
Setelah sepanjangan mengobrol, kini Abdi berpamitan dengan Firgy untuk pulang ke apartemennya.
"Kalo butuh sesuatu hubungin aja, gue bakal dateng bantu lo," ucap Abdi pelan dan Firgy mengagguk.
"Pasti," sahut Firgy.
"Ya udah gue balik," ucap Abdi.
"Hati-hati ya, Di." sahut Firgy membuat Abdi kembali tersenyum dan mengangguk.
Setelah Firgy mengantar Abdi keluar, Firgy langsung bernapas lega sembari memegangi detak jantungnya yang berdegup kencang.
"What's wrong with him?" gumam Firgy bingung dengan tingkah Abdi yang berbeda dari biasanya.
Di sisi lain tepatnya di dalam lift, Abdi tersenyum mengingat raut wajah Firgy yang tampak kebingungan akan perlakuan hangatnya tadi.
"Ini baru permulaan, Firgy." gumam Abdi.
...................
...Singapura _ 11 : 45....
Setelah perjalanan yang cukup panjang, Leo dan Karamel akhirnya sampai juga di mansion milik keluarga Mahendra, lebih tepatnya aset milik papanya Leo.
"Jangan gugup, oke," ucap Leo sehingga Karamel menganggukkan kepalanya.
"Kita masuk sekarang," Leo mengajak Karamel masuk ke dalam mansion.
Pintu mansion itu tidak tertutup jadi Leo dan Karamel bisa masuk tanpa harus memencet bell terlebih dahulu.
"Mama," panggil Leo melihat sang mama yang sedang berbicara di telepon.
Ayyara membalikan badannya.
"Okay doctor, I leave everything to you." akhir ucapan Yara di telepon lalu memastikan sambungan teleponnya.
"Kamu sudah datang, Sayang. Kamarilah, Nak." ucap Yara dan Leo menghampiri sang mama dengan terus menggenggam tangan Karamel, lalu Leo memeluk sang mama yang sudah beberapa bulan tidak ia temui.
"Mama merindukanmu, Sayang." ucap Yara menepuk punggung sang anak.
"Leo juga sangat merindukan Mama." sahut Leo lalu melepaskan pelukannya.
"Oh iya Mah, Leo mau ...."
"Kau sudah datang?" suara dari Prasetya menghentikan Leo bicara.
__ADS_1
Leo menoleh ke arah tangga lalu Leo tersenyum, "Iya, Pah." sahut Leo.
"Siapa wanita yang kau bawa? Apa dia pengganti Jeffry, asisten pribadimu?" tanya Prasetya.
Leo kembali tersenyum, "Dia adalah ...."
"Tidak masalah jika dia asisten pribadimu, kita bisa makan siang bersama dengannya juga." potong Prasetya langsung berjalan menuju ruang makan.
Degg! Karamel merasa canggung dengan Prasetya yang sangat dingin dengan Leo.
"Jangan di masukan ke dalam hati ya, Nak. Papanya Leo memang sangat dingin orangnya," ucap Yara menyentuh pundak Karamel.
Karamel tersenyum mengangguk, "Ya sudah, ayo kita makan siang." ajak Yara.
..........
Selesai makan siang, di ruang keluarga Leo mengajak Karamel untuk duduk di sampingnya namun Prasetya menyindir Karamel dengan berkata 'Seorang asisten selayaknya tidak ada di tengah-tengah pembicaraan penting antar keluarga Leo'
Leo mencoba untuk mengatakan siapa Karamel yang sebenarnya namun Prasetya selalu memotong perkataannya hingga pada akhirnya Yara yang angkat bicara dengan membiarkan Karamel untuk tetap di sana.
"Jangan di permasalahkan lagi, Mas." ucap Yara membuat Prasetya bungkam.
"Mah-Pah, Leo mau bicara ...."
"Baiklah," sahut Leo dengan tangan yang terkepal kuat.
"Perusahaan kita di Jakarta sedang menjalin kerja sama untuk pembangunan sebuah hotel dengan perusahaan Clark Campions, lahan yang di gunakan itu milik CEO Clark Damyan dan Papa sudah menanam biaya besar untuk pembangunan hotel Gold Krystal," ucap Prasetya.
"Butuh waktu berbulan-bulan untuk membujuk Damyan menyerahkan lahan yang papa inginkan itu, Leo." ucap Prasetya.
"Dua minggu yang lalu Papa dan Damyan sepakat untuk menjalin kerja sama yang di syarati kau dan anak perempuannya akan menjalani hubungan kekasih." sambung Prasetya membuat Leo dan Karamel terbelalak kaget.
"Hu-hubungan kekasih?" batin Karamel gelagapan mendengar perkataan sang papa mertua.
"Apa maksud Papa ...."
"Agar hubungan antar kedua perusahaan menjadi lebih kuat, kau dan anaknya Damyan akan menjalin hubungan kekasih, Leo." potong Prasetya tegas.
"Tidak," tolak Leo penuh penekanan.
Hal inilah yang Leo benci ketika menjadi seorang pembisnis, demi nama perusahan masalah pribadinya akan menjadi taruhannya.
"Kau adalah CEO Binondra Group ...."
"Jika papa sudah menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepadaku dan aku adalah CEO Binondra Group, kenapa masalah kerja sama sebesar ini papa tidak mendiskusikannya denganku." sentak Leo membuat tubuh Karamel bergetar kuat.
__ADS_1
"Kau tidak boleh menolak ...."
"Ingatlah akan kesepakatan yang kita buat, jika aku menjadi CEO Binondra Group masalah pribadiku, hanya aku yang boleh menentukannya," sengit Leo memperingati sang papa akan janjinya.
"Lupakan so'al kesepakatan itu, ini demi nama perusahaan ...."
"Aku rela meninggalkan jabatanku sebagai CEO Binondra Group dari pada aku harus meninggalkan istriku dan menjalin hubungan dengan wanita lain," pekik Leo membuat Prasetya dan Yarra terkejut akan pernyataan sang anak.
"Apa maksudmu istri ...."
"Aku sudah menikah dan wanita yang Papa kira adalah asisten pribadiku, dia adalah istriku." tekan Leo menggenggam tangan Karamel.
"Jika Papa masih memaksakan kehendak Papa, maka Papa akan kehilangan penerus perusahaan Papa bahkan mungkin Papa akan kehilangan anak Papa." sengit Leo dengan tatapan amarah.
Mendengar itu Prasetya sangat terkejut, dulu Prasetya kehilangan anak sulungnya—Vian yang selalu Prasetya impikan untuk menjadi penerusnya kelak namun sekarang hanya Leo harapan Prasetya.
Jika Leo pergi, maka siapa yang akan meneruskan bisnisnya kelak?
"Ka-kau sudah menikah?" lirih mama Yara.
Leo menatap wajah sang mama lalu Leo mengangguk pelan, "Maafkan Leo, Mah. Leo sangat mencintai Karamel jadi Leo ...." perkataan Leo terpotong.
Prasetya menatap Leo dengan tatapan tajam, "Beginikah caramu memutuskan segalanya tanpa memberitahu Papa dan Mamamu, Leo." sengit Prasetya.
Leo menatap sang papa, "Kau memang boleh menentukan hidupmu sendiri tapi jika begini caranya, kau sama saja tidak memperdulikan keputusan kami sebagai orang tuamu, Leo." sentak Prasetya penuh amarah.
"Apa kau fikir tindakkanmu itu sopan untuk di lakukan?" tanya Prasetya.
"Maafkan aku, Pah. Tapi aku sangat mencintai Karamel, sama seperti Papa mencintai Mama. Jika Papa ada di posisiku, apa Papa mau melukai hati Mama dengan menjalin hubungan dengan wanita lain?" tanya Leo.
"Aku rasa tidak," sambung Leo.
"Kau sudah tidak menghargai Papa dan Mamamu lagi, Leo. Kau bertindak sesuka hatimu dan itu membuat Papa kecewa." ucap Prasetya.
Leo sangat jarang mendengar sang papa mengucapkan kata-kata yang bisa menyentuh hatinya, maka dari itu Leo lebih memilih menurunkan pandangannya dari pada harus melawan lagi.
"Jika itu keputusanmu, maka ke ....
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1