Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 147


__ADS_3

Sanjaya memberi tahu pada semua anggota keluarga so'al Leo memberinya pesan bahwa dia harus datang ke kanada karena besok Leo dan Karamel akan menikah.


Mendengar itu sontak semua terkejut dan menjadi heboh, "Mereka mau nikah tapi nggak ngabarin kita berdua?" ucap Kenzi nyolot.


"Wah parah sih Leo, nggak setia kawan banget tu anak sama kita," timpal Faza merasa kecewa namun gayanya kayak orang sok-sokan.


"Cucuku, Karamel. Ayah ingin bertemu cucu Ayah, Sanjaya." ucap ayah Hans.


"Iya, Nak. Daddy juga ingin bertemu cucu Daddy." timpal daddy Berrold.


"Keponakanku, Kar-Karamel mau nikah? Kakak ipar, Santi mau ketemu sama Karamel juga," kata Santi juga.


Sanjaya bingung harus berbuat apa, tapi pesan Leo. Lebih baik Sanjaya sendirian yang datang karena jika semua anggota keluarga datang, Karamel pasti akan merasa sedih mengingat anggota keluarganya tidak utuh lagi.


"Tunggu sebentar," lerai Sanjaya membuat semuanya menatap heran Sanjaya.


"Aku akan pergi sendirian ...."


"Tapi San ...."


"Aku mohon, Yah. Kalo kita semua pergi ke Kanada, Karamel pasti bakal ngerasa sedih karena Grandma sama Mamanya enggak ikut serta dalam pernikahannya. Ini bukan waktu yang tepat untuk ketemu sama Kara." lirih Sanjaya memotong perkataan ayah Hans.


"Biar Faza sama Kenzi ikut, Om." pinta Faza.


"Aku mohon, Pah. kita mau nyaksiin pernikahan adik kita sama sahabat kita, Pah." timpal Kenzi mengatupkan kedua tangannya.


"Biarlah Faza dan Kenzi menemanimu, San." ucap daddy Berrold dan Sanjaya mengangguk setuju.


"Kapan kalian akan pergi, Kak?" tanya Glenn.


"Nanti malam," sahut Sanjaya.


..................


Di mansion Fico, Leo mencoba untuk menghubungi Karamel namun hasilnya selalu di luar jangkauan, kadang juga sibuk.


"Bagaimana?" tanya Fico.


"Masih tidak bisa di hubungi." sahut Leo.


"Kau akan menikah besok jadi biarkan kalian bertemu besok saja." ucap Fico.


"Aku harus tau di mana dia sekarang," sahut Leo kembali menghubungi Karamel hingga nada sambung pun masuk tapi Karamel tidak mengangkatnya.


"Kenapa dia tidak mengangkat teleponku." kesal Leo kembali menelepon Karamel.


"Halo Kara," panggil Leo ketika Karamel mengangkat teleponnya.


"....................."


"Kamu di mana sekarang? Nanti malem Om Sanjaya bakal dateng, apa kamu gak mau ketemu sama papa kamu? Aku khawatir sama kamuKara. Aku nyari kamu sampai ke masion Fico tapi kamu enggak ada juga di sini, sekarang jawab pertanyaan aku, kamu ada di mana?" tanya Leo beruntun.


"....................."


"What? Are you kidding me? I have to wait until tomorrow to meet dan see you?" pekik Leo tidak percaya Karamel akan membuatnya menunggu hingga hari esok.


(Apa? Apakah kamu bercanda? Aku harus menunggu sampai besok untuk bisa bertemu dan melihatmu?)


"....................."


"Tapi Kara, gimana nanti malem ...."


"....................."


"Yang benar aja, apa kamu ngerasa ..."


"....................."


"Apa? Kara ...." Leo tidak bisa dapat menyelesaikan perkataannya karena Karamel sudah menutup panggilannya secara sepihak.

__ADS_1


"Ada apa? Apa manis mematikan sambungan teleponnya?" tanya Fico, dan dengan kesal Leo mengangguk.


...................


...Apartemen Berrold (Kanada)....


Sembari menunggu Jessy datang, Karamel merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


Karamel sudah memberitahu Leo bahwa nanti malam Karamel tidak akan menyiksa Henry alasannya Karamel tidak mau Henry pingsan dan malah tidak menyaksikan pernikahan mereka berdua nantinya.


"Karamel bakal nyoba buat mulai lagi kebahagiaan Kara, Mah" gumam Karamel mengingat pesan terakhir sang mama yang ingin puterinya–Karamel bahagia.


Tak lama Karamel menunggu, bel apartemen pun berbunyi dan Karamel membuka pintunya. Terlihat Jessy berdiri dengan membawa paper bag di tangannya.


"Masuk," ajak Katamel dan mereka berdua masuk.


"Sejak pagi kau tidak makan Kara, jadi aku membawakan makanan lezat untukmu," ucap Jessy meletakan paper bag di atas meja.


"Kita makan bersama." sahut Karamel mengeluarkan makanan yang di bawa Jessy lalu mereka berdua makan bersama, dan setelah selesai makan, Karamel mengajak Jessy ke ruang tengah.


"Jessy, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting dan juga serius." ucap Karamel.


"Apa?" tanya Jessy tersenyum bingung.


"Masalah Henry." ucap Karamel membuat raut wajah Jessy berubah seketika.


"Ada apa dengan Henry?" tanya Jessy pelan.


"Fico ingin mengirim Rega Ananda dan Henry ke penjara Afrika," ucap Karamel.


Degg! Jantung Jessy seakan-akan di timpa olrh beban berat, kaget dan di buat sakit juga.


"Bu-bukankah itu memang harus di lakukan ...."


"Bagaimana dengan dirimu, Jessy? Apa kau tidak keberatan? Aku tau kau sangat mencintai Henry jadi akan sangat sulit bagimu untuk berjauhan dari Henry." ucap Karamel membuat Jessy tersenyum kecut.


"Aku bisa apa Kara? Akan lebih baik aku terpisah jarak dari Henry sehingga aku masih bisa bertemu dan bertatap muka dengannya, dari pada aku harus melihat Henry tiada dari dunia ini, itu akan lebih menyakitkan bagiku, Kara." sahut Jessy mencoba tatap tegar.


Karamel mengangguk pelan, "Oh iya aku juga ingin mengatakan besok adalah hari pernikahanku dengan Leo," ucap Karamel.


"Pernikahan? Besok? Kau dan Leo?" pekik Jessy dan Karamel membalas dengan anggakan kepala.


"Ternyata benar dugaanku, kau masih sangat mencintai Leo. Buktinya baru satu minggu yang lalu kau bercerai dari Henry, sekarang kau malah mau menikah dengan mantan pacarmu itu." kata Jessy.


"Apakah kalian tidak bisa menahannya hingga besok kalian mau langsung menikah! Hem?" goda Jessy.


Karamel menelan salivanya, ia menahan diri agar tidak merasa malu di depan Jessy namun gagal wajah Karamel tiba-tiba memanas dan bersemu merah hingga Jessy tertawa melihatnya.


"Pftt bhahaaa, wajahmu ... kenapa wajahmu memerah seperti itu Kara? Di sini ACnya menyala bukan?" goda Jessy sembari tertawa membuat wajah Karamel tampak masam.


"Berhentilah membuatku malu, Jessy." lirih Karamel memegangi kedua pipinya.


"Oke oke, aku berhenti sekarang." ucap Jessy dengan susah payah menghentikan tawanya.


"Huftt, oke Kara. Jika kau ingin menikah besok, lalu kenapa kau ada di sini sekarang?" tanya Jessy.


"Aku mengatakan pada Leo, besok adalah hari pernikahan kami jadi dia harus menunggu hingga hari esok untuk bisa bertemu denganku." ucap Karamel membuat Jessy tampak bingung.


"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Jessy.


"Tidak ada motif apapun, hanya saja ... agar dia merasakan rindu mungkin." ucap Karamel membuat Jessy tersenyum tipis.


"Caramu sungguh hebat, Kara." puji Jessy.


"Kau mau membantu diriku 'kan, Jessy." kata Karamel.


"Tentu, aku pasti akan membantu adikku ini." goda Jessy menyentuh dagu Karamel.


"Jadi, kita pergi berbelanja sekarang?" ucap Jessy membuat Karamel mengernyit.

__ADS_1


"Untuk mempersiapkan penampilan yang perfect, tentu kita harus berbelanja Kara." sambung Jessy.


"Kenapa harus ...."


"Aku mau kau bertemu dengan orang-orang terhebat yang akan membuatmu tampak sempurna besok." potong Jessy langsung menarik tangan Karamel sehingga Karamel pasrah dan mengikuti perkataan Jessy.


.....................


Ke esokan harinya tepat di jam sembilan kurang lima belas menit semua tamu undangan penting telah datang, namun mempelai wanita belum juga datang sampai Leo menghubungi Karamel dan Jessy tapi tidak juga terhubung.


"Di mana mereka sekarang? Kenapa bisa lama sekali." kesal Leo pada Jeffry tapi telingga Kenzi dan Faza menangkap kata-kata sahabat mereka itu.


Kenzi dan Faza saling beradu pandang lalu mereka berdua sama-sama menggeleng kepala.


"Kebelet banget lo mau nikah sama adek gue." goda Kenzi membuat Leo menatap ke arah dua sahabatnya itu.


"Namanya juga cinta, udah enggak tahan itu pengen cem-ceman." timpal Faza membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


"Sialan lo berdua." dengus Leo.


"Ya elah, Leo. Lo nggak sabaran banget sih, nggak tau apa yak kalo cewek itu butuh tampilan sempurna buat bisa menarik perhatian pasangannya." ucap Kenzi membuat Leo mendekati mereka berdua.


"Tau apa lo so'al cewek?" tanya Leo pada Kenzi.


"Ya tau lah gue, apalagi Kara itu adek gue be*o." sahut Kenzi.


"Tenang aja ...." Faza tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena ketika ia menyentuh tangan Leo terasa sangat dingin di kulit Faza.


"Lo kedinginan apa gerogi, Bro. Sampai kaku gini tangan lo." ejek Faza membuat Leo menarik tangannya.


Mendengar itu Kenzi tertawa, "Bahaha, jadi seorang Cleo Rendra Agata yang hebat itu bisa ngerasin gerogi juga." goda Kenzi


"Biasa, pengantin baru jadi agak gugup dia." timpal Faza dan keduanya kembali tertawa.


Leo mendengus melihat kedua sahabatnya terus-terusan mengejek dan menggoda dirinya.


"Gue pastiin lo berdua bakal ngerasain hal yang sama kayak di posisi gue yang sekarang, di saat hari itu tiba gue bakal buat kalian berdua lebih-lebih ngerasin gerogi sampai gempa bumi sekalian." ancam Leo jengkel namun Kenzi dan Faza tidak perduli dengan ancaman Leo dan malah semakin menertawai Leo.


Tak dari itu sebuah mobil BMW X5 berhenti tepat di depan rumah Fico dengan beberapa mobil BMW lainnya juga berhenti di belakang mobil itu.


Semuanya menatap ke arah luar termasuk Leo, Kenzi dan Faza.


Seorang wanita turun dari mobil, "Jessy?" panggil Leo dan Kenzi bersamaan.


Jessy berjalan menuju pintu belakang lalu Jessy membuka pintu mobil itu.


"Berbahagialah atas pernikahanmu, Lady queen." bisik Jessy mengulurkan tangannya, Karamel tersenyum menyambut tangan Jessy lalu Karamel keluar dari mobil milik Jessy.


Semua tampak terpesona menatap penampilan Karamel yang memakai gaun bertahta diamond berwarna coklat yang elegan.


Jessy dan Karamel berjalan masuk ke dalam rumah hingga tepat di depan Leo, Jessy menyerahkan tangan Karamel pada Leo sehingga Leo menggapai tangan Karamel.


"You look so beautiful, My Angel." ucap Leo membuat Karamel tersenyum lebar.


Leo dan Karamel berjalan menuju Sanjaya yang sejak tadi sudah duduk menunggu kedatangan sang anak perempuan satu-satunya itu.


Ketika Karamel dan Leo duduk, mata Karamel tampak memerah ingin menangis menatap sang papa yang juga menatap dirinya.


Karamel menghela napas lalu Karamel menundukkan kepalanya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke atas lantai dua rumah itu.


Di lantai dua rumah itu ada seorang laki-laki berdiri tersenyum ke arah Karamel dengan sang kakak yang duduk di atas kursi roda dengan borgolan di tangan dan kakinya lalu di bungkam mulutnya, menatap adegan Leo dan Karamel yang akan segera menikah.


laki-laki yang duduk di kursi roda itu memberontak ingin melepaskan diri.


"Tidak Kara, aku mohon jangan lakukan ini." batin laki-laki itu menangis membalas tatapan Karamel.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2