucap Karamel langsung melepaskan pelukkan mereka.


"Apa kau takut aku akan meniup telingamu lagi dan lagi?" goda Henry menghadap Karamel.


"Jangan macam-macam, Henry." sengit Karamel jengkel karena Henry sudah tahu bagian paling sensitif di tubuhnya.


"Aku akan menunggu sampai hari itu terjadi, sayang." goda Henry membuat Karamel memelotot.


"Kau benar-benar sangat mesum, Henry." sengit Karamel.


"Aku menggoda calon istriku sendiri, Sayang." ucap Henry membuat Karamel menatap lekat netra Henry.


"Aku takut Henry, aku merasa belum siap," lirih Karamel menundukan kepala.


"Apa kau masih ada rasa dengannya?" selidik Henry menyentuh kedua pipi Karamel membuat Karamel mengernyit lalu menatap Henry.


"Kenapa kau masih membahas tentang dirinya?" tanya Karamel.


"Seminggu yang lalu kita sepakat akan menikah Kara, lalu kenapa sekarang kau ragu? Hem!" tatapan tajam Henry membuat jantung Karamel berdegup kencang.


Sepakat! Bukankah dia yang memaksa Karamel agar segera menikah dengannya karena usia pria itu sudah menginjak tiga puluh tiga tahun, Karamel bahkan sudah beberapa kali menolak halus karena usia wanita itu tergolong masih sangat muda untuk menikah sekarang namun kedua orang tua Karamel ikut-ikutan mendesak Karamel agar segera menikah dengan Henry, alhasil Karamel menerima untuk menikah dengan Henry lantaran tidak mau membuat sedih kedua orang tuanya.


"Aku bukan ragu, Henry. Aku hanya merasa ini terlalu cepat bagiku untuk menikah sekarang, usiaku baru sembilan belas, Henry. Masih sangat muda sekali." sahut Karamel tidak mengubah raut wajah Henry yang masih datar.

__ADS_1


"Menikah di usia muda lebih baik daripada menikah saat usia sudah tua, Kara. Lagi pula tinggal beberapa bulan lagi kau akan masuk dua puluh," ucap Henry datar.


"Bukankah menikah muda untuk seorang wanita itu usianya sekitar dua puluh tiga atau dua puluh lima ya?" ucap Karamel mengerucutkan bibirnya.


"Jika target menikahmu di usia dua puluh lima lalu bagaimana denganku, usia kita terpaut dua belas tahun Kara. Apa kau tidak kasihan dengan diriku yang sangat ingin mengikat dirimu menjadi istriku, Hem?!" lirih Henry melas.


"Dua hari lagi kita akan menikah, bisakah di undur beberapa mingguuuu ... saja?" pinta Karamel dengan wajah tak kalah melas namun Henry menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa, aku sudah menyuruh Fico untuk mengurus urusan kantor jadi aku tidak mau menunda lagi," tolak Henry menyilang kedua tangannya di dada dan Karamel hanya bisa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya saja. Toh, pria di hadapannya kini sangat mencintainya jadi mungkin dirinya memang di takdirkan berjodoh dengan Henry.


...........


...Irlandia _ 08 : 40 AM....


Seorang laki-laki berpakaian formal sedang masuk ke salah satu restoran yang sudah di tentukan oleh rekan bisnisnya di sana.


"Maidin mhaith, an tuasal Azril. Sa chaoi seo le do thoil, a dhuine uasail." ucap seorang asisten pribadi rekan bisnis tuan Azril berjalan menuju ruang VIP sehingga tuan Azril mengikuti di belakang.


(Selamat pagi, Tuan Azril. Silahkan lewat sini, Tuan)


"Failte, an tuasal Azril." sambut rekan bisnisnya seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


(Selamat datang, Tuan Azril).


"Go raibh maith agat, an tuasal Rendra." ucap tuan Azril seraya menyambut tangan tuan Rendra.


(Terima kasih, Tuan Rendra).


"Mari duduk, Tuan." ajak tuan Rendra.


Setelah tuan Azril duduk, Tuan Rendra mulai mendiskusikan antar kerja dua perusahaan mereka hingga satu jam berlalu, keduanya sepakat mejalin kerja sama.


"Terima kasih atas semuanya, Tuan." salam terakhir tuan Azril.


"Sama-sama, Tuan." sahut tuan Rendra.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan." ucap tuan Azril pergi dari restoran itu, dan ketika tuan Azril pergi, Tuan Rendra tersenyum sinis,


"Let's start the game." gumamnya seraya bangkit daru tempat duduknya kemudian ia berlalu pergi dari restoran.


Tuan Rendra hendak masuk ke dalam mobilnya tapi tiba-tiba ia melihat seorang perempuan yang ia kenal, dan dengan manjanya perempuan itu merangkul tangan tuan Azril bahkab tuan Azril juga mencium kening perempuan itu sehungga tuan Rendra menutup kembali pintu mobilnya dengan kasar.


"Tuan ...."


"Tunggu sebentar," Tuan Rendra memotong perkataan asisten pribadinya kemudian tuan Rendra berjalan mendekati dua orang itu.


"Tuan Azril?!" panggil Tuan Rendra sehingga kedua orang itu menoleh ke sumber suara tersebut, alangkah terkejutnya perempuan itu melihat laki-laki yang ada di hadapannya sekarang.


"Lo ....


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2