Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 41


__ADS_3

Setelah Leo mengantarku sampai depan rumah mini Kenara milikku dan Kak Aldy, dia tidak pergi dan seolah sedang menungguku masuk ke dalam rumah mini Kenara. Baiklah, aku akan masuk ke dalam rumah kecil ini karena memang rumah kecil ini adalah milikku dan Kak Aldy.


Yang benar saja! Setelah aku membuka pintu rumah sederhana ini, mobil Leo langsung pergi dari tepatnya.


"Merepotkan." gumamku kembali mengunci rumah mini Kenara dan setelah itu berlari ke gerbang uatama rumahku.


"Pak Idan, Pak Andok!" pekikku menekan bel gerbang beberapa kali tapi tidak ada yng membukaan gerbang.


"Pak Idan, Pak Andok!" pekikku sekali lagi.


"Eh non Tania," ucap Pak Andok akhirnya membuka gerbangnya.


"Maaf ya Non, bapak tadi dari toilet," ucap pak Andok khawatir akan di marahi olehku.


"Pak Idan mana, Pak?" tanyaku.


"Ngenterin bik Siti keluar, Non." ucap pak Andok.


"Oh! Ya udah Tania masuk dulu ya, Pak." ucapku sembari berjalan masuk.


"Enggak bapak antar aja, Non." tawar Pak Andok.


"Nggak usah, Pak. Tania sekalian mau jalan-jalan juga," tolakku tersenyum lalu aku berjalan dari gerbang utama hingga ke halaman taman rumahku, ku nikmati angin malam yang menerpa wajah ini hingga 25 menit berlalu aku sampai di depan rumah.


Jangan heran kenapa sangat lama aku sampai ke rumah, itu karena dari gerbang utama sampai ke rumah kediaman Sinaja jaraknya sekitar 1,5 KM maka tidak heran aku berjalan kaki selama itu.


"Ngapain dia berdiri di luar? Enggak mungkin nungguin gue 'kan?" desisku melihat kak Aldy sedang berdiri tepat di depan pintu rumah.

__ADS_1


"Dari mana?" tanya kak Aldy saat aku berada tepat di depannya, pria ini melipat kedua tangannya di perut seperti bos yang ingin marah karena anak buahnya membuat kesalahan.


"Dari jalan-jalan sama Firgy," jawabku.


"Bolos sekolah demi jalan-jalan," pekik kak Aldy.


"Iya," hanya kata itu yang bisa aku ucapkan.


"Masuk," titah Kak Aldy dan ku balas anggukan.


Aku langsung masuk ke dalam kamarku dan membersihkan diri di kamar mandi, setelah itu aku turun ke bawah untuk makan malam bersama kak Aldy.


Lima menit sudah kami selesai makan, aku mencoba untuk masuk ke kamar Kak Aldy dengan membawakannya secangkir coklat panas. Tok! Tok! Tok! Aku mengetuk pintu pelan.


"Masuk," sahut Kak Aldy dari dalam hingga aku membuka pintu kamarnya dan berjalan mendekati Kak Aldy yang sedang asik bermain PS.


"Kesambet apa lo buatin gue coklat panas?" tanya kak Aldy seolah-olah mengatai adiknya tidak pernah melakukan kebaikan untuknya, dan sialnya itu benar! Aku memang tidak pernah melakukan kebaikkan pada kakakku ini.


"Pengen aja," ucapku tersenyum kecut.


"Lo enggak lagi mau ngeracunin gue 'kan," ucap Kak Aldy menyelidik, kenapa pria ini selalu ingin mengajakku berperang. Sungguh menyebalkan!


"Enggak, kakakku tercinta." ucapku harus bisa sabar menghadapinya.


"Enggak percaya gue, coba lo minum," titahnya membuatku memelotot tapi tak urung ku minum sedikit coklat panas itu.


"Nih, masih hidup 'kan gue," ketusku.

__ADS_1


"Sehat lo? Tumben-tumbenan baik sama gue," tanya kak Aldy.


"Apaan sih lo! Gue baik sama lo salah, gue enggak baik sama lo salah juga, mau lo tu gue kayak gimana sih? Jahat sama lo?" sentakku tidak tahan lagi menahan kesabaran.


"Biasa aja Kucing," ucapnya dengan malas.


"Udah! Lanjut main aja sana," kesalku berdiri dan berjalan menuju kasur kak Aldy.


"Dih ngambek," ejeknya,


"Kak," panggilku setelah beberapa menit kami berdua saling diam-diaman.


"Hm, kenapa?" sahut Kak Aldy masih fokus pada gamenya seraya sesekali berteriak heboh karena dirinya hampir saja akan kalah.


"Boleh nanya sesuatu enggak?" tanyaku.


"Langsung aja," jawabnya.


"Lo pernah punya ...."


.......


.......


.......


......::: Bersambung :::......

__ADS_1


__ADS_2