Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 21


__ADS_3

Keluarga Mahendra


-Prasetya Mahendra


-Nayara Shan Mahendra


-Vian Pramana Mahendra


-Cleo Rendra Agata


.......


.......


.......


...Kediaman keluarga Sinaja...


Setelah makan malam, Aldy mengajak Tania untuk bermain PS di kamarnya, sampai dua jam kemudian Tania menghentikan permainannya karena malas kalah terus dari sang kakak.


"Gue udahan," ucap Tania menyerah.


"Baru juga enam ronde mainnya," ucap Aldy.


"Bodo amat, males gue udah enam kali main tapi enam kali gue-nya kalah juga," dengus Tania berbaring di kasur sang kakak. Aldy tersenyum sinia lalu ia membereskan semua bekas cemilan dan juga alat bermainnya, kemudian ia menyusul sang adik untuk berbaring di kasurnya.


"Cerita sama gue sekarang," ucap Aldy sehingga Tania memutar kepala ke samping kiri menatap kakaknya yang sedang menatap dirinya juga.


"Cerita apaan?" tanya Tania.


"Yang lo sembunyiin dari gue," ucap Aldy.


"Apaan?" tanya Tania tidak tahu hal apa yang ia sembunyikan dari kakaknya itu.


"Masih mau gue kasih tahu?" tanya Aldy malas.


"Ya iya lah, orang gue enggak tahu juga," ucap Tania dengan bentakkan.


"Masalah lo sama mantan lo," ucap Aldy membuat Tania memelotot kaget.


"Ehem! gue ..."


"Jangan bikin penasaran," sela Aldy cepat.


"Aish! Gue mau cerita tapi lo harus janji jangan berantem lagi sama dia," ucap Tania mengacungkan jari kelingkingnya.


"Ya tergantung," Aldy ragu untuk berjanji.


"Lo udah hajar dia sampai muka dia lebam semua loh," ucap Tania.


"Kenapa masih di belain sih tu anak?" sentak Aldy malas menbuat Tania mengambil posisi duduk.


"Asal lo mau tahu aja, gue sebenarnya punya rencana buat ngasih dia pelajaran tapi lo udah duluan hajar dia, dan menurut gue itu udah cukup karena gue enggak mau berurusan sama dia lagi. Terakhir aja waktu lo hajar dia, gue yang di salahin sama mereka!" kesal Tania hingga Aldy ikut duduk dab menghadap sang adik.


"Oke gue janji," ucap Aldy membuat Tania tersenyum.

__ADS_1


"Jadi gimana ceritanya?" tanya Aldy laluTania menarik napas panjang lalu menghempaskan napasnya dengan kasar,


"Mulai dari mana?" tanya Tania bingung sembari menggaruk tengkuknya yang memang gatal, Aldy yang sangat serius akan menunggu cerita sang adik malah mendapatkan pertanyaan konyol dari sang adik.


"Dari kenapa lo bisa jadi cewek yang mudah di be*oin sama dia," ucap Aldy membuat Tania mendengus.


"Hish! Gue juga enggak tahu kenapa gue bisa terbuai sama kata-kata dia yang manis banget melebihi gula sama madu padahal gue sering banget dapet kata-kata manis dari Justin," ketus Tania.


"Dan anehnya setiap hari dia selalu muncul di hadapan gue, entah itu di perpustakaan, di kantin, di taman, di lab Fisika, di lab komputer bahkan di halaman belakang sekolah, tu cowok selalu bisa nemuin keberadaan gue cuma buat apa coba?" ucap Tania.


"Buat ganggu ketenangan gue plus maksa gue buat mikirin so'al ajakan dia yang mau jadi pacar dia," tambah Tania membuat Aldy tersenyum miring.


"Harusnya sih lo curiga sama gelagat dia yang maksa lo buat mikirin so'al tawaran dia," ucap Aldy.


"Enggak mungkin Kak karena trik sama akting dia deketin gue itu bener-bener natural banget, lo kalo di posisi gue pasti enggak akan mungkin curiga deh sama gelagat dia yang pura-pura sabar nungguin jawaban dari gue," ucap Tania membuat Aldy diam.


"Dan yang buat gue ngerasa kayak di perduliin banget sama dia, itu waktu gue di bully sama Clara, dia berani bentak Clara demi bela gue." ucap Tania membuat Aldy menyipitkan matanya.


"Waktu itu gue sama Kenan ke kantin bareng dan gue enggak sengaja nabrak Clara sampai dia marah sama gue, dan pada akhirnya gue di siram pake jus jeruk di depan semua orang." ucap Tania.


"Tiba-tiba aja Leo ada di samping gue terus dia nutupin badan gue pake jaket biru dongker milik dia," tambah Tania melirik sang kakak.


"Muncul dari mana tu anak?" tanya Aldy.


"Mana gue tahu," jawab Tania.


"Terus terus gimana?" tanya Aldy masih penasaran.


"Clara ngerengek sama Leo karena Leo bantuin gue tapi Leo ngebentak Clara," ucap Tania.


"Apanya?" tanya Tania.


"Ngebentaknya gimana?" tanya Aldy.


"Jangan sampai gue lihat lo bully Tania lagi, kalo enggak lo bakal berurusan sama gue." ucap Tania masih mengingat kata-kata yang di ucapkan oleh Leo.


"Cih! Cuma gitu doang lo sampe bisa luluh sama dia? Murahan lo." ejek Aldy.


"Ck! Murahan banget," sahut Tania mengakui bahwa dirinya sangatlah murahan dan itu mengundang tawa keduanya.


"Terus gimana soal putus?" tanya Aldy langsung bertanya so'al Tania dan Leo putus karena pria itu sudah tahu cerita tentang Tania dan Leo jadian.


"Oh iya! Lo tahu gue putus sama Leo 'kan dari Mika terus lo tahu dari mana soal Leo yang cuma jadiin gue bahan taruhan doang?" tanya Tania mengabaikan pertanyaan Aldy.


"Waktu itu gue ngikutin lo ke rooftop sekolah, dari sana gue tahu semuanya." ucap Aldy.


"Semuanya?" beo Tania.


"Terakhir yang gue dengar, nama-nama tiga cewek yang mereka sebutin waktu itu tapi lanjutannya gue nggak tahu karena gue langsung pergi dari sana." jelas Aldy.


"Kapan-kapan gue ceritain, sekarang gue mau tidur. bye!" ucap Tania beranjak dari tempat duduknya kemudian ia keluar dari kamar sang kakak.


"Aih, nanggung banget sih lo." teriak Aldy namun Tania berpura-pura tuli dan langsung berlalu pergi meninggalkan Aldy.


"Dasar adek jahat lo," pekik Aldy setelah Tania keluar dari kamarnya namun pria itu yakin, adiknya pasti mendengar teriakkannya.

__ADS_1


"Selamat menikmati rasa penasaran, kakak tercinta." pekik Tania dari luar kamar membuat Aldy mendengus jengkel.


.........


...Kediaman keluarga Mahendra...


Pagi ini sang kapten basket sekolah Eton Company High School sedang merapikan rambutnya di depan cermin seraya mulut pria iti bersiul seperti burung.


"Sempurna !" seru pria itu mengedipkan sebelah matanya lalu ia keluar kamarnya menuju ruang makan.


"Morning Mam!" sapa Leo.


"Morning too, honey!" sahut mama Yara


Nayara Shan Mahendra adalah Ibu dari 'Almarhum' Vian Pramana Mahendra dan Cleo Rendra Agata, Yara wanita yang lembut dan penyayang, Profesi pekerjaan Yara adalah seorang Dokter bedah.


"Ohya Mam, Papa kapan pulang?" tanya Leo saat di sela-sela makannya.


"Sekitar dua minggu lagi." jawab mama Yara.


"Di undur lagi." ucap Leo datar seraya menggigit club sandwich buatan sang mama.


"Kau bertanya so'al Papa, apa karena kau merindukan Papamu?" goda Yara mengelus puncak kepala Leo sembari mengacak rambutnya sedikit sehingga Leo membulatkan matanya


"Oh tidak Mam, rambut Leo bisa rusak," pekik Leo menurunkan tangan sang mama pelan.


"Huftt! Kebiasaan merusak rambut yang sudah berjam-jam aku rapikan, lagian mana mungkin aku merindukan suamimu itu, Mam!" batin Leo jengkel seraya melihat rambutnya dari pantulan cermin yang agak acak-acakan oleh sang mama.


"Putra kecil Mama sekarang sudah dewasa," ucap Yara menepuk bahu Leo.


"Leo akan tetap menjadi putra kecil Mama jadi jangan mengulangi kata-kata itu lagi, sungguh Leo tidak menyukainya, Mam." ucap Leo agak malas mengatakan berulang-ulang kali kepada sang mama.


"Habiskan sarapanmu, Mama ke atas dulu," ucap Yara pergi meninggalkan sang anak yang masih menyantap sarapannya hingga lima menit berlalu Leo langsung ke atas menyusul Yara yang mungkin sedang teleponan dengan papanya— Prasetya.


"Mam," panggil Leo masuk ke kamar sang mama kemudian ia melihat sang mama yang sedang merias dirinya di depan cermin


"Fu fu! Gadis cantik dari mana ini?" goda Leo bersiul seraya berjalan mendekati sang mama.


"Dasar anak nakal," ucap Yara membuat Leo terkekeh kemudian pria itu mencium kepala sang mama.


"Aku tidak berbohong, kau memang sangat cantik, Mam." ucap Leo dan Yara hanya tersenyum saja.


"Leo mau berangkat sekarang," ucap Leo menyalami sang mama lalu ia mencuri ciuman di pipi kiri mamanya.


"Anak nakal." ucap mama Yara ingin menjewer telinga anaknya namun sayangnya Yara kalah cepat dengan Leo yang sudah berlari keluar kamar.


"Hati-hati sayang." pekik mama Yara tersenyum gemas dengan kelakuan putranya itu.


.......


...◻...


.......


...◻...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2