Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 255 (Takdir)


__ADS_3

Malam pun tiba, Zoeya masih setia menunggu kakak tirinya untuk pulang namun wanita itu malah di buat kesal karena jam sudah menunjukkan pukul 22 : 45 tapi kakak tirinya itu belum juga pulang, hingga pada akhirnya mata wanita itu sudah mulai terasa pedas dan dirinya baru akan menutup matanya.


Suara sepatu Keisha berjalan menghampiri Zoeya yang berbaring di sofa panjang ruang keluarga seketika membuat Zoeya memutar tubuhnya untuk menghadap kakak tirinya, Keisha sempat di buat kaget karena ia kira Zoeya tertidur di sofa namun ternyata tidak, secepat kilat pria itu berdeham dan merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Enggak betah tidur di kamar?" tanya Keisha menaikkan sebelah alisnya sambil kedua tangan pria itu ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Atau di dalam kamar lo ada bangkai ular?" tanya Keisha sambil membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah wajah Zoeya yang hanya diam saja.


"Kenapa diam?" bentak Keisha dengan raut wajah marah, pria itu merasa aneh karena sikapnya yang selalu mendiamkan Zoeya kini malah berbanding terbalik, Zoeya sungguh berani mendiamkan Keisha yang sedang bertanya kepadanya.


"Em! Ma-maaf Kak, aku aku di sini karena ...." Zoeya menjadi gagap karena dirinya mendapatkan bentakkan lagi dari kakak tirinya itu, akhir-akhir ini Zoeya merasa jantungnya selalu di buat naik-turun oleh kakak tirinya itu, membuat dirinya tidak nyaman saja.


"Pergi sana ke kamar," titah Keisha hendak pergi meninggalkan Zoeya namun adik tirinya itu lebih dulu menggenggam tangan Keisha membuat Keisha melebarkan matanya kaget, lancang sekali wanita itu mencegah dirinya pergi.


"M-maaf kak, ada hal yang mau aku ceritain ke Kak Keisha." ucap Zoeya belum melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Keisha. Pria itu menatap tangan yang masih di genggam oleh Zoeya sekilas lalu pandangan mata pria itu berpindah menatap Zoeya.


"Lepas !!!" sengit Keisha membuat Zoeya segera melepaskan genggaman tangannya, wanita itu menundukkan kepalanya takut karena dirinya sudah sangat lancang mencegah kakak tirinya pergi.


"Bod*h! Kak Kei pasti enggak mau dengerin cerita aku atau mungkin Kak Kei bakalan ngebentak aku lagi. Agh! Lebih baik Kak Kei pergi aja dari pada aku harus di bentak lagi sama Kak Kei." batin Zoeya memejamkan matanya dengan sangat kuat.


Namun tanpa di duga, Keisha duduk di samping Zoeya membuat Zoeya membulatkan matanya tak percaya, wanita itu menelan salivanya kasar sambil menoleh ke arah kakak tirinya dengan memasang tampang cengo.


"Dua menit !!" ucap Keisha datar, mata pria itu mentap lurus ke depan, sedangkan Zoeya yang ada di sampingnya di buat menganga karena waktu singkat yang di berikan Keisha tidak mungkin cukup untuk menceritakan semuanya.


"Tapi Kak, aku ...."


"Satu menit lima puluh tujuh detik," ucap Keisha membuat Zoeya menganggaruk kepalanya frustasi, dirinya bingung harus memulai dari mana.


"Aduh itu ...." seketika otak Zoeya menjadi ngeblank karena waktu terbatas itu.


"Satu menit empat puluh delapan detik," ucap Keisha menghitung detik demi detik waktu yang ia tentukan.


"Itu! Zayn adalah seorang pimpinan mafia," ucap Zoeya langsung ke intinya saja. Keisha mengerutkan dahinya sambil menatap sinis ke arah Zoeya membuat tubuh wanita itu seketika menegang ketakutan. Apakah nada suaranya terlalu tinggi hingga raut wajah pria itu langsung berubah menjadi sepuluh kali lipat lebih menyeramkan?


"Dua puluh menit waktumu untuk bicara," ucap Keisha membuat Zoeya melebarkan matanya kaget namun sedetik kemudian wanita itu tersenyum tipis, wanita itu menduga kakak tirinya itu pasti sedang penasaran makanya waktu dua menit di ubah langsung oleh kak tirinya menjadi 20 menit.


Zoeya menghela napas pelan, "Aku tahu Kak Kei mau ngelindungin Karamel dari seseorang yang mau ngincar hidupnya Karamel, dan orang yang lagi ngincar hidup Karamel itu adalah Zayn. Apa kakak tahu itu?" tanya Zoeya pelan, dirinya ingin bercerita pelan-pelan agar semuanya menjadi jelas.


"Nguping lo?" tanya Kaisha memelototi Zoeya membuat Zoeya menggelengkan kepalanya cepat.


"Kemarin malam aku enggak sengaja denger Kak Kei teleponan sama Leo yang lagi bahas so'al Kak Kei bakalan ngelindungin Karamel." ucap Zoeya tapi mata Keisha memicingkan matanya tak percaya.


"Leo udah ngasih tahu gue semuanya," ucap Keisha dengan raut wajah serius, di mata Zoeya raut wajah Keisha yang sekarang masih sangat menyeramkan.


"Kak Kei tahu kenapa empat bulan yang lalu aku minta buat batalin pertunangan aku sama Zayn?" tanya Zoeya pelan, raut wajah wanita itu menampilkan kesedihan karena dirinya terpaksa harus mengingat masa lalunya. Keisha menatap Zoeya dalam diam dan Zoeya membalas tatapan itu dengan keringat dingin di tangannya.


"S-sebelum aku bertunangan dengan Zayn, aku udah tahu Zayn adalah leader The Black Tongue tapi aku berusaha buat tutupin semua itu dari kalian semua karena aku percaya Zayn pasti punya alasan tersendiri kenapa dia bisa masuk ke dalam dunia gelap itu." ucap Zoeya mulai bercerita.


"Yang aku tahu Zayn adalah orang yang baik bahkan sangat baik, dia orang yang penyayang dan enggak pernah nyakitin aku sedikitpun. Aku percaya sama dia begitupun dia yang selalu percaya sama aku, aku cinta sama dia tapi sayangnya dia enggak pernah cinta sama aku." ucap Zoeya membuat Keisha mengerutkan dahinya aneh, kenapa adik tirinya itu malah jadi curhat? Fikir Keisha. Kepala Zoeya langsung berputar ke depan, dirinya sudah tidak sanggup lagi melihat raut wajah kakak tirinya.


"Dia tahu aku siapa, aku adalah Zoeya An Blende musuh Karamel di masa sekolah menengah pertama. Enggak! Aku yang selalu memusuhi Karamel sedangkan Karamel enggak pernah perduli sama apa yang aku lakuin ke dia, entah itu merendahkan atau bahkan sampai penghinaan, Karamel enggak pernah perduli itu." ucap Zoeya menghela napas panjang, dirinya mengingat kakak tirinya sangat menyayangi Karamel jadi Zoeya mengungkapkan bertapa jahat dirinya dulu terhadap orang yang di sayang kakak tirinya itu.


"Sebelumnya aku enggak tahu kalo sebenarnya Zayn mau ngehancurin hidupnya Karamel tapi karena aku enggak sengaja mendengar pembicaraan Mommynya Zayn dengan Zayn waktu di California beberapa bulan yang lalu, aku jadi tahu ternyata Mommynya Zayn benci banget sama keluarga Aramoy, lebih tepatnya sama Nyonya Sofia." ucap Zoeya membuat Keisha mendengar dengan serius setiap detail cerita adik tirinya itu.


"Mommynya Zayn benci sama Nyonya Sofia karena Daddynya Zayn adalah mantan kekasih Nyonya Sofia yang masih di cintai dan di sayangi oleh Daddynya Zayn, Mommynya Zayn enggak bisa nerima kenyataan waktu tahu Daddynya Zayn masih mencintai Nyonya Sofia sampai pada akhirnya Mommynya Zayn terpaksa membunuh suaminya sendiri." Zoeya kembali menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan.


"Karena perasaan sakit hati, Mommynya Zayn memerintahkan Zayn untuk membunuh Nyonya Sofia tapi anehnya saat itu keberadaan Nyonya Sofia enggak di ketahui ada di mana, sehingga Mommynya Zayn memerintahkan Zayn untuk membunuh anak-anaknya Nyonya Sofia saja yaitu Kenziro dan Karamel."


"Itulah sebabnya Zayn terpaksa ngedeketin aku karena dia mau jadiin aku sebagai pion mereka untuk menjadi pelaku yang di salahkan, aku orang yang selalu menindas Karamel sejak sekolah menengah pertama di Los Angeles dulu jadi semua orang pasti akan langsung percaya kalo aku adalah pelakunya. Itu kata Zayn saat itu!" ucap Zoeya lirih, mungkin rasa sakit itu sudah sembuh tapi ingatan-ingatan masa lalu masih terekam jelas di benak Zoeya.


"Maka dari itu aku minta buat batalin pertunangan aku sama dia karena dia enggak pernah cinta sama aku, semuanya palsu, dia cuma mau manfaatin aku aja." lirih Zoeya dengan tatapan kosong.


Zoeya sedang berfikir tentang kebodohan yang ia lakukan adalah terlalu berharap bisa hidup bahagia bersama orang yang mencintainya hingga ketika mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, wanita itu mendapatkan akibatnya yaitu rasa kecewa dan rasa bencinya terhadap Zayn karena Zayn tidak pernah mencintainya.


"Kenapa lo ceritain ini ke gue? Mau belajar jadi orang baik, biar dapet pujian dan perhatian dari orang lain?" tanya Keisha mengejek nemun Zoeya menggelengkan kepalanya pelan.


Sudah terlalu sering Zoeya mendengar kata-kata kasar itu keluar dari mulut kakak tirinya bahkan orang lain juga sering melontarkan kata-kata kasar itu untuk dirinya, rasanya begitu menyakitkan tapi Zoeya sadar dirinya juga sering berbuat jahat pada orang lain. Wanita itu hanya bisa tersenyum getir.


"Aku tahu Kak Kei mau jagain Karamel dari orang jahat itu jadi aku khawatir sama Kak Kei, aku takut Kak Kei kenapa-kenapa, makanya aku ceritain semua ini ke Kak Keisha biar Kak Kei bisa hati-hati ngehadapain Zayn." ucap Zoeya lirih membuat hati Keisha tersentuh untuk beberapa saat saja.


"Sok dramatis lo!" ejek Keisha nampak kesal karena baru saja dirinya di buat tersentuh padahal sejak awal pria itu sangat membenci Zoeya.


Zoeya menundukkan kepalanya karena kekesalan kakak tirinya itu terlalu tampak dari nada suaranya yang sedikit menyentak, salahkan dirinya mengkhawatirkan kakak tirinya? Fikir Zoeya.


"Pergi ke kamar lo sekarang," usir Keisha sehingga Zoeya langsung berdiri dan pergi meninggalkan kakak tirinya itu.


"Jadi sebelum si berengs*k itu tahu Karamel sama Kenziro adalah leader mafia, si berengs*k itu emang udah duluan punya rencana buat bunuh Karamel sama Kenziro atas perintah nyokapnya yang udah mati itu." gumam Keisha tak menyangka hari ini dirinya menemukan satu kebenaran dari adik tirinya.


"Leo harus tahu so'al ini," gumam Keisha mentap jam tangannya sekilas lalu pria itu berfikir sejenak sebelum mengeluarkan handphone dari saku jasnya.


.........


...Kediaman Keluarga Mahendra...


Hari berikutnya, Keisha kembali mengunjungi Karamel di kediaman Leo namun Keisha membawa Zoeya ikut bersamanya, sebenarnya wanita itu malas ikut dengan kakaknya apalagi tujuannya untuk mengunjungi Karamel tapi Keisha cukup sekali saja membantak Zoeya hingga wanita itu terpaksa ikut dengan kakak tirinya untuk mengunjungi Karamel.


"Turun !!" titah Keisha karena adik tirinya itu tidak melepaskan seat beltnya tapi malah mencengkeram seat belt itu seakan-akan dirinya sedang merasa takut karena akan di seret ke neraka oleh kakak tirinya itu, ck!


"Kak Kei masuk temuin Karamel sendiri aja ya, a-aku aku di sini nunggu Kak Kei aja," pinta Zoeya pelan sambil tersenyum kaku, wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya akan menghadapi Karamel nantinya, bisa-bisa dirinya tidak akan mampu menjaga mulutnya yang suka sekali mengata-ngatai Karamel.


"Terserah kalo lo enggak takut di perk*sa sama semua anak buah Leo," ucap Keisha hendak keluar dari mobil, Zoeya memutar otaknya untuk meresapi apa maksud dari kata-kata kakak tirinya itu? Tidak takut di perk*sa? Zoeya langsung membulatkan matanya paham, apakah semua anak buah Leo itu pria cabul? Zoeya jadi bergidik ngeri.


"Aku ikut turun," ucap Zoeya segera melepas seat beltnya, Keisha tersenyum sinis karena dirinya berhasil menakut-nakuti adik tirinya hingga kini adik tirinya itu ingin ikut keluar bersamanya.


Ketika Keisha dan Zoeya sudah masuk ke dalam rumah, salah satu pelayan wanita di kediaman itu di suruh Keisha untuk memanggil Karamel.


"Pagi-pagi gini udah dateng aja lo ...."

__ADS_1


Karamel langsung terdiam saat matanya melihat seorang wanita yang selalu merendahkannya dulu, bumil itu duduk di sofa ruang tamu namun mata bumil itu tidak lepas dari Zoeya membuat Zoeya memutar bola mata jengah dan pura-pura tidak melihat Karamel.


"Lo emang enggak sibuk sampai dateng ke sini sepagi ini, Kei?" tanya Karamel kini beralih menatap Keisha.


"Sibuk sih tapi mampir bentar doang, enggak ganggu 'kan?" tanya Keisha dan Karamel tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan, kembali mata bumil menatap ke arah Zoeya.


"Kenapa Keisha bawa Zoeya ke sini?" batin Karamel bertanya-tanya, bukankah Zoeya wanita yang di benci Keisha? Lalu kenapa pria itu malah membawanya ke rumah Leo?


"Ehem! Kenapa bola matamu menatapku terus-menerus? Tidak suka aku ada di sini?" tanya Zoeya angkat bicara seraya memelototi Karamel karena Zoeya merasa sangat risih di tatap secara terang-terangan oleh Karamel.


"Jaga bicara lo, Zoeya!" sentak Keisha membuat Zoeya membuang muka kesal, jelas Karamel yang membuat Zoeya risih tapi kakak tirinya malah memarahi dirinya.


"Kenapa lo bawa dia ke sini?" tanya Karamel membuat Zoeya tertawa sinis, benar bukan Karamel tidak suka dirinya ada di rumah wanita itu.


"Kerjaannya selalu ngerepotin orang, kabur mulu ni anak dari rumah makanya gue paksa dia ikut gue ke sini biar dia enggak keluyuran terus." ucap Keisha membuat Zoeya nendengus sebal.


"Oh nakal ternyata," desis Karamel.


"Apa? Nakal? Buka kamera handphonemu dan berkacalah Karamel Listra, kau bahkan lebih parah dariku, menutupi kenakalan dengan sikap sok polos. Ck!" ejek Zoeya membuat Karamel bungkam, entah kenapa apa yang di katakan Zoeya barusan tidak membuat Karamel marah karena menurutnya kata-kata itu memang benar adanya.


"Zoeya ...."


"Kalian mau minum apa? Biar di buatin?" tanya Karamel memotong perkataan Keisha yang hendak memarahi Zoeya karena bicara tidak sopan di depan Karamel.


"Kopi boleh deh," sahut Keisha.


"Kalo Zoe ...."


"Dia mah enggak usah, ngerepotin pelayan lo aja entar!" ucap Keisha membuat Karamel diam beberapa saat sedangkan Zoeya menggigit bibir bawahnya perih di perlakukan seperti orang asing oleh kakak tirinya.


"Kau sudah terbiasa dengan ini, Zoeya!" batin Zoeya menguatkan dirinya agar tidak bersedih ataupun menangis.


"Kalian udah sarapan atau belum?" tanya Karamel menatap Keisha.


"Udah kok," sahut Keisha menbuat Karamel tersenyum lebar.


"Buatin Kopi satu sama jus alpukat satu ya Bik, ah sekali aku juga mau susu." ucap Karamel pada pelayan yang berdiri di sampingnya, lalu pelayan itu berjalan pergi ke dapur.


Degg ....


Zoeya terkejut karena Karamel menyuruh pelayannya untuk membuat jus alpukat, bumil itu tahu Zoeya menyukai jus alpukat karena saat sekolah menengah pertama dulu, hampir setiap hari Karamel melihat Zoeya meminun jus alpukat.


"Buat siapa jus alpukat?" tanya Keisha karena Karamel tadi menginginkan susu, jadi jus alpukat itu untuk siapa?


"Kau masih suka dengan jus alpukat 'kan?" tanya Karamel menatap Zoeya namun Zoeya pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangannya ke depan.


"Duh bumil cantik, gue 'kan udah bilang jangan buatin dia minuman, ngerepotin tahu enggak." ucap Keisha membuat Karamel memelototi pria itu karena sikap pria itu terlalu terang-terangan tidak menyukai Zoeya.


.........


...Apartemen...


"Semalam aku mencapai pelepasan sampai tiga kali karenamu, Sayang." ucapnya menatap foto Leo saat masih memakai seragam sekolah menengah atas.


Wanita itu mencium foto Leo sebelum bangkit dari tempat tidurnya dan bejalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, di dalam kamar mandi wanita itu lagi-lagi melakukan hal gila hingga suara des***nnya memamnggil nama 'Leo' di dengar jelas oleh seorang pria yang berada di luar kamarnya.


"Dasar jala*g liar!" umpat Zayn merasa jijik dengan wanita itu.


Setelah puas bersenang-senang di kamar mandi, wanita itu keluar dengan keadaan tubuhnya hanya di baluti oleh pakaian dalam saja. Dirinya hendak ke dapur untuk sarapan pagi namun langkah kakinya tiba-tiba berhenti di ruang tengah apartemen itu.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini?" tanya wanita itu sedikit menyentak kala melihat Zayn duduk di ruang tengah sambil memandang layar laptop, mungkin wanita itu lupa Zayn adalah pemilik apartemen yang sedang ia tepati.


Zayn mendongakkan kepalanya sambil menggerakkan bola matanya untuk menatap wanita gila itu, mata Zayn sedikit membola karena wanita itu hanya mengenakan pakaian dalam saja, benar-benar tidak punya urat malu.


Pria berengs*k pasti akan tergoda dengan tubuh wanita itu namun Zayn malah sebaliknya, pria itu malah merasa jijik. Zayn menghela napas kasar, bisa-bisanya Zayn berbaik hati membiarkan wanita yang tidak waras itu tinggal di apartemennya.


"Apa kau sudah tidak punya pakaian lagi?" tanya Zayn sinis mambuat wanita itu memutar bola mata jengah. Wanita itu mengira Zayn bernafsu melihat tubuhnya makanya pria itu mengomeli penampilannya yang se*si itu.


"Juniormu saja bereaksi karena melihat tubuhku apalagi juniornya Leo, dia pasti akan merasa sangat puas karena memasukki luba*g kenikmatanku." ucap wanita itu membuat Zayn tertawa keras lebih tepatnya tertawa mengejek wanita yang sangat terobesi sekali dengan Leo.


"Kenapa kau malah tertawa?" tanya wanita itu sinis sambil berkacak pinggang.


"Kau terlalu percaya diri wanita sialan, tubuh datar sepertimu tidak akan membuat pria manapun bernafsu saat melihatnya, ck!" ejek Zayn lalu pria itu kembali fokus pada layar laptopnya.


"Kau ...."


"Pergi sana, berpakaianlah seperti manusia bukan malah seperti binatang." ucap Zayn pedas karena memang rata-rata semua binatang memiliki bulu bukan busana pakian seperti manusia. Jadi sebenarnya wanita itu adalah manusia atau binatang? Ups!


Wanita itu mendengus tapi tak urung wanita itu masuk ke dalam kamarnya dan memakai pakaiannya lalu wanita itu keluar dari kamarnya dengan mengenakan dress pendek, Zayn mendongak untuk melihat apakah wanita itu sudah berpakaian atau belum.


Zayn menggelengkan kepalanya pelan saat melihat belahan dada dan paha wanita itu masih terekspos, "Ck! Tidak ada bedanya dengan tubuh tela**ang." desis Zayn berdecih.


Wanita itu berjalan mendekati Zayn lalu tanpa permisi wanita itu duduk di sampingnya, "Apa yang sedang kau lihat?" tanya wanita itu menatap layar laptop Zayn.


"Mobil itu ... kenapa kakak dari mantan tunanganmu itu datang lagi ke rumahnya Leo? Apakah dia selingkuhannya si jala*g Karamel Listra itu?" tanya wanita itu dengan nada tinggi karena barusa ja dirinya melihat dari laptop, mobil Keisha keluar dari kediaman Leo.


"Kau tidak membaca informasi yang aku berikan semalam, Keisha adalah sahabat Leo jadi tidak heran pria itu datang untuk menjenguk Karamel, aku yakin Leo yang menyuruh Keisha untuk mengunjungi Karamel di setiap harinya." sahut Zayn membuat wanita itu memutar bola mata jengah.


"Apakah dia akan menjadi penghalang kita?" tanya wanita itu menatap Zayn, semakin banyak yang melindungi Karamel akan semakin susah bagi mereka untuk melancarkan rencana mereka.


"Bukan masalah, anak buahku akan membereskannya." ucap Zayn meremehkan Keisha, pria itu terlalu percaya diri bisa menjalankan rencananya tanpa ada penghalang yang berbahaya.


"Kau bilang mantan tunanganmu itu sangat perduli dengan kakaknya, apa jadinya jika mantan tunanganmu tahu kau ingin berbuat hal buruk kepada kakaknya?" tanya wanita itu.


"Kau tidak tahu apa-apa tentang wanitaku dan kau tidak berhak tahu itu," sengit Zayn menahan amarahnya kala wanita itu berani mengingatkan hal yang paling di bencinya yaitu rasa perduli Zoeya kepada kakak tirinya.


"Ck! Siapa juga yang perduli tentang mantan tunanganmu itu," ucap wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur.

__ADS_1


.........


...Dua hari kemudian...


...Irlandia...


Malam ini Leo berkunjung ke kastil yang sangat jarang sekali ia kunjungi, pasalnya tempat kastil itu jauh dari perkotaan, lebih tepatnya kedua orang tua Leo dan Vian membangun kastil itu di tengah-tengah hutan tapi dekat dengan danau.


Saat dirinya datang untuk berkunjung, ratusan pelayan di kastil itu sangat antusias sekali menyambut kedatangan tuan mereka yang bisa di bilang dalam tiga tahun hanya akan sekali saja berkunjung ke kastil yang megah itu.


"Mereka sangat menantikan kedatangan anda, Tuan." ucap Jeffry saat melihat ratusan pelayan baik itu wanita dan pria berkumpul semua untuk menyambut kedatangan Leo.


"Andai Kak Vian masih hidup, kastil ini pasti akan di tempati olehnya." ucap Leo merasa sedih namun tidak ia tunjukkan lewat raut mukanya yang datar.


"Mari, Tuan." ucap Jeffry mengajak Leo untuk masuk ke dalam kastil itu dan Leo menganggukkan kepalanya sambil keluar dari mobilnya.


"Glad to see you back, Second Master !!!" sambut mereka semua seraya membungkuk hormat kepada Leo, pria itu tersenyum tipis dan berjalan gagah menuju pintu kastil itu.


Langkah Leo melambat saat melihat tanaman berwarna putih masih terjaga di dekat tangga kastil itu, Leo tersenyum tipis saat mengingat kenangan masa lalunya.


...Flashback on...


"Jangan lakukan itu, Kak." pekik seorang pria berusia 8 tahun mengejar Vian yang sedang berlari ke arah taman belakang, di mana kedua orang tua mereka sedang mengobrol dengan architect kastil itu.


"Mama, Leo merusak sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu." pekik Vian membuat Yarra dan Prasetya menoleh ke samping, di mana kedua putranya sedang berlari ke arah mereka.


"Shut up, basta*d!" pekik Leo kecil sangat geram dengan kakaknya yang ingin mengadukan perbuatannya yang tidak sengaja merusak sesuatu yang paling berharga dalam hidup mama Yarra.


"Hahaha ...." Vian tertawa keras mengejek Leo kecil, Vian semakin berlari kencang agar bisa cepat sampai ke tempat mamanya dan mengadukan perbuatan nakal adiknya itu.


"Hah hah hah hufftt!" ketika sudah sampai di depan kedua orang tuanya, Vian menjadi terengah-engah di buatnya sedangkan Leo kecil masih jauh sekali untuk bisa sampai di tempat mereka.


"Ada apa sayang, kenapa kalian berdua adikmu berlari-larian seperti ini?" tanya Yarra sedikit membungkuk karena tubuh putra sulungnya itu pendek.


"Leo hah! Tadi dia hah ...." Vian masih saja terengah-entah saat ingin berbicara membuat kedua orang tuanya saling beradu pandang heran.


"Ini minum dulu, son!" ucap Prasetya memberikan segelas air mineral pada putra sulungnya itu.


"No, Thanks Pah! I want to tell you something important, Mam" ucap Vian menolak tawaran papanya namun nada suaranya sangat halus jadi Prasetya tidak akan merasa sedih ataupun tersinggung.


"What is it, son ?" tanya Yarra.


"Agh! Kenapa kakiku pendek sekali," umpat Leo kecil dari kejauhan merasa kesal karena dirinya tidak sampai-sampai juga di tempat kedua orang tuanya dan juga kakaknya.


"Jangan dengarkan kata-kata Kakak, Mam." pekik Leo kecil namun tiba-tiba pria itu menginjak tali sepatunya sendiri hingga. Bug, bug! Pria itu jatuh ke tanah bagaikan bola yang mantul-mantul.


"Astaga Leo," pekik Yarra kaget, seorang ibu yang melihat anaknya jatuh, tentu akan merasa sangat khawatir namun untungnya Prasetya langsung berlari untuk menolong putra keduanya itu.


"Mam dengarkan Vian, Vian mau bicara!" pinta Vian hingga Yarra menoleh ke arah putra sulungnya yang sangat tidak sabaran sekali ingin bercerita.


"Iya ada apa, Sayang?" tanya Yarra.


"Baru saja Leo merusak semua tanaman langkamu di depan kastil, Mam." teriak Vian membuat suara pria berusia 8 tahun itu berteriak histeris.


"Tidakkkk !!!" pekik Leo kecil dari kejauhan. Haha! Tajam sekali pendengaran pria mungil itu.


"Diam, lututmu terluka Leo." sentak Prasetya berpura-pura marah membuat Leo kecil mengerucutkan bibirnya sebal, Vian sampai tertawa terbahak-bahak sambil mengulurkan lidahnya mengejek adiknya itu.


"Haha! Dia kira tanaman itu sudah mati jadi dia mencabut semua tanamannya," pekik Vian membuat Leo merajuk karena mulut kakaknya itu ember sekali.


"What?" pekik Yarra kaget, wanita itu berteriak kaget karena tanaman yang di maksud anaknya adalah tanaman yang memang akan hidup di malam hari dan mati di siang hari. Tanaman itu sangat langka, mencari tanaman itu harus di tengah-tengah hutan yang banyak dengan binatang buasnya.


Baru dua bulan Yarra menanam tamanan itu tapi putra keduanya sudah lebih dulu merusaknya. Apa boleh buat Yarra hanya bisa memijat pelipisnya pasrah.


"Benarkah itu Leo?" tanya Prasetya menatap saat Leo kecil berada di gendongannya, Leo kecil melirik wajah papanya dangan bibir mengerucut.


"Aku tidak sengaja," ucap Leo kecil membuat Prasetya tersenyum tipis lalu menepuk pelan kepala putranya dan membawanya ke tempat Yarra dan Vian.


"Minta maaf dengan Mama sekarang," titah Prasetya masih menggendong Leo kecil.


"Maaf Mam, Leo salah!" ucap Leo kecil sembari menjewer kedua telinganya sendiri, Yarra mentap lembut putra keduanya itu lalu ia mengambil alih untuk menggendong Leo kecil.


"Mama merasa sedih tapi mau bagaimana lagi, sudah rusak artinya tidak bisa di kembalikan lagi." ucap Yarra menbuat wajah Leo kecil memelas karena dirinya merasa bersalah.


"Sebagai gantinya, Mama harus menghukum anak nakal ini Mam." ucap Vian membuat Leo kecil memeluk leher mama Yarra.


"Mama, Kak Vian jahat!" rengek Leo kecil menangis dan itu sangat langka sekali terjadi, baik Prasetya, Yarra maupun Vian tertawa renyah karena melihat Leo kecil menangis.


...Flashback off...


Leo tersenyum kecut saat mengingat dirinya merusak bunga milik mamanya tapi kakaknya memergokinya dan mengadukannya pada mama mereka.


"I miss you, my brother!" ucap Leo lirih, Jeffry yang mendengar suara lirih tuannya menjadi sedih karena ia tahu tuannya itu pasti sedang mengenang masa lalunya bersama kakak kandungnya.


"Glad to see you back, Second Master," sambut seorang wanita sedikit berteriak, dirinya berdiri di depan pintu kastil itu, Leo mendongakkan kepalanya menatap wanita itu, jarak mereka di halangi tangga panjang namun Leo bisa mengenali suara itu.


"Emily!" panggil Leo tersenyum lebar karena sudah lama sekali pria itu tidak melihat wanita itu.


.


.


.


::: Bersambung :::


...Aaaaaaaayaaa .......

__ADS_1


...Bentar lagi mau perang nih!...


__ADS_2