
Jessy berdiri di depan rumah sakit Rehoolt Medical Center Canada, ia melihat ada banyak bodyguard yang ia kenal milik Henry berdiri di luar rumah sakit itu.
"What the f***, Leo didn't lie." ucap Jessy.
Jessy berjalan masuk dengan memakai masker dan kaca mata hitam, "Is there a patient named Karamel Listra?" tanya Jessy.
(Apakah ada pasien yang bernama Karamel Listra?)
"Karamel Listra Nasaji Aramoy." ucap resepsionis itu membaca nama pasien Karamel di layar komputer.
Jessy melebarkan matanya, "Where is the treatment room on behalf of Karamel?" tanya Jessy pada resepsionis rumah sakit.
(Di mana ruang perawatan atas nama Karamel?).
"Sorry, on whose behalf are you looking for the Karamel Listra treatment room?" tanya resepsionis itu.
(Maaf, atas nama siapa yang mencari ruang perawatan Karamel Listra?).
Jessy melebarkan matanya, "What?" pekik Jessy.
Jessy tidak menyangka Henry benar-benar melindungi Karamel.
Jessy tahu siapa Henry yang sebenarnya, jika Henry tidak jujur kepadanya maka sampai dunia hancurpun Henry tidak akan pernah jujur lagi.
"Kau yang memulai semuanya Henry, jadi mulai sekarang aku akan melawanmu." gumam Jessy keluar dari rumah sakit dengan memakai masker dan kaca mata hitamnya.
..............................
Di bus station Jessy menelepon seseorang, "Pick me up at the bus station." ucap Jessy langsung mematikan sambungan teleponnya.
(Jemput aku di stasiun bis).
"Zoeya, apa dia masih jadi sekertaris Henry?" gumam Jessy tiba-tiba mengingat Zoeya.
Tak lama kemudian sebuah mobil anti peluru menjemput Jessy, "Silahkan, Nona." ucap sang supir.
Di perjalanan Jessy kembali menelepon seseorang, "Aku menuju ke sana." ucap Jessy.
"(........)"
"Aku punya rencana agar Henry tidak mencurigaiku atau dirimu." ucap Jessy.
"(.......)"
"Akan ku beritahu setelah aku sampai." Jessy memutus sambungan teleponnya.
Jessy menghela napas panjang, "Setelah kau menikmati tubuhku, sekarang kau coba-coba mengkhianatiku Henry, jangan harap aku akan baik denganmu lagi. Aku akan membalas perbuatanmu Brengs*k." batin Jessy merasa dirinya bod*h karena percaya akan ucapan Henry.
"Aaakhhh ....!!!" Jessy berteriak kesal membuat sang supir terperanjat kaget.
Setelah perjalanan dua jam Jessy sampai di sebuah apartemen.
Ting-tong ... Jessy memencet bell.
Seorang laki-laki membuka pintu lalu tersenyum tipis kepada Jessy.
"Kau kembali, Jessy." ejek Leo.
"Jangan mengejekku atau aku tidak akan membantumu." kesal Jessy langsung menerobos masuk.
Jessy duduk di sofa apartemen Leo, "Kenapa kau tidak menemui Henry?" tanya Leo ikut duduk di dekat Jessy.
__ADS_1
Jessy menghala napas lalu ia menatap Leo, "Aku mengenal Henry sejak dua belas tahun yang lalu jadi tanpa bertemu dengannya, aku tahu semua perkataanmu waktu itu benar adanya." ucap Jessy.
"Apa kau mulai mencintaiku, Jessy?" goda Leo.
Aneh bukan, dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Jika Jessy tahu karakter Henry, tidak mungkin dia akan membalaskan dendamnya sekarang.
"Apa maksudmu, aku tidak pernah punya perasaan apa-apa dengan laki-laki licik sepertimu." sentak Jessy membuang muka ke sembarang tempat.
"Licik?! Kau dan Henry yang licik karena punya niat jahat dengan keluarga Karamel." balas Leo namun tidak di tanggapi oleh Jessy.
..............................
Di rumah sakit Henry menyuruh Fico untuk menjaga Karamel karena ia ada urusan di kantor.
"Manis, Kenapa kau betah sekali tidur di brankar ini selama berminggu-minggu? Apa kau tidak merindukan aku? Ah, lebih tepatnya aku yang merindukan setiap ejekanmu padaku. Bangunlah, Manis. Aku janji akan memberitahumu tentang kesayanganku di Irlandia tapi kau harus bangun sekarang." ucap Fico menyentuh tangan Karamel.
"Jika kau tidak bangun sekarang aku akan sangat marah dan tidak akan menyayangimu lagi." sambung Fico seraya menatap lekat wajah Karamel.
"Apa orang bisa tersenyum ketika sedang koma? Wajahmu tersenyum tipis seperti sedang mengejekku Manis, cih!" ucap Fico tersenyum lebar.
Tok tok tok ....
Fico menoleh ke arah pintu!
"Masuk," titah Fico dalam bahasa Kanada sehingga seorang bodyguard membuka pintu.
"Maaf Tuan, Dokter Gery memanggil anda ke ruangannya sekarang," sahut bodyguard itu.
"Aku akan segara ke sana," ucap Fico.
"Manis, aku pergi sebentar. Cup!" ucap Fico mencium punggung tangan Karamel lalu pergi dari ruang perawatan Karamel.
Setelah Fico keluar dari ruang perawatan Karamel tiba-tiba tangan Karamel terkepal sempurna hingga tak lama kemudian mata indah wanita itu terbuka.
...Flashback on....
...Seminggu setelah insiden penembakan Karamel....
Karamel sudah sadar saat malam di mana ia sempat pingsan, niatnya ingin memanggil Henry yang sedang teleponan dengan seseorang namun niatnya ia urungkan kala Henry mengucap kata 'Daddy'
"Tidak sekarang, Daddy." ucap Henry pelan.
"Daddy?!" batin Karamel.
"Karamel adalah tawananku untuk memancing keluarganya datang padaku jadi Daddy tidak perlu terburu-buru untuk membunuh mereka semua," bentak Henry.
Degg! Seketika jantung Karamel berdegup kencang, apa yang ia dengar dari mulut suaminya tadi? Dia adalah seorang tawanan? Tawanan yang bertujuan untuk membunuh keluarganya?
Atas dasar apa Henry ingin membunuh semua anggota keluarganya β Fikir Karamel.
...Seminggu dua hari setelah insiden penembakan Karamel....
Karamel berpura-pura masih koma di depan semua orang, mungkin terdengar konyol karena harus berpura-pura tapi rasa penasaran dalam diri Karamel membuatnya nekat untuk bertahan terbaring di brankar.
"Aku akan membawa Karamel ke Kanada untuk di rawat dengan baik di sana." ucap Henry yang di dengar jelas oleh Karamel.
"Kenapa tidak di sini saja?" tanya papa Sanjaya sedih melihat putrinya tak kunjung sadar juga dari komanya.
"Para dokter terbaik dari rumah sakit utama Rehoolt Medical Center Canada bisa menjamin kesembuhan Karamel, Pah." ucap Henry.
"Baiklah, lakukan yang terbaik Henry." putus papa Sanjaya kemudian. Cup! Papa Sanjaya mencium punggung tangan putrinya lama.
__ADS_1
"Cepat sembuh, cinta kedua Papa setelah Mama, Papa kangen bawelnya kamu, Papa kangen manjanya kamu, Papa kangen nakalnya kamu, Papa kangen ... Papa kangen, sayang." bisik Sanjaya terdengar ada suara tangis.
Sebenarnya Karamel tidak tega harus membuat Papanya atau bahkan semua orang merasa sedih akan kondisinya yang masih koma padahal ia sudah sadar sejak dua hari yang lalu, tapi Karamel hanya bisa mengucap kata 'Maaf' sebab ia terpaksa berbohong demi mencari tahu jawaban dari pertanyaan yang ada di benaknya.
Setelah beberapa menit lamanya, papa Sanjaya pamit pulang karena hari juga sudah mulai gelap, kemudian Karamel merasakan tangan seseorang menyentuh kepalanya.
"Maafkan aku sayang, aku harus membawamu ke Kanada untuk di rawat di sana, mungkin kau akan marah padaku tapi aku ingin kau bisa secepatnya sembuh, sayang." ucap Henry suara berat
"Buat apa gue sembuh kalo sebenernya gue itu bukan istri sungguhan lo tapi malah jadi tawanan lo, Mas," lirih Karamel dalam hati.
"Apa itu maksudnya lo mau gue nyaksiin kematian keluarga gue? ... Sebenarnya apa alasan lo ngelakuin semua ini, Mas?" batin Karamel bertanya.
...Seminggu lima hari yang lalu setelah sampai di Kanada....
Keltak, keltak! Langkah suara sepatu menghampiri ruang perawatan Karamel.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seseorang yang Karamel rasa tidak mengenal pemilik suara itu.
"Masih belum ada perkembangan apapun." ucap Henry dengan tegas tanpa ada getaran di dalamnya.
"Setelah dia bangun, jangan lupa akan tujuanmu Henry." kata orang itu memperingati Henry untuk mengingat tujuan awal pria itu menikahi Karamel.
"Daddy tenang saja, aku berjanji akan membawa seluruh anggota keluarga Karamel ke markas Daddy." ucap Henry membuat Karamel geram ingin meneriaki suaminya itu.
"Brengsek! Ternyata lo orang jahat, Henry." batin Karamel merasa sedih mendengar semua tutur kata Henry yang ingin membunuh anggota keluarganya.
"Sebentar lagi, pembalasan dendamku akan terbalaskan Sanjaya. Aku, Rega Ananda Del Nixon akan memenggal kepalamu dengan tanganku sendiri," ucap Daddynya Henry membuat Karamel terkejut.
Rega Ananda katanya? Bukankah dulu papa Sanjaya pernah bercerita bahwa Rega Ananda adalah sahabat papa yang tiba-tiba menghilang ketika papa berada di puncak kesuksesan? Lalu kenapa dia muncul dengan niat yang ingin membunuh anggota keluarganya? Kesalahan apa yang pernah papanya lakukan hingga Rega Ananda ingin membunuh seluruh anggota keluarganya? β Fikir Karamel merasa semakin penasaran.
"Henry manggil Rega Ananda pake sebuatan Deddy? ... Jangan-jangan Regan Del Nixon itu Rega Ananda lagi?" batin Karamel merasa tertipu jika benar semua dugaannya benar.
"Antar Daddy ke bawah, Daddy ingin pergi ke Markas Dark Coba sekarang." ucap Rega Ananda membuat Karamel sedikit kaget karena mendengar gangster yang pernah menjadi musuh The Shadow Of The Kingβsang kakak.
...Dua minggu berlalu....
Karamel mendengar semua rencana sang suami yang akan mengundang seluruh anggota keluarganya datang ke Kanada.
Walau Henry mengira Karamel masih koma tapi Henry punya rencana untuk berbohong pada anggota keluarganya bahwa dirinya sudah sadarkan diri dari koma.
Sungguh menyakitkan bagi Karamel mendengar setiap kata yang di keluarkan dari mulut suaminya.
"Ternyata gue nikah sama orang yang gak tepat," lirih Karamel merasa sangat terpukul.
Untuk beberapa saat bayangan sosok lelaki di masa lalu Karamel muncul dalam benaknya, lelaki itu pernah menggores luka dalam hatinya, lelaki itu juga pernah membuatnya kecewa tapi sepanjang dirinya menjalin hubungan dengan lelaki itu. Ketulusan yang ada pada lelaki itu membuatnya mudah sekali memaafkan lelaki itu meski lagi-lagi lelaki itu membuatnya kecewa karena telah berpaling saat hubungan mereka masih terjalin baik-baik saja.
"Aku nikah sama orang jahat, Leo," batin Karamel rasanya ingin menangis dalam diam.
...Flashback off....
"Penipu," ucap Karamel dengan tatapan membunuh, rasa benci itu muncul begitu saja tanpa bisa Karamel cegah.
Mungkin karena Karamel terlampau marah dan kecewa dengan suaminya, ck! Apakah penjahat itu pantas di sebut sebagai suaminya?
.......
.......
.......
::: Bersambung :::
__ADS_1
Author punya novel baru loh, mampir juga ya wak-wak readerku. Hehe, Siapa tahu suka.ππ