
Berbeda dengan ruangan kantor sederhana Leo, ruangan kamar ini tampak jauh dari kata sederhana, Karamel sampai tidak henti-hentinya menyusuri setiap sudut kamar di balik rak buku itu.
Cukup lama Karamel berada di kamar itu, tiba-tiba pintu rak buku terbuka dan masuklah Leo.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Karamel.
"Ini 'kan tempat aku jadi aku bisa keluar-masuk sesuka hati aku," sahut Leo benar adanya.
"Ck! Aku tau tapi maksud aku gimana sama Clara kalo kamu ke sini?" tanya Karamel sedikit kesal.
Leo masih berdiri di dekat pintu rak buku, lain halnya dengan Karamel yang berdiri di dekat ranjang.
"Gimana kamarnya, kamu suka?" bukannya menjawab pertanyaan Karamel, Leo malah mengalihkan pembicaraan dengan bertanya so'al ruangan itu.
"Leo ...."
"Dia udah pergi," potong Leo jengkel.
Leo malas mendengar nama Clara di sebut oleh sang istri, ingatannya tentang tingkah manja Clara tadi membuatnya ingin muntah sekaligus marah.
Karamel menyadari perubahan raut wajah sang suami yang tampak kesal.
"Mending kita keluar ...."
"Gimana kalo besok kita bongkar hubungan kita di depan dia aja," pinta Leo.
Wajah Leo terlihat sedih karena dirinya harus berakting di depan wanita yang sangat ia benci, Leo mencintai Karamel jadi Leo tidak akan sudi untuk berdekatan ataupun bersentuhan dengan wanita lain.
Karamel mendekati Leo, "Hari ini Fico udah berhubungan baik sama Clark Damyan," ucap Karamel.
"Apa kamu tahu, sebenernya aku juga gak suka ngeliat kamu deket sama cewek lain apalagi cewek itu Clara tapi besok adalah pertemuan Fico sama Clark Damyan, Leo." sambung Karamel sambil menghampiri Leo.
"Clara terobsesi buat jadi pacar kamu, walau dia tau kamu udah nikah sama aku, aku yakin dia pasti bakal berusaha buat rebut kamu dari aku." ucap Karamel.
"Makanya besok Fico bakal ada pertemuan sama Clark Damyan, dia bakal bantu aku buat dapetin lahan itu," ucap Karamel.
Leo speechlees, sebenarnya Leo memahami rencana Karamel tapi Leo tidak tahan akan sandiwaranya di depan Clara.
"Oke, kalo itu yang kamu mau," lirih Leo mengalihkan pandangannya ke bawah.
Karamel memeluk tubuh Leo, sedih di dalam hati Leo bisa Karamel rasakan begitu juga sebaliknya sesak di hati Karamel bisa Leo merasakannya.
..................
...New York...
...20 : 30...
Di tempat lain, Abdi berusaha menghubungi Aldy dan Faza, Abdi ingin menuntut penjelasan dari kedua orang itu tentang meninggalnya Karamel.
Nomor Aldy tidak aktif sama sekali sedangkan nomor Faza aktif namun tidak ada respon apapun dari Faza.
Abdi menatap layar handphonenya, nomor salah satu sahabatnya yang sudah lama jauh dari SALF BADRAD kini tepat di depan mata Abdi. Leo!
__ADS_1
Abdi berniat ingin menghubungi Leo, "Kayaknya Leo harus tau so'al Karamel," gumam Abdi.
Tapi Abdi belum mendapatkan penjelasan dari Aldy dan Faza, Abdi ragu untuk memberitahu Leo pasalnya Abdi merasa berita meninggalnya Karamel tidak mungkin benar.
Entah itu firasat atau mungkin hanya keyakinan semata, yang jelas Abdi merasa Karamel belum pergi jauh dari mereka semua.
Lama Abdi berfikir, akhirnya Abdi memilih untuk tetap menghubungi Leo.
"Hallo," sapa Leo.
"Lo di mana sekarang?" tanya Abdi to the point
"Gue di Jakarta," sahut Leo.
"Bukannya lo di Irlandia?" tanya Abdi.
"Gue ada urusan di sini, kenapa?" tanya Leo.
"Ini so'al Kara ...." ucapan Abdi terpotong.
"Gue udah tau," ucap Leo.
"Lo udah tau tapi nada bicara lo nggak ada sedih-sedihnya sama sekali? Apa bener, Kara udah nggak berarti lagi buat lo?" tanya Abdi dengan gigi terkatup.
"Lo percaya Karamel udah meninggal?" tanya Leo membuat Abdi diam.
Abdi kaget, kenyataan pahit apa ini? Karamel benar-benar sudah meninggal? Buktinya Leo tahu maksud pembicaraannya tentang Karamel.
"Maksud lo?" tanya Abdi.
Leo tidak menjawab dan langsung mengalihkan panggilan video call, awalnya Abdi ragu namun Abdi tetap mengangkatnya.
Ketika itu juga Abdi kaget karena matanya langsung tertuju ke wajah Karamel yang berada tepat di samping Leo.
"Kara," pekik Abdi.
Leo dan Karamel tersenyum menatap Abdi, "Hay Di, apa kabar?" sapa Karamel sekaligus bertanya.
"Gue, gue baik," sahut Abdi.
"K-kabar lo gimana, Kara?" tanya Abdi balik, namun dengan ekspresi kaku dan bingung.
"Kayak yang lo liat, kabar kematian gue itu cuma rekayasa semata dan gue baik-baik aja sekarang," sahut Karamel tersenyum manis sehingga Abdi bisa bernapas lega.
"Untung gue belum ngomong sama Firgy," batin Abdi hampir saja dirinya akan memberitahu Firgy soal kematian Karamel.
"Huft! Bagus deh kalo lo baik-baik aja, gue hampir hilang semangat waktu dapet kabar dari Diky sama Adit tentang kematian lo," ucap Abdi membuat Leo dan Karamel membeku.
"Diky sama Adit?" pekik Leo dan Karamel serentak.
"Secepat itu berita kematian gue udah menyebar ke mana-mana," gumam Karamel.
"Siapa aja yang tau tentang kematian Kara?" tanya Leo sambil menggenggam tangan Karamel yang dingin, mungkin Kara merasa gelisah karena kabar kematiannya sudah menyebar ke mana-mana.
__ADS_1
"Diky, Adit sama Rio," sahut Abdi.
"Astaga, Mika sama Kak Biyan juga pasti udah tau dong," ucap Karamel lirih.
Abdi terdiam sejenak tapi tak lama dari itu Abdi melontarkan pertanyaan yang mengganjal di kepalanya.
"Kara, lo sama Leo ... no, maksud gue di mana Henry?" tanya Abdi membuat raut wajah Karamel menjadi kaku.
"Jangan tanya dia ya, Di," pinta Karamel.
"Kenapa? Dia 'kan suami ...."
"Mantan suami," potong Karamel.
"Hah?" kaget dong si Abdi.
Karamel melingkarkan tangannya di leher Leo, "Ini baru suami gue yang nyata tanpa rekayasa," ucap Karamel terdengar aneh di telinga Abdi.
Abdi kaget karena setahu Abdi, Karamel sangat kecewa akan kepergian Leo dan bahkan semakin besar rasa kecewanya ketika Leo sudah bertunangan dengan perempuan lain, namun kenapa sekarang Karamel menyebut Leo sebagai suaminya?
"Rekayasa? Maksud lo?" tanya Abdi.
"Leo, kamu balik kerja aja ya, biar aku yang jelasin semuanya sama Abdi," ucap Karamel pada Leo.
Leo mengangguk lalu Leo memberikan handphonenya pada Karamel, "Jadi gini ...."
Karamel menceritakan detail kejadiannya namun tidak dengan identitas Leo sebagai polar prince, Karamel hanya mengatakan para bodyguard Leo telah membantu mereka dalam penyerangan Henry dan Rega Ananda.
Karena cerita Karamel yang sangat panjang, tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 22 : 15 di New York dan 10 : 15 di Indonesia.
"Mana Leo?" sentak Abdi ketika Karamel mengatakan 'Semua sudah berakhir'
"Kenapa? Dia sibuk," tanya Karamel, Karamel tahu Abdi pasti akan marah pada Leo jadi Karamel harus mencegah itu agar Leo tidak merasa bersalah lagi dan lagi.
"Kara ...."
"Udah Di, kak Aldy sama Faza udah marah sama Leo dan itu udah cukup buat dia ngerasa bersalah," lirih Karamel memohon.
"Dia emang salah ...."
"Leo udah banyak berkorban, Di." potong Karamel.
"Kalo yang lain tahu tentang ini, gue jamin mereka semua juga bakal marah sama Leo," sengit Abdi.
"Leo enggak sendirian lagi, gue sebagai istrinya bakal terus ada di samping dia buat hadapin kalian semua," balas Karamel langsung mematikan sambungan video call.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1