
Leo mengetuk pintu hingga ketiga insan itu menoleh ke arah belakang, Kara terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya untuk menghapus air matanya sedangkan Kenzi dan Faza langsung berdiri menghadap Leo.
"Lo udah pulang," ucap Faza sekedar menyapa.
"Kara, aku mau ngomong sama kamu sebentar," ucap Leo tidak mengindahkan ucapan Faza. Kenzi maupun Faza saling beradu padangangan satu sama lain.
"Leo, Kara ...." Kenzi tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Leo menghentikkannya dengan mengangkat tangan kirinya ke udara. Karamel menghela napas sebelum bangkit dari duduknya dan menatap suaminya dengan langsung menganggukkan kepada lalu mereka berdua pergi ke kamar bersama.
"Gue khawatir sama Kara," ucap Faza.
"Leo nggak akan nyakitin Kara," sahut Kenzi dengan raut wajah serius.
"Semoga," ucap Faza merasa ragu hingga mereka berdua saling beradu pandang.
................
Di kamar Karamel duduk di sofa sedangkan Leo berdiri membelakangi Karamel, mungkin suaminya itu akan bertanya banyak hal dengan Karamel dan Karamel tidak tahu harus bagaimana caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan suaminya nanti!
"Apa kamu mau ngomong sesuatu sama aku, Karamel Listra ?" tanya Leo pelan namun Karamel diam.
"Enggak ada ?" tanya Leo, lalu peria memutar tubuhnya untuk menatap Karamel yang menundukan kepalanya.
"Kenapa semalem kamu ngehidar dari aku?" tanya Leo tanpa basa-basi.
"Maaf," kata itu yang keluar dari mulut Karamel.
"Apa itu sebuah jawaban?" tanya Leo dan Karamel menggelengkan kepalanya, kenapa Karamel merasa takut dengan suaminya itu? Padahal Leo berbicara santai kepadanya!
"Kenapa kamu nggak jujur sama aku, kenapa kamu malah menghindar dari aku, Kara?" tanya Leo ingin Karamel lebih terbuka kepadanya.
"Aku siap ngelakuinnya malam ini," ucap Karamel sambil memejamkan matanya membuat Leo menatap sedih istrinya itu.
"Aku enggak nanya so'al itu, Kara." ucap Leo membuat Karamel speechlees. Leo berjalan mendekati Karamel lalu Leo bersimpuh di kaki Karamel dan meletakan kepalanya di paha Karamel.
Karamel terkejut dengan apa yang di lakukan Leo, "Aku suami kamu 'kan, Kara?" tanya Leo lirih.
"Kalo bener aku suami kamu, cobalah untuk bisa ngehargain aku, jangan sembunyiin apapun dari aku karena ... sakit Kara waktu tau kamu kangen sama Mama Sofi tapi kamu ngabaiin aku kayak semalem." lirih Leo menekan kata 'sakit' sehingga hati Karamel di buat tersentil.
"Kalo kamu kangen sama Mama Sofi, kita bisa dateng ke LA kapanpun kamu mau, kalo pun kamu belum siap melakukan kewajiban kamu, aku enggak akan makas kamu buat memenuhi kebutuhan biologis aku." ucap Leo.
Mendengar itu Karamel semakin merasa bersalah kepada Leo.
__ADS_1
"Maaf," lirih Karamel membuat Leo mendongakkan kepalanya.
"Ada apa hem?" tanya Leo begitu lembut agar istrinya itu tidak merasa takut dengannya. Karamel membalas tatapan Leo lalu Karamel menggelengkan kepalanya.
"Ngomong sama aku, Sayang," pinta Leo tapi mulut Karamel kelu untuk menceritakan apa yang terjadi semalam namun jika Karamel terus diam, Leo pasti akan terus mendesaknya untuk bicara jujur.
"Sebelumnya aku pernah nolak Henry buat menuhi keinginan dia tapi dia nggak ngerti sama perasaan aku terus dia malah marah-marah sama aku," lirih Karamel jujur.
"Trus semalem aku nghindar karena aku terus-terusan mikirin Mama, aku takut kamu bakal sama kayak Henry yang mungkin bakal ngomong itu cuma alasan aku semata biar aku enggak ngelakuin kewajiban aku," ucap Karamel lagi.
"Apa kamu fikir hasrat lebih penting di bandingkan perasaan kamu?" tanya Leo dengan raut wajah serius tapi Karamel diam saja.
"Jawabannya enggak Kara," ucap Leo lagi.
"Aku nikah sama kamu bukan karena nafsu tapi aku nikah sama kamu itu karena aku cinta sama kamu, sayang." ucap Leo masih dengan raut wajah serius namun suara pria itu begitu lembut.
"Maafin aku yang ...."
"Aku bukan Henry yang menginginkan jiwa kamu atau cinta kamu, Kara. Tapi aku Leo, aku Leo yang sayang dan cinta sama kamu bahkan kalo kamu enggak cinta ...."
Leo tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena tangan Karamel menutup mulut Leo, Karamel menggelengkan kepalanya, mungkin dirinya terlalu berlebihan menganggap Leo adalah orang yang sama dengan mantan suaminya dulu hingga Leo hampir akan mengatakan sesuatu yang membuat Karamel tidak ingin mendengarnya.
"Aku tau aku salah tapi jangan ngomong kalo aku enggak cinta sama kamu, Leo," ucap Karamel lalu melepaskan tangannya dari mulut Leo dan tangan mungil wanita itu berpindah tempat ke pipi Leo.
"Maka dari itu kamu harus ceritain masalah kamu sama cinta kamu ini, Kara. Jangan takut buat ungkapin semuanya karena aku enggak akan nyakitin kamu, kesedihan dan air mata kamu adalah kelemahan aku, kamu harus tau itu." ucap Leo lirih dan Karamel menganggukkan kepalanya saja.
"Kamu kangen sama Mama Sofi bukan?" tanya Leo lembut membuat napas Karamel tercekat untuk beberapa detik hingga kemudian Karamel kembali menganggukkan kepalanya.
"Kalo gitu malam ini kita pergi ke LA terus besok kita bakal langsung ke Singapura." ucap Leo membuat Karamel mengernyit.
"Kita bakal ketemu Mama sama Papa di Singapura, Sayang." ucap Leo menjawab kebingungan dari wajah istrinya itu.
"Hah! Ketemu Mama sama Papa kamu?" beo Karamel sedikit meninggikan suaranya kaget, tiba-tiba saja wanita itu merasa gelisah ketika Leo ingin mempertemukan dirinya dengan kedua orang tua Leo.
"Leo, gimana kalo ...."
"Aku nerima permintaan Papa buat jadi CEO Binondra Group dengan syarat kehidupan pribadi aku, cuma aku yang boleh nentuinnya sendiri." potong Leo.
"Mama sama Papa enggak boleh ikut campur urusan pribadi aku, mereka cuma boleh ngasih kita restu tanpa penolakan." ucap Leo lagi.
Leo tidak suka menjadi pembisnis karena ia tidak mau masalah pribadinya di sangkut pautkan dengan masalah perusahaan. Maka dari itu Leo membuat perjanjian dengan sang papa setelah Leo menjadi CEO Binondra Group, Prasetya tidak boleh ikut campur masalah pribadi Leo.
__ADS_1
"Itu pemaksaan Leo ...."
"Aku tau tapi Papa sendiri yang setuju sama perjanjian ini, Kara!" seru Leo kembali memotong perkataan Karamel.
"Papa enggak akan nolak kamu atau aku bakal berhenti jadi CEO Binondra Group, Sayang." ucap Leo penuh penekanan.
"Kalo itu pilihan kamu maka aku akan ikut sama kamu, suamiku." sahut Karamel membuat Leo tersenyum senang.
..................
Di balik pintu kamar, Faza dan Kenzi tersenyum lebar katika permasalahan Karamel dan Leo terselesaikan dengan cepat. Dasar dua sepupu yang kepo!
"Gue kira Leo bakal marah sama Karamel," ucap Kenzi ketika mereka sudah selesai mendengar percakapan kedua pasangan suami-istri itu.
"Gue malah takut Leo bakal main tangan tadi," timpal Faza.
"Jadi gimana? Kita ikut mereka?" ucap Kenzi menaik turunkan alisnya.
"Yo'i," sahut Faza.
Kenzi dan Faza pergi ke kamar mereka untuk mengemasi pakaian yang mereka bawa untuk menginap di Kanada selama beberapa hari.
"Setelah ini kita bakal pisah, lo balik kuliah di LA dan gue bakal ikut Leo sama Karamel ke Singapura buat balik ke Malaysia." ucap Faza.
Kenzi menghentikan aktivitas packingnya, "Kayaknya lo nggak sabaran banget pengen balik ke Malaysia," sengit Kenzi.
"Woy! Tugas gue menumpuk kali, Ken." pekik Faza merasa was-was karena siapa tahu Kenzi akan menahan dirinya untuk tinggal di LA selama beberapa minggu.
"Ciah! Lo fikir gue enggak apa? Belum kelar urusan keluarga, lo gak mau ...."
Benarkan Kenzi ada niatan untuk menahan Faza untuk tinggal di LA, oh tidak semudah itu pak juprik!
"Gak mau karena gue gak bisa, gue pengen buru-buru balik," potong Faza cepat.
"Ck!" Kenzi berdecak sebal lalu setelah itu ia kembali mempacking pakaiannya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...