Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 38


__ADS_3

...Tania's point of view...


"Mana sih tu cowok, lama banget datengnya," gerutuku kesal karena terlalu lama menunggu pria brengs*k itu. Oops!


"Hah! Udah lewat jam pulang sekolah juga, masih belum dateng juga tu cowok," kesalku merasa tidak tahan dn ingin pergi saja.


"Cie! Yang udah nggak tahan mau ketemu?" suara seseorang yang aku tunggu-tunggu kedatangannya. Tidak, aku tidak sedang berharap, ini hanya terpaksa, tolong di garis bawahi terpaksa.


"Ngaret," cetusku.


"Maaf, aku tadi pulang dulu ke rumah, habis itu baru deh ke sini," ucapnya duduk di depanku sembari tersenyum.


Pantas saja dia datangnya sangat lama, ternyata pria itu pulang ke rumah dulu, dasar pria tidak berperasaan membiarkan seorang wanita sepertiku menunggunya sangat lama.


"Sana pesen minuman buat lo," titahku cuek.


"Kamu udah pesen?" tanyanya.


"Nggak," sahutku.


"Ya udah aku pesenin minuman dulu buat kita," ucapnya membuatku mengeraskan rahang.


"Gue bilang ...."


Belum sempat aku bicara, Leo sudah lebih dulu memanggil pelayan cafe sehingga salah satu pelayan wanita menghampiri kami karena panggilan nyaring dari manusia liar di depanku ini.


"Iya Mas, silahkan mau pesan apa?" tanyanya pada Leo.


"Pesan jus jambu satu sama jus sirsak satu ya, Mbak." Ucap Leo membuat mataku bergerak menatapnya, Dia masih mengingat jus kesukaanku! Tidak, jangan merasa tersanjung Tania, ku gelengkan kepalaku cepat.


"Kepala kamu kenapa geleng-geleng gitu, lagi bayangin muka ganteng aku ya?" tanya Leo narsis.


"Nggak," bantahku.


"Jadi kamu ngajak aku ketemu karena apa? Kangen ya?" tanya Leo sedikit menggoda.


"Nggak," bantahku lagi.


"Terus apa dong, rindu gitu." goda Leo mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Huft! Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucapku tidak ingin berbasa-basi dengannya, karena itu akan membuang-buang waktuku.


"Mau minta balikkan?" tanya Leo cepat.


"Yeah, kita udah putus," ucapku tersenyum miring. Bukankah pertanyaan Leo barusan adalah sebuah pengakuan bahwa aku dan dia sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi? Seketika mata Leo tersentak kaget.


"Enggak, kita belum putus," ucap Leo ternyata pria itu masih belum mau melepaskanku. Dasar bajin*an!


"Ck! Gue mau ...."


"Apa? Mau minta di lamar?" tanya Leo tersenyum sumringah memotong perkataanku membuatku terbelalak.


"Lo bisa diem nggak sih, gue lagi mikir," ucapku.


"Jangan mikirin aku mulu, nanti kamu makin di landa cinta loh," goda Leo lagi.


"Terserah lo deh, gue ngajak lo ketemu itu karena gue g-gue ...."


"Apa gue harus bilang, kalo gue mau denger penjelasan atas kesalah pahaman gue terhadap dia, kemaren-kemaren kan gue jual mahal masa iya sekarang gue yang dateng minta penjelasan." batinku baru memikirkan hal ini sekarang.


"Dari tadi kamu mikirin apaan sih? Kalo kangen bilang aja, sayang." goda Leo memberi kedipan matanya. Degg! Jantungku kembali berdebar hanya karena mendengar kata 'sayang' yang begitu lembut keluar dari mulutnya.


Sepertinya saran Firgy adalah sebuah kesalahan, aku tidak akan mungkin mendapatkan informasi apapun dari Leo, Ini saja punya kesempatan bertemu denganku, dia bukannya berusaha untuk menjelaskan kesalahannya padaku tapi dia malah gencar menggodaku seakan-akan dia melupakan segala kesalahannya yang membuatku marah padanya.


"Ehem! Nih minum dulu, kamu pasti haus karena ngedumel mulu di dalam hati," ucapnya membuyarkan lamunanku.


"Makasih, maaf gue nggak ngedumel dalam hati,' ketusku meminum jus jambu kesukaanku.


"Jadi kenapa kita ketemuan di sini?" tanya Leo menatapku lekat hingga refleks aku menelan saliva kasar membuat pria itu tertawa kecil.


"G-gue ngajak lo ketemu itu karena gue mau tanya tentang Sasya," ucapku langsung ke intinya.


Senyuman Leo seketika berubah menjadi tanpa ekspresi, kemudian ia mengernyitkan dahinya sehingga aku pun ikut menekuk dahiku kala melihat raut wajah.


"Kenapa kamu mau tahu ...."


"Enggak masalah kalo lo nggak mau ngasih tahu, gue gak maksa," ucapku hendak pergi tapi tiba-tiba Leo berdiri di depanku untuk menghalangi jalanku.


"Minggir," titahku.

__ADS_1


"Aku bakal jelasin semuanya tapi nggak di sini," ucap Leo membuatku mengernyit aneh.


"Kamu tunggu di sini, aku mau bayar dulu," ucap Leo pergi ke tempat kasir, setelah itu Leo langsung menghampiriku dan menarik pergelangan tanganku sampai ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil aku dan Leo tidak bicara sepatah katapun, ku lirik sekilas wajahnya yang sedang fokus menyetir 'Tampan.' ku akui Leo memang tampan, wajahnya hampir mirip dengan sesosok orang yang pernah ada di masa laluku, dia adalah tangan kananku Vian tapi tidak, dia berbeda dari laki-laki di masa laluku. Laki-laki di masa laluku sangat baik dan menghargai wanita sedangkan Leo dia adalah laki-laki playboy yang tidak ada perasaan.


"Segitunya banget lihat cowok ganteng." ucap Leo membuat aku gelagapan.


"Siapa juga yang lihatin lo," sengitku membuang muka ke arah jendela.


"Aku nggak bilang kamu lagi lihatin aku loh," goda Leo membuat tanganku ingin memukul sesuatu, aku menghela napas panjang demi menetralkan gejolak amarah yang ingin meledak.


"Gerah ya karena deketan sama aku?" goda Leo tanpa henti.


"Kening kamu keringatan, sini aku lapin," ucap Leo seraya tangannya terangkat mengelap keningku. Degg! Aku tersentak dan langsung menepis tangannya.


"Gue bisa sendiri," ucapku.


"Lo mau bawa gue ke mana? Lama banget nggak sampe-sampe?" tanyaku pada Leo.


"Agak jauh dari perkotaan," ucap Leo sehingga fikiran buruk merasuki otak pintarku.


"Lo mau nyulik gue?" sentakku memelototi dirinya namun Leo malah tersenyum melihatku.


"Iya, gue mau bawa lo ke penghulu," ucap Leo.


"Nggak lucu," cetusku dengan malas.


"Aku juga cinta kamu," ucap Leo seketika napasku menjadi tercekat. Deg! Deg! Detak jantungku berdegup dua kali lebih cepat, padahal aku tahu pengakuan itu palsu tapi kenapa aku masih belum bisa menghilangkan rasa sakit hati ini.


Aku diam seribu bahasa! Hingga sekitar satu jam menunggu, mobil yang di bawa oleh Leo tidak kunjung berhenti juga sampai akhirnya mata yang aku tahan agar tidak mengantuk sekarang tidak bisa di ajak kompromi lagi hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidur.


.


.


.


.... Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2