
Dengan keadaan yang masih berantakan, Clara langsung pergi ke kantor Clark Damyan, perempuan itu ingin bicara dengan sang papa agar Leo tahu bahwa semua harapannya ada di tangannya saat ini
Ketika Clara masuk ke ruang kerja sang papa, di sana ada seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan papanya itu, dia adalah Fico.
"Clara, kamu ... sayang kamu kenapa? Hem! Kenapa bibir kamu dan kening kamu juga berdarah?" tanya Clark Damyan Langsung menghampiri sang anak.
"Dia 'kah orangnya?" batin Fico menatap tajam hingga Clara di buat tidak nyaman oleh tatapan itu, segera Clara mengalihkan pandangannya ke papanya.
"Leo, Pah," lirih Clara menangis.
"Leo, kenapa sama Leo? Apa dia yang mukul kamu?" tanya Clark Damyan emosi namun Clara menggelengkan kepalanya.
"Leo, Leo udah nikah dan istri dia yang lakuin ini sama aku hiks ... hiks!" isak Clara membuat Clark Damyan melotot kaget dan mengepal tangannya.
Sedangkan Fico diam-diam menutup mulutnya dengan tangan lalu ia tersenyum mengejek Clara, sungguh tidak menyangka si manis Fico akan membuat Clara seperti anak hilang karena berantakan.
"Leader mafia di lawan!" batin Fico.
"Leo udah nikah?" pekik Clark Damyan dan Clara menganggukkan kepalanya.
"Kurang ajar, berani-beraninya dia menipu Clark Damyan." pekik Clark Damyan tidak menyadari bahwa ada Fico yang menyaksikan obrolan keduanya.
"Aku harus kasih pelajaran ke kamu Prasetya, berani-beraninya kamu bohong sama aku dan anak kamu, berani-beraninya dia nyakitin anak aku." pekik Clark Damyan berjalan menuju meja kerjanya.
"Tuan Nixon, ah! Maaf Tuan, anda harus melihat kejadian ini." ucap Clark Damyan baru ingat ada Fico di ruangannya.
"Tidak apa Tuan," sahut Fico.
"Sepertinya masalah anda harus di selesaikan sesegera mungkin, Tuan. Kalau begitu saya permisi," ucap Fico hendak berdiri.
"Tunggu Tuan," Clark Damyan menghentikan Fico.
"Saya setuju untuk memberikan lahan yang Tuan minta," ucap Clark Damyan membuat Fico tersenyum tipis.
"Bagaimana bisa secepat ini anda menyetujuinya Tuan, bukankah anda bilang lahan itu akan di gunakan untuk pembangunan hotel?" Fico berpura-pura kebingungan.
"Sebenarnya, lahan yang Tuan Nixon minta itu adalah lahan yang akan di gunakan untuk pembangunan hotel milik perusahan Binondra Group, Investornya adalah Binondra Group Tuan. Tapi seperti yang anda lihat, ternyata anak dari Tuan Prasetya telah menikah dan anak Tuan Prasetya telah mengkhianati cinta anak saya, Tuan." jelas Clark Damyan.
"Ini masalah pribadi kalian, Tuan." ucap Fico.
"Maaf Tuan, saya memang menginginkan lahan itu tapi jika itu menyangkut masalah pribadi yang seharusnya bisa di bicarakan baik-baik, maka saya tidak masalah jika lahan itu tidak bisa saya dapatkan." Fico berlaku bijak selayaknya wirausahawan.
"Tidak Tuan, saya memutus jalinan kerja sama ini karena pengkhianatan Tuan Prasetya jadi semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan anda Tuan, saya akan menjual lahan itu dengan anda hari ini juga Tuan." tegas Clark Damyan membuat Clara kaget.
"Menjualnya?" pekik Clara.
"Tuan Nixon ingin membangun mansion, Sayang. Jadi papa akan menjual lahan itu agar Prasetya melihat bagaimana lahan itu menjadi milik orang lain." tegas Clark Damyan.
Melihat murkanya sang papa, Clara jadi tidak berani untuk menolaknya. Apakah dirinya salah mengadu dengan sang papa hingga papanya menjual lahan itu ke orang lain.
Clara hanya bisa diam melihat sang papa, mengurus semua pemindahan sertifikat tanah itu ke tangan Fico hingga Clara tidak sanggup melihatnya, Clara beranjak pergi menuju ruang pribadi di sebelah ruang kerja sang papa.
Malamnya Clark Damyan berencana untuk menelepon Prasetya, karena sudah berani berbohong maka dirinya berencana untuk memberi pelajaran pada Prasetya.
__ADS_1
..............................
...Kanada...
...08 : 40...
Prasetya dengan sahabat lamanya Sanjaya sedang duduk bersantai di balkon apartemen Sanjaya.
"Lalu bagaimana dengan restoran milik Sofia, apa kau akan memberikannya dengan menantuku Karamel?" tanya Prasetya sembari menghirup secangkir kopi hangatnya.
"Kenzi lebih berpengalaman di bandingkan Kara, sejak usia lima belas tahun Kenzi sudah membantuku dalam berbisnis tapi perusahaanku juga membutuhkan penerusnya ... aku tidak tau Pras apakah Kara mau atau tidak meneruskan bisnis mamanya." sahut Sanjaya lirih.
"Anakmu sangat pandai dalam berbisnis, San. Tak-tik bermain dalam bisnis dan juga cara kerjanya yang gesit sungguh ...."
Prasetya tidak menyelesaikan perkataannya karena handphonenya tiba-tiba berdering. C.Damyan, nama itu yang menelepon Prasetya.
"Halo," sapa Prasetya tenang.
"........................"
"Apa maksudmu aku berbohong?" tanya Prasetya.
"........................"
"Di saat kita melakukan kesepakatan kerja sama, aku tidak tau jika anakku sudah menikah, Damyan." ucap Prasetya jujur.
"........................"
"........................"
"Kita melakukan kesepakatan bersama jadi kau tidak punya hak ...."
"Tarik kembali uangmu, aku sudah menjual lahan itu," kata terakhir yang di ucapkan Clark Damyan, lalu secara sepihak Clark Damyan memutuskan sambungan teleponnya.
"Ada masalah, Pras?" tanya Sanjaya.
Prasetya tersenyum ke arah Sanjaya, reaksi apa ini? Setelah tadi di telepon marah-marah, kenapa sekarang Prasetya malah tersenyum ke arahnya. Sanjaya di buat bingung oleh sahabat lamanya itu.
"Apa kau sakit?" tanya Sanjaya, menghilangkan senyuman dari wajah Prasetya.
"Apa kau kira aku gila?" kini Prasetya balik bertanya, Sanjaya pun menganggukkan kepalanya membuat Prasetya melebarkan mata tidak percaya akan sahabatnya ini.
"Kau yang gila, San." Prasetya merasa kesal dengan Sanjaya.
"Mulutmu sangat pedas, Pras." ucap Sanjaya membuat Prasetya tertawa terbahak-bahak.
"Umurmu sudah tidak muda lagi, Pras. Jadi berhentilah bermain-bermain denganku," kesal Sanjaya.
"Baiklah, biar aku jelaskan apa yang terjadi sebenarnya," ucap Prasetya menjelaskan apa yang terjadi.
"Dan tadi Damyan memutus jalinan kerja sama kami, San." akhir cerita Prasetya.
"Semoga saja Fico berhasil mendapatkan lahan itu." do'a dari Sanjaya.
__ADS_1
"Aku pun berharap seperti itu, San." timpal Prasetya.
..............................
...Indonesia...
...19 : 30...
Karamel terus saja mondar-mandir menunggu kedatangan Fico, Karamel merasa cemas karena saat Karamel selesai makan malam di telepon tadi Fico berkata 'maafkan aku, manis. Nanti malam aku akan datang dan menceritakan semuanya' ucapan apa itu? Apakah rencananya gagal? Atau ada hambatan hingga Fico tidak bisa mendapatkan sertifikat tanah itu?
"Erg kalo rencana gue gagal ... ah masa iya gagal sih," gumam Karamel di buat pusing memikirkan apakah rencananya berhasil atau tidak.
"Ayolah Fico, lo bakal dateng jam berapa sih? Cepetan dateng dong dan kasih kabar baik buat gue." Karamel memijat pelipisnya, tangan Karamel berkeringat begitu juga hidung, pelipis dan lehernya.
Karamel mengibas-ibaskan tangannya ke arah wajahnya sendiri, "Sayang?!" panggil Leo baru saja keluar dari ruang kerja lalu mendekati Karamel di ruang tamu.
Karamel menoleh ke arah Leo lalu Karamel tersenyum kaku, "Ada masalah? Kenapa kamu keringetan kayak gini? Hem!" tanya Leo mengusap keringat di pelipis Karamel.
Karamel menggelengkan kepalanya, "Aku gak apa-apa kok, ini cuma lagi nunggu kabar dari Fico aja tapu gak tau deh kapan datengnya tu anak," sahut Karamel mengalihkan pandangannya ke pintu utama.
"Fico pasti bakal datang, sekarang kamu duduk, aku ambilkan air minum buat kamu." ucap Leo menuntun Karamel untuk duduk di sofa, setelah itu Leo pergi dapur untuk mengambil air minum.
"Minum dulu nih," suruh Leo menyodorkan air gelas pada Karamel.
Karamel mengambil gelas itu, "Makasih," ucap Karamel langsung meneguk air minum itu hingga tersisa setengah.
Leo duduk di samping Karamel, "Stop liatin pintu terus, Kara." kesal Leo karena sejak tadi Karamel tidak melepas tatapannya dari pintu.
Karamel melirik ke samping kiri, melihat Leo menatap tajam dirinya Karamel jadi tersenyum cengengesan, "Aku gak sabaran banget orangnya," lirih Karamel salah tingkah namun raut wajah Leo tetap sama datar seperti triplek.
Karamel mengalihkan pandangannya ke samping kanan, "Jangan bilang singa satu ini mau ngamuk ama gue," gumam Karamel pelan namun samar-samar Leo mendengar gumaman Karamel.
"Dia masih aja nyebut gue singa, emang seserem itu ya gue di mata dia" batin Leo merasa jengkel.
"Apa kamu pernah ngeliat singa ngamuk itu kayak gimana, Sayang?" tanya Leo dan tiba-tiba Karamel tersedak air ludahnya sendiri.
"Hehe! Aku enggak bermaksud ...."
"Aihh! Lagi-lagi pemandangan ini," seseorang datang dan langsung keluar lagi.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
Hem-hem pada penasaran ya?
Ayo dong! Dukung author cici dengan terus vote, like dan komen juga. Terima kasih atas antusias kalian semua kakak-kakak.
Selamat membaca semuanya .....
__ADS_1