
Malam ini SALF BADRAD kumpul di tempat Leo, lebih tepatnya mereka semua menjenguk Leo yang sedang sakit sedangkan Tania tidak punya keberanian untuk menjenguk mantan kekasihnya itu, wanita itu lebih memilih untuk menghubungi kakaknya saja.📞
"Halo, Kak," sapa Tania ketika sambungan teleponnya terhubung.
"Halo, Karamel," sapa seseorang membuat Tania terdiam sejenak, Tania merasa tidak kenal dengan pemilik suara itu.
"Maaf, ini siapa ya?" tanya Tania.
"Kenalin gue Adit, sahabat baiknya Aldy," ucapnya. Oh! Ternyata suara Adit segenit ini jika di telepon.
"Oh iya salam kenal buat Adit, kak Aldy mana ya?" tanya Tania.
"Kenapa nyariin Aldy, 'kan udah ada gue, ngobrol lah sama gue." ucap Adit membuat Tania tersenyum tipis karenanya.
"Gue ada perlu sama kak Aldy, tolong kasih handphonenya sama dia ya." pinta Tania pelan.
"Ya deh, gue kasih ke Aldy sekarang," dengus Adit lalu pria itu memberikan handphonenya pada Aldy.
"Halo?" panggil Aldy.
"Halo, Kak." sahut Tania.
"Iya, kenapa?" tanya Aldy namun Tania malah diam, wanita itu sempat berfikir bagaimana caranya ia bertanya so'al keadaan Leo.
"Keadaan Leo udah membaik sekarang, sekitar tiga harian lagi dia sembuh kok," ucap Aldy mengerti dengan apa yang ingin Tania tanyakan.
__ADS_1
"Siapa?" bisik Leo terdengar jelas di telinga Tania membuat Tania senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Em bilang ke Leo, cepat sembuh." ucap Tania.
"Kata Adek gue cepat sembuh Bang Leo," Aldy langsung menyampaikan kepada Leo namun dengan embel-embel 'abang'
"Iya, Makasih," sahut Leo serak membuat senyum Tania pudar, suara lemah pria itu berhasil membuat hati Tania terasa sedikit sesak.
.........
Tiga hari kemudian tepatnya di hari minggu di mana besok, semua angkatan sekolah akan melaksanakan ujian tengah semester kemudian hanya tinggal menghitung hari lagi adalah tanggal lahir Aldy dan Tania.
Oh iya, hari ini Tania ada janji dengan Leo di cafe Gourmet, baru saja wanita itu turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam cafe, kemudian ia menghampiri Leo yang tengah duduk sembari memainkan handphonenya.
Astaga! Ciptaan Tuhan yang begitu sempurna, wajah putih mulus, hidung mancung, bibir tipis, bulu mata lentik, dan alis yang tebal. Kenapa setelah dua minggu tidak bertemu, aura ketampanan mantan Tania semakin bertambah saja?
"Tania, Tan! Tania," panggil Leo mencengkam kedua bahu Tania lalu menggoyang-goyangkannya hingga Tania tersadar dari lamunannya
"Iya ganteng, emp! " ucap Tania keceplosan namun wanita itu langsung membelalakkan matanya kaget.
"Mulut lemes," batin Tania kesal sendiri pada dirinya yang keceplosan.
"Pfttt! Segitu gantengnya ya gue di mata lo," ucap Leo menaik turunkan alisnya menggoda Tania, hati pria itu berbunga-bunga kala mendengar pengakuan Tania barusan.
Ck! Tania berdecih kemudian ia memutar bola mata jengah dan hendak duduk namun pria itu tidak melepas cengkeraman tangannya dan malah terpaku menatap kedua bola mata Tania.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tania seraya menelan salivanya kala di tatap tajam oleh Leo.
"Ini berapa?" tanya Leo menikkan tangannya ke udara membuat Tania mengernyit karena Leo mengacungkan tiga jari di depan wanita itu.
"Tiga," jawab Tania spontan.
"Lo enggak rabun ya?" tanya Leo membuat Tania terbelalak kaget, kenapa Leo tiba-tiba bertanya demikian?
"Ngaco lo ...."
"Mamp*s kaca mata gue mana?" batin Tania mengerjap karena saat tangan mungilnya ingin membenarkan kaca matanya tapi sepertinya ia tidak memakai kaca mata, apakah dia lupa membawanya?
"Kaca mata lo jatuh," ucap Leo mengambil kaca mata Tania yang jatuh ke lantai lalu ia berikan kepada wanita itu.
"Makasih! Em gue rabun jauh makanya bisa jawab kalo yang deket," ucap Tania berbohong namun di dalam hatinya ia menggerutu tak jelas karena habis berbohong.
"Warna mata lo indah tapi kok bisa minus sih?" tanya Leo sepertinya penasaran kenapa mata biru Tania yang indah itu menjadi rabun.
.......
.......
.......
..... Bersambung ....
__ADS_1