
Sore ini Leo pulang ke rumah untuk bersiap-siap ke pesta ulang tahun Laura Kwadero namun saat Leo sampai di rumah Kevin dan Rendi mengatakan Karamel baru saja pergi keluar rumah.
Leo terkejut kala sang istri tidak mematuhi perintahnya tadi pagi, Leo hendak menghubungi Karamel namun Karamel memberi pesan pada Leo.
My Soulmate
Aku tau lokasi pestanya diuediaman tn kwadero, kamu tunggu aku di gerbang kediaman tn kwadero.
My Soulmate
Aku pergi dari salon.
Leo menghela napas gusar, bagaimana bisa istrinya itu melakukan ini padanya, mereka sepasang suami-istri tapi kenapa mereka harus pergi secara terpisah.
"Ck! bikin gue kesel aja," gumam Leo melempar handphonenya ke atas kasur lalu Leo masuk ke kamar mandi untuk berendam di bathtub.
Dua puluh menit berlalu Leo menyudahi aktivitas berendamnya lalu Leo masuk ke dalam walk-in closet untuk mencari pakaian pesta malam ini namun saat Leo masuk ternyata di sofa sudah ada satu set pakaian dengan note 'Pakai ini ya buat pesta nanti malam, kalo gak aku bakal pecat kamu jadi suami aku'
Kekesalan Leo langsung hilang kala membaca note yang di tulis Karamel.
"Oke sayang, aku bakal pakai ini buat nanti malem, tolong jangan pecat aku jadi suami kamu ya." ucap Leo dengan wajah memelas.
Di lain tempat Becca sibuk memperketat keamanan Karamel dan Leo sedangkan Karamel sedang di permak oleh para desainer kostum, penata rambut dan penata makeup profesional
Karamel memakai dress panjang press body tanpa lengan hingga beautiful cleavage Karamel sedikit terekspos lalu bagian dress bawahnya terbelah di samping kanan hingga menyisakan kurang lebih 10-20 cm dari pinggangnya.
Karamel terlihat sangat cocok dengan gaya rambut woven half-updo, apalagi wajah Karamel di lapisi makeup senatural mungkin hingga aura kecantikan dari Karamel Listra semakin terpancarkan.
"Wow! Lo mau jadi tamu undangan atau jadi tuan rumah, Bos," ucap Becca menatap penampilan Karamel dari bawah sampai atas.
"Terlalu mencolok kah?" tanya Karamel.
"Buat gue terpesona, Bos." sahut Becca membuat Karamel memutar bola mata jengah.
"Sejak kapan lo jadi lesbi?" tanya Karamel membuat Becca membulatkan matanya.
"Gue masih normal ye Bos, masih tergoda sama roti bakarnya cowok ketimbang buah dadanya cewek," ucap Becca blak-blakan.
"Lo tadi ngomong terpesona sama penampilan gue," sahut Karamel memamerkan kaki jenjangnya yang putih.
"Tapi nggak bikin nafsu," imbuh Becca cepat.
"Masa sih?" tanya Karamel.
"Yang cewek pasti bakal iri sama penampilan lo tapi kalo yang cowok bakal terpesona apalagi kakak ipar, dia pasti bakal langsung shock karena istrinya berpenampilan se*y kayak gini," ucap Becca menyilangkan kedua tangannya di perut.
"Itu artinya rencana gue buat ngehukum suami gue bakal berhasil," sahut Karamel.
"I don't think so karena bisa jadi setelah ngelihat penampilan lo yang sekseh ini, kakak ipar langsung ngajak lo pulang." ucap Becca.
"Makanya gue harus dateng telat biar waktunya mepet kalo Leo ngajak gue pulang," sahut Karamel.
"Ih tol*l banget, bukannya bagus ya kalo kakak ipar sama Bos pulang ke rumah," sahut Becca.
Karamel memelototi Becca namun Becca menatap santai ke arah Karamel, "Lo berani ya ...."
"Becca cuma ngomong sesuai fakta," ucap Becca menyela.
"Jadi maksud lo, gue tol*l gitu?" sentak Karamel.
"Ya ampun, ternyata nyadar juga lo Bos," ucap Becca langsung mendapatkan lemparan tas dari Karamel yang tepat mengenai kepalanya.
"Akh! Kebiasaan lempar barang di sekitar lo mulu." ringis Becca mengelus-elus kepalanya.
Karamel bergeming mendekati Becca lalu Karamel mengambil tas yang ada di tangan Becca.
"Pasangin semua ini," titah Karamel dan Becca mengangguk patuh.
..............................
Leo sudah sampai di kediaman keluarga Kwadero tapi Leo masih berada di luar gerbang, menunggu kedatangan sang istri yang akan naik ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, sejak tadi Karamel sudah berada di belakang mobil sang suami tapi karena menunggu waktu lebih lama Karamel keluar dari mobilnya lalu menghampiri mobil sang suami dan masuk ke dalam mobilnya.
"You look so beautiful honey, but ...." puji Leo menggantung perkataannya ketika mata Leo menyusuri pakaian yang di kenakan oleh sang istri.
Glukk! Leo melebarkan matanya sembari menelan salivanya dengan susah payah, bagian dada dan bagian jenjang kaki sang istri yang terbuka membuat debaran jantung Leo berpacu lebih cepat.
"Kara, ini ... pakaian kamu ...."
"Kenapa? Jelek ya?" tanya Karamel menyela.
"Enggak sayang, kamu cantik kok tapi ...."
"Makasih ya sayang," ucap Karamel cepat membelai pipi sang suami.
"Jeffy jalankan mobilnya sekarang." titah Karamel.
"Enggak jangan ... apa kamu udah gak waras pake baju kayak ...."
"Kenapa? kamu bilang aku cantik 'kan," ucap Karamel berpura-pura menjadi polos.
"Iya sayang tapi masalahnya ...."
"Apa sih Leo?" sela Karamel.
"Look at your clothes, Kara. ini terlalu terbuka sayang!" seru Leo membuat Karamel berusaha keras tidak tertawa kala melihat wajah frustasi Leo yang tidak terima akan penampilan se*ynya.
"Biasa saja," sahut Karamel namun Leo menggelengkan kepala tidak setuju.
"Kita pulang," titah Leo.
"Are you kidding? The party is about to start, Leo," ucap Karamel.
"Gak perduli, Jeffry jalankan mobilnya." titah Leo.
"Stop Jeffry! Please Leo kamu itu tamu penting di sini buat ngewakilin Papa," sentak Karamel.
"Ya tapi ...."
"Enggak," tolak Leo.
"Jeffry jalankan mobilnya," titah Karamel.
"Aku bilang enggak ya ... hempp ...."
Leo melebarkan matanya kala sang istri mencium lips-nya, Karamel memejamkan matanya lalu Karamel ******* lips Leo hingga Leo ikut memejamkan matanya menikmati kehangatan yang di berikan oleh sang istri.
Tanpa melepas pangutannya, tangan Karamel menepuk-nepuk pundak Jeffry dan setelah itu Karamel mengibas tangannya ke arah depan, seakan-akan memberi perintah 'jalankan mobilnya sekarang,'
Jeffry yang paham akan maksud sang Nyonya langsung mengangguk canggung dan menjalankan mobilnya untuk masuk ke kediaman keluarga Kwadero.
Karamel melepas pangutannya lalu Karamel menempelkan keningnya dengan kening sang suami, keduanya saling melempar senyuman namum seperdetik kemudian Leo di buat kaget akan ucapan sang istri.
"Kita udah sampe sayang, ayo turun." ajak Karamel.
"Jeffry ...."
"Aku yang nyuruh," potong Karamel membuat Leo menekuk wajahnya.
Leo terpaksa harus keluar dari mobil dan menjemput sang istri ke seberang, setelah Jeffry membukakan pintu Leo menggapai tangan Karamel untuk keluar dari mobil.
Para tamu undangan yang ada di luar kediaman keluarga Kwadero menatap ke arah tamu kehormatan dari perusahaan ternama Binondra Group yaitu CEO Rendra.
Semua orang tidak mengetahui perihal CEO Rendra yang sudah memiliki pendamping hidup maka dari itu saat Karamel keluar dari mobil, semua mata menatap bingung sekaligus kagum ke arah Karamel.
"Liat 'kan kamu jadi pusat perhatian," ucap Leo namun Karamel mengedikkan bahu tak perduli.
Leo dan Karamel masuk ke dalam rumah Tuan Kwadero, satu-persatu orang menyambut kedatangan Leo dengan ramah, banyak di antaranya yang bertanya perihal kabar dan wanita yang Leo gandeng.
'Ini istriku, Karamel Listra' Leo hanya menjawab sekenanya saja.
Karamel terus-terusan memamerkan senyumannya kepada semua orang dan itu membuat Leo sedikit merasa kesal, banyak para lelaki yang memuji kecantikan Karamel sekaligus melontarkan gombalan-gombalan receh kepada Karamel hingga Karamel membalas dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Berani-beraninya mereka gombalin bini gue depan gue, gak tahan gue ntar gue sobek juga lama-lama tu mulut mereka." batin Leo mengeraskan rahangnya.
"Mohon maaf Tuan-tuan aku dan istriku ingin pergi bertemu Tuan Kwadero terlebih dahulu, kalau begitu kami permisi." Leo langsung menarik tangan Karamel untuk menjauh dari para lelaki itu.
"Selamat datang di acara ulang tahun anak saya, Tuan Rendra," di saat Leo dan Karamel berjalan tiba-tiba tuan Kwadero menghampiri Leo.
"Selamat malam Tuan Kwadero, terima kasih karena sudah mengundang saya di acara ulang tahun Nona Laura." ucap Leo dan mereka berdua saling bersalaman.
"Tidak Tuan, seharusnya saya yang berterima kasih karena anda mau meluangkan waktu untuk datang ke acara ulang tahun anak saya." balas Tuan Kwadero sekilas menatap Karamel.
"Selamat malam Nona, apakah Nona cantik ini adik anda Tuan?" sapa tuan Kwadero pada Karamel sekaligus bertanya pada Leo.
"Ini adalah istri saya, Tuan," sahut Leo entah kenapa membuat senyuman tuan Kwadero hilang seketika.
"Selamat malam Tuan, perkenalkan nama saya Karamel Listra Najasi Aramoy." ucap Karamel mengulurkan tangannya.
Tuan Kwadero tampak terkejut, putri tunggal keluarga besar dari marga besar Belanda yaitu Aramoy lalu marga besar Malaysia yaitu Ramoya dan terakhir marga besar Inggris yaitu Sinaja yang selama ini tidak pernah di ketahui oleh publik kini ada di depan matanya.
"Tuan ...." untuk kesekian kalinya Karamel memanggil tuan Kwadero dan berharap akan ada respon dari beliau.
"Ah ya maaf maaf saya malah melamun! Perkenalkan saya Bramanto Kwadero, sa-salam kenal Nyonya." sahut tuan Kwadero menjabat tangan Karamel dan merubah nama panggilannya menjadi 'Nyonya'
"Liat kan bahkan Tuan Kwadero terpesona sama kecantikan dan tampilan bini gue." fikir Leo makin jengkel lah dia.
"Saya tidak melihat keberadaan Nona Laura, di mana Nona Laura?" tanya Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya—menatap tajam sang suami.
"Laura, dia sedang berkumpul dengan ...."
"Daddy," suara seseorang perempuan menghentikan ucapan tuan Kwadero.
Seorang wanita berpakaian gaun pendek dan lebar tanpa lengan datang menghampiri mereka, seulas senyum terpatri dari sudut bibir wanita itu kala melihat laki-laki yang ia sukai sejak bertahun-tahun lamanya sedang mengobrol bersama sang daddy.
"Selamat ulang tahun Laura," ucap Leo mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya lalu menyodorkannya ke arah Laura.
Tatapan Karamel semakin tajam saat Leo memanggil nama Laura dengan akrab tanpa embel-embel 'Nona' ck! Menyebalkan.
"Kau terlalu terburu-buru Leo," ucap Laura tersenyum merekah dan menerima hadiah yang di berikan Leo lalu Laura membuka kotak itu.
"Ow! This is so beautiful," ucap Laura sembari menyentuh kalung permata biru itu.
"Semoga kau suka Laura," ucap Leo.
"Tentu aku suka, ini adalah hadiah ulang tahun terindah yang pernah aku dapat, makasih Leo." ucap Laura membuat Karamel memutar bola mata jengah.
"Sama-sama," sahut Leo.
"Em! Bisakah kau memakaikan kalung ini di leherku," pinta Laura menampilkan ekspresi imut ala dirinya.
"Tentu," sahut Leo membuat Karamel melebarkan mata tak percaya suaminya akan menyetujui permintaan wanita itu.
"Apa dia lupa ada gue di sini, istri dia loh? Seenaknya saja nerima permintaan cewek lain di depan gue, dasar ya cowok gak punya perasaan." gerutu Karamel di dalam hati.
Drrt! Karamel tersentak kaget kala bagian tengkuknya tersentrum alat yang di pasang oleh Becca tadi, alat yang bisa mendeteksi para musuh Karamel, di mana jika alat itu bergetar tanda bahaya ada di sekitarnya.
Karena pada dasarnya yang memantau para musuh Karamel adalah Becca, jadi sinyal peringatan itu ada karena Becca lah yang mengendalikannya.
"Gawat, mereka ada di sekitar gue sekarang." batin Karamel sedikit was-was namun berusaha tetap tenang agar tidak menimbulkan rasa curiga para musuhnya.
Di lain tempat Becca memantau kediaman keluarga Kwadero dari jarak yang lumayan dekat.
"Wah! Benar-benar tu nenek lampir, pengen ngerusak acara orang lain," batin Becca geram akan Clara yang memantau Karamel hingga ke acara ulang tahun orang lain.
"Waspada, di dalam sudah ada yang mendekat," ucap Becca dan lewat earpiece yang terpakai di telinga para anak buah bayangan Karamel, mereka bisa mendengar suara Becca lalu para anak buah bayangan yang menyamar menjadi pelayan, pengusaha dan pengawal di rumah itu berpencar untuk melindungi sang nona bos mereka.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1