Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ., 68


__ADS_3

Leo pergi keluar rumah di malam hari bukan untuk keluyuran ke sana-kemari tapi Leo keluar rumah untuk bertemu dengan salah satu sahabatnya yaitu Aldy.


"Kenapa lo?" tanya Aldy saat Leo masuk ke dalam kamarnya Aldy dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur sahabatnya itu.


"Malam ini gue tidur di sini aja deh, malas di rumah," ucap Leo tiba-tiba membuat Aldy mengerutkan dahinya lalu pria itu mentap lekat raut wajah Leo yang tampak kesal.


"Ada bokap di rumah?" tanya Aldy mengetahui alasan kenapa Leo malas diam di rumahnya sendiri.


Walau sudah hampir dua tahun mereka bermusuhan, Aldy sangat tahu bagaimana kebiasaan Leo dan bagaimana keadaan sahabatnya itu juga, Leo sering cerita dengan Aldy tentang masalah pribadinya. Sebenarnya Leo tidak mudah percaya dengan orang lain tapi entah kenapa ia sangat percaya dengan Aldy bahkan Rio yang notabenenya sahabat masa kecil Leo tidak pernah tahu masalah keluarganya, yang Rio tahu hanya masalah permusuhan, konflik persahabatan, percintaan dan yang menyangkut masalah pribadi luar lainnya.


"Males gue ribut mulu sama bokap," sahut Leo membenarkan ucapan Aldy.


"Dari dulu nggak berubah, kenapa sih lo enggak suka banget ngobrol baik-baik sama bokap sendiri?" tanya Aldy.


"Lo tahu sendiri, gue sama bokap itu nggak pernah searah," sahut Leo bangkit dari tempatnya berbaring.


"Lo sebagai anak harus ngalah lah, Le." ucap Aldy membuat Leo menghela napas kasar.


"Gue enggak tahan bokap gue sangkut pautin gue sama nama baik keluarga, kalo gue lahir bisa milih tempat gue juga nggak mau lahir di keluarga Mahendra," sengit Leo.


"Ck! Inget masih ada nyokap lo," sentak Aldy membuat Leo menghela napas lalu Leo mengusap wajah dengan kasar.


"Bokap lo nggak mau lo itu jadi anak yang pembangkang, bandel atau sejenisnyalah, mungkin dengan cara sangkut pautin nama baik keluarga, lo bisa paham betapa berartinya pandangan orang lain terhadap nama baik keluarga lo," ucap Aldy memberi sedikit nasihat agar Leo mengambil sisi positif dari ucapan papanya.

__ADS_1


"Gue masih waras kali, Al. Masih bisa bedain yang baik sama yang buruk," sahut Leo.


"Serah lo deh!" ucap Aldy meninggalkan Leo bermain game, Leo tersenyum miring sebelum bangkit dari kasur Aldy dan ikut bermain game dengan Aldy.


Suasana hati Leo bisa di bilang lumayan membaik karena habis bermain dengan Aldy, saatnya dia harus pulang karena Aldy mengusirnya.


Leo tahu Aldy berniat baik dengan cara mengusirnya, Leo tidak harus menghindar dari sang papa tapi Leo sudah yakin suasana hatinya tidak akan baik lagi jika sudah berhadapan dengan sang papa.


.........


Seminggu kemudian, akhirnya Tania pulang ke rumah di temani oleh Faza juga, memar di kening Tania masih terlihat jelas bekasnya jadi Aldy bertanya banyak hal tentang bagaimana Tania bisa mendapatkan memar itu.


Tania ingin berbohong tapi ketahuilah kebohongan Tania akan mudah terbongkar karena Aldy sangat ahli dalam mencari informasi apapun.


Perlahan Tania ceritakan pada Faza tentang siapa Dark Cobra dan bagaimana Tania bisa tahu kalau orang-orang yang mencegat mereka adalah kelompok mafia Dark Cobra.


Karena untuk pertama kalinya Faza melawan anggota mafia yang notabenenya suka membunuh, Faza seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.


Ke esokkan harinya Tania dan Aldy berangkat bersama ke sekolah, raut wajah wanita itu tampak masar membuat Aldy mengerutkan dahinya aneh melihat ekspresi wajah adiknya itu.


"Kenapa lo?" tanya Aldy ketika merela sudah berada di parkiran sekolah.


"Enggak," jawab Tania kemudian keluar dari mobil namun tanpa di duga ada dua orang yang berdiri di depan Tania.

__ADS_1


"Pagi Tania." sapa Adit dan Diky secara bersamaan, dan itu berhasil membuat tubuh Tania terperanjat kaget.


"Lo sehat 'kan?" tanya Diky dan Tania hanya membalas dengan anggakan kepala saja.


"Kenapa lo nanya gitu?" tanya Aldy menghampiri mereka bertiga.


"Jidat kenapa jidat," ucap Diky mengetuk jidatnya sendiri namun matanya menatap kening Tania yang lebam.


"Oh ini ...."


"Di cium hantu makanya jadi kayak gitu," ucap Aldy kemudian menarik tangan Tania untuk pergi ke kelas.


"Ngaco lo," desis Adit dan Diky menyusul Tania dan Aldy menuju kelas mereka yang bersebelahan dengan kelas Tania dan Aldy.


.......


.......


.......


.......


...... Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2