
"Aku di jebak oleh rencana Henry, Kara. Aku nggak bisa kembali karena pacar Henry dateng dan jebak aku." ucap Leo lirih.
Degg! Jantung Karamel berdegup kencang katika Leo mengatakan Pacar Henry datang padanya? Pacar? Henry punya Pacar?
"Pa-pacar?" ucap Karamel gelagapan.
"Jessy Mon Andrea adalah pacar Henry yang ngejebak aku di Irlandia," kata Leo.
"Kalo Jessy pacar Henry terus pertunangan dan rencana pernikahan kamu ...."
"Semua itu Jessy yang maksa dan aku ...." Leo tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Tokk! Tokk! Tokk!
"Masuk," titah Leo sehingga Jeffry membuka pintu lalu Jeffry mendekati Leo dan membisikan sesuatu pada Leo.
"Katakan nanti malam aku akan datang dan kau urus semuanya, Avido." ucap Leo membuat Karamel penasaran.
"Nanti malem dia mau dateng ke tempat siapa?" batin Karamel menyipitkan matanya penasaran.
Setelah Jeffry keluar, Leo kembali menatap Karamel yang tampak sedang melamun karena sorot mata Karamel terlihat kosong. Sedang melamunkan apa wanita cantik itu?
"Lagi ngelamunin apa?" tanya Leo menarik dagu Karamel agar berhadapan dengannya membuat tatapan keduanya bertemu. Dekat! Jarak mereka sangat dekat, ketampanan Leo membuat Karamel terpesona. Dekat! Jarak mereka bagaikan magnet yang akan menempel. Glukk! Iman Leo sedang di uji sekarang.
Brakk! Suara benda jatuh dari luar ruangan itu membuat jarak keduanya saling berjauhan, Karamel mengumpat dalam hatinya kala dirinya tadi kehilangan kesadaran sedangkan Leo tersenyum senang karena baru saja Karamel ingin men***m lips pria itu walau sebenarnya Leo akan mencegah itu. Karena ia tidak mau merusak Karamel!
"Em ehem gimana ceritanya tadi?" tanya Karamel cepat agar suasana mereka tidak menjadi canggung.
Leo menjelaskan secara detail kejadian di mana Jessy datang sebagai model prusahaannya dan setelah berselang lama Leo merayaan kesuksesan Jessy yang membuat prusahaan Leo meningkat drastis, tapi entah bagaimana caranya Jessy memberi obat tidur pada minuman Leo hingga Leo tidak sadarkan diri dan Jessy membawa Leo ke sebuah hotel.
Di pagi hari Leo mendapatkan dirinya ada di sebuah ranjang yang sama dengan Jessy, dari sana Jessy terus mengacam Leo dengan foto-foto vulgar mereka saat di ranjang yang sama. Ketika Leo melawan ancaman foto-foto dari Jessy, Jessy malah menggunakan cara lain yaitu menjadikan Karamel sebagai ancaman barunya.
"Aku yakin nggak pernah nyentuh dia jadi aku berusaha sabar buat cari tau kebenarannya," ucap Leo.
"Waktu aku kembali ke Indonesia, aku masih belum dapetin bukti kejahatan Jessy, makanya aku masih ngikutin permainan mereka dengan cara pura-pura ninggalin kamu karena kamu selingkuh. Kamu marah sama aku, dan itu pasti buat mereka senang." lirih Leo.
"Apa kamu tau Leo, kalo kamu ngasih tau aku lebih awal aku nggak akan mungkin nyerahin diri aku ke Henry, aku nggak mungkin pasrah waktu dia minta aku ngejalanin kewajiban aku sebagai istri," ucap Karamel mengepal tangannya sangat kuat.
Leo memejamkan matanya kuat kala Karamel mengungkap pernyataan yang sebelumnya Leo yakini Henry tidak akan melakukannya, karena tujuan Henry adalah menbunuh Karamel serta keluarganya.
"Apa Henry benar-benar udah jatuh cinta sama Karamel," batin Leo menggertakkan giginya sembari mengepal tangannya, pria itu tidak rela Karamelnya di cintai oleh Henry.
"Maafin aku, Kara. Aku udah buat kamu menderita," lirih Leo menundukan kepalanya.
"Kamu buat aku marah karena udah ninggalin aku dan bohongin aku tapi kamu udah ngorbanin semuanya demi keluarga aku. Apa yang harus aku lakuin sekarang? Marah atau berterima kasih?" batin Karamel lirih.
"Aku marah, aku kecewa sama kamu tapi aku berterima kasih karena kamu rela berkorban demi keluarga aku," lirih Karamel pada akhirnya.
__ADS_1
"Bantu aku Leo, aku mau cerai sama Henry." pinta Karamel secara tiba-tiba.
"Bantu aku dapetin tanda tangan Henry, Leo. Gimanapun caranya, aku harus cerai dari dia," pinta Karamel.
"Apa kamu yakin mau cerai ...."
"Aku yakin karena sejak awal aku nikah sama dia itu berdasarkan belas kasihan sama paksaan orang tua aku, walau kasih sayang dia buat aku nyaman sama dia tapi semua itu palsu, aku nggak cinta sama dia." ucap Karamel penuh keyakinan.
.............
...Irlandia _ Apartemen Leo...
Jeffry membawa Kenzi dan Faza ke gedung apartemen milik Leo lalu menyuruh mereka untuk istirahat di kamar apartemen pribadi milik Leo juga, sederhana tapi elegan. Itulah ciri khas Leo!
"Kalian bisa istirahat di sini," ucap Jeffry.
"Di mana Polar Prince?" tanya Kenzi.
"Nanti malam Lord akan menemui kalian di sini," sahut Jeffry seraya dirinya pamit keluar dari apartemen.
"Lo yakin surat itu dari Polar Prince bukan dari penipuan yang mau nyulik kita berdua?" tanya Faza merasa ragu.
"Gue yakin," ucap Kenzi menatap ke arah dinding atas televisi apartemen itu. Faza mengikuti pandangan Kenzi dan terlihat di dinding atas televisi ada gambar serigala yang sama dengan benda yang ada pada genggaman Kenzi.
"Kalo bener pesan itu dari Polar Prince, kenapa dia tau so'al bahaya keluarga kita?" tanya Faza tanpa melepas pandangannya dari gambar itu.
"Kalo dia tau bahaya keluarga kita, sebenarnya apa hubungan Polar Prince sama keluarga kita? Kenapa dia mau ngasih tau bahaya keluarga kita ke lo sama gue?" ucap Kenzi benar-benar di landa penasaran berat.
"Siapa Polar Prince? Apa mungkin Polar Prince deket sama kita?" sahut Faza juga ikut penasaran.
..........
Malam hari, Leo mengajak Karamel untuk ikut dengannya, awalnya Karamel menolak karena Karamel tidak mungkin meninggalkan Daniel sendirian tapi Leo mengatakan Daniel akan bersama Jeffry jadi Karamel tidak perlu khawatir.
Di dalam mobil Karamel terus bertanya pada Leo tapi Leo hanya membalas dengan senyuman saja.
"Kita mau ke mana?" tanya Karamel untuk kesekian kalinya, namun nada suara Karamel berubah datar.
Leo kembali tersenyum menatap kilas wajah Karamel lalu kembali menatap ke arah depan.
"Ck! Senyum lagi," kesal Karamel mengalihkan pandangannya ke depan dan Leo semakin tersenyum mendengar nada suara Karamel yang ketus.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh namun tidak juga ada ujungnya hingga Karamel merasa bosan karena berjam-jam duduk tanpa tahu ke mana tujuan mereka yang sebenarnya.
Karamel ingin menghidupkan musik yang ada di mobil namun dengan cepat Leo menggenggam tangan Karamel dengan mata memelotot.
__ADS_1
"Jangan," pekik Leo membuat Karamel tersentak kaget kemudian Karamel mengernyit bingung.
"Kenapa?" tanya Karamel.
"Bukannya dua hari yang lalu gue nyetel rekaman suara gue yang di rekam sama bajing*n Jeffry ya? Kayaknya gue belum ganti sama musik yang lain deh, kalo Karamel denger 'kan bisa ...."
Karena lengah berfikir, Leo sampai tidak sadar tangan Karamel yang lainnya menghidupkan audio mobil Leo. Klik!
"Karaaaaaaaaaaaaa !!!'
Karamel membulatkan matanya kaget saat di dalam audio itu ada suara Leo yang sedang berteriak memanggil namanya, begitu juga dengan Leo yang di buat terkejut.
"Kara," sentak Leo hendak mematikan audionya namun Karamel menggenggam tangan Leo dengan kedua tangannya.
"Aku cinta sama kamu Karamel Listra, aku bener -bener sayang dan cinta mati sama kamu,"
"Kara ini ...." Leo tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena Karamel membungkam mulut Leo dengan tangan kanannya sedangkan tangan sebelah kirinya mengganggm tangan Leo.
"Aku benci perpisahan kita tapi aku bisa ngerasa tenang sekarang karena kepergian aku, nyawa kamu bakal terselamatkan, sayang."
Ganggaman tangan Karamel semakin kuat hingga. Degg! Detak jantung Leo berdegup dua kali lebih cepat, kemudian Leo membalas genggaman tangan Karamel.
"Aku janji, kalo semuanya udah berakhir aku bakal ketemu sama kamu lagi, aku bakal dengar semua keputusan kamu, Kara. kalau kamu nyuruh aku buat tinggal di sisi kamu, aku bakal tetap sama kamu untuk selamanya tapi kalaupun kamu nyuruh aku buat pergi dari kehidupan kamu, aku bakal pergi ...."
Sebelum kata-kata yang di ucapkan Leo dalam audio itu berakhir, Karamel sudah lebih dulu melepaskan tangannya dari mulut Leo dan mematikan audionya, wanita itu terlihat panik karena Leo ingin pergi darinya saat dirinya menyuruh pria itu pergi.
Leo terdiam lalu Leo menancapkan gasnya untuk mencari jalanan yang tidak di penuhi banyak kendaraan, lalu Leo menepikan mobilnya dan Leo menghadap ke arah Karamel.
"Kara," panggil Leo seraya tangan lainnya mengusap tangan Karamel yang masih berada di dalam genggaman tangan pria itu.
Karamel tidak menyahuti Leo, entah dia tidak mendengar atau tidak berani menatap Leo yang jelas Karamel terdiam seribu bahasa.
Leo mengela napas panjang lalu, klik! Leo menghidupkan audio mobilnya kembali.
"Cari cara lain biar kamu mau sama aku lagi,"
Itulah kelanjutan dari perkatan Leo tadi sehingga Karamel mendongakan kepalanya untuk menatap Leo yang fokus pada audio mobil, kedua sudut bibir Karamel naik ke atas menandakan dia bahagia mendengar perkataan Leo barusan.
"Apa aku enggak pernah cinta sana cowok lain selain kamu, My Lion?" batin karamel mengucap panggilan lamanya pada Leo.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...