Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 122


__ADS_3

Di perjalanan menuju kantor Sheramora, Karamel melihat sang suami yang berdiri di depan restoran sembari bersalaman dengan seorang laki-laki paruh baya.


"Mas Henry sama daddynya Zoeya," ucap Karamel mengerutkan dahinya lalu wanita itu memutar mobilnya menuju restoran itu.


"Jangan sampai deh apa yang gue fikirin itu terjadi," gumam Karamel entah apa maksud dari kata-katanya itu.


Karamel hendak keluar dari mobilnya, namun tiba-tiba saja pandangan matanya melihat ke arah tiang listrik, seorang laki-laki berpakaian serba hitam sedang membidik pistolnya ke arah ....


Karamel melebarkan matanya, "Mas Henry!?" pekik Karamel cepat-cepat keluar dari mobil dan menghampiri sang suami.


Karamel berlari sekuat tenaga lalu dia berdiri di belakang sang suami tanpa mau memeluknya karena jika Karamel memeluknya peluru itu bisa menembus ke tubuh Henry.


Dorr! Tubuh Karamel seketika menegang, lalu ia menyentuh perutnya dengan tangan bergetar.


Benar, peluru itu mengarah ke Henry dan sekarang Karamel sudah menyelamatkan suaminya hingga peluru itu mengenai dirinya.


Brugg! Tubuh Karamel jatuh tepat di samping Henry, Henry mengalihkan pandangannya ke tanah. Alangkah terkejutnya dia melihat wajah sang istri terkapar di sampingnya.


"Karaa ....!!!" pekik Henry langsung berlutut memapah kepala sang istri.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa ... sayang tubuhmu ... Kara, bertahanlah sayang, aku mohon bertahanlah." racau Henry.


"Andiiiii ...." pekik Henry memanggil sang asisten pribadi.


"Sebelah sini, Bos." ucap Andi.


Andi melihat kejadian itu, dia sudah menyuruh bodyguard Henry untuk mengejar pelaku itu dan langsung mengambil mobil untuk mengantar sang nyonya besar ke rumah sakit.


Dengan darah yang bercucuran Henry menggendong tubuh Karamel menuju mobilnya, dan di dalam mobil Henry terus menepuk-nepuk pipi dan melelus lembut rambut Karamel.


"Bangun sayang, aku mohon jangan seperti ini ... tambah kecepatanmu b*doh." pekik Henry pada Andi.


Setelah sampai di rumah sakit Rehoolt Medical Center, Karamel langsung di larikan ke ruang operasi dan Henry langsung menyuruh dokter Gery yang mengoprasinya.


"Lakukan yang terbaik, Gery. Selamatkan istriku jika tidak nyawamu yang akan hilang," ucap Henry pada dokter Gery.


Dokter Gery sangat paham bagaimana sifat Henry yang menjadikannya dokter pribadi, kata-kata Henry tidak pernah main-main dan dokter Gery cukup merasa was-was akan itu.


"Tenang saja, Tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya." sahut Gery.


Dokter Gery menutup pintu ruang operasi dan tak lama dari itu lampu indikator ruang operasipun menyala.


Henry duduk di depan ruang operasi bersama dengan Andi yang sibuk menghubungi Luhan.


"Bodyguard sialan, bagaimana bisa istriku keluar dari mansion tanpa sepengetahuanku," sengit Henry mengumpati para bodyguard yang berjaga di mansionnya.


"Bos," panggil Luhan.


Henry menghapus air matanya lalu ia menengok ke arah Luhan yang tengah terengah-entah karena ia berlari dari lantai satu.


"Kenapa kau berlari?" tanya Andi.


"Lift penuh dan aku terpaksa naik tangga umum," kesal Luhan.


"Aku menemukan orang itu, Bos." ucap Luhan menghadap langsung pada Henry.


"Siapa?" tanya Henry cepat.

__ADS_1


"Pelaku itu mengatakan orang yang menyuruhnya adalah Tuan Regan, Tuan Regan memerintahkannya untuk membunuh Tuan Fico dan pelaku itu mengira anda adalah Tuan Fico, Bos." jelas Luhan memberikan laptopnya pada Henry.


Henry mengambil laptop itu lalu ia melihat rekaman CCTV pengakuan sang pelaku itu.


Semua yang di katakan Luhan benar adanya, pelaku itu mengatakan hal yang sama seperti Luhan menyampaikan pada Henry barusan.


"Fico, hubungi Fico sekarang." ucap Henry.


Luhan mengambil laptop dari tangan Henry lalu ia menghubungi Fico lewat laptop itu.


"Hai Luh ...." Fico tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Henry sudah memotongnya.


"Fico, Listen to me, Daddy ... ah no, I mean Regan Del Nixon has proven who he is now." ucap Henry serius.


(Fico, dengarkan aku, Ayah ... ah bukan, maksudku Regan Del Nixon sudah membuktikan siapa dirinya sekarang)


"What do you mean?" tanya Fico.


Henry menceritakan kejadian yang baru saja terjadi dengan dirinya dan karamel, membuat Fico emosi kala mendengarnya.


"Beraninya orang itu menembak si manisku, akan ku bunuh dia dengan tanganku sendiri," pekik Fico dengan emosi yang meluap-luap.


"Hei Fico jangan lakukan hal yang akan membuatku repot ...."


"Tenang saja Kak, membunuh laki-laki tua itu tidak akan membuatmu repot." potong Fico ingin mematikan video call mereka.


"Jangan melakukan hal yang akan membahayakan dirimu atau aku akan menghancurkan kesayanganmu yang ada di Irlandia, Fico." ancam Henry membuat Fico mengurungkan niatnya.


Walau Fico mati sekarang, tapi jika kesayangannya di hancurkan oleh sang kakak. Fico tidak akan merelakan itu.


"Ck! Ancaman ini lagi ... kenapa kau selalu melibatkan kesayanganku itu, hah." kesal Fico membuat Luhan dan Andi tertawa cekikikan.


"Bukankah mansion itu untukmu dan si manis?" sahut Fico.


"Setelah Karamel siuman, kami akan pergi ke sana dan kau akan tinggal bersama kami." tukas Henry membuat mata Fico terbelalak kaget.


"What?" pekik Fico.


"Are you kidding me?" pekik Fico lebih keras.


"Kau tau aku tidak suka mengulang perkataanku, Fico." ucap Henry dingin.


"Baiklah, aku akan mengemasi barang-barangku." ucap Fico pasrah kemudian sambungan telepon terputus oleh Henry.


"Bunuh pelaku itu, Lu." titah Henry.


"Baik, Bos." patuh Luhan beranjak pergi.


Beberapa jam berlalu lampu indikator mati dan pintu ruangan operasi terbuka, "Tuan ...."


"Bagaimana keadaannya?" tanya Henry cepat.


"Oprasinya berjalan dengan lancar tapi darahnya terlalu banyak terkuras hingga istri anda mengalami serangan jantung, Tuan." ucap dokter Gery.


"Se-serangan jantung," gumam Henry.


"Kami sudah melakukan cardiopulmonary resuscitation selama beberapa menit tapi istri anda tidak sadar juga," sambung dokter Gery.

__ADS_1


"Apa kau bilang, istriku tidak sadar juga? Kau ... sudah aku katakan selamatkan istriku atau nyawamu yang akan hilang, Gery." pekik Henry menarik kerah dokter Gery.


Andi mencoba untuk melepasnya cengkraman sang bos, "Tenang, Bos. Nyonya pasti ...."


"Bagaimana kau mengatakan aku harus tenang, Andi. Istriku mengalami serangan jantung dan sekarang dia ...."


"Apa yang akan terjadi dengan istriku?" tanya Henry pada dokter Gery.


"Nyonya Karamel menggunakan alat bantuan untuk bernapas dan Nyonya tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun kemungkinan ...." dokter Gery menggantung perkataannya.


Dokter Gery menghela napas, "Kemungkinan nyawa Nyonya Karamel tidak akan selamat," ucap dokter Gery.


Tubuh Henry menjadi bergemetar kuat, "Tidak akan selamat katamu? Kau ...."


"Tidak menutup kemungkinan Nyonya bisa selamat 'kan, Dokter Gery?" potong Andi.


"Kecil kemungkinannya hanya beberapa persen untuk bisa selamat, Andi." sahut dokter Gery membuat Henry mengusap wajahnya dengan sangat kuat.


"Akhhh, kau membuat istriku di ambang kematian Regan ... aku akan membunuhmu Regan Del Nixon." pekik Henry sangat membenci sang daddy yang menyebabkan wanitanya terbaring lemah di brankar.


..................


Seminggu kemudian Karamel belum juga sadarkan diri membuat Henry tidak masuk kantor dan terus menunggu sang istri untuk bangun.


"Bangunlah, Sayang. Aku merindukanmu," lirih Henry untuk kesekian kalinya mengatakan rindu pada sang istri.


Henry menenggelamkan wajahnya di tangan Karamel, tangan Karamel yang di genggam oleh Henry sedikit bergerak membuat Henry terbangun dan menatap sang istri.


"Sayang, kau sudah sadar." ucap Henry melihat pergerakan tangan sang istri lalu menatap wajahnya.


Perlahan Karamel membuka matanya, "Sayang." panggil Henry.


Karamel menatap sang suami namun tak lama dari itu Karamel menutup matanya lagi. Henry menjadi panik dan langsung memencet tombol nurse call lalu berteiak memanggil perawat dan dokter.


"Sayang, aku mohon bangunlah." ucap Henry bergetar.


"Sayang, jangan tinggalkan aku sendirian. Aku mohon sayang." racau Henry tak karuan.


Dokter Gery dan beberapa perawat lainnya datang ke ruangan perawatan Karamel, "Gery, apa yang terjadi dengan istriku? Kenapa dia membuka matanya lalu menutupnya lagi? Kenapa hanya dua detik? Kenapa istriku ...."


"Tenanglah, Tuan. Kami akan menanganinya." ucap Gery.


"Cepatlah, Gery. Selamatkan istriku." ucap Henry tanpa sadar sudah merintihkan air matanya.


Dokter Gery dan perawat lainnya memeriksa keadaan Karamel, lama dokter Gery melakukan peremiksaan.


"Huftt ....!!!" helaan napas berat dan juga gelengan kepala dokter Gery membuat jantung Henry bergedup sangat kencang.


"Ti-tidak, tidak mungkin ....


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


Hayooo, ada yang penasaran nggak nih? Apa ini akhir kisah cerita tentang 'Karamel' dan Henry maupun Leo menemukan cinta yang baru pada wanita lain? Atau akan ada anugrah buat Karamel untuk selamat?


Di tunggu updatean author selanjutnya ya wak-wak readerku.đŸ˜‰đŸ˜‰


__ADS_2