
Empat hari kemudian Karamel dan Jessy setelah berhasil membuat Henry frustasi. Bermula dari pemakaman, Henry di buat terkejut karena Karamel berdiri lumayan jauh darinya dan Karamel menatap Henry dengan aura kebencian hingga Henry berteriak bahwa dia melihat Karamel lagi.
Tidak sampai di situ saja, Karamel bahkan menampakan dirinya tepat di depan Henry sehingga Henry terkejut menutupi wajahnya dan Karamel menghilang dengan bersembunyi di balik pohon.
Hari ketiga Karamel tidak menampakan dirinya karena Henry tidak keluar dari mansionnya, namun saat di malam harinya. Jessy membawa Karamel ke mansion Henry hingga Henry kembali melihat Karamel berdiri di setiap sudut tempat.
Henry semakin panik dan mencoba untuk mengecek CCTV namun nihil Jeffry sudah menghack CCTV yang ada di mansion Henry hingga setiap Karamel muncul Jeffry selalu bisa membuatnya tidak tetlihat di CCTV.
Di hari ke empat bukan Karamel yang muncul namun tulisan berdarah dengan suara Karamel yang di edit Jeffry agar bisa terdengar samar di telinga Henry.
"Nyawa akan di bayar dengan nyawa." tulisan di dinding atau cermin, di manapun Henry berada.
"Aku akan membunuhmu." suara Karamel yang terdengar samar di telinga Henry.
Dari kejadian-kejadian itu Henry tampak sering terkejut dengan siapa pun yang memanggil namanya. Dan anehnya, ketika Jessy menyebut nama Karamel, Henry langsung menutup telinganya dengan mata yang terpejam. Apa Henry mulai ketakutan?
Pasti, ada gejolak dalam diri Henry sehingga ia merasa tidak tenang.
...............
...Apartemen Leo (Kanada)....
"Jika Henry sudah seperti itu, akan sangat mudah bagi polar prince untuk mengalahkan ...."
"What? Polar prince? Kita tidak menyusun rencana tentang mafia nomor satu itu, Kara. Tapi apa Leo yang merencanakannya dan hanya aku yang tidak di beritahu?" ucap Jessy membuat Karamel menelan salivanya karena baru saja keceplosan.
"Hi hi bukan seperti itu ...."
"Lalu seperti apa?" tanya Jessy.
"Ma-masalahnya p-polar prince itu ...."
Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena bel apartemen berbunyi. Ting-nong!
"Ck! Mengganggu saja, tunggu sebentar," ucap Jessy dan Karamel menganggukkan kepalanya.
Jessy pergi dan memeriksa orang yang datang mengganggu perbincangan mereka, kemudian setelah itu Jessy datang dengan lima laki-laki yang Karamel kenal.
"Loh, kalian kok bisa di sini?" tanya Karamel.
Leo, Kenzi, Faza, Jeffry dan Trisna hanya diam mendengar ucapan Karamel, rencananya mereka akan datang besok namun entah karena alasan apa mereka bisa ada di Kanada hari ini.
"Bukannya rencana kalian dateng ke sini itu besok ya?" tanya Karamel lagi.
"Itu 'kan baru rencananya aja dan terlaksananya ya hari ini," ucap Leo tersenyum tipis.
"Tapi 'kan ...."
"Rega Ananda bakal bawa keluarga kita ke sebuah tempat buat bisa di bunuh secara bersamaan, Kara." potong Kenzi cepat.
Leo merubah raut mukanya menjadi datar, padahal Leo berusaha untuk tidak membuat Karamel shock tapi si Kenzi ini malah buka mulut duluan, sialan emang.
__ADS_1
Degg! Mata Karamel terbelalak kaget, jantungnya pun berdegup ketakutan.
"Maksud lo, besok?" tanya Karamel.
"Bukannya kata kamu, Rega Ananda gak bakal bunuh siapapun sebelum Kak Ken sama Aza di temuin sama mereka?" tanya Karamel menatap Leo
"Karena denger kegilaan Henry yang terus-terusan manggil nama kamu, Rega Ananda jadi berubah fikiran pengen cepet-cepet bunuh keluarga kalian." ucap Leo.
"Bukannya Rega Ananda gak mau keturunan Sinaja sama Ramo ada di dunia ini? Trus gimana sama Kak Ken, Bang Aza juga?" tanya Karamel.
"Persetan soal Kenzi sama Faza, sejatinya orang jahat gak akan pernah kenal sama yang namanya sabar, Kara." ucap Leo tajam membuat Karamel menggelengkan kepalanya lemah.
"Trus tindakkan kita apa?" tanya Karamel dengan mata berkaca-kaca. Ayolah! Wajar jika Karamel ingin menangis, dia adalah seorang wanita yang memiliki sisi lemah juga, bukan?
Leo mengajak mereka semua untuk duduk lalu setelah iti ia menjelaskan semua rencana yang akan mereka lakukan besok dengan perincian yang sangat detail.
"Gimana kalo gagal?" tanya Karamel langsung pesimis, lupa kali ya kalo Leo itu polar prince.
"Selagi anak buah aku yang pegang kendali, rencana kita pasti bakal berhasil." ucap Leo.
"Untuk penyerangan bagian dalam, aku butuh bantuan mafioso kamu, ...."
"Wait ...." pekik Jessy spontan mengangkat tangannya untuk menghentikan Leo bicara, Jessy menyipitkan matanya sebelum mendongakkan kepalanya ke arah Leo.
"Mafioso?" tanya Jessy membuat mereka semua saling beradu pandang.
Tadi Karamel yang keceplosan, sekarang Leo juga sama, mau ngelak? Yakin, Jessy bisa di kibuli?
"Jessy ...."
Leo ikut menatap Karamel, ia tersenyum karena melihat kedua alis Karamel bergerak naik-turun. Leo mengangguk pelan karena mengerti maksud dari kode mata Karamel.
"Apa kau ingat sebelum mereka datang, aku tadi menyebut polar prince?" tanya Karamel dan di balas anggukan oleh Jessy.
"Leo adalah polar prince, Jessy." ucap Karamel membuat Jessy terdiam.
"Leo?" tanya Jessy cengo, haruskah ia percaya dengan kata-kata Karamel.
"Dan Karamel adalah lady queen-nya The Shadow Of The Queen," ucap Leo membuat Jessy mengerutkan dahinya aneh.
"Kara?" tanya Jessy dan Leo menganggukkan kepalanya pelan.
"Wait wait wait, jadi kalian berdua itu leader mafia?" tanya Jessy memastikan.
"Kami bertiga," potong Leo.
"Hah?"
"Kenziro adalah K-king-nya The Shadow Of The King juga," ucap Leo.
"Apa kau bercanda? Itu adalah gangster yang menjadi musuh terbesar dari Rega Ananda, Leo." ucap Jessy merasa percaya tak percaya.
__ADS_1
"Itu lah kebenarannya, Nona Jessy Mon Andrea," ucap Leo mengeluarkan logo kebesaran mafia miliknya di atas meja.
"Bukankah kau tau sesuatu tentang ini," ucap Leo mengingat dulu Jessy pernah kepo so'al polar prince, dan wanita itu berhasil menemukan foto logo kebesarannya itu.
"What? Jika benar kalian adalah pimpinan mafia, bagimama bisa Rega Ananda dan Henry berurusan dengan kalian semua?" tanya Jessy.
"Memangnya kau tidak tau apa-apa?" tanya Kenzi.
"Aku hanya tau dua hal, Rega Ananda punya dendam dengan kakek Berrold karena kakek Berrold telah membunuh ayah kandungnya dan yang kedua, The Shadow Of The King adalah mafia yang di bangun oleh kakek Berrold untuk bertujuan menghancurkan mafia milik Rega Ananda. Aku yakin kau pasti tau itu 'kan Ken?" ucap Jessy membuat Karamel menoleh ke arah kakaknya itu.
"Bener Kak?" tanya Karamel tidak tau apa-apa soal itu semua, dan Kenzi mangnggukkan kepalanya.
"Itulah sebabnya kenapa Rega Ananda sangat membenci kelompok mafia The Shadow Of The King, terlepas dari itu aku tidak tahu apa-apa lagi." ucap Jessy.
"Aku akan memberitahu sedikit masalah yang terjadi," ucap Leo mulai menceritakan inti-inti permasalahan dengan di bantu oleh Karamel juga.
.............
Ke esokan harinya Jessy mendapatkan pesan dan lokasi tempat dari Rega Ananda.
Pesan yang terdapat, 'Kami akan menyaksikan kematian keluarga musuh pamanmu ini, Jessy. Datanglah kemari untuk ikut serta dalam penyaksian kematian mereka, Nak.'
Jessy menunjukan pesan itu pada yang lain, Karamel, Kenziro dan Faza langsung terbakar api amarah. Umpatan dan sumpah serapah mereka lontarkan untuk Rega Ananda dan Henry.
"Kita pergi ke sana sekarang," ucap Leo.
Setelah sampai tujuan Leo langsung menyuruh Jessy dan kedua mafioso handalnya untuk menyerahkan Kenziro dan Faza pada Rega Ananda.
"Aku yakin anak buah bayangan Rega Ananda pasti sembunyi di mana-mana, Leo." ucap Karamel merasa risau.
"Jangan takut, kita bakal sembunyi di tempat yang aman," ucap Leo.
"Aku takut waktu kita mulai nyerang, ada kemungkinan anak buah bayangan Rega Ananda bakal nembak anggota keluarga aku." ucap Karamel berfikiran negatif.
"Di manapun tempat yang polar prince pijak, sniper terbaik aku pasti bakal selalu siaga ngelindungin aku jadi kamu gak perlu khawatir. Oke!" ucap Leo.
"Sniper kamu ya cuma nyelamatin kamu doang, lah terus keluarga aku ...."
Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Leo langsung membungkam mulut Karamel dengan tangannya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, sniper aku pasti bakal ngambil posisi setiap tempat dari anak buah bayangannya Rega Ananda, jadi bisa 'kan kita jangan debat dulu sekarang?" kesal Leo sehingga Karamel langsung menarik tangan Leo ke bawah.
"Jadi maksud kamu semua anak buah bayangannya Rega Ananda bakal di gantiin sama sniper milik kamu?" tanya Karamel dan di balas anggukan oleh Leo.
"Ya udah ayo kita ke dalem sekarang," ajak Karamel menggenggam tangan Leo lalu menariknya menuju lapangan.
Leo tersenyum lebar dengan melihat tangannya yang di ganggam erat oleh Karamel.
.
.
__ADS_1
.
::: Bersambung :::