
...Indonesia...
Dua minggu kemudian, luka di bagian pinggang Karamel sudah sembuh total tapi Leo masih saja tatap possessive dengan Karamel, berjalan ke manapun harus ada yang menemaninya jika tidak, Leo mengancam akan memecat semua pelayan yang ada di rumahnya.
Karamel tentu tidak tega kala puluhan pelayan yang ada di kediaman mereka menjadi sasaran suaminya, maka dari itu Karamel hanya bisa menuruti semua perintah Leo.
Hari ini Leo di sibukkan dengan segala urusan kantor dan Karamel berinisiatif untuk membuat menu makan malam untuk sang suami tercintanya namun belum sempat Karamel sampai dapur, Leo sudah lebih dulu memeluk tubuh Karamel dari belakang.
"Kenapa berjalan sendirian, Hem?" bisik Leo bertanya tepat di dekat daun telinga Karamel.
"Kamu kenapa pulang ke rumah?" tanya Karamel membuat Leo heran dan langsung memutar tubuh Karamel.
"Pertanyaan macam apa itu?" sentak Leo membuat Karamel terkekeh gemas.
"Maksud aku, kenapa pulang cepat," ralat Karamel.
"Kamu enggak suka aku pulang cepat?" tanya Leo malah salah paham dia.
"Udah seminggu lebih kamu pulang malam mulu loh, enggak salah dong aku tanya hari ini kenapa kamu pulang cepat," ucap Karamel dan Leo mencium kening Karamel.
"Lagian masih jam tiga sore, emang kerjaan kantor udah selesai?" tanya Karamel dan Leo malah mencium pipi Karamel.
"Di tanya kok enggak di jawab sih," kesal Karamel mendapatkan ciuman di lips-nya hingga refleks Karamel memejamkan matanya.
Leo tersenyum kemudian Leo melepas ciumannya, "Kamu lupa ya, malem ini aku mau ngajak kamu makan di luar," ucap Leo membuat Karamel tersentak mengingat ajakan Leo yang ia lupakan.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa," ceplos Karamel membuat Leo memasang tampang malas.
"Tapi sekarang masih sore, kamu 'kan bisa pulang jam empat atau setengah lima sore, sayang." ucap Karamel.
"Kemarin 'kan dokter bilang perban kamu di buka sore ini jadi aku pulang cepat buat bantu kamu buka perban, Kara." ucap Leo dan Karamel mengerutkan dahinya.
"Cuma perban kecil, aku bisa buka sendiri tanpa ...."
"Cukup berbaring di kasur, aku yang bakal buka perban kamu, oke." potong Leo.
"Ya udah! Kita ke kamar sekarang," ajak Leo dan Karamel hendak membalikan badannya untuk berjalan menuju tangga.
Namun apalah daya punya suami yang possessive, Karamel langsung di gendong ala bridal style oleh Leo.
"Akkk ...." refleks Karamel berteriak kaget.
"Kenceng banget sih teriaknya," kesal Leo kala teriakkan Karamel sangat memekakkan telinganya.
"Orang kamu yang salah gendong aku sembarangan," pekik Karamel sambil memeluk dada bidang Leo sehingga Leo tersenyum miring.
"Uuu! Mulai nakal ya, ngelus-ngelus bagian tubuh aku" goda Leo membuat Karamel membelalakan matanya.
__ADS_1
"Aku mukul kamu ya bukan ngelus kamu," pekik Karamel sangat kesal.
"Modus dong, udah pengen ya?" tanya Leo menggoda membuat Karamel menganga kala Leo tidak ada bosan-bosannya menggoda Karamel.
"Lepasin enggak," pekik Karamel semakin kesal.
"Jangan dong sayang, kita masih di ruang tengah, kamu enggak malu apa kita buka-bukaan di sini," ucap Leo membuat Karamel kembali menganga.
"What the fu*k are you talking about, a*shole" desis Karamel membuat Leo terkekeh.
"Dasar mulutnya, minta di cium kamu ya," ucap Leo mencuri ciuman di lips Karamel kemudian Leo membawa Karamel menuju kamar mereka di lantai dua.
Karamel membenamkan wajahnya di dada bidang Leo, diam-diam Karamel tersenyum akan tingkah suaminya yang selalu berhasil membuat perasaan karamel bercampur aduk menjadi kesal sekaligus senang.
Sesampainya di kamar Leo tidak menurunkan Karamel di ranjang, "Nyaman ya?" tanya Leo terdengar menggoda dan dengan spontan Karamel mengangkat kepalanya.
"Keras," ketus Karamel membuat Leo terkekeh.
Leo membaringkan tubuh Karamel di atas kasur, "Lepas bajunya," titah Leo dan Karamel langsung membuka kancing bajunya.
Leo menatap tangan Karamel yang melepas satu per satu kancing bajunya hingga Karamel melepas pakaiannya, raut wajah Leo tampak berubah karena Karamel memakai tank top berwarna coklat.
"Kenapa, kecewa ya?" tanya Karamel menahan tawa kala melihat raut wajah Leo yang tampak tidak senang akan pakaian yang di kenakan Karamel.
"Buka tank top-nya," titah Leo dan Karamel membuka tank top-nya, Leo sempat tersenyum namun senyumannya langsung pudar karena Karamel hanya mengangkat tank top-nya hingga menutupi bagian atas Karamel.
Karamel membaringkan tubuhnya, "Ayo buka perbannya," ucap Karamel sehingga Leo mendengus sebal.
Cup! Karamel langsung membelalakkan matanya ketika bibir Leo bersentuhan dengan bekas luka tembak Karamel.
Leo mendongakkan kepalanya, "Enggak sakit 'kan?" tanya Leo tersenyum tipis dan Karamel menganggukkan kepalanya.
Keduanya saling menatap panuh cinta hingga perlahan Leo mendekatkan wajahnya pada wajah Karamel, Leo tersenyum begitu juga Karamel namun tiba-tiba Karamel tersentak kala tangan nakal Leo menyentuh perut Karamel sensual.
"I miss you," bisik Leo membuat detak jantung Karamel berdegup sangat kencang.
"Rencana mala ... huftt malam ini mau di batalin?" tanya Karamel dengan nada suara yang tercekat, merasakan sentuhan tangan Leo yang tidak mau berhenti Karamel berusaha keras menahan diri agar tidak mo*n.
"Kenapa di tahan! Hem?" tanya Leo sengaja memelankan suaranya agar terdengar se*y di telinga Karamel.
"Stop," ucap Karamel menahan tangan Leo yang sibuk maraba perut Karamel.
"Why? Luka kamu udah sembuh sayang ...."
"Tapi enggak hari ini juga, Leo," potong Karamel sangat paham dengan arah pembicaraan Leo yang tentunya sudah satu bulan lebih menahan diri tidak merasakan surga dunia bersama sang istri.
"Apa yang enggak hari ini?" tanya Leo menyipitkan matanya pura-pura tidak paham.
__ADS_1
"Ck! Pura-pura beg* 'kan," kesal Karamel namun Leo menampilkan raut wajah bingung.
"Ih! Ngeselin, I know you wanna making love to me but sorry i can't." cerocos Karamel blak-blakkan, Leo pun tersenyum dan menggenggam tangan Karamel.
"Dih, pikirannya mesum." ejek Leo membuat Karamel memelototi Leo.
"Oh emang seharusnya istri itu waspada sama suami sendiri apalagi so'al ...." Karamel terhenti kala kata-kata selanjutnya tidak memungkinkan untuk ia ucapkan.
"Kenapa berhenti? Ayo lanjutin," bisik Leo.
"Enggak jadi," ketus Karamel.
"Kamu minggir enggak, aku aku mau ke kamar mandi," titah Karamel dengan raut wajah yang memerah.
Bukannya bangun Leo malah semakin menempelkan tubuhnya, "Leo," tegur Karamel.
"Apa cintaku?" sahut Leo.
"Bisa enggak, sehari aja kamu jangan godain aku," pekik Karamel kesal.
"Ih galak," dersis Leo.
Karamel merasa malu saat Leo terus-terusan menggoda Karamel, tidak tahu kah Leo detak jantung Karamel hampir tidak pernah stabil saat Leo menyentuh dirinya dengan sensual.
Leo tersenyum kala istrinya masih merasa malu dengan dirinya, perlahan Leo bangun namun baru bergerak sedikit, refleks Karamel mendorong tubuh Leo hingga Leo jatuh ke lantai.
"Aggh, " ringis Leo membuat Karamel membulatkan matanya kaget namun sedetik kemudian ia terkekeh.
"Kara kamu tega ya mmdorong suami kamu sendiri sampai jatuh ke lantai," ucap Leo masih meringis.
"Itu mah karma karena kamu sering godain istri kamu sendiri," ucap Karamel tidak mau di salahkan.
"Enggak ada ceritanya dapat karma karena godain istri sendiri ...."
"Ada," sela Karamel.
"Siapa?" tanya Leo
"Kamu lah," tunjuk Karamel membuat Leo menatap malas ke arah Karamel.
"Peace !!!" tanda damai Karamel dengan mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya serta Karamel juga memamerkan gigi putihnya kemudian Karamel berlari kecil menuju kamar mandi.
"Dasar istri nakal," dersis Leo tersenyum melihat tingkah sang istri.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...