Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 42


__ADS_3

"Kak," panggilku sedikit menyentak.


"Kenapa?" sahutnya.


"Boleh nanya sesuatu enggak?" tanyaku.


"Langsung aja," jawabnya.


"Lo pernah punya pacar enggak? Atau ada cewek yang lo cintai gitu? Selama ini gue enggak pernah lihat lo deket sama cewek manapun, jangan-jangan lo gay lagi." tanyaku namun lama ku tunggu tidak ada sahutan apapun dari kak Aldy sehingga aku pun berjalan mendekatinya.


"Kak," panggilku lagi.


"Apa sih, lagi seru ini," ucap kak Aldy membuatku geram ingin menjambak rambutnya karena game lebih ia prioritaskan di badingkan adiknya yang ingin bicara ini.


"Kok gue kangen ya sama Leo," ucapku memejamkan mataku agar terlihat seperti orang melantur.


Satu detik, dua detik, tiga detik, lima, tujuh, sembilan, sepuluh detik, sebentar! Kenapa tidak ada keheningan? apa aku berhasil memancing emosi Kak Aldy? Apa dia tidak mendengar ucapanku barusan?


Aku ragu untuk membuka mataku tapi aku penasaran dengan ekspresi kak Aldy sekarang, bismillah ku coba beranikan diri untuk membuka mataku dan.


"Jangkrik jelek," aku berteriak kaget kala melihat wajah memelotot Kak Aldy tepat di depan wajahku.


"Lo apa-apaan sih, Kak, melotot di depan muka gue kayak s*tan tahu enggak lo." bentakku mendorong tubuh Kak Aldy.


Kak Aldy masih setia menatapki dengan sinis hingga akhirnya dia bertanya dengan sangat sangat keras, "Ngomong apa lo barusan?" tanyanya.

__ADS_1


"Ngomong apaan? Jakrik jelek? Itu elo," ucapku berpura-pura tidak tahu.


"Tsk! Lo bilang, lo kangen sama Leo," ucapnya datar nan menyeramkan.


"Hah! Salah denger kali lo, gue 'kan udah putus sama dia, ngapain gue harus kangen sama dia." ucapku mengelak namun Kak Aldy memicingkan matanya ke arahku yang memasang wajah semeyakinkan mungkin.


"Ngomong soal putus lo 'kan belum cerita sama gue." ucap Kak Aldy. Duarr! Jantungku rasanya ingin meledak karena kaget.


"Eem! Soal putusnya gue sama Leo, apa lo beneran masih mau denger ceritanya, Kak?" tanyaku, Aku berharap Kak Aldy akan menjawab 'Iya' karena itu akan sangat mudah bagiku untuk bercerita dan bertanya padanya.


"Nggak penting," ucapnya.


Astaga, bagaimana cara aku bertanya jika kak Aldy saja sudah menganggap semua itu tidak penting lagi untuk di ceritakan.


"Tapi lo udah janji mau cerita jadi harus lo tepatin dong." ucap Kak Aldy membuatku benapas lega.


Aku mulai menceritakan kejadian di mana aku melihat Leo dan kedua temannya mengatakan bahwa aku adalah bahan taruhan lima puluh juta per-orang maksudnya masing-masing dari Rio dan Diky akan membayar lima puluh juta kepada Leo, jika ia berhasil menaklukkan hatiku dan bertahan hingga tujuh hari kemudian Leo juga di suruh untuk menciumku lalu membuatku menangis karena putus cinta.


"Gue udah tau taruhan mereka sebatas satu minggu, makanya waktu hari ke delapan di mana lo pulang dari jalan-jalan sama dia itu buat gue bingung dan penasaran karena raut muka lo nggak ada sedih-sedihnya." ucap kak Aldy.


"Pantes lo tanyain gue puas dan bahagia nggak jalan sama dia, dan buat ...."


"Dan buat lo risih karena gue tanya-tanya," potong Kak Aldy malas.


Aku hanya membalas dengan senyuman lalu aku melanjutkan ceritaku tentang tiga wanita yang aku anggap adalah selingkuhan Leo, ternyata Alia da Mauren adalah wanita yang di anggap b*bu oleh Leo sedangkan Sasya adalah wanita yang di cintai oleh Leo.

__ADS_1


"Kenapa ekspresi muka lo berubah, Kak?" batinku mengerutkan dahi saat melihat perubahan raut wajah kak Aldy.


"Dari kejadian itu gue ngehindar dari dia sampai akhirnya kita ketemu dan gue minta putus sama dia tapi dia nolak, dia bilang 'Kita berpacaran atas persetujuan dua belah pihak jadi putus juga harus di persetujui oleh dua belah pihak' gue nggak tahu kita udah bener-bener selesai atau emang hubungan kita lagi gantung," ucapku serius.


"Tapi, Kak! ...." aku menggantung perkataanku karena ragu untuk mengatakannya.


"Tapi apa?" tanya Kak Aldy menatapku serius.


Aku menatap raut wajah kak Aldy yang menekuk, apa aku harus menceritakan tentang hubungan Leo dan Sasya tadi pada kak Aldy, apa dia mau mendengarkannya? Bagimana jika dia mengusirku dari kamarnya karena membahas so'al Lep dengan wanita lain? Astaga! Kenapa aku ragu untuk bicara.


"Lo masih punya perasaan ya sama Leo?" tanya kak Aldy curiga karena melihat diriku diam sejak tadi.


"G-gue udah janji buat nggak ngomong pu-putus lagi sama dia," ucapku tidak sesuai dengan pemikiranku, aku yakin setelah ini kak Aldy pasti akan sangat marah.


"Jadi maksud lo, lo masih punya hubungan sama dia, iya?" pekik Kak Aldy membuatku terperanjat kaget.


"Itu karena gue ...."


"Karena lo apa! Hah? Dia udah jadiin lo bahan taruhan dia, Tania. Pengkhianat sialan itu pasti mau balas dendam sama gue lewat elo, dia pasti mau hancurin hidup lo, gue enggak akan biarin itu terjadi, sampai kapanpun gue enggak akan biarin dia berhubungan sama lo lagi." ucap Aldy membuatku mengerutkan dahinya.


"Pengkhianat?" tanyaku menatap kak Aldy yang sedang marah besar.


.......


.......

__ADS_1


.......


...... Bersambung ......


__ADS_2