
Hari berikutnya, Karamel sudah mendarat di Bandara Internasional Pearson Toronto bersama beberapa bodyguard suruhan Leo, bahkan Jessy sudah stand by menunggu kedatangan Karamel di Kanada.
"Are you ready, Kara?" tanya Jessy.
"I don't know ...."
"Percayalah, Henry sangat mencintaimu, dia akan sangat merasa bersalah karena membuat orang yang dia cintai kecewa." ucap Jessy.
"Jessy, aku minta maaf karena diriku, Henry sampai melupakanmu." lirih Karamel.
"Aku yang bod*h karena membiarkan orang yang aku cintai menyelesaikan perintah daddynya sampai ia menaruh hati padamu dan melupakan aku," kata Jessy.
"Henry tidak pantas untuk kita cintai, Jessy. Aku yakin kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Henry," ucap Karamel membuat Jessy mengangguk tersenyum.
"Aku tidak tau, Kara. Hidupku sudah hancur karena Henry, laki-laki manapun tidak akan mungkin mau bersanding denganku, pilihanku adalah Henry, jika Henry di beri kesempatan untuk hidup maka aku akan menjaganya namun jika takdir Henry harus mati maka aku akan ikut bersamanya juga." batin Jessy lirih.
Setelah sampai di apartemen entah milik siapa—Karamel juga tidak tahu, Karamel pun langsung beristirahat di dalam kamar.
"Apa kau lelah, Kara?" tanya Jessy di pintu.
"Lumayan," sahut Karamel.
"Istirahatlah, batasmu hanya sampai malam ini saja," ucap Jessy.
"Malam ini? Apa itu maksudnya rencana kita akan di mulai malam ini?" tanya Karamel langsung mengambil posisi duduk.
Jessy berjalan menghampiri Karamel.
"Aku sudah meminta Rega Ananda untuk memberiku waktu bersama Henry nanti malam, jangan sia-siakan kesempatan kita Karamel Listra," ucap Jessy duduk menghadap Karamel.
"Jika di rumah Henry ...."
"Tidak! Aku dan Henry akan pergi ke restoran yang sudah aku tentukan," ucap Jessy.
"Pengaman di sana pasti sangat ketat ...."
"Kau tenang saja, semua bodyguard sudah aku siapkan. So, ketika kau muncul di depan Henry nanti, kami semua akan berpura-pura tidak melihatmu agar Henry percaya bahwa yang bisa melihatmu, hanya dirinya seorang." ucap Jessy cepat.
"Kau beritirahatlah dulu, aku akan pergi sekarang dan untuk lokasinya, aku akan kirim padamu nanti sore." ucap Jessy dan di balas anggukan oleh Karamel.
Ketika Jessy keluar kamar, Karamel mengeluarkan ponsel yang di balikan oleh Leo di Irlandia kemudian Karamel menghubungi Leo lewat video call.
"Udah sampe?" tanya Leo di seberang.
"Hem," sahut Karamel menganggukkan kepalanya dua kali.
"Lagi apa?" tanya Leo.
"Duduk di kamar bernuansa abu-abu," ucap Karamel membuat Leo berusaha menahan tawanya karena ia yakin, Karamel pasti tidak tahu kamar itu milik dirinya.
"Ohya mana Kak Kenzi sama Aza?" tanya Karamel tiba-tiba.
"Mereka lagi sibuk mainin barang-barang aku, dasar bocah." ucap Leo membuat kedua alis Karamel naik.
"Heh kentut bunglon, jangan asal ngadu ya lo sama Kara, gue tembak, mati lo." suara Kenzi yang terdengar jelas di telinga Karamel.
__ADS_1
"Nembak? Mainannya pistol?" tanya Karamel dan di balas anggukan oleh Leo.
"Hati-hati," ucap Karamel memperingati Leo membuat Leo menaikkan sebelah alisnya aneh.
"Kenapa?" tanya Leo.
"Ya mereka 'kan dulu pernah kecewa sama kamu, siapa tau aja jiwa iblia mereka muncul trus nembak kamu deh," ucap Karamel sehingga Leo terkekeh di buatnya.
"Mereka gak akan bisa bunuh aku," ucap Leo, sombong dia mah.
"Iya deh, pimpinan mafia hebat nomor satu," sahut Karamel memutar bola mata malas.
"Ohya, aku denger dari Jessy nanti malem aksi kalian bakal di mulai ya?" tanya Leo membuat Karamel diam beberapa saat.
Padahal tujuan Karamel menghubungi Leo karena ingin memberitahu rencana yang tadi di sampaikan Jessy padanya tapi ternyata dirinya kalah cepat dari Jessy.
"Ternyata Jessy udah lebih dulu ngasih tau kamu ya," ucap Karamel tersenyum kaku, Leo menyipitkan matanya seperti sedang mencari sesuatu dari gelagat Karamel yang sedikit aneh.
"Kamu nelpon aku, mau ngasih tau hal yang sama ya?" tanya Leo menyelidik.
"Aku ngerasa ragu, gimana kalo rencananya gagal gara-gara Henry gak percaya sama hal-hal hantu gentayangan?" tanya Karamel.
"Aku yakin kamu pasti bisa ngelakuinnya, Kara. Kamu sama Jessy cuma punya waktu empat hari buat Henry percaya kalo arwah kamu gak tenang dengan cara terus gangguin dia," ucap Leo meyakinkan Karamel.
"Kamu tenang aja, kita bertiga bakal secepatnya nyusul kamu ke sana, biar setelah itu kita semua sama-sama nyerang Rega Ananda, oke." ucap Leo tersenyum manis.
"Jangan khawatir, Ra. Rencana Polar prince pasti berhasil, ya 'kan Ken." pekik Faza dari seberang sana
"Jangan di puji, gak liat tuh lubang idung Leo makin lebar gara-gara lo puji rencana dia pasti bakal berhasil," sengit Kenzi membuat Leo membulatkan matanya, dan Karamel pun tertawa keras.
Malam pun tiba, Karamel sudah cukup puas beristirahat selama beberapa jam. Kini saatnya Karamel pergi ke tempat yang sudah di tentukan oleh Jessy.
"Emang gaya ginian gak terlalu mencolok apa ya?" gumam Karamel melihat pakaian yang ia pakai serba putih lalu wajah yang di makeup pucat.
"Yang lebih mencolok jika Nona memakai pakaian mewah dengan makeup yang tebal, Nona." canda sang supir membuat Karamel tersenyum.
"Jadi menurut bapak, tampilanku yang sekarang sudah cocok menjadi hantu gentayangan?" tanya Karamel.
"Eh ... tidak Nona, ma maksud saya ...."
"Haha ... aku menanyakan pendapat bapak tentang tampilanku bukan menuduh bapak yang sedang mengejekku, ucap Karamel.
"Maaf Nona," ucap sang supir.
"Bagaimana? Apa sudah cocok, Pak?" tanya Karamel lagi.
"Su-sudah Nona." sahut sng supir gelagapan.
"Oke, Sempurna!" gumam Karamel.
Sesampainya di sebuah gedung yang di sewa Jessy, Karamel langsung di kawal bodyguard Jessy untuk lewat ke jalan yang tidak ada CCTVnya.
"Apa Jessy dan Henry sudah datang?" tanya Karamel pada salah satu bodyguard Jessy.
"Belum Nona, Nona Jessy memerintahkan kami untuk membawa anda ke lantai VVIP yang akan di pakai oleh Tuan Henry dan Nona Jessy nanti." sahutnya.
__ADS_1
"Oke." Karamel hanya bisa patuh.
Setelah Karamel di tempatkan di posisinya, kini Karamel tinggal menunggu kedatangan Henry dan Jessy.
Tak lama kemudian Henry dan Jessy sampai dan langsung duduk di tempat yang sudah di tata rapi.
"Kenapa kau harus melakukan ini semua, Jessy. Kita bisa makan di mansionku ...."
"Setelah setahun lebih kita tidak bertemu, bukankah kau bahagia karena bertemu denganku lagi, Sayang?" goda Jessy namun tidak ada respon apapun dari Henry.
"Sebelum kita makan malam aku ingin bertanya padamu," ucap Jessy menahan gejolak sakit di dadanya kala Henry-nya yang dulu telah berubah sikap kepadanya.
"Apa?" tanya Henry datar.
"Aku mendengar berita dari Paman Regan bahwa istri pajanganmu itu sudah meninggal bebetapa hari yang lalu," ucap Jessy, dan Henry langsung mengepal tangannya.
"Kau sudah tahu bukan, jadi untuk apa kau bertanya lagi." ucap Henry datar.
"Apa kau merasa sedih karena istrimu meninggalkan ...."
"Cukup, Jessy. Aku tidak mau membahas so'al ini," ucap Henry meninggikan suaranya.
"Ah kau tidak mau membahasnya tapi Paman Regan mengatakan kau hampir mengubah rencana kita dengan membiarkan keluarga istrimu mati namun tidak dengan istrimu, Sayang." ucap Jessy memancing Henry untuk mengungkap kebenaran yang ada.
"Jika aku ...."
"Jika kau mencintainya, itu akan percuma karena apa? Karena kau mau membunuh seluruh anggota keluarganya, Sayang. Aku yakin jika dia masih hidup dia akan sangat kecewa dengan suaminya." ucap Jessy membuat Henry menggertakkan giginya.
"Aku memang sudah mencintainya tapi aku akan tetap membunuhnya, karena perintah Daddy adalah amanah yang harus aku jalani, termasuk menjadikanmu kekasihku, Jessy." ucap Henry.
Degg! Detak jantung Karamel berdegup sangat kencang, Henry sudah mencintainya namun Henry lebih memilih untuk menjalani amanahnya dari pada mempertahankan cintanya.
"Kau sangat kejam, Henry. Kau akan menyesali perbuatanmu karena aku tidak akan pernah mengampunimu." gumam Karamel mengepal tangannya dengan tatapan kebencian.
"Jangan menyalahkan paman Regan, Sayang. Kau lah yang menjeratku dalam cintamu hingga pertemuan antar daddyku dan daddymu terjadi dan kita berdua di jodohkan oleh mereka." ucap Jessy tersenyum sinis.
"Dua belas tahun yang lalu kau yang mengejarku duluan, Sayang. Jangan lupa akan itu." sambung Jessy membuat Henry mengeraskan rahangnya sedangkan Karamel terbelalak mendengar pernyataan Jessy.
Lalu Jessy menepuk tangannya dua kali dan beberapa pelayan pun datang menyajikan makanan untuk mereka berdua.
"Bedeb*h, ternyata kau lebih dulu menjerat Jessy, aku sangat membencimu, Henry. Sangat membencimu." gumam Karamel dengan rahang yang mengeras.
Ketika itu, handphone Karamel menampilkan satu pesan dari Jessy.
Jessy (09 : 22)
Bersiaplah, Kara.
"Aku sudah siap Jessy," gumam Karamel.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...