Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 150


__ADS_3

Mansion tertua keluarga Del Nixon yang sudah berdiri sejak berpuluh-puluh tahun, kini Fico memberikan waktu pada Leo dan Karamel untuk tinggal bersama di sana sedangkan untuk Fico sendiri, dia ingin menghabiskan waktu dengan Kenzi dan Faza.


Setelah keempat orang itu pergi, Karamel masih berdiam diri di luar dan tidak menghiraukan Leo hingga Leo merasa kesal, dirinya menegur Karamel yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Kara ...."


"Eh! Kamu duluan masuk aja ya, aku masih mau di sini sebentar." potong Karamel tersenyum lebar.


"Kenapa ...."


"Fico udah ngasih tau kamar yang bakal kita pakai bukan, kamu bisa langsung pergi ke kamar sekarang, secepatnya aku bakal nyusul kamu." potong Karamel lagi, wajah cantik wanita itu masih setia tersenyum lebar.


Leo tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam rumah untuk menuju kamar yang di tunjukkan oleh Fico.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Leo keluar kamar mandi dengan piyama tidur yang sudah di siapkan oleh Fico. Leo melihat Karamel duduk di ranjang dengan sebuah BOX besar di depannya.



"Sini!" ajak Karamel menggerakkan tangannya untuk menyuruh Leo mendekat padanya. Leo berjalan mendekati Karamel lalu Leo duduk di sampingnya.


"Hari ini adalah hari pernikahan kita tapi aku lihat kamu kayaknya lagi memikirkan sesuatu ya? Bilang sama aku hal apa yang mengganggu fikiran kamu sampai raut muka kamu enggak bahagia gini?" tanya Karamel.


Leo salah menduga soal Karamel yang ia kira tidak peka, nyatanya Karamel bisa membaca perubahan raut wajah Leo yang tampak tidak bahagia. Dan ini kesempatan Leo untuk memberitahu bahwa dirinya sedang merasa kesal kepada Karamel dan Fico.


"Semalam aku nghubungin kamu sampai berpuluh-puluh kali tapi kamu enggak ngangkat telepon aku, aku ngirimin pesan supaya kamu mau ngangkat telepon aku tapi kamu nolak dengan alasan ada hal penting yang harus kamu selesaiin." ucap Leo menjelaskan.


"Terus?" tanya Karamel merasa belum puas dengan jawaban suaminya itu.


"Apa hal penting itu dengan Fico? Dan semalam kamu sibuk sama Fico?" tanya Leo menyelidik.


"Apa dia cemburu?" batin Karamel menerka.


"Aku sama Fico cuma bahas hal penting yang pengen aku sampaiin sama Henry di hari pernikahan kita tapi Fico ngasih aku peringatan bahwa usaha aku bakal sia-sia. Kita berdua juga bahas soal Luhan yang di kirim Henry ke Indonesia, Luhan enggak pernah terlibat dalam kejahatan Henry jadi aku minta sama Fico buat ketemu sama Luhan terus kasih tau kebenaran Henry sama Luhan." jelas Karamel pelan.


"Jadi bener Fico orangnya." ucap Leo datar. Karamel melirik Leo yang menatap ke arah depan.


"Obrolan aku sama Fico emang cukup panjang tapi semua pembahasan kita berdua soal kejadian-kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu doang kok." ucap Karamel merasa tidak enak hati.


Leo memang cemburu mendengar semalam Karamel menghabiskan waktu dengan banyak mengobrol dengan Fico tapi setelah Karamel memberi penjelasan, kini Leo tidak lagi cemburu namun Leo masih merasa kesal.


"Beneran?" tanya Leo dengan nada datar.


"Huftt! Bukannya kamu udah paham sama aku yang enggak akan berani buat bohong." sahut Karamel.


"Em! Aku tau kamu enggak akan bisa bohong sama siapapun, walau kamu terpaksa ngelakuin kebohongan tapi tetap aja kebohongan itu enggak akan bertahan lama. Aku juga tau kamu enggak suka di perintah karena kamu mau hidup bebas dalam menjalani kehidupan kamu tapi ...." ucap Leo menggantung perkataannya.


"Sekarang aku adalah suami kamu, Kara!" sambung Leo penuh penekanan.

__ADS_1


Glukk ....


Ketika Karamel tahu Leo adalah polar prince, nyali Karamel seketika menciut, Karamel tahu dirinya tidak lebih dari polar prince yang mendekati kata sempurna namun dirinya tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan kekeras kepalaan dirinya.


"Apa itu artinya aku harus ngikutin semua perintah kamu?" tanya Karamel pelan takut menyinggung hati Leo yang mengira dirinya akan membantah.


"Suami enggak akan lengkap tanpa istrinya, begitu juga dengan istri. Jadi kalo aku merintah kamu dan yang aku perintah itu adalah sebuah kesalahan, kamu sebagai istriku harus menuntun suamimu ke jalan yang benar bukan?" ucap Leo membuat Karamel tersenyum mengangguk. Karamel merasa senang kerena Leo paling bisa membuat Karamel luluh akan setiap kata-katanya.


Leo menatap dalam mata Karamel yang memancarkan kebahagiaan, Leo mendekatkan wajahnya pada wajah Karamel.


"Eh mau ngapain? Kamu jangan macem-macem ya, malam ini 'kan kamu harus jadi bayi singaku," ucap Karamel membuat Leo tersentak kaget.


Karamel tersenyum lalu Karamel mengambil BOX besar yang ada di depannya, "Buka," titah Karamel meletakan BOX besar itu di depan Leo.


Tanpa bertanya lagi Leo langsung membuka BOX besar itu, "What is this, Sayang?" tanya Leo ketika melihat isi BOX besar itu terdapat bola basket.


"Dulu waktu kita masih pacaran aku pernah punya janji buat kasih kamu kado bola basket pilihan aku, dan Ini dia kado ulang tahun buat kamu yang ke sembilan belas tahun kemaren," ucap Karamel membuat Leo speechlees.


Karamel begitu bersemangat lalu Karamel mengeluarkan sebuah buku dari dalam BOX itu.



"History aku tanpa kamu selama satu tahun ada di sini, di buku ini," ucap Karamel lagi.


"Selama satu tahun, aku berharap aku bisa ketemu sama kamu lagi. Aku nggak pernah lupain kamu bahkan udah lewat dari dua tahun aku masih cinta sama kamu walau kamu udah jadi milik Jessy dan aku udah jadi milik Henry." sambung Karamel lagi.


"Kamu, aku takut untuk jatuh cinta sama kamu lagi." sambung Karamel membuat Leo menatap sedih dirinya.


"Kara, aku ...."


"Mungkinkah ketakutan aku itu terjadi sekarang?" potong Karamel menatap lekat wajah Leo.


"Bantu aku, Leo. yakinin aku so'al perasaan aku!" lirih Karamel ambigu.


"Bukannya pernikahan ini di lakuin tanpa paksaan terus kenapa kamu pengen ngeyakinin perasaan kamu lagi, Kara?" tanya Leo serius, hati Leo terasa perih mendengar Karamel masih merasa bimbang dengan perasaannya sendiri.


"Kamu inget nggak waktu aku masih jadi Tania yang cupu, aku pernah putus hubungan sama kamu karena aku udah bener-bener kecewa sama kamu yang jadiin aku bahan taruhan?" tanya Karamel.


"Jadi makaud kamu ...."


"Walau sekarang aku udah jadi istri kamu, kamu tetap masih harus berusaha buat ngilangin rasa kecewa yang ada dalam diri aku kayak kejadian yang lalu!" ucap Karamel membuat Leo terbelalak.


Leo befikir bagaimana itu bisa terjadi sedangkan dirinya sangat ingin menjadikan Karamel sebagai pemilik seorang Cleo seutuhnya. Apa Leo harus menunggu hingga rasa kekecewaan Karamel hilang baru Karamel akan menjadi miliknya seutuhnya.


"Sayang ...."


"Tenang, aku cuma kecewa bukan marah sampe abaiin kewajiban aku," potong Karamel membuat Leo menaikan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Jadi kita bisa dong ...."


"Belum saatnya," potong Karamel beranjak dari tempat duduknya.


"Aku mau mandi dulu, kamu bisa baca diary aku dulu ya." ucap Karamel hendak berjalan ke kamar mandi namun Leo langsung melompat dari ranjang dan mencekal tangan Katamel dari belakang.


"Biarin aku bantu lepasin gaun kamu, hem." bisik Leo membuat bulu kuduk Karamel merinding seketika.


"Ehem, ehem! Enggak perlu, aku bisa sendiri," tolak Karamel tersenyum canggung lalu hendak berjalan pergi namun Leo menarik tangan Karamel hingga punggung Karamel menyentuh dada bidang Leo.


"Resleting gaun kamu ada di belakang Sayang jadi biarin aku bantu kamu ya." bisik Leo lagi, suara Leo begitu lembut di telinga Karamel.


Glukk ....


"Eng-enggak perlu repot ...."


"Aku enggak ngerasa keberatan," potong Leo dengan cepat, dasar pria cabul.


Srrrr–et! Leo mulai membuka resleting gaun Karamel hingga Karamel langsung memutar tubuhnya menghadap Leo.


"Aku mohon, biarin aku pergi ke kamar mandi sekarang," pinta Karamel merasa tidak betah karena di goda oleh Leo secara intim.


"Kamu udah janji buat jadi bayi singa aku untuk malam ini aja jadi apa kamu gak mau nepatin janji kamu dan bakal buat aku marah sama kamu!" ucap Karamel menekankan kalau malam ini Leo tidak boleh macam-macam atu dirinya akan marah dengan suaminya itu.


"Kamu kenapa sih, Sayang. Aku 'kan cuma mau bantu ...."


"Enggak perlu. Aku bisa buka sendiri, oke!" ucap Karamel tersenyum lebar agar Leo mau melepaskannya.


"Oke, Aku bakal ngelepasin kamu," ucap Leo melepas cekalan tangannya.


Karamel merasa lega karena Leo melepas cekalan tangannya, Karamel membalikan badannya untuk pergi ke kamar mandi namun tiba-tiba Leo memeluk Karamel dari belakang.


"Leo ...."


"Tapi cuma malam ini aja ya." bisik Leo tepat di telinga kanan Karamel, lalu Leo meniup telinga Karamel. Aneh! Respon Karamel yang biasanya akan terkejut, kini ia malah memejamkan matanya seperti sedang menikmati keintiman mereka berdua.


Deggg! Karamel membuka matanya lebar kala jari telunjuk Leo bergerak memutari bagian perutnya, Karamel membalikan badannya dan mendorong tubuh Leo lalu setelah itu ia berlari ke kamar mandi, Leo yang di dorong oleh Karamel hanya tersenyum menatap kepergian Karamel.


"She's mine! gumam Leo tersenyum bahagia menatap Karamel. Ya! Lika-liku di masa lalu telah berakhir dan Karamel telah menjadi miliknya sekarang.


.......


.......


.......


...::: Selesai :::...

__ADS_1


...Dah tamat, Karamel sama Leo udah bahagia sekarang....


__ADS_2