Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 188 (Takdir)


__ADS_3

...Los Angeles_Night...


Karena Tessa sudah merasa lelah, Tessa meminta Kenzi untuk berhenti dan melanjutkannya besok saja, Kenzi bersikap acuh karena menurutnya itu adalah tugas Tessa dan Kenzi hanya membantu saja jadi terserah Tessa mau di kerjakan sekarang atau besok.


"Hem gue pulang," ucap Kenzi hendak berdiri namun urung karena Tessa tiba-tiba membentak dirinya.


"Ih! Bantuin 'kek, ini harus di susun satu-persatu loh," bentak Tessa membuat Kenzi mengerutkan dahinya.


"Lo merintah gue?" sengit Kenzi tidak suka.


"Siapa yang merintah elo sih," kesal Tessa.


"I ask for help! Do you hear, asking for help," ucap Tessa menaikkan nada bicaranya.


(Gue minta tolong! Apa lo dengar, minta tolong)


"Biasa aja, gue enggak budek," sengit Kenzi.


"Enggak budek tapi bolot," desis Tessa, lagi-lagi berhasil membuat Kenzi mengeraskan rahangnya karena Tessa mengatai dirinya dengan buruk terus.


"Gue bisa dengar," ucap Kenzi dengan gigi terkatup.


"Punya telinga emang harus di pakai buat mendengar bukan buat di panjang doang," ucap Tessa, entah kenapa mambuat Kenzi ingin marah.


"Lo benar-benar ...."


"Herhh, kayak tante-tante lo ngoceh mulu kerjaannya, bantuin gue aja napa sih," Tessa memotong perkataan Kenzi dan sibuk menyusun buku-bukunya.


Selama ini wanita yang selalu membuat Kenzi kesal, geram dan marah hanyalah Karamel namun kali ini Tessa sudah berhasil menjadi wanita kedua yang membuat Kenzi kesal sekesal-kesalnya.


Jelas-jelas sejak tadi yang mengoceh itu Tessa, dasar wanita suka sekali memutar balikkan fakta.


Dengan perasaan jengkel Kenzi terpaksa membantu Tessa membereskan buku-bukunya.


..............


...Indonesia...


"Perhatian semuanya," pekik Becca menepuk-nepuk tangannya hingga semua orang yang ada di sana menatap ke arah Becca.


"Saya minta waktunya lima menit saja, apa boleh?" pekik Becca namun tidak ada yang menyahuti permintaan Becca.


"Terima kasih kalau boleh," ucap Becca membuat Karamel menahan tawanya.


"Di sini saya ingin mengibur kalian semua dengan suara indah saya yang pastinya akan memabukkan kalian semua." ucap Becca membuat raut wajah Karamel berubah kikuk.


"Judulnya kenangan terindah, widih !! Lagu lama yang pastinya enak di denger 'kan." ucap Becca dan Karamel kembali tersenyum tipis melihat tingkah Becca yang sok asik sendiri.


Karamel melirik kedua terget itu, kepala mereka bergoyang kesana-kemari sebab pandangan mata mereka mulai terasa kabur.

__ADS_1


"Tapi sebentar, adakah di sini yang membawa gitar untuk bisa mengiringi suara indah saya?" tanya Becca dan lagi-lagi tidak ada yang menyahutinya.


Becca memanyunkan bibirnya, tentu dirinya sudah tidak mood lagi jika banyak orang yang mengabaikannya bahkan saat Becca menatap Karamel, ternyata nona bosnya itu diam-diam sedang menahan tawanya.


"Apakah di mata kalian saya ini di anggap sebagai patung bergerak yang enak di pandang saja tanpa punya niatan untuk menyahuti pertanyaan saya?" kesal Becca ingin mengamuk.


Ingin rasanya Karamel tertawa terbahak-bahak namun dirinya sedang menyamar jadi alangkah baiknya Karamel menahan tawanya dengan menutup hidungnya agar tidak kelepasan.


Karamel melirik kedua target itu lagi dan tubuh mereka sudah mulai sempoyongan sebab otot-otot tubuh mereka melunak, Karamel tidak perlu khawatir kedua target itu akan menembak suaminya karena sudah di pastinya dalam waktu dua menit lagi kedua target itu akan pingsan di tempat.


Karamel berjalan menuju tangga untuk pergi, "Fine, karena kalian diam saja, terpaksa saya harus pergi sekarang! Sungguh kalian semua jahat sekali kepada saya, Hemp ...." ucap Becca membuang muka lalu berlari menuju tangga menyusul sang nona bos.


..................


Leo memandangi kepergian Becca yang menyusul Karamel, Leo menyunggingkan senyumannya kala melihat sang istri telah berhasil menyelamatkan nyawanya.


Leo melirik ke samping kiri-kanannya, di mana ada dua pelayan yang berlutut di lantai dengan kepala yang bergerak kesana-kemari seperti orang mabuk.


"Dasar anak muda," ucap Mr.Nicol melihat tingkah Becca yang aneh tapi lucu.


"Mari Tuan," ajak Leo untuk pergi ke perusahaan Binondra Group.


"Aku percaya kamu bisa, Sayang!" batin Leo tersenyum bangga pada sang istri.


Ketika Leo dan rekan bisnisnya turun dari lantai dua, mereka melihat banyak kekacauan di luar restoran.


"Entahlah Tuan, mungkin ada sesuatu yang terjadi di sini," ucap Leo sok-sokan tidak tau apa-apa.


"Mari kita pergi sekarang, Tuan." ajak Leo dan Mr.Nicol berjalan menuju mobilnya sendiri, sedangkan Leo masuk ke dalam mobilnya juga.


Di dalam mobil Leo terus saja senyum-senyum sendiri, membuat Jeffry terus-terusan melirik sang bos dari kaca depan.


"Bos ...."


"Lady queen telah berhasil melindungi suaminya, kini giliranku untuk melindungi istriku, Jeffry." ucap Leo dan Jeffry mengangguk paham akan tingkah Leo yang senyum-senyum sendiri.


"Rencana Damyan untuk membunuhku gagal berkat bantuan lady queen dan sebentar lagi rencana anaknya—Clara untuk menculik istriku akan di gagalkan oleh polar prince." sengit Leo dengan tatapan amarah dan kebencian yang amat mendalam.


"Anda tau segala rencana jahat ayah dan anak itu tapi kenapa anda tidak langsung membereskan mereka dan malah membiarkan Nyonya melindungi anda, Tuan?" tanya Jeffry penasaran pasalnya selama bertahun-tahun mengenal Leo, Jeffry tidak pernah melihat Leo membiarkan musuhnya bisa hidup tenang.


Namun anehnya kali ini Leo membiarkan musuhnya menjalankan rencana jahat mereka untuk mencelakai Leo dan Karamel.


"Semalam Kara menyadari keberadaan Clara ...." ucap Leo menceritakan bagaimana dari jarak jauh Leo melihat tatapan Karamel mengarah pada Clara.


Kenapa Leo ingin cepat-cepat pergi ke Singapura? Alasannya Leo tahu rencana busuk Damyan dan Clara namun Leo menutupi semua itu dari Karamel karena Leo tahu, jika Karamel mengetahui kebenarannya. Karamel mungkin akan marah sekaligus merasa khawatir akan keselamatan mereka berdua.


Gagal sudah Leo menutupinya karena semalam Karamel mencurigai kehadiran Clara yang sedang memantau pergerakan Karamel.


Semalam ketika Karamel dan Leo tidur, Leo berpura-pura sudah terlelap hingga saat Karamel menelepon Adit, Leo mendengar semua perintah Karamel untuk menyelidiki Clara.

__ADS_1


Tadi pagi Karamel meminta izin untuk pergi bertemu Diky dan Adit, di dalam hati Leo merasa khawatir karena Diky dan Adit pandai dalam bidang teknologi komputer jadi sudah di pastikan Karamel akan mendapatkan informasi lengkap rencana Clara untuk menculiknya.


Namun Leo masih berusaha tenang di depan Karamel, Leo mengizinkan Karamel dengan menyelipkan penyadap suara di dalam tas kecil Karamel.


Leo berharap Karamel akan membawa tasnya itu dan untungnya Karamel membawa tasnya hingga Leo bisa mendengar semua yang akan di lakukan oleh sang istri.


"Jadi itu alasan anda menyuruh saya untuk membawa alat penyadap suara tadi pagi," ucap Jeffry dan Leo mengiyakan ucapan Jeffy.


"Kara datang ke kantor untuk memberitahuku tentang mata-mata di sekitarku dan dirinya tapi semua itu harus ia tunda karena salah satu sahabatku—Abdi menghubungiku hingga obrolan panjang kami berakhir, Kara hampir akan memberitahuku semua yang ingin ia sampaikan tapi malah giliran kau yang datang dengan sebuah laporan briefing penting dengan Mr.Nicol ...." ucap Leo kembali menceritakan bagaimana Karamel tidak patuh dan malah mengikuti dirinya hingga ke restoran.


"Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk membereskan para mata-mata Damyan yang mengikutiku ...." Leo melanjutkan ceritanya saat semua mafioso yang ia perintahkan untuk membereskan para mata-mata Damyan telah stand by di restoran yang akan Leo datangi bersama rekannya.


"Aku mohon bantu aku melindungi suamiku dari orang-orang jahat itu, Tuhan."


Leo memejamkan matanya kala mengingat ucapan Karamel yang ingin melindungi nyawanya.


"Istriku ingin melindungiku, aku percaya istriku bisa melakukannya maka dari itu aku menyuruh semua mafioso Vic's Bloody Wolf untuk kembali ke markas," imbuh Leo menghela napas panjang.


"Kau bisa lihat, berapa banyak orang yang pingsan di luar restoran tadi ...."


"Apakah Nyonya yang melakukannya, Tuan?" tanya Jeffry sedikit terkejut.


"Tentu Kara yang melakukannya," sahut Leo.


"Hahaha bagaimana bisa Nyonya melakukannya dalam waktu singkat, Tuan Di ruangan tadi, kita hanya menghabiskan waktu kurang lebih hanya satu jam saja jadi sangat mustahil bagi Nyonya membereskan ...."


"Tidak mustahil jika itu lady queen yang melakukannya, jangan lupa istriku itu adalah lady queen, Jeffry," potong Leo dingin mengingatkan Jeffry akan siapa istri dari bosnya itu.


Jeffry langsung bungkam ketika baru ingat istri bosnya itu adalah seorang leader mafia The Shadow Of The Queen.


Glukk! Jeffry menelan salivanya dengan susah payah, baru saja dirinya meremehkan kehebatan sang Nyonya. Ah! Lebih tepatnya baru saja dirinya meremehkan kehebatan leader The Shadow Of The Queen.


"Maafkan aku Nyonya," batin Jeffry menyadari ucapannya tadi sudah meremehkan kekuatan dan kepintaran seorang lady queen.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Apakah para reader ada yang mengira kalau Leo sudah lebih dulu mengatahui rencana jahat Damyan dan Clara?


Maaf ya upnya telat, author lagi perhatiin perkembangan dari novel ini. Dan ternyata banyak yang baca tapi tidak meninggalkan jejak 😆😆😆


Jangan lupa dukung author cici dengan terus vote, like dan komen ya. Terima kasih atas antusias kalian semua kakak-kakak.


Selamat membaca semua 😉😉

__ADS_1


__ADS_2