Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 168 (Takdir)


__ADS_3

Setelah mengobrol sepanjangan, Aryan pamit pada Leo dan Leo juga langsung masuk ke ruang perawatan Karamel.


Leo melihat Karamel masih tidur, namun yang sebenarnya Karamel hanya memejamkan matanya saja. Leo duduk di kursi samping brankar lalu Leo menggenggam tangan Karamel yang sudah di penuhi oleh keringat.


"Kapan kamu akan bangun sayang?" tanya Leo menempelkan tangan Karamel ke pipinya.


Perlahan Karamel membuka matanya, namun Leo tidak melihatnya karena Leo memejamkan matanya. Karamel berusaha menahan perasaan yang berkecamuk di hatinya.


"Le-Leo" panggil Karamel sontak membuat Leo membuka matanya.


"Sayang, kamu udah ... aku manggil dokter ...." perkataan Leo berhenti saat Karamel menggenggam erat tangannya.


"Kenapa hem?" tanya Leo pelan,


Karamel menggelengkan kepalanya lalu Karamel berusaha untuk bangun dan dengan sigap Leo membantu Karamel untuk mengambil posisi duduk.


"Kondisi kamu lagi me ...."


"Sejak kapan aku hamil?" Karamel memotong perkataan Leo, hingga Leo menjadi speechlees di buatnya.


Dari mana Karamel tau tentang kehamilannya? Apa Karamel mendengar pembicaraannya dengan kak Aryan? Fikir Leo.


"Jawab aku, sejak kapan aku hamil?" tanya Karamel lagi, Karamel mencoba untuk menahan air matanya. Ini menyakitkan, sangat menyakitkan tapi sungguh Karamel tidak mau dirinya menjadi lemah.


"Seminggu empat hari," jawab Leo menundukan kepalanya, Leo merasa dirinya adalah penyebab hilangnya anak Karamel hingga saat Karamel tahu tentang kehamilannya, Leo tidak punya nyali lagi untuk menatap mata Karamel.


"Waktu aku masih di Kanada, aku udah mengandung anak Henry, da-dan aku enggak tau itu?" lirih Karamel tidak mampu menahan air matanya lagi.


"Maafin aku Kara, karena nolongin aku, kamu jadi kehilangan anak kamu." ucap Leo masih dalam keadaan menundukkan kepalanya.


Karamel tidak mendengar ucapan Leo, perasaannya kacau, hatinya hancur, sangat-sangat hancur.


"Agghhhhh ... hiks ... hiks ....!" Karamel berteriak sembari memegangi perutnya.


"Kenapa kau mengambil semuanya dariku, Tuhan. Vian, Grandma, Mama dan kini anakku. Kau mengambil semuanya Hiks ... hiks ....!" pekik Karamel, katakanlah leader mafia nomor dua ini menjadi lemah sekarang. Hatinya memang hancur sehancur hancurnya. Dirinya tidak bisa lagi harus berpura-pura kuat.

__ADS_1


Saat Vian pergi meninggalkannya, Karamel mencoba untuk sabar dan ikhlas. Dan insiden kepergian Grandma Berrty dan mama Sofia, Karamel berusaha tetap tegar dan kuat. Lalu sekarang, anak yang ada di dalam rahimnya telah pergi jauh dari hidupnya. Bagaimana lagi Karamel akan bersikap kuat dan sabar setelah ini.


Tidak bisa!


Karamel adalah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran dan juga kekuatan. Dirinya bisa merasa lemah karena orang-orang yang ia cintai pergi menjauh dari dirinya.


Mendengar teriakan Karamel, Leo bangkit dari duduknya lalu Leo memeluk Karamel.


"Kenapa Tuhan ngasih cobaan tiada henti, Leo. Kenapa Tuhan biarin aku menderita! Kenapa hiks ... hiks ...." lirih Karamel dalam pelukan Leo.


Leo tidak menjawab karena dirinya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya sudah cukup mewakili betapa sakit dan hancurnya Leo, melihat sang istri bersedih seperti sekarang.


"Maafin aku, maafin aku sayang. Maaf!" Leo hanya bisa membalas dengan membatin saja.


Satu jam berlalu! Berkat Leo, kini Karamel sudah mulai tenang. Dirinya sudah bisa mengontrol emosinya. Walau Karamel masih merasa terpukul tapi dirinya mencoba tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


"Di mana Babas?" tanya Karamel pada Leo yang masih menundukan kepalanya.


Ternyata dugaan Leo benar, Karamel tahu tentang kehamilannya pasti dari obrolannya dengan Aryan tadi.


"Udah pulang," jawab Leo.


Karamel menghela napas gusar, kenapa suaminya itu terus-menerus menundukan kepalanya? Kenapa suaminya tidak mau menatap matanya? Lalu nada bicaranya, kenapa nada bicaranya seperti ketakutan? Karamel menjadi kesal oleh suaminya sendiri.


"Hubungi Clara, kita selesaiin semuanya sekarang." ucap Karamel membuat Leo kaget, namun tetap Leo tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sang istri.


"Keaadan kamu lagi lemah ...."


"Apa kamu fikir aku selemah itu?" potong Karamel dingin.


"Aku kehilangan anak aku karena Clara ngejebak kamu, kalo aja Clara nggak ngasih obat perangsang buat kamu, semua ... aku mungkin enggak akan kehilangan anak aku." ucap Karamel dingin, Karamel sudah tidak bisa berbaik hati dengan Clara.


Semakin Clara di beri hati, semakin besar juga keinginan Clara untuk menggapai hal yang lebih. Dan keinginan itu adalah tubuh suaminya dan juga jiwa suaminya. Karamel tidak akan memaafkan wanita licik itu.


"Maafin aku, Kara." lirih Leo, Karamel menatap sayu kepala Leo yang menunduk.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Karamel.


"Aku buat kamu kehilangan anak ...."


"Bukan, aku kehilangan anak aku bukan karena kamu." potong Karamel, apa salah Leo? Suaminya itu di jebak dan dirinya membantu suaminya sendiri, lalu salah Leo ada di mana?


"Angkat kepala kamu kalo kamu enggak mau aku sedih," pinta Karamel lirih.


Leo ragu untuk mengangkat kepalanya, jika Leo menatap mata Karamel, hatinya pasti akan hancur mengingat betapa sedihnya Karamel atas kehilangan anaknya.


"Aku mau nyelesaiin semuanya sekarang, Leo. Aku mohon angkat kepala kamu," pinta Karamel mulai berkaca-kaca.


Entahlah! Karamel merasa tidak tega melihat Leo menyalahkan dirinya sendiri, hatinya sakit saat Leo tidak mau menatap matanya.


Perlahan Leo mengangkat kepalanya untuk menatap Karamel, Wajah pucat Karamel tersenyum menatap Leo namun Leo tahu senyuman itu hanya di paksakan agar kesedihan yang ada dalam diri Karamel tidak terlihat olehnya.


"Maafin aku, Sayang!" lagi-lagi Leo meminta maaf kepada Karamel, karena Leo tidak bersalah maka Karamel menggeleng kepalanya.


"Enggak lagi, jangan ngomong maaf lagi. Aku udah ikhlas karena aku yakin Tuhan jauh lebih sayang sama dia," ucap Karamel menyentuh pipi Leo yang di basahi air mata.


"Aku tau kamu ngerasain apa yang aku rasain," ucap Karamel dengan lirih.


"Leo, aku mau hidup bahagia sama kamu karena aku cinta sama kamu, aku percaya sama kamu dan maaf karena dulu aku pernah kecewa sama laki-laki sebaik kamu, aku ... aku cuma mau hidup bahagia sama suami aku jadi ayo hentikan semua ini, kita mulai semuanya dari awal lagi ya." pinta Karamel dan Leo mengangguk cepat.


Leo menempelkan keningnya dengan kening Karamel, "Setelah ini aku janji bakal buat kamu bahagia, Kara." ucap Leo membuat Karamel tersenyum.


"Kalo perlu, aku bakal tanam benih di disini secepatnya," bisik Leo menyentuh perut Karamel dan itu membuat Karamel terbelalak kaget.


Sungguh memalukan, di saat situasi sedih seperti ini. Leo malah membuat Karamel tidak bisa menahan malunya.


"Benih?!" batin Karamel menelan salivanya. Sungguh wajah Karamel menjadi panas karena ucapan Leo barusan.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2