
Semua keluarga Sinaja berangkat pada malam itu dan pesawat yang mereka tumpangi sudah lepas landas di jam 20:10 PM hingga menepuh jarak waktu selama 17 jam 30 menit mereka mendarat di Bandara Internasional Los Angeles di jam 03:40 AM, dari sana mereka langsung pergi ke rumah sakit Ronald Reagan UCLA Medical Center.
Dari Bandara Internasional Los Angeles ke Rumah Sakit Ronald Reagan UCLA Medical Center hanya menempuh jarak waktu 20 menit jadi mereka lebih dulu pergi ke rumah sakit dan setelah itu mereka pergi ke tempat ruang perawatan sang grandma.
Ketika sudah di depan kamar perawat sang grandma, mereka semua terpaku kepada sosok laki-laki paruh baya yang sedang duduk dengan bersandar di dinding sembari menatap kamar perawatan sang grandma.
"Daddy," panggil Sanjaya berjalan mendekati ayahnya, dan duduk di samping sang ayah.
"San, you ...."
"Yes, it's me! How are you, Dad?" tanya Sanjaya karena sudah tiga tahun dirinya tidak bertemu dengan sang ayah.
"San, your mother, she hasn't woken up yet!" ucap sang ayah, Maxim Berrold Sinaja merintihkan air matanya.
Berrold adalah suami dari Bertty yang dulunya sangat di kenal paling kejam di dunia kemafiaan, Walau sekarang Berrold tidak lagi menjadi leader mafia. Kekejaman Berrold masih tertanam dalam dirinya hingga sampai saat ini semua orang masih merasa takut kepadanya.
Dulu Berrold penganut agama kristen tapi setelah bertemu Berrty yang memiliki keyakinan islam, maka Berrold mengikuti keyakinan sang istri.
Melihat Berrold menangis, satu keluarga Sinaja pun ikut larut dalam tangisan, tanpa sepatah kata mereka hanya saling berpelukkan dan juga saling menguatkan satu sama lain.
Satu jam kemduaian kedua orang tua Tania dan Aldy berpamitan untuk pulang karena ingin meletakkan semua barang-barang yang mereka bawa dari Indonesia.
"Are you oke?" tanya Tania pada sang grandpa.
"I don't know, you can see ...." ucapan serak Berrold terhenti karena dirinya tidak sanggup mengatakan bagaimana kondisi istri tercintanya.
"Please don't cry, we must be sure that Grandma will wake up soon," ucap Aldy meyakinkan sang grandpa bahwa grandmanya akan segera bangun.
Dari balik kaca jendela Tania dan Aldy memeluk sang grandpa seraya mereka menatap sang grandma yang terbaring lemah di atas brankar dengan di penuhi alat-alat medis lainnya.
..........
Sanjaya dan Sofia sekarang sudah sampai di mansion milik sang daddy yaitu Berrold kemudian mereka meletakkan barang-barang bawaan mereka.
"Mah, Papa mau bicara! Gimana kalo kita tinggal di sini lagi?" tawar Sanjaya dan Sofia menghentikkan bongkaran barang-barangnya lalu menatap sang suami yang duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Mama tahu Papa khawatir sama Mom, untuk sementara waktu kita berdua bisa tinggal di sini tapi Tania sama Aldy harus tetap di Indonesia karena mereka harus menyelesaikan pendidikan sekolah mereka di sana." ucap Sofia.
"Mereka bisa pindah ...."
"Udah cukup Pah! Kita emang keluarga terpandang tapi bukan berarti kita bisa mengatur pendidikan mereka dengan berpindah-pindah tempat sekolah terus-menerus," ucap Sofia karena selama ini Sanjaya selalu memindahkan sekolahan Aldy dan Tania lebih dari delapan kali sejak mereka sekolah dasar.
"Apa kamu masih tarauma sama kejadian di masa lalu? Jangan khawatir Mah, Aldy sama Tania udah berbuah," ucap Sanjaya membuat raut wajah istrinya berubah datar.
"Mama cuma enggak mau mereka kayak dulu lagi, Pah." ucap mama Sofia mengingatkan kejadian di mana sang suami memindahkan sekolah Aldy dan Tania di Los Angeles.
Masa di mana Aldy dan Tania masih Sekolah Dasar, mereka di sekolahkan di Amerika tepatnya di kota Los Angeles namun selama itu mereka berdua menjadi bebas karena kuasa sang grandpa, karena merasa berkuasa dan juga hebat, ada kejadian di mana Aldy dan Tania pernah melukai seorang anak dari keluarga terpandang hingga anak itu kritis dan mengalami lumpuh di bagian kaki kirinya.
Ayah dari anak itu sungguh tidak terima dengan tindakan Aldy dan Tania, dan mengancam akan membalas dendam hingga akhirnya ayah dari anak itu tahu bahwa Aldy dan Tania adalah cucu dari Maxim Berrold Sinaja. Pasrah! Itulah yang terjadi dengan ayah dari anak itu, ia tidak akan bisa melawan Berrold karena ia tahu Berrold bukanlah tandingannya.
Sebenarnya tindakkan Aldy dan Tania bukan hanya itu saja, masih banyak lainnya. seperti memalak, mengancam, bahkan sampai memukulpun pernah mereka lakukan.
Hal itulah yang membuat Sofi khawatir dan memberi hukuman kepada mereka berdua dengan cara memisahkan mereka, yang satu di Indonesia dan yang satunya lagi menetap di Amerika. Dan tentunya tindakkan Sofi berhasil membuat mereka sedikit lebih baik tapi itu belum sepenuhnya membuat mereka berubah total.
"Oke! Kita akan bicara sama mereka berdua nanti," ucap Sanjaya mengalah.
.........
...15 : 20 PM....
Dito, Bobby dan Abdi sekarang berkumpul di cafe Gourmet, di mana tempat itu adalah tempat tongkrongan anak-anak muda.
"Tumben Aldy sama Tania izin, kira-kira mereka ke mana ya?" tanya Bobby merasa kesepian karena tidak ada kedua adik-kakak itu.
"Kakek sama neneknya di Malaysia, mungkin mereka ke sana," ucap Dito menerka.
"Ngapain mereka ke Malaysia, kakek sama neneknya 'kan sering ke Bandung, o'on!" ucap Bobby.
"Kalo kata lo, mereka ke mana Di?" tanya Dito menatap pada Abdi yang hanya diam saja sejak tadi.
"Ke tempat Grandma sama Grandpa mereka mungkin," sahut Abdi.
__ADS_1
"Kalo mereka kangen sama Grandma Bert atau sama Grandpa Berro, mereka 'kan bisa video call aja," ucap Dito.
"Telepon aja deh biar jelas," ucap Bobby.
"Ide bagus." ucap Dito mengambil handphonenya di atas meja lalu mencari kontak Aldy lalu menghubunginya.
"Gimana?" tanya Bobby setelah beberapa detik menunggu dan Dito menggelengkan kepalanya.
"Di luar jangkauan," ucap Dito.
"Coba lagi," ucap Bobby sehingga Dito menelepon Aldy beberapa kali namun hasilnya tetap sama selalu di luar jangkauan.
"Coba hubungin Tania," ucap Bobby dan Dito langsung menghubungi Tania namun hasilnya nomor Tania tidak aktif.
"Mbak operatornya bilang nggak aktif." ucap Dito kesal.
"Udah nggak usah ganggu mereka, siapa tahu mereka lagi ada urusan di sana," ucap Abdi pusing dengan kedua sahabatnya yang super kepo itu.
"Gue ngerasa aneh aja sih, karena tumben-tumbenan banget mereka pergi nggak kasih kabar kita bertiga, tahu-tahu dapet kabar aja mereka izin sekolah." ucap Bobby.
"Udah lah! Dari pada kita mikirin masalah Aldy sama Tania, mending lo bayar tagihan makanan kita, itu 'kan lebih menguntungkan bagi kita." ucap Dito.
"Enak aja lo nyuruh-nyuruh gue, itu mah menguntungkan buat lo doang tapi malah merugikan buat gue," sengit Bobby.
"A'elah sekali-sekali nyari pahala lo, Bob." ucap Dito kerena memang Bobby adalah orang yang paling pelit kalo so'al uang dan makanan.
"Biar gue yang bayar," lerai Abdi mengeluarkan kartu kredit berwarna platinum miliknya.
"Nih gue kasih kartu termehong, bayar sono," titah Dito seakan-akan kartu itu mililknya.
"Sialan lo, gue juga yang di suruh," umpat Bobby mengambil kartu milik Abdi.
.......
.......
__ADS_1
.......
...😣😣😣 Bersambung 😣😣😣...