
Jangan katakan ini adalah orang yang di tunggu-tunggu kemunculannya oleh Tania selama bertahun-tahun lamanya?
"Jika bener ini adalah kau, maka siap-siap aku akan memukul wajahmu," gumam Tania menahan amarahnya.
"Siapa yang mau kamu pukul?" sahut seseorang bertanya dengan Tania membuat Tania menelan salivanya pelan.
"Bukan siapa-siapa," jawab Tania tanpa menoleh ke arah belakang.
"Udah selesai main basketnya? Udah puas tebar pesonanya?" tanya Tania membuat Leo tersenyum tipis kemudian ia berjalan mendekati Tania.
"Cemburu ya," goda Leo.
"Enggak," jawab Tania hingga Leo langsung duduk di samping Tnia kemudian mengacak-acak rambut Tania gemas.
"Bohong mulu," ucap Leo sehingga Tania menepis tangan Leo karena jika tangan Leo di biarkan mengacak-acak rambut Tania, bisa-bisa Tania terbuai olehnya.
"Siapa laki-laki yang di cintai Sasya?" tanya Tania menatap Leo tapi raut wajah Leo berubah menjadi datar, mata pria itu melekat pada netra Tania.
"Aldy !!" ucap Leo membuat pupil mata Tania lemah hingga Tania langsung memutus kontak matanya dari Leo dengan menatap ke bawah.
"Siapa?" tanya Tania lagi.
"Aldy Putra Sinaja," ucap Leo.
"Kamu punya bukti?" tanya Tania.
"Aku punya satu rekaman suara Sasya yang nyatain perasaan cinta dia buat Aldy," ucap Leo.
"Boleh aku denger?" pinta Tania kini ia menatap mata Leo yang memang sejak tadi Leo masih menatap wajah Tania.
"Aku nggak bawa rekamannya, gimana kalo besok aja kita ketemuan di cafe Gourmet jam sebelas siang," ajak Leo.
"Hah! Gimana ngatur waktunya? Faza sama Leo minta ketemuan di tempat yang sama dan di jam hampir sama juga," batin Tania.
"Tapi besok aku ada acara sama temen aku," ucap Tania beralibi.
"Oh iya tiga cewek troublemaker itu, sahabat deket kamu ya?" tanya Leo membuat Tania tersenyum kaku.
Selama Firgy, Niky dan Mika sekolah di ECHS, mereka bertiga jadi wanita idaman para laki-laki dan dari sana juga mereka bertiga di kenal sebagai troublemaker girl karena mereka selalu melanggar peraturan sekolah, mulai dari atribut tidak lengkap, bolos jam pelajaran, kasus baku hantam dan bahkan sampai kejahilan pada guru pun sering mereka lakukan.
"Ya begitu lah," sahut Tania.
"Besok aku ngajak Rio sama Diky buat gabung sama kalian, boleh 'kan?" ucap Leo.
"Boleh gabung tapi kamu sendirian aja ya, nggak usah ajak dua sahabat kamu itu." ucap Tania
"Kenapa nggak boleh?" tanya Leo.
"Bukan nggak boleh tapi aku mau ketemu temen aku bukan ketiga sahabat cewek aku yang nakal itu," ucap Tania.
"Gitu ya, ya udah deh," sahut Leo setuju.
.............
...Jalan menuju perpustakaan....
__ADS_1
"Jahat banget sih Buk Lora nyuruh-nyuruh gue bawa buku sebanyak ini," dumel Adit jengkel karena dirinya disuruh membawa buku-buku dari mobil sang guru penjaga perpustakaan yaitu buk Lora menuju ke perpustakaan, dan karena buku-buku yang Adit bawa melebihi kepalanya maka ia menegur semua orang untuk tidak menghalangi jalannya.
"Harap yang di depan gue minggir, gue nggak bisa lihat kalian, kalian ngertiin perasaan gue, please minggir." pekik Adit asal-asalan.
Adit terus berjalan menuju perpustakaan hingga ia hampir sampai di pintu perpustakaan tiba-tiba seseorang berlari menabrak Adit sampai semua buku-buku yang Adit bawa berhamburan ke mana-mana.
Bruggg ....
"Aihhh ..." ringis orang itu memegangi bokongnya karena jatuh ke lantai.
"Aihhh! ... Ya Tuhan, ma*i gue." Adit meringis sebelum ia berteriak histeris karena buku-buku perpustakaan yang ia bawa berhamburan kemana-mana, padahal keadaan mata kaki pria itu berdarah karena terbentur oleh kramik bolong.
"Woy! Manusia, kalo jalan pake mata dong," pekik Adit membereskan buku-buku yang tergeletak.
"Sorry, nggak sengaja bro," sahut orang itu membuat Adit menghentikan pergerakannya lalu ia menengok ke arah orang yang menabraknya.
"Diky," panggil Adit sehingga orang yang di panggil Diky menengok ke arah Adit.
"Aditya," tunjuknya pada Adit.
"Wah ! Kebiasaan lo ya kalo jalan nggak pernah pake mata," umpat Adit menjitak kepala Diky.
"Sakit nyet, elo tu yang kebiasaan kalo jalan nggak pake kaki," balas Diky.
"Tanggung jawab lo," pekik Adit.
"Gue nggak ngehamilin anak orang, ngapain gue di suruh tanggung jawab," histeris Diky.
"Yang bilang lo ngehamilin anak orang siapa, Tuyul. Gue bilang tanggung jawab karena lo udah nabrak gue, semprul." kesal Adit.
"Tanggung jawab nggak?" bentak Adit.
"Nggak," balas Diky tak kalah keras suaranya.
"Tanggung jawab nggak?" kesal Adit.
"Nggak," balas Diky lagi.
"Tanggung jawab, iya?" ucap Adit lebih keras.
"Iya," sahut Diky tanpa sadar mengikuti kalimat akhir Adit membuat Adit terkekeh kecil.
"Ya udah bantuin, oke." ucap Adit.
"Oke," sahut Diky sehingga Adit benar-benar berusha keras untuk tidak tertawa keras namun mulut Adit mengucapkan kata 'Be*o' tanpa mengeluarkan suara.
Alhasil Diky membantu Adit untuk membereskan buku-buku perpustakaan hingga saat hampir selesai, Diky melempar buku tebal ke kepala Adit.
"Woy sakit, Tuyul!" pekik Adit mengelus kepalanya.
"Ngapain gue tolongin lo, curut," pekik Diky baru sadar bahwa dirinya sedang di kerjai oleh Adit.
"Lo harus tanggung jawab lah, Dik." ucap Adit.
"Gue bilang gue nggak ha...."
__ADS_1
"Gue bilang tanggung jawab karena abis nabrak gue bukan karena ngehamilin anak orang, tol*l" kesal Adit memotong perkataan Diky.
"Enggak ...."
"Woy, baikan nih ceritanya," pekik Dito menghampiri Diky dan Adit.
"Cie baikkan," goda Dito menunjuk keduanya secara bergantian sehingga Diky dan Adit mengernyit lalu mereka berdua saling pandang. Satu detik, dua detik, tiga detik.
"Amit-amit," serentak mereka berucap demikian.
"Najis," ucap Diky dan Adit bersamaan lagi sembari membuang muka ke arah berlawanan kemudian Diky dan Adit kembali melempar pandangan.
"Apa lo liat-liat, gue colok juga tu mata," lagi-lagi perkataan mereka sama lagi.
"Bosen gue," dan untuk kesekian kalinya mereka berdua mengucapkan kata yang sama hingga Dito tertawa terbahak-bahak di buatnya.
"Diem lo, nggak ada lucu tahu enggak," lagi dan lagi Diky dan Adit mengucapkan kata yang sama.
"Bhahahha! Si kembar." ejek Dito.
Bukkk ! Diky dan Adit memukul kepala Dito secara bersamaan hingga Dito menghentikan tawanya dan meringis kesakitan.
"Sakit dodol," umpat Dito memegangi kepalanya, Diky dan Adit mengangkat buku-buku yang tergeletak di lantai.
"Mamp*s," ucap keduanya pergi meninggalkan Dito sendirian seraya membawa buku-buku yang berserakan tadi.
"Hah! Jadi kangen sama kita dulu," gumam Dito masih mengusap kepalanya yang sedikit sakit.
...............
"Jadi besok aku jemput jam berapa?" tanya Leo.
"Nggak usah di jemput, aku pergi sendirian aja," ucap Tania menolak.
"Kali ini aja jangan bandel, please." pinta Leo mengatupkan kedua tangannya di dada, oh s*it! Menggemaskan sekali wajah Leo saat ini, Tania sampai menggigit bibir dalamnya kala melihat raut wajah menggemaskan Leo.
"Tetep mau pergi sendirian aja," tolak Tania.
"Tania ...."
"Please jangan maksa ya," pinta Tania.
"Huft, ya udah kabarin aku kalo kamu mau berangkat atau udah ada di cafe," ucap Leo pada akhirnya.
"Oke," sahut Tania.
.......
.......
.......
.......
...📚📚📚 Bersambung 📚📚📚...
__ADS_1