Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ,, 72


__ADS_3

"Gue harus fikirin cara pindah sekolah nih." gumam Karamel membalikkan topi hip hop warna birunya ke belakang


"Sekolah di ECHS udah mulai bosen, bosen banget deh pokoknya," ucap Karamel.


"I beleve i can fly, i beleve i can touch the sky .... wah, kalo gue bisa terbang sampai ke atas langit mungkin hidup gue nggak bakal bosen kayak gini," gumam Karamel asal-asalan membuat pria yang berada di atas pohon menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nggak waras ni cewek," gumam pria itu.


"Aghhh! Bosen banget hidup gue, kalo aja gue masih jadi leader mafia mungkin gue bisa nikmatin suasana hidup gue karena gue bisa merintah anak buah gue," pekik Karamel kesal sendiri.


"Leader mafia? Gue nggak salah denger nih?" gumam pria itu mengerutkan dahinya menatap tajam ke arah bawah.


"Nih cewek beneran waras apa udah gila ya," gumam pria itu bermonolog.


"Kabar Grandma gimana ya sekarang?" lirih Karamel membuka layar handphonenya lalu menelepon sang papa.


Penggilan pertama tidak di anggkat, panggilan keduapun sama tidak di angkat sampai ke panggilan ketiga, Sanjaya baru mengangkat telepon sang anak,📞


"Hallo, daddy ...." Tania berbicara dengan sang papa dalam bahasa inggris hingga di rasa sudah cukup Karamel mengakhiri panggilannya, kemudian wanita itu merogoh kantong celana jeans pendeknya.


"Yeah! Cuma tiga lagi," dengus Karamel kala melihat permen karetnya hanya tersisa tiga lagi. Srekk! Srekk! Karamel membuka dua bungkus permen karet lalu memakannya sekaligus.


"Lo gue masukin di saku gue dulu, entar waktu gue mau pulang lo gue makan, oke!" ucap Karamel pada permen karet yang tersisa satu itu.


"Udah kurang nih orang," gumam pria itu yakin bahwa Karamel adalah orang setengah waras dan setengah gila juga.


Karamel membalikkan topi hip hopnya ke depan lalu membaringkan tubuhnya di rumput dan menjadikan tasnya sebagai bantal, ia pejamkan matanya lalu tersenyum ria sembari mengdengar musik lewat handsfree.


Karamel mengira hanya dirinya yang ada di sana jadi dia berbaring dengan kaki kanan di tekuk dan kaki kiri tetap ia luruskan.


Pria yang sejak tadi duduk di atas pohon, tidak melepaskan pandangannya dari wajah Karamel, ia merasa pernah melihat wajah Karamel namun ia lupa.


Pria itu masih menatap wajah Karamel yang begitu cantik, hingga bermenit-menit lamanya pria itu ingin turun dari pohon itu namun Karamel tak kunjung pergi juga, lalu bagaimana dirinya bisa turun!


"Nih cewek tidur beneran apa bohongan ya," gumamnya agak kesal.


"Pstt! Pstt! Ehem." pria itu berdesis seperti ular kemudian ia berpura-pura batuk namun Karamel tetap bergeming tanda Karamel benar-benar sudah terlelap.


Perlahan pria itu menginjak satu-persatu ranting pohon dan tangannya bergantung di ranting pohon yang lain, sampai saat pria itu ingin lompat tiba-tiba bajunya tersangkut, jadilah ia jatuh tepat di perut Karamel.


"Busettt ... agghh," ringis Karamel.


"Maaf maaf maaf, gue nggak sengaja," ucap pria itu bangun dan berjongkok di samping Karamel.

__ADS_1


"Set*n lo ya, muncul dari mana sih lo," sentak Karamel masih memegangi perutnya.


"Dari pohon," ucap pria itu membuat Karamel mendongakkan kepalanya ke atas pohon.


"Monyet?!" gumam Karamel kemudian. Fuhh! Karamel membuang permen karet yang ia kunyah tadi.


"Ngapain lo di atas pohon, ngintipin gu – e ...." ucapan Karamel meninggi di awal lalu memelan di akhir.


"Leo?" desis Karamel terbelalak.


"Nggak usah nuduh, gue udah di sini sebelum lo dateng," ucap Leo datar namun Karamel masih melebarkan matanya.


"L - lo nggak kenal sama gue?" tanya Karamel menunjuk wajahnya sendiri.


"Harus banget gue kenal lo?" ucap Leo datar.


"Nggak juga," balas Karamel tak kalah datar.


Leo mengacuhkan Karamel lalu hendak pergi meninggalkan Karamel tapi bukan Karamel namanya kalo tidak bisa mengerjai orang yang sudah menindihnya.


"Woy !!" pekik Karamel lantang sehingga Leo menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Karamel.


"Tanggung jawab dong," pekik Karamel menunjuk perutnya.


"Pergi sana lo, nggak perlu tanggung jawab dari lo, gue bisa bangun sendiri ... ergh!" Karamel mengeraskan rahangnya menahan perih di bagian perutnya.


"Gila sih siku Leo tajam banget," batin Karamel benar-benar merasa perih di bagian perutnya.


"Cih! sok bilang bisa bangun sendiri padahal muka berubah pucat gitu," batin Leo meremehkan.


Di saat Karamel masih menahan rasa sakit di perutnya tiba-tiba ada tangan yang terulur di depannya, Karamel mengernyit bingung lalu ia mendongakkan kepalanya.


"Ngapain lo?" tanya Karamel menaikkan sebelah alisnya.


"Cewek banget ya, ngomong minta tanggung jawab, di bantuin malah pura-pura nggak tahu gue mau ngapain." ucap Leo jengah sehingga Karamel menggenggam tangan Leo kemudian pria itu membantu Karamel untuk berdiri.


"Bisa jalan sendiri?" tanya Leo datar.


"Aneh lo ya, sakit di perut gue hampir sama kayak dateng bulan, lo nggak pernah ngerasain dateng bulan apa," sengit Karamel membuat Leo terbelalak.


"Ya nggak lah! Lo kira gue cowok apaan, gila lo ya? Enggak ada ceritanya tahu enggak cowok kayak gue pernah pake pembal*t kayak cewek," pekik Leo kesal sehingga Karamel melebarkan matanya.


"Pftt! lucu juga lihat dia marah," batin Karamel kemudian Leo membawa Karamel keluar dari sekolahan menuju kantin bie'em.

__ADS_1


"Berhenti! Gue bisa pulang sendiri," ucap Karamel mengeluarkan kontak mobilnya lalu membuka pintu mobilnya.


"Ini mobil lo?" tanya Leo.


"Kenapa? Mirip sama mobil temen lo atau pacar lo?" tanya Karamel tahu bahwa Leo pasti mengingat akan mobil Karamel dengan mobil yang di kendari Aldy dan Tania waktu itu.


"Mirip doang," ucap Leo sehingga Karamel langsung masuk ke dalam mobilnya kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Leo.


"Dia murid ECHS tapi kenapa mobilnya di parkirin di sini? Bodo ah! Bukan urusan gue juga," gumam Leo berjalan ke arah motornya lalu pergi dari sana.


.........


Di tempat lain Karamel sudah sampai di rumah Faza, wanita itu langsung masuk tanpa mengucap salam kemudian wanita duduk di sofa panjang ruang keluarga.


"Tumben banget ke sini," ucap Faza.


"Ya udah gue pulang," dengus Karamel hendak bangkit dari tempat duduknya.


"Gue cuma nanya doang kalik, Ra." ucap Faza sehingfa Karamel kembali duduk namun tangan Karamel tidak lepas memegangi perutnya membuat Faza mencincingkan matanya


"Lo kenapa?" tanya Faza.


"Perut gue sakit," ucap Karamel memelas.


"Sakit kenapa?" tanya Faza.


"Gue ketemu Leo hari ini," ucap Karamel.


"Apa hubungannya ...."


"Dengan tampilan yang kayak gini," potong Karamel merentangkan kedua tangannya membuat mata Faza sedikit melebar.


"Dengan tampilan lo yang cantik kayak gini?" beo Faza membuat Karamel tersentak dan tersipu malu kala Faza menyebut dirinya cantik.


"Gue cantik?" tanya Karamel membuat Faza menatap geli ke arah Karamel.


"Sialan ni mulut malah keceplosan," desis Faza.


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2