
Tiga minggu Henry di rawat di rumah sakit dan hari ini Henry pulang ke mansion di temani oleh Karamel juga, jangan kira Karamel yang mau menemani Henry keluar dari rumah sakit, Sanjaya dan Sofia lah yang memaksa dirinya untuk menemani Henry sebagai balasan kebaikkan Henry yang telah menyelamatkan Karamel dari adik tiri pria itu.
"Kita ke kantor dulu," titah Henry pada Andi.
"Kau mau apa di kantor?" tanya Karamel, di mana dirinya terpaksa harus mengantarkan Henry pulang, tapi pria itu malah mengulur waktu dengan pergi ke kantor terlebih dahulu. Karamel bosan, dirinya ingin cepat-cepat pulang sekarang.
"Hanya sebentar," sahut Henry tidak mengindahkan pertanyaan Karamel.
Sesampainya di kantor GV Del Nixon Internasional, Andi membawa Karamel ke ruangan Henry sedangkan Henry langsung pergi ke ruang meeting hingga dua jam kemudian.
Cklek! Henry dan dua orang kepercayaannya masuk ke dalam ruangan Henry.
"Kara," panggil Henry melihat Karamel berdiri menghadap kaca ruang kantornya.
"Aku lapar, aku mau pulang," ketus Karamel tanpa membalikan badannya membuat Henry tersenyum lalu mendekati Karamel.
"Maaf karena membuatmu menunggu lama hingga kau kelaparan, Baby," ucap Henry memeluk Karamel dari belakang. Karamel terkejut dan langsung memukul perut Henry dengan sikunya. Bukk!
"Aghhh ....!!!" ringis Henry terkejut.
"Jangan lancang, Henry," bentak Karamel memelototi Henry.
Andi dan Luhan langsung terbelalak melihat Karamel yang berani memukul sang bos, ini pertama kalinya bagi mereka berdua melihat sang bos di pukul dan di bentak oleh perempuan.
"Kau selalu membuatku menahan amarah, Kara," sengit Henry menatap tajam wajah Karamel.
"Aku membentakmu karena kau kurang ajar denganku dan kau marah karena aku menolak pelukanmu, Impas 'kan?" ucap Karamel membuat hening ruangan itu.
"Aku tidak percaya, Nona berani melawan Bos sampai Bos terdiam," batin Luhan terperangah.
"Mari kita pulang," ucap Henry cepat.
Henry dan Karamel lebih dulu masuk ke dalam lift lalu di susul oleh Andi dan Luhan yang masuk ke lift pribadi Henry menuju basement.
Henry dan Karamel satu mobil bersama Andi yang membawa mobilnya, sedangkan Luhan membawa mobilnya sendirian, dan untuk delapan mobil lainnya di bawa oleh para bodyguard Henry.
Saat sampai di mansion Henry, Fico langsung menyambut sang kakak dengan mengagetinya.
"Ey'yow Selamat datang, Kakak," pekik Fico membuat Henry sedikit tersentak kaget.
"Apa begini caramu menyambut kedatangan seseorang?" sengit Henry jengkel dengan adiknya itu.
"Tidak juga, aku hanya begini denganmu seorang, Kakak." sahut Fico tanpa rasa bersalah.
"Dasar kau ini tidak pernah berubah," ucap Henry mengacak-acak rambut sang adik.
"Oh tidak, kau merusak rambutku, Kak." rengek Fico namun tidak di hiraukan oleh Henry.
"Gue jadi kangen masa SMA dulu, masa di mana kakak, sepupu, pacar dan para sahabat gue deket banget sama gue tapi sekarang mereka jauh dari gue ... ah gue jadi kangen mereka, apalagi sama kamu Leo!" batin Karamel tanpa sadar meneteskan air mata.
Karamel terus menatap Henry yang sangat menyayangi adiknya itu, terbukti saat di rumah sakit Fico terus meminta maaf dengan tangisan yang tiada henti, Henry tidak marah ataupun membentak sang adik. Henry malah memeluk sang adik dengan penuh kasih sayang.
Henry mengatakan 'Lupakan semuanya, kita mulai dari awal lagi.' dan Fico mengangguk sembari terus terisak. Saat itu Karamel ikut menangis namun dia langsung keluar dari ruangan karena tidak mau di lihat oleh siapapun.
"Kara ?!" panggil Henry menyentuh pundak Karamel sehingga Karamel tersadar dari lamunannya dan dengab cepat menghapus air matanya.
"What's wrong with you?" tanya Henry khawatir melihat Karamel menangis.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya tidak tahan menahan lapar saja," alibi Karamel membuat Fico tertawa kemudian Henry mengajak Karamel masuk ke dalam mansionnya.
"Selamat datang kembali, Tuan ...." sambut kedua puluh lima asisten rumah tangga Henry.
"Nyonya, wanita di sampingku ini akan menjadi Nyonya kalian nanti," ucap Henry membuat Karamel terbelalak.
"Selamat datang, Nyonya." sambut semuanya.
Henry menuntun Karamel menuju ruang makan, "Kok gue nggak nyaman ya." gumam Karamel merasa bak putri kerjaan yang di sambut oleh para dayang-dayang.
"Apa? kau bilang apa?" tanya Henry samar-samar mendengar Karamel bicara.
"Tidak, aku tidak bilang apa-apa," elak Karamel.
Karamel duduk di samping kanan Henry sedangkan Fico duduk di samping kiri Henry. Untuk Luhan dan Andi duduk di dekat Fico.
Ketika semua sedang makan, Fico dan Henry banyak sekali mengobrol begitu juga dengan Luhan dan Andi yang makan sembari mengobrol. Dan Karamel benci situasi tidak tenang seperti ini!
Perlahan Karamel meletakan sendok dan garpunya di atas piring, dia biarkan empat laki-laki di depannya ini mengobrol sesuka hati mereka.
Karamel menatap, Fico dan Andi yang tertawa terbahak-bahak saat Henry menceritakan masa kecil Henry dan Fico dulu.
Sebenarnya Luhan juga ingin ikut tertawa tapi saat ia melihat tatapan tajam dari Karamel, Luhan jadi menunduk dan membungkam.
"Hahaha ... lucu sekali, Lu." Andi menepuk punggung Luhan lalu tiba-tiba mata Andi bertemu dengan mata Karamel. Uhukk! Uhukk ! Uhukk! Andi langsung terbatuk kala mendapatkan tatapan tajam dari Karamel.
"Kau ceroboh sekali, Andi. Hahaha .... ha." ejek Fico sembari menertawai Andi namun tawa itu berhenti saat Fico melihat Karamel menaikan sebelah alisnya sembari menatap tajam dirinya.
Henry mengernyit saat ketiga laki-laki itu berhenti tertawa kemudian Henry menatap ke arah Karamel.
"Apa begini tata cara kalian makan?" tanya Karamel datar.
"Maksudmu?" tanya Henry.
"Makan sembari mengobrol? Cih, membuat kenyang diriku saja, silahkan lanjutkan obrolan kalian." ucap Karamel berdiri dari tempat duduknya lalu ia pergi ke ruang tamu membuat speechlees keempat laki-laki itu.
............
"Aku mau pulang," ucap Karamel memecahkan keheningan di ruang tamu itu, ia merasa tidak nyaman di kediamab Henry dan ingin segera pulang ke rumahnya.
"Tapi ...."
"Aku ke sini hanya mengantarmu, Tuan Nixon," ucap Karamel memotong perkataan Henry.
"Baiklah, aku akan mengantar ...." ucapan Henry terpotong lagi.
"Luhan, antarkan aku pulang," ucap Karamel pada Luhan membuat Luhan tersentak.
"Tapi Nona ...."
"Aku tidak mungkin membiarkan Henry mengantarku, Lu. Henry baru saja keluar dari rumah sakit, sebelum lukanya sembuh dia tidak boleh keluar rumah dulu," jelas Karamel membuat Henry membungkam.
Awalnya Henry ingin marah karena Karamel terus memotong perkataannya, tapi saat Karamel mengkhawatirkannya Henry jadi tersenyum di buatnya.
"Aku tidak apa-apa, Kara. Aku bisa ...."
"Jika kau masih mau bertemu denganku maka turuti perkataanku, Tuan Nixon." ancam Karamel membuat Fico, Andi dan Luhan terperangah.
__ADS_1
"Apa kau mengancamku?" Henry mengerutkan dahinya, selama ini tidak ada orang lain yang berani mengancam dirinya.
"Kau suka memerintah bukan, jadi aku lebih suka mengancam, impas !!" lagi-lagi Karamel melawan Henry.
"Don't provoke me, Kara." sengit Henry.
"Dasar mudah terpancing amarah," ejek Karamel dalam hati.
"Luhan, antarkan aku pulang," Karamel tidak menghiraukan Henry dan hendak berjalan menuju pintu namun tangannya di cekal oleh Henry.
"Aku yang akan mengantarmu," tekan Henry menarik tangan Karamel hingga masuk ke dalam mobilnya.
............
Di dalam mobil Karamel terus saja melamun hingga tanpa sadar ia selalu menanggapu ucapan Henry dengan berdehem ria.
"Kara, apa kau tidak mendengarku?" tanya Henry mulai bosan mendengar suara 'hem' daru mulut Karamel.
"Hem," hanya itu sahutan dari Karamel.
"Aku mencintaimu, Baby Girl." goda Henry.
"Hem," shut Karamel lagi.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Henry.
"Hen," sahut Karamel membuat Henry semakin mengernyitkan dahinya.
"Will you marry me, Kara?" tanya Henry mengetes kesadaran Karamel.
"Hem," sahutan Karamel.
"Kenapa aku merasa Kara sedang memikirkan sesuatu?" batin Henry curiga kemudian Henry memelankan mobilnya.
"Karamel," panggil Henry pelan.
"Hem," sahut Karamel singkat.
"Apa yang sedang kau fikirkan, Kara?" tanya Henry lembut, mungkin wanita itu sedang banyak beban fikiran.
"Leo," tanpa sadar Karamel menyebut nama orang yang bisa membuat Henry marah.
Ckitt! Henry langsung mengerem mendadak.
"Apa kau bilang, kenapa kau masih memikirkan dirinya?" pekik Henry membuat Karamel terkejut bukan main.
"Jawab, Kenapa kau masih memikirkan dirinya lagi, Hah?!" sentak Henry menatap tajam Karamel, tubuh Karamel langsung bergemetar kuat saat mendengar teriakkan Henry yang begitu dekat dengan dirinya.
"Apa masalahmu membentakku?" tanya Karamel, ia bingung kenapa Henry tiba-tiba marah dengannya, Karamel tidak pernah di bentak sampai tubuhnya bereaksi seperti ini.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1