
Setelah sampai di sebuah garasi bawah tanah Leo menatap Karamel yang tertidur pulas.
"Bahkan udah lewat dari dua tahun aku gak pernah ketemu sama kamu, aku tetep sayang sama kamu, Kara. Ya, I still love you very much and I want to marry you as soon as possible, my Angel." ucap Leo membuat jantung Karamel berdegup kencang.
Ternyata Karamel tidak tidur dan hanya memejamkan matanya saja.
"Tapi apa kamu ...." Leo langsung diam karena batinnya menolak untuk melontarkan pertanyaan yang ia yakini jawabannya pasti antara iya dan tidak, itu sama saja seperti Karamel pasti akan merasa bimbang untuk bisa menerima Leo lagi.
"Aku apa?" batin Karamel bertanya.
"Kara," panggil Leo menggoyangkan bahu Karamel pelan.
"Lah kok malah gantung sih, buat orang penasaran aja ni cowok," kesal Karamel dalam hatinya.
"Kara, kita sudah sampe" ucap Leo sehingga perlahan Karamel membuka matanya.
"Hah udah sampe ya?" tanya Karamel pura-pura abis bangun tidur, dan Leo hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Pakai ini." ucap Leo memberi masker dan kaca mata hitam pada Karamel.
"Buat apa?" tanya Karamel.
"Buat nutupin muka cantik kamu," ucap Leo.
"Ngaco ...."
"Polar prince, aku mau ketemu sama orang penting tapi sebagai polar prince bukan sebagai Leo ataupun CEO Rendra," ucap Leo dan Karamel paham maksud mantan kekasihnya itu.
Baik Karamel maupun Leo sama-sama memakai penutup wajah agar orang-orang tidak ada yang mengenali mereka, apalagi Leo adalah seorang CEO yang sangat berpengaruh di Irlandia.
"Ini tamu aku, Kara, jadi aku minta sama kamu nanti jangan ngomong sebelum aku kasih izin kamu buat ngomong. Paham!" ucap Leo datar sehingga di balik kaca mata hitamnya, Karamel mengerjap beberapa kali.
"Kenapa?" tanya Karamel.
"Iya atau kamu tinggal di sini?" tanya Leo memberi pilihan sehingga Karamel terpaksa menganggukkan kepalanya patuh dari pada harus di tinggal sendirian di mobil.
Leo dan Karamel keluar dari mobil lalu mereka berdua berjalan menuju lift, dan setelah sampai Leo dan Karamel keluar dari lift.
"Kamu bawa aku ke apartemen kamu? Jangan-jangan tamu kamu tunangan kamu lagi," selidik Karamel curiga.
"Bukan," jawab Leo.
"Trus?" tanya Karamel.
"Kamu bakal tau orangnya setelah kita masuk ke dalem," ucap Leo hendak menekan angka password apartemennya namun gerak jarinya tiba-tiba berhenti.
Karamel mengerutkan dahinya lalu ia menatap Leo dengan tanda tanya, begitu juga Leo yang menatap Karamel di sampingnya.
"Jangan lupa kamu harus tetap diem sebelum aku kasih izin kamu ...."
"Iya, bawel," kesal Karamel.
"Oke, kita masuk sekarang," ucap Leo menekan beberapa angka passwordnya lalu Leo menggenggam tangan Karamel untuk masuk ke dalam apartemennya bersama.
"Sorry for keeping you guys waiting." ucap Leo membuat Kenzi dan Faza tersentak kaget lalu berdiri menghadap Leo dan Karamel.
"No, it doesn't matter." sahut Kenzi.
"Ye yeah, no problem." timpal Faza.
Mata Karamel membulat sempurna ketika sang kakak dan sang abang ada di depan matanya, ia tersenyum bahagia dan hendak memanggil sang kakak dan abangnya namun Leo menggenggam erat tangan Karamel membuat Karamel menoleh ke arah tangannya yang di genggam oleh Leo kemudian Karamel menatap Leo yang juga menatap dirinya.
Tatapan dingin dan penuh penekanan di dalamnya membuat Karamel mengingat perintah Leo yang melarangnya untuk berbicara.
"Kalau gue tau dia mau ketemu sama kak Kenzi sama Bang Aza, gue pasti gak akan mungkin mau ngikutin perintah dia, ck!" batin Karamel dengan perasaan dongkol.
Leo mempersilahkan Kenzi dan Faza untuk duduk kembali dengan mengangkat tangan kirinya ke arah sofa, lalu Leo dan Karamel duduk di depan mereka juga.
"Apa kalian tau kenapa kalian ada di sini?" tanya Leo dengan nada suara yang berbeda, sedikit ber-bass dan tegas.
"Anda mengatakan keluarga kami sedang dalam bahaya dan anda akan memberitahu kami so'al bahaya apa yang sedang menimpa keluarga kami." ucap Kenzi angkat bicara.
"Benar, keluarga kalian sedang dalam bahaya ...."
__ADS_1
"Bahaya apa yang anda maksud?" potong Kenzi sangat terburu-buru ingin tahu.
"Kematian, seseorang menginginkan kematian seluruh anggota keluarga kalian." ucap Leo membuat Kenzi dan Faza terbelalak.
"Omong kosong apa yang anda maksud? Siapa yang menginginkan kematian seluruh anggota keluarga kami?" tanya Faza lebih dalam.
Tangan Karamel bergetar kuat dan Leo bisa merasakan itu dari genggaman tangan mereka berdua yang tidak Leo lepaskan sejak tadi.
Leo menumpuk tangan kirinya ke atas tangan Karamel sehingga Karamel menoleh ke arah Leo dan Leo mengganggukan kepalanya pelan tanda Karamel boleh angkat bicara.
Karamel menggenggam erat tangan Leo.
"Henry dan daddynya." ucap Karamel tidak lepas menatap mata Leo.
Kenzi dan Faza terbelalak kaget ketika Karamel mengucap nama orang yang menginginkan kematian seluruh anggota keluarga mereka, tapi lebih mengagetkan lagi Kenzi dan Faza sangat mengenali pemilik suara itu.
"Ka-Kara?!" panggil Kenzi gelagapan.
"Ara?" panggil Faza pula.
Karamel semakin kuat menggenggam tangan Leo lalu ia memejamkan matanya sampai air matanya jatuh mengenai pipinya.
"Benar," ucap Leo melepas topengnya.
"Leo," pekik Kenzi dan Faza terkejut
Leo tersenyum miring lalu Leo menggapai wajah Karamel, di lepaskannya masker yang menutupi mulut dan hidung Karamel lalu di lepaskannya juga kaca mata Karamel.
"Ka-kakak," panggil Karamel lirih pada Kenzi.
"Kara," sekali lagi Kenzi memanggil nama adik kesayangannya namun dengan nada suara yang lebih rendah.
Karamel melepaskan genggaman tangannya daru Leo lalu ia berdiri dan menghampiri sang kakak dan abang-nya, di peluknya dua laki-laki yang sangat Karamel sayangi itu.
"Ini beneran lo 'kan, Ra, lo-lo masih hidup." gumam Faza dalam pelukan Karamel dan Karamel menggangguk menanggapi perkataan Faza.
"You are a cheater, Kara. I hate you, i really hate you Karamel Listra," pekik Kenzi seraya menangis dalam pelukan Karamel sehingga Karamel semakin deras menangis.
Untuk beberapa menit saja Karamel melepas perasaan rindu dan rasa kelegaan dalam diri Kenzi dan Faza lewat pelukkan hangat hingga tiba-tiba Kenzi melepas pelukkan mereka.
"Itu bukan gue," potong Karamel menggelengkan kepalanya.
"Tapi muka lo ...." perkataan Faza terpotong.
"Waktu di rumah sakit, gue minjem Hp-nya Fico. Gue nelepon Daniel buat nyuruh dia nyari obat yang bisa berhentiin jantung gue." ucap Karamel ingin langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Apa?" pekik Faza.
"Iya, Za. Gue juga nyuruh Daniel nyari mayat cewek lain buat gantiin gue sebagai Karamel." kata Karamel.
"Lo ingat 'kan, Kak. gue pernah minta Judika buat bikinin gue muka palsu waktu kelas dua SMA? Gue nyuruh Daniel ambil muka palsu itu dari judika dan langsung di tempel ke muka mayat cewek yang kemaren." ucap Karamel.
"Anak buah gue yang ada di Kanada bantuin gue suntikin obat itu ....
...Flashback on....
Karamel mendengar langkah sepatu yang berjalan ke arahnya, semakin dekat dan semakin dekat saja.
"Lady Queen, " panggil orang itu membuat Karamel membuka matanya, terlihat seorang laki-laki berpakaian perawat berdiri di samping Karamel.
"Roy?" gumam Karamel.
Jika Karamel memiliki tangan kanan bernama Daniel maka Daniel juga punya tangan kanan, dan Roy adalah tangan kanan Daniel.
"Aku di printah bos Daniel untuk menyuntikan obat ini pada infus anda," ucap Roy pelan.
"Cepat suntikan sekarang," titah Karamel.
"Tapi ... obat ini sangat berbahaya, Miss. Jika aku menyuntikan ini pada tubuh anda, tidak ada satu alatpun yang bisa mendeteksi apakah anda masih hidup atau tidak bahkan untuk membantu anda bernapas lagi sangat sulit." jelas Roy membuat Karamel menelan salivanya, tentu karena Karamel merasa was-was dan takut.
"Apa obat ini ada jangka waktunya?" tanya Karamel.
"Hanya satu jam," sahut Roy.
"Jangka obat ini bekerja?" tanya Karamel.
__ADS_1
"Dua puluh menit setelah aku menyuntikan obat ini," jawab Roy.
"Dua puluh menit cukup untuk Henry sampai ke sini, (Karamel tampak sedang berfikir). Siapkan ambulance dalam waktu empat puluh menit dari ...." Karamel langsung menoleh ke arah Roy.
"Sekarang," kata Karamel dan Roy langsung meneteskan sesuatu ke mata Karamel lalu menyuntikan obat itu pada infus Karamel.
...Flashback off....
"Setelah Henry nemuin gue udah enggak bernyawa lagi, gue di bawa pergi sama Roy buat di gantiin sama mayat cewek lain. Waktu udah tukar posisi, Roy langsung bawa gue ke sebuah gudang terus dia mompa detak jantung gue sampai gue bisa bernapas lagi." akhir cerita Karamel
Leo terdiam begitu juga dangan Kenzi dan Faza, sangat luar biasa. Rencana yang di buat Karamel sangat-sangat sukses membuat mereka percaya akan kematian Karamel.
"Trus gimana sama dia?" tanya Faza menggerakkan kepalanya ke arah Leo membuat Karamel menoleh ke arah Leo.
"Dari awal Leo ninggalin gue, dia ...."
...............
"Jadi selama ini lo pergi, itu buat selamatin nyawa keluarga kita?" tanya Kenzi setelah Leo dan Karamel selesai bercerita.
"Maafin gue Ken, gue ...."
"Ini yang lo bilang sahabat, sahabat yang rela menderita sendirian tanpa mau berbagi sama kita yang lain." sengit Faza memotong perkataan Leo
"Bang ...."
"Kita semua kecewa sama lo, Le. Dan lo fine-fine aja nerima semua itu." timpal Kenzi memotong perkataan Karamel.
"Kak ...."
"Kalo lo cerita sama kita, kita nggak akan mungkin tinggal diam Le. Kita pasti bakal berusaha buat bantuin lo karena apa? Itu karena yang mau lo selamatin itu nyawa seluruh anggota keluarga kita bertiga Le ...."
"Karena Leo udah berkorban, kalian berdua nggak seharusnya mojokin Leo kayak gini dong," pekik Karamel memotong perkataan Kenzi.
Entah kenapa Karamel merasa tidak terima jika Leo di salahkan oleh kakak dan abang-nya itu.
"Gue menderita karena di tinggal Leo tanpa alasan tapi Leo lebih menderita karena dia terpaksa ninggalin gue buat nyelamatin nyawa keluarga kita, Keluarga kita Kak-Bang," ucap Karamel menghela napas panjang.
"Gue ngejalanin hidup gue yang gue fikir itu adalah takdir yang gue hadapin ... gue nggak tau apa-apa, nggak tau apa-apa, Bang. Tapi ternyata itu bukan takdir melainkan sebuah permainan dari Rega Ananda sama anaknya," lirih Karamel.
"Sedangkan Leo, dia jauh dari orang-orang terdekatnya, dia hidup sendirian. Dia tau bahaya keluarga kita tapi dia berusaha bantu kita dengan cara pura-pura jadi cowok pengecut, buat apa coba? Buat ngelabuin Henry biar rencana utama Henry itu berhasil. Biar keluarga kita selamat dari kematian yang Rega Ananda rencanain." pekik Karamel.
"Tapi dia nggak ngasih tahu ...."
"Polar prince lebih pandai dari pada lo, jadi lo jangan ngerasa paling hebat bisa ngatasin semua masalah yang ada, buktinya selama ini Papa minta lo nyari keberadaan Rega Ananda, lo nggak tau Rega Ananda ada di mana 'kan?" sengit Karamel membuat Kenzi bungkam.
"Sedangkan Leo, dia tau segalanya bahkan dia rela berkorban demi kuta," tambah Karamel.
"Gue minta maaf, Ken–Za!" lirih Leo.
"Ck! Gue yang minta maaf, bener kata Kara seharusnya gue nggak mojokin lo, Lo udah berkorban banyak, thanks." ucap Kenzi dengan nada suara ikhlas tak ikhlas.
"Gue juga minta maaf, karena emosi gue jadi ikutan mojongkin lo." timpal Faza sama lah antara ikhlas tak ikhlas bicaranya, membuat Karamel menggelng-gelengkan kepalanya.
Leo tersenyum miring, begitu juga dengan Kenzi dan Faza yang tersenyum kepada Leo.
"Mau sampai kapan kalian senyum-senyuman terus kayak orang gila?" tanya Karamel membuat ketiga laki-laki itu menatap ke arah Karamel.
"Jangan lupa keluarga kita lagi dalam bahaya woy, fikirin 'kek cara terbaik buat selamatin nyawa keluarga kita itu gimana? Bukan malah senyum-senyum aja kerjaannya, lo berdua." oceh Karamel membuat Kenzi dan Faza mengerutkan dahi aneh.
Karamel sedang PMS kah, perihal senyum doang, sampe harus ngoceh-ngoceh segala tu bocah. Oh atau jangan-jangan Karamel cemburu lagi Kenzi sama Faza senyum ke Leo.
"Rega Ananda sama Henry udah memulai rencana mereka," ucap Leo membuat Karamel terbelalak menatap Leo. Tidak hanya Karamel, Kenzi dan Faza pun ikut menatap ke arah Leo.
"Maksud kamu?" pekik Karamel.
.......
^^^.^^^
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1