Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 39


__ADS_3

Aku merasa pipiku sedang di tepuk pelan oleh seseorang, ku buka mata dengan perlahan dan ku dengar juga suara seseorang yang terus memanggil namaku.


"Tania bangun, Tan, Kita udah sampe, sweetheart." itulah kata yang aku dengar samar sehingga ku kedipkan sekali mataku dan ku membuka mataku. Degg! Tepat di depan mataku Leo sedang tersenyum seraya tangan pria itu masih hinggap di pipiku.


"Leo," gumamku.


"Ayo turun, kita udah sampai," ucap Leo menarik tangannya dari pipiku.


"Sampai? ke mana?" tanyaku bingung.


"Makanya turun dulu," ucapnya kemudian aku dan Leo turun dari mobil, pantai? Tapi aku menggerakkan kepalaku ke arah kanan dan kiri, sunyi! Tidak ada satu orang pun yang bermain di pantai ini.


Leo menarik tanganku menuju pasir putih lalu ia duduk di bawah pohon kelapa, "Duduk sini," titah Leo menepuk pasir di sampingnya.


"Kenapa lo bawa gue ke sini?" tanyaku ketika aku sudah duduk di samping pria itu.


"Kamu suka tempat ini?" tanyanya.


"Tempatnya bersih, bagus juga tapi kenapa nggak ada orang lain di sini?" tanyaku menatao Leo sekilas lalu aku mengarakan kepalaku untuk menyusuri pantai indah itu.


"Karena cuma ada kita berdua di sini," jawabnya membuatku kesal.


Aku terdiam, tidak mau lagi berbicara dengannya, biarkan dia yang berbicara aku sudah mulai jengah berbicara duluan dengan Singa liar di sampingku ini.


"Aku mau mulai cerita tapi aku mau kamu janji dulu sama aku," ucapnya padaku.


"Apa?" tanyaku datar.


"Jangan pernah ngucapin kata putus atau kata perpisahan yang bakal buat aku kehilangan kamu," ucap Leo membuatku terdiam sejenak, itu artinya aku akan terus terikat dengannya? Dan mungkin saja akan terus menjadi mainannya! Tidak, aku tidak mau.


"Gue enggak bisa, karena kita ...."

__ADS_1


"Jangan pernah bilang kita ngggak ada hubungan apa-apa lagi," potong Leo membuat aku bungkam dan tidak ingin bicara lagi.


"Janji sama aku, Tania," pinta Leo.


"Hancurnya kepercayaan dan di tambah dengan kekecewaan, enggak mudah buat di kembaliin lagi," ucapku menatap lurus ke depan.


"Aku minta maaf sama semua yang udah aku lakuin sebelumnya, maaf udah buat kamu kecewa padahal kamu udah bener-bener percaya sama aku, maaf udah buat hati kamu yang utuh jadi rapuh, maaf karena aku udah terjebak sama permainan aku sendiri," ucap Leo lirih membuat hatiku teriris perih mendengarnya.


"Jujur selama kamu jauh dari aku, selama kamu ngehindarin aku bahkan aku berusaha menuhin permintaan kamu yang nyuruh aku buat jangan ganggu hidup kamu lagi, aku sadar aku kehilangan kamu, aku sadar aku udah bener-bener cinta sama kamu, Tania." ucap Leo lagi.


Degg! Detak jantung ini masih sama seperti sebelumnya, dengan dahsyatnya masih merespon dan masih untuk dirinya, aku tidak ingin munafik mengatakan tidak mencintai Leo lagi, aku masih sangat mencintai pria ini tapi aku tidak bisa kembali padanya.


"Maaf tapi gue enggak bisa balik lagi kayak dulu," ucap Tania menutup rapat untuk kembali pada Leo yang telah mengecewakannya.


"Aku tahu kamu bakal ngomong kayak gitu sama aku tapi kalo memungkinkan buat aku, tolong kasih aku satu kesempatan buat perbaikin semuanya," ucap Leo lirih.


"Jangan jadi pacar aku tapi berkomitmen sama aku, Tania," ucap Leo membuat pupil mataku tersentak lalu aku menatap ke arah Leo.


"Komitmen?" beoku dengan detak jantung berdegup kencang, menjalin komitmen tanpa sebuah embel-embel pacaran bukanlah mudah karena menjalani hubungan dengan berkomitmen juga berarti sebisa mungkin aku ataupun dia menjadi orang pertama yang akan ada dalam situasi dan keadaan apapun, baik dalam keadaan senang maupun sulit. Apakah Leo benar-benar ingin mengajakku berkomitmen, menjalani hubungan dengan serius?


"Gue belum siap!" jawabku gugup, kami masih duduk di bangku sekolah menengah atas, bukan waktunya untuk melakukan komitmen dengan pria menapun termasuk Leo.


"Jadi kita masih pacaran?" tanya Leo.


"Leo ...."


"Marahi aku, pukul aku, sakiti hati aku atau apapun itu, aku bakal terima semua perlakuan kamu tapi aku mohon sama kamu janji sama aku, kamu enggak akan putusin aku, kamu enggak akan tinggalin aku, kamu enggak akan buat aku kehilangan kamu lagi." pinta Leo dengan mata yang menggenang.


Aku sampai terkejut melihat mata pria itu berubah menjadi merah karena ingin menangis.


"Gue janji," ucapku menatap matanya dalam, ini bukanlah sebuah kesempatan untuk Leo tapi ini sebuah tujuanku untuk mendapatkan informasi darinya. Maaf Leo, aku terpaksa berjanji!

__ADS_1


"Kamu mau tahu siapa itu Sasya? Sasya bukan selingkuhan aku tapi Sasya Putri adalah cewek yang aku kagumi dan mungkin aku cintai tapi status kami cuma sebatas sahabat jadi aku enggak bisa mengungkapin perasaan aku ke dia," ucap Leo membuatku memutus kotak mata darinya dan menatap ke depan.


Aku menghela nafas berat, dia mengakui bahwa dia mencintai wanita lain yang ia anggap sahabatnya. Astaga! Apa aku merasa cemburu sekarang?


"Sasya cewek yang ceria, kadang jahil, kadang mudah ngambek dan terkadang juga bijak di depan para sahabatnya yang lain. Ya, sahabat! Kita semua beranggotakan sepuluh tapi kita semua selalu ngutamain Sasya karena dia satu-satunya cewek yang kita anggap kayak saudara perempuan kita sendiri, dia selalu ngasih kita keceriaan dengan caranya dan selalu ngasih kita dukungan dengan seribu tindakannya." ucap Leo menerawang jauh ke depan sana.


"Kita harus menjaga perasaan satu sama lain demi ikatan persahabatan tapi ternyata Sasya jatuh cinta sama orang lain yang di mana dia adalah sahabatnya sendiri, Sasya jujur sama aku, dia percaya sama aku buat nyimpan rahasia tentang dia yang suka sama sahabatnya sendiri. Sesak, itu yang aku rasain waktu itu," ucap Leo mengepal kedua tangannya.


Mendengar ceritanya perasaanku semakin di buat aneh, mungkinkah aku merasa iba kepadanya atau aku benar-benar merasa cemburu kala dia mencintai wanita lain.


"Aku pengen ngasih tahu perasaan Sasya sama cowok yang dia cintai tapi Sasya nolak, dia mohon sama aku buat enggak ngasih tahu ke siapapun tentang perasaannya karena dia lebih memilih untuk mempertahankan persahabatan dari pada perasaannya sendiri." ucap Leo menundukkan kepalanya lalu ia menghela napas panjang.


"Waktu itu kita bersembilan dapat kabar tentang Sasya yang di rawat di rumah sakit, kita semua sering jenguk dia seminggu tiga kali tapi aku sama cowok yang Sasya cintai rutin setiap hari jenguk dia, sampai waktu itu aku ngobrol sama Sasya berdua tanpa sadar cowok Sasya cintai denger semuanya." ucap Leo seperti sedang melamun.


"Emang kalian ngobrolin apa?" tanyaku.


"Waktu itu aku enggak sengaja dan bener-bener enggak tahu apa-apa, aku jenguk dia sambil bawa sebuket mawar merah untuk dia tapi tiba-tiba aja Sasya cerita so'al gimana orang yang dia cintai selalu dateng jenguk dia sambil bawaain dia setangkai mawar merah, waktu itu dia senyum dan nerima bunga yang aku bawain untuk dia tapi aku bisa lihat raut muka dia biasa aja, beda banget sama tatapan mata dia yang bahagia dan penuh cinta waktu dapet setangkai mawar merah dari cowok yang ia cintai." ucap Leo dengan mata memerah.


Apa ini sebuah drama? Kenapa perasaanku semakin aneh ketika mengetahui betapa sakitnya dia yang pernah mencintai seorang wanita tapi wanita itu malah menganggapnya sebagai sahabat.


"Jangan di lanjutin kalo itu terlalu sakit buat diingat" ucapku tanpa beranu menatap raut wajahnya.


"Aku nggak mau kamu salah paham lagi, Tania." ucap Leo pelan dan sangat lembut.


"Udah cukup! Aku udah ...."


.


.


.

__ADS_1


.


.... Bersambung ....


__ADS_2