
...Mansion Henry...
Setelah semua acara selesai, Karamel langsung di bawa oleh Henry untuk tinggal di rumahnya, sebenarnya itu terlalu cepat bagi Karamel namun Karamel tidak bisa menolak karena sang mama mengatakan 'Tidak apa-apa, sudah kewajiban seorang istri untuk ikut ke manapun suaminya pergi, Nak.' jadilah sekarang Karamel menetap di mansion Henry atau lebih tepatnya mansion mereka berdua karena seperti yang pernah Henry katakan, semua yang di miliki pria itu adalah milik Karamel bahkan nyawa pria itu juga ada di tangan Karamel.
"Aku ingin bertanya denganmu, bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan Mas Henry?" tanya Karamel sangat pelan.
"Mama memanggil Papa dengan panggilan itu juga 'kan? Jadi kau memang di haruskan memanggilku dengan sebutan itu," ucap Henry membuat Karamel tersenyum.
Di ruang keluarga ini, Henry menatap lekat wajah cantik wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Apa aku boleh ...."
"Aku belum siap, Mas." potong Karamel memahami keinginan sang suami yang pasti meminta hak dan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Aku tahu, Sayang. Aku hanya ingin sesuatu yang kecil darimu," ucap Henry dengan seringaian mesumnya.
"Apa?" tanya Karamel sehingga Henry mendekatkan mulutnya ke daun telinga Karamel,
"I wanna kiss you, can i?" bisik Henry, seketika Karamel melebarkan matanya.
Henry mendekatkan wajahnya pada wajah Karamel hingga semakin dekat dan hidung keduanya sudah saling menempel, jantung mereka semakin berdegup kencang dan napas mereka pun sudah beradu dan menyatu.
Henry maupun Karamel sama-sama memejamkan matanya dan sedetik kemudian ....
"Kakak ada masalah be .... Astaga!!!" Fico yang datang, langsung menutup mata dan membalikan badannya kala melihat kedekatan Henry dan Karamel di ruang keluarga itu.
Henry dan Karamel serentak melebarkan matanya lalu Karamel mendorong Henry hingga jatuh ke pinggiran sofa.
"Wo hohow! Maaf maaf!" ucap Fico dengan wajah yang panas.
"Astaga ... sepertinya aku butuh seorang wanita untuk memuaskan hasratku sekarang," batin Fico menggoyangkan kapalanya ke kanan dan ke kiri.
Karamel merasa gugup sekarang namun dia harus bisa lepas dari Henry, dirinya merasa malu.
"Fico?!" panggil Karamel.
"Maafkan aku, aku akan pergi se ...." ucapan dan langkah Fico berhenti.
"Tidak," pekik Karamel membuat Henry memelotot tidak suka.
"Ma-maksudku, kau tadi memanggil kakakmu 'kan? Mungkin ada yang mau kau bahas dangan kakakmu jadi biar aku saja yang pergi." ucap Karamel langsung berdiri dan cepat-cepat melangkah pergi menuju kamar Henry.
"Selamat," ucap Karamel menutup pintu kamar itu.
__ADS_1
..........
Di ruang keluarga ini Fico duduk sembari membungkam mulutnya karena tatapan tajam sang kakak membuat nyalinya menciut seketika.
"Jika informasimu tidak berguna, akan ku bunuh kau, Fico." kesal Henry.
Glukk! Kemudian Fico menghirup udara dalam-dalam, oke! Nyawanya menjadi taruhannya sekarang.
"Tadi pagi Luhan dan Alfa menemukan rekaman CCTV tentang seseorang berjubah hitam di acara pernikahanmu dan si manis, Kak. Kami curiga dia adalah orang jahat dan benar saat Luhan dan Alfa menelusuri ke mana orang itu pergi, orang itu adalah suruhan Daddy untuk mencari tahu tentang dirimu." jelas Fico membuat Henry mengepal tangannya.
"Di mana rekaman itu?" tanya Henry.
"Luhan dan Alfa akan datang ke sini nanti malam dan kau bisa melihat rekamannya nanti, Kak." ucap Fico.
"Ada rekaman lain juga yang membuktikan Daddy masih mengharapkanmu, Kak. Aku mendengar jelas percakapan mereka lewat rekaman CCTV yang sudah di hack oleh Alfa di rumah Daddy, orang yang berjubah hitam itu menceritakan detail kejadian acara pernikahan kalian, aku kira Daddy akan bahagia tapi tidak, Kak. Dia tampak marah dengan terus berteriak, 'Henry adalah anakku, semua kehidupan Henry harus aku yang menentukan termasuk dengan siapa Henry akan menikah,' Daddy juga mengatakan kau adalah anak satu-satunya yang akan bahagia jika hidup bersama Daddy." lanjut Fico.
"Intinya Daddy masih menginginkanmu, Kak." sambung Fico menundukan kepala.
Henry menatap sang adik yang tampak sedih karena seorang ayah yang sangat mereka berdua banggakan malah mempunyai niat jahat bahkan pernah melakukan kejahatan.
"Jika Daddy menginginkan seorang Henry, maka Henry akan membawa Fico bersamanya." ucap Henry membuat Fico mendongak ke arah Henry.
"Kita adalah saudara, tidak ada di antara kita berdua yang harus di singkirkan, jika pun ada yang harus di singkirkan dia adalah orang yang berniat memisahkan kita, aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan persaudaraan kita atau jalinan hubunganku dengan istriku." tegas Henry.
..................
"Enggak mungkin, gue 'kan tadi berniat baik dengan cara ngasih ruang buat mereka yang mau ngobrol," gumam Karamel polos.
Satu jam berlalu Hanry masih belum juga keluar dari ruang kerjanya sampai Karamel turun dan bertanya pada asisten rumah tangganya apakah Henry sudah makan? Mereka menjawab sudah, dan Henry juga memerintahkan mereka untuk mempersiapkan makan malam untuk Karamel sendiri.
Karamel tidak membantah dan makan sendirian, setelah selesai Karamel naik lagi ke kamarnya.
"Mungkin dia sibuk," gumam Karamel duduk di sofa.
Ada perasaan aneh di diri Karamel, mungkin rasa bersalah atau mungkin rasa khawatir. Enatahlah Karamel menjadi pusing memikirkan perasaan yang bercampur aduk itu.
...22 : 40 PM....
Karamel sudah tidur di sofa dengan dua majalah di dadanya, ia lelah menunggu sang suami yang tak kunjung naik juga.
Ceklek! Henry membuka pintu kamarnya, alangkah terkejutnya dia melihat sang istri yang tertidur di sofa dengan di tumpuki buku. Henry mendekati Karamel lalu ia bersimpuh, di usapnya wajah sang istri.
"Kenapa kau tertidur di sini sayang? Apa karena kau menungguku? Maafkan aku sayang." lirih Henry pelan.
__ADS_1
Henry mengambil dua buku yang ada di dada Karamel lalu ia meletakannya di meja, setelah itu ia menggedong istrinya menuju kasur dan menyelimutinya dengan selimut tebal.
Henry berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai ia menyusul sang istri untuk tidur di sampingnya.
Sejenak Henry terpesona dengan wajah polos tanpa makeup Karamel, mata yang indah, hidung yang mancung juga bibir pink yang menggoda.
Cupp....
Henry mencium kening Karamel lalu ia menyusul sang istri untuk tidur sembari memeluknya.
..............
...Singapura _ Apartemen Rio...
...23 : 15 PM....
"Rio, aku ketemu sahabat kalian di sini."
"Dia pengusaha ternama Binondra Group."
"Dia beda sekarang, dia udah jadi pengusaha sukses tapi fikirannya masih labil kayak anak-anak."
"Leo nuduh sahabat aku selingkuh, padahal yang ninggalin Kara duluan itu dia."
Rio masih memikirkan perkataan-perkataan Mika yang menceritakan tentang ia yang bertemu dengan sahabatnya yaitu Leo.
Rio marah saat Mika menangis karena ulah Leo yang menyakiti sahabatnya yaitu Karamel.
"Kenapa lo harus jadi cowok pengecut Le," gumam Rio dengan pandangan mata yang begitu menyeramkan.
Ini adalah pertama kalinya untuk Rio menyalahkan Leo, ia benar-benar kecewa dan marah karena Leo sudah membuat Karamel menderita dan Mika juga menangis.
Rio memejamkan matanya, terbayang wajah Mika yang menangis saat video call tadi siang. Tanpa sadar Rio menggenggam erat tangannya dan juga menggertakkan giginya.
"Besok aku sama Kak Biyan bakal balik ke Singapura, aku bakal ceritain semuanya sama kamu nanti waktu aku udah di sana ya."
Bayangan ucapan Mika yang terakhir membuat Rio tersenyum tipis, sangat tipis tapi mampu membuat pesonanya semakin bertambah dua kali lipat.
"Aku nunggu kamu pulang, Mika," tanpa sadar Rio bergumam.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...