Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 25


__ADS_3

Di pelajaran terakhir Leo tidak masuk kelas karena ia sudah mulai mengantuk sampai jam sekolah berakhir pun Leo masih setia tertidur di gazebo taman belakang bie'em. Tringg! Pria itu terbangun dari tidurnya saat suara handphonenya memekakkan telinganya.


"Halo," sapa Leo dengab suara serak ketika ia mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa orng yang menghubunginya.


"Jam sekolah sudah berakhir sejak satu jam yang lalu, kau tidak sedang keluyuran 'kan Sayang?" ucap mama Yarra membuat mata pria itu terbuka lebar.


"Mama," panggil Leo langsung terduduk.


"Pulang sekarang," titah mama Yara.


"O-oke Mam," sahut Leo lalu mana Yarra mematikan sambungan teleponnya.


Leo bangkit dan berjalan menuju motornya yang berada di depan kantin bie'em namun saat sudah di samping kantin bie'em tiba-tiba saja ia mendengar perbincangan dua orang yang sedang duduk di depan kursi kantin bie'em.


"Tania?!" gumam Leo mengerutkan dahinya saat Tania sedang mengeluh kecapean.


"Sial, kenapa Tania bisa sama Faza lagi," ucap Leo mengepal tangannya tidak suka saat Faza memberikan aqua gelas pada Tania.


"Hah?! Tania suka sama Aldy?" ucap Leo membulatkan matanya saat Faza bertanya pada Tania.


"Tania nyimpan foto Aldy? Apa mungkin Tania beneran suka sama Aldy? Nggak nggak, Tania masih pacar gue jadi enggak mungkin dia suka sama cowok lain," ucap Leo seraya tangan pria itu terkepal kuat.


Ketika Tania merampas handphonenya dari tangan Faza dan pergi meninggalkan Faza, dengan cepat Leo berjalan menuju motornya, Faza yang melihat Leo muncul dari samping kantin bie'em tiba-tiba kaget sekaligus heran dengan tingkah lakunya yang seperti sedang terburu-buru.


.........


Di saat Tania pergi meninggalkan kantin bie'em sangat mustahil bagi wanita itu untuk masuk ke dalam mobil karena mobil Tania sangat dekat dengan kantin bie'em dan Faza pasti akan melihat dirinya, jadi lah sekarang Tania menunggu kepergian Faza dengan duduk di sebuah bangku kosong di pinggir jalan dekat sekolah seraya membaca buku.


"Serius banget bacanya, Neng," tegur seseorang dengan suara besar.


"Iya Mang." sahut Tania tanpa melihat si empunya, wanita itu terlalu fokus baca dari pada memperdulikan orang di depannya.


"Mau makan bakso enggak Neng?" tawarnya.


"Enggak Mang, makasih." sahut Tania.


"Ya udah Neng, Kalo udah selesai baca bilang ya Neng, saya di sini setia nunggu Eneng kok" ucapnya pada Tania.


"Saya enggak mau pesen jadi enggak usah ...." ucapan Tania berhenti kala ia mendongakkan kepalanya dan melihat sosok pria yang ia panggil mamang tadi.


"Leo ?!" ucap Tania pelan.

__ADS_1


Terlihat Leo masih duduk di atas motornya sembari menghadap Tania, sekejap Leo tersenyum kala melihat ekspresi wajah Tania yang tampak terkejut karena melihat dirinya.


"Iya ini aku." ucap Leo mengerti kebingungan Tania lewat raut wajahnya namun Tania kembali menenggelamkan wajahnya dengan buku novel membuat tetsenyum tipis dan berjalan mendekati Tania.


"Jadi inget waktu pertama kali kita ketemu." ucap Leo ingin mengingatkan Tania dengan pertemuan pertama mereka saat di kantin bie'em.


"Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Leo tapi tidak direspon oleh Tania.


"Kenapa aku enggak suka sama sifat dingin kamu Tania?" batin Leo ada hal yang begitu aneh ia rasakan saat Tania bersikap acuh tak acuh padanya.


"Aku minta maaf karena udah buat kamu kecewa sekaligus marah." ucap Leo terdengar tulus namun tidak tahu apakah dirinya benar-benar tulus atau hanya akting saja.


"Maaf lo udah enggak ada gunanya lagi," batin Tania membalas ucapan Leo.


"Ini yang kedua kalinya aku ngalamin hal kayak gini." lanjut Leo ambigu.


"Dulu aku sebisa mungkin buat ngalah dan diem aja tapi untuk sekarang aku enggak akan bisa diem dan enggak akan pernah biarin orang lain ngambil semua yang udah jadi milik aku." ucap Leo rasanya seperti memberi teka-teki yang susah untuk Tania pahami maksudnya apa.


"Langitnya udah mau gelap, aku antarin kamu pulang ya." ucap Leo menarik pelan buku Tania ke bawah.


"Nggak usah." tolak Tania datar.


"Jangan bandel." ucap Leo.


"Tania, aku pacar kamu tapi kenapa ...."


"Siapa yang lo maksud pacar?" tanya Tania memotong perkataan Leo.


"Kamu, sayang." ucap Leo lembut.


"Maaf, anda salah orang." sahut Tania membuat Leo ingin marah tapi ia menahan semua emosinya karena tidak ingin membuat Tania semakin membenci dirinya.


"Oke, aku bakal duduk di sini sampai Aldy dateng." ucap Leo membenarkan duduknya.


"Enggak perlu, lo boleh pergi sekarang." ucap Tania.


"Aku enggak akan biarin pacar aku sendirian di sini." ucap Leo.


"Gue bukan pacar lo lagi jadi sekarang lo enggak usah ganggu gue lagi." pinta Tania mulai kesal dengan Leo.


"Karena kamu udah masuk dalam kehidupan aku, enggak akan mudah buat kamu untuk bisa jauh dari aku." ucap Leo

__ADS_1


"Gue bukan budak lo yang bakalan ikutin perintah lo." Tania mencoba berbicara tenang.


"Kamu pacar aku Tania." ucap Leo.


"Di hari gue tahu lo cuma jadiin gue sebagai bahan taruhan demi uang seratus juta, di hari itu juga hubungan kita selesai Leo, kita putus!" ucap Tania pelan namun terasa menyakitkan.


Leo terdiam, sungguh perih bagi Leo untuk mendengar kata-kata itu lagi, rasanya Leo ingin membungkam mulut Tania dengan mulutnya sendiri agar Tania berhenti mengucapkan kata-kata 'putus' lagi.


"Kamu salah paham." ucap Leo pelan.


"Cukup! Gue masuk ke kehidupan lo itu karena tipu daya lo bukan karena gue yang duluan deketin lo," ucap Tania membuat Leo diam.


"Dan sekarang tujuan lo udah tercapai, hati gue udah lo buat rapuh jadi gue minta sama lo berhenti ganggu hidup gue lagi," sengit Tania kemudian ia pergi meninggalkan Leo.


.........


Faza mendengus kala Tania pergi tanpa menjawab pertanyaan tadi namun ekspresi wajah pria itu di buat kaget oleh Leo yang barjalan dari samping kantin bie'em menuju motor besarnya.


"Buru-buru banget tu anak," ucap Faza mengerutkan dahinya menatap kepergian Leo kemudian ia bangun dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kantin bie'em namun saat berada dekat dengan pohon depan kantin bie'em, Faza seperti melihat seseorang tengah duduk di bangku dekat sekolahannya.


"Ngapain tu cewek duduk di sana." gumam Faza melangkah ingin mendekati Tania tapi saat akan berjalan tiba-tiba ia melihat sebuah motor berhenti tepat di depan Tania.


Pemilik motor itu membuka helmnya lalu menatap Tania dengan sedikit tersenyum.


"Leo?!" gumam Faza seraya mendekatkan dirinya dengan pohon dan bersembunyi di baliknya, di pandanginya dua insan yang sedang duduk di bangku jalanan itu.


"Mereka saling kenal?" tanya Faza.


"Bukannya tu cewek suka sama Aldy? Parah tu cewek, semua cowok dia embat," gumam Faza memajamkan pandangannya pada Leo dan Tania.


Faza melihat lirikkan demi lirikkan dari mata Tania yang bersembunyi dari balik buku yang ia baca sedangkan Leo terus berbicara dengan pandangan mengarah ke depan, saat Faza terus memperhatikan dua insan itu dengan sangat serius tiba-tiba ia memelototkan matanya.


"Ngapain gue sembunyi di sini?" tanya Faza memandangi dirinya yang seperti detektif.


"Dan sejak kapan gue kepo sama urusan orang lain?" tanya Faza membenarkan tubuhnya yang membungkuk menjadi berdiri tegak.


"Kurang kerjaan," gumam Faza berjalan pergi dari tempatnya menuju mobilnya yang terparkir di samping jalanan kantin bie'em.


...◻🔅◻...


...◻🔅◻...

__ADS_1


...◻🔅◻...


...❇❇❇ Bersambung ❇❇❇...


__ADS_2