Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 234 (Takdir)


__ADS_3

"Lo fikir buat apa gue becanda?" tanya Dafa menarik paksa tangan Faza agar masuk ke kamar mayat itu, di susul oleh kedua orang tua Faza juga.


"Mom bangun, Mom hiks hiks ...." suara tangisan seorang gadis yang Faza kenal sedang memeluk salah satu mayat wanita.


"Dad, Gina mohon jangan tinggalkan Gina." tangis Gina terdengar sangat menyedihkan, hingga Lily di buat menangis juga.


"Maafkan Gina, Mom. Gina mohon maafkan Gina, Mommy–Daddy jangan tinggalkan Gina sendirian," ucap Gina di iringi tangis pilu.


"Gi-Gina !!!" panggil Faza menyentuh pundak Gina membuat Gina menoleh ke arahnya.


"Ba-Bang Faza, Bang Faza hiks ... hiks Mommy dengan Daddy Gina, Bang." lirih Gina terisak namun tidak melepaskan diri dari memeluk mayat sang ibu.


Faza merasa lega karena yang ia kira Gina telah meninggal ternyata malah kedua orang tua Gina yang meninggal namun Faza juga ikut bersedih melihat Gina menangisi kepergian kedua orang tuanya.


"Apa yang terjadi, Ly?" tanya Faza dan Lily menggelengkan kepalanya tak kuasa menjawab pertanyaan Faza.


"Aku tau bagaimana rasanya saat orang tercinta kita pergi meninggalkan kita," ucap Faza mengingat kejadian lama saat Karamel pernah membuat sandiwara bahwa dirinya telah meninggal dulu, sangatlah sedih.


"Tapi kau harus berusaha ikhlas dan jangan menangisi kepergian orang tuamu atau kau akan mempersulit mereka untuk berpulang, Gin." ucap Faza mengelus lembut kedua pundak Gina.


"Ini semua salah Gina," ucap Gina menyalahkan dirinya atas kematian kedua orang tuanya.


Lily menangis dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ini bukan salah lo, Gin. Justru lo udah berusaha keras buat mohon sama mereka tapi mereka yang enggak mau dengerin lo." ucap Lily membuat semua orang yang ada di sana penasaran, apa yang terjadi sebenarnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Ly?" tanya Faza pelan dan Lily berusaha mengatur napasnya.


"Hari ini gue berencana buat ngajak Gina keluar tapi waktu gue baru dateng ke rumah Gina, gue liat orang tua Gina lagi berselisih sama Gina di depan rumah mereka, sebenarnya gue enggak mau nguping tapi waktu gue denger Gina nyebut nama lo, gue jadi penasaran dan denger semua pembicaraan mereka." ucap Lily sembari air matanya terus mengalir.


"Maafkan Gina, Bang." lirih Gina terisak.


"Maaf buat apa?" tanya Faza.


"Gina baru tau kalo lo itu anak dari CEO Glenn Ramora yang kedua orang tuanya incar." ucap Lily.


"Ayahnya Gina frustasi gara-gara perusahannya di buat bangkrut oleh rekan lama yang pernah ia tipu dan beberapa minggu yang lalu ayahnya Gina dateng ke perusahaan Ramo Crishtopus untuk mengajukan kerja sama tapi Om Glenn ...." Lily menggantung perkataannya lalu melirik ke arah ayahnya Faza.


"Ayah menolak bahkan mengusir Ehsan dari perusahaan Ayah karena rekan lama yang Ehsan tipu dan membuat Ehsan bangkrut juga adalah teman baik Ayah." ucap Glenn dengan raut wajah datar.


"Dan ketika ayahnya Gina tau Gina deket sama lo, anaknya Om Glenn, ayahnya Gina maksa Gina buat bantu ngelancarin rencana mereka yang mau ngejebak lo dengan cara kakaknya Gina berpura-pura lagi hamil anak lo." ucap Lily membuat Santi, Glenn dan Faza terkejut.


Santi dan Glenn di buat naik pitam saat mendengar cerita Lily, inilah yang di takutkan Santi bila putra semata wayangnya dekat dengan anak dari keluarga Tuffilen si penipu itu.


"Gina menolak bahkan Gina memohon buat jangan ganggu kehidupan keluarga lo tapi ayahnya Gina malah mukul Gina dan terus maksa Gina sampai mereka bertiga pergi menuju kediaman lo, gue berusaha ngikutin mereka dari belakang tapi na'asnya di perjalanan mobil mereka di tabrak pengendara mobil yang mabuk bahkan remnya blong." ucap Lily berderai air mata kala mengingat dirinya menyaksikan langsung tebrakkan itu.


"Kalo gue enggak cepet-cepet mundurin mobil gue? pasti gue juga udah jadi korban tabrakan beruntun, Za." lirih Lily dengan tubuh yang bergetar.


"Shh shh shh! Jangan takut lagi, ada aku di sini." ucap Dafa memeluk tubuh sang kekasih.


Santi menatap Gina yang di penuhi banyak luka di bagian kening, mata, pipi bahkan sudut bibirnya juga lalu Santi melihat jari-jemari, lengan dan kaki Gina yang luka dan juga di penuhi banyak perban.


"Orang tua Gina kerja menipu orang hiks ... hiks ...." tangis Gina hingga tersedu-sedu.


"Gina baru tau orang tuanya koruptor, Za." ucap Dafa membuat tatapan Santi melembut.


"Mereka cakap ini hukuman orang tua Gina yang suka tipu banyak orang hiks ... hiks, Gina tak tahu kenape, kenape Mommy dengan Daddy Gina ... Gina Ssttt ...." kepala Gina terasa pusing, pandangannya pun berubah menjadi kabur.


Brugg ....


"Astaga, Gina!" pekik Lily refleks melepas pelukkannya dari Dafa.


...........


Setelah tadi Faza menggedong Gina hingga kembali ke ruang perawatannya, dokter langsung memeriksa keadaan Gina.


"Gina pasti terpukul banget," ucap Dafa memandangi wajah Gina yang pucat.


"Mungkin Tuhan ngambil kedua orang tua Gina karena Tuhan sayang sama Gina yang selalu diacuhin, dimarahin bahkan di jadiin kayak pembantu karena harus ngurus semua pekerjaan rumah." ucap Faza tidak melepas tatapannya dari wajah Gina.


"Mungkin juga Tuhan enggak mau para pendosa semakin banyak nambah-nambah dosa lagi, makanya Tuhan cepet-cepet ngambil kedua orang tua Gina." timpal Dafa masuk akal juga.


Brakkk ....


Tiba-tiba pintu ruangan di dorong keras oleh seseorang membuat semua orang terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu, seorang perempuan yang tidak mereka kenal namun Lily tampak melebarkan matanya kaget karena mengenali perempuan itu.


"Shila," ucap Lily memanggil nama perempuan itu.


Faza mengerutkan dahinya seperti sedang mengingat nama yang di sebut Lily, "Kayaknya gue pernah denger tu nama," batin Faza namun ingatannya begitu lemah.


"Siapa kau?" tanya Dafa.


"Kalian siapa, di mana Gina?" pekiknya memelotot marah.


Faza dan Dafa berdiri menutupi Gina. Waspada dengan Shila yang mungkin akan menyerang Gina secara tiba-tiba.


"Buat apa lo nyariin Gina, mau marah lo sama dia." Lily ikut membentak marah.

__ADS_1


"Dia pembunuh orang tuaku, aku harus bawa dia ke polisi." pekiknya dengan meneteskan air mata.


Lily berjalan ke arah Shila, "Lo enggak tahu kronologi kejadiannya gimana jadi lo enggak berhak nuduh Gina, paham lo." bentak Lily menunjuk wajah Shila dengan garang.


"Gue tahu pasti Gina yang udah sengaja bunuh orang tua gue." pekik Shila berbicara bahasa Indonesia dengan lancar.


"Heh! Kalo bukan karena nyokap–bokap lo yang maksa Gina, kejadiannya juga enggak akan ngerenggut nyawa orang tua lo, beruntung Gina masih bisa di selamatin. Kalo enggak, akibat dari kekeras kepalaan orang tua lo, semua keluarga lo tewas ninggalin lo hidup sendirian." sarkas Lily dengan emosi.


"Sekarang lo pergi urusin mayat orang tua lo atau gue bakal nendang lo keluar dari sini," ancam Lily memelotot.


Sebenarnya Shila datang ke ruang perawatan Gina karena Shila ingin memberi pelajaran para adiknya itu namun tanpa ia duga ternyata ruangan Gina ada banyak orang.


Jadilah Shila pergi dari ruang perawatan Gina dengan perasaan marah dan dendam yang amat besar.


Lily menghela napas panjang, "Siapa dia?" tanya Santi pelan hingga Lily menoleh ke arah bundanya Faza.


"Kakaknya Gina, Tante." sahut Lily.


"Kakak yang sama jahatnya kayak orang tuanya," tambah Lily dengan malasnya.


"Gue inget, Gina pernah cerita tentang kakaknya yang bagaikan tuan putri di keluarga mereka sedangkan Gina malah di anggap kayak pembantu mereka." ucap Faza dengan tatapan yang menerawang jauh ke depan.


"Itu dia, gue bahkan kepengen Gina jadi saudara perempuan gue aja tau enggak, biar tu nenek sihir tadi ngerasain hidup sendirian tanpa keluarga." sahut Lily dengan kesal.


Sejak tadi Santi diam, fikirannya di penuhi tanda tanya apakah perempuan yang bernama Gina ini benar-benar baik orangnya? Benarkah Gina selalu di perlakukan buruk oleh kedua orang tuanya? Apakah pandangan buruknya terhadap Gina terlalu berlebihan?


Entahlah, Santi menghela napas panjang lalu memilih untuk keluar dari ruang perawatan Gina, diikuti oleh sang suami juga.


"Bunda lagi memikirkan hal yang sama ya kayak Ayah?!" ucap Glenn duduk di bangku luar bersama sang istri.


"Apa Ayah mikirin tentang Gina?" tanya Santi bukan menyebut Gina sebagai 'Anak koruptor itu' lagi.


Glenn menganggukkan kepalanya, "Dafa, Lily dan Faza mengatakan Gina adalah anak yang baik, berbanding terbalik dengan kedua orang tunya yang jahat." ucap Glenn tersenyum tipis.


"Tapi Ayah ingin Faza mendapatkan pendamping yang tepat seperti kedua keponakan kita Kenzi dan Kara." harapan Glenn membuat Faza yang menguping di balik pintu memejamkan matanya sembari menghela napas gusar.


Lily dan Dafa yang melihat perubahan raut wajah Faza hanya bisa diam dan saling pandang saja.


"Andai Kara bukan sepupu gue," batin Faza lirih.


"Ini memang jahat tapi setelah Bunda fikir-fikir Bunda merasa lebih tenang karena kedua orang tua Gina sudah meninggal, walau keluarga Tuffilen di kenal keluarga yang jahat tapi tidak ada salahnya kita mencoba untuk melihat sikap Gina." ucap Santi menatap wajah sang suami, membuat Faza membelalakkan matanya.


"Bunda ingin mencoba menerima Gina?" tanya Glenn dan Santi menganggukkan kepalanya.


"Toh, Faza juga menyukainya 'kan." ucap Santi berubah fikiran ingin mencoba mengenal Gina lebih jauh. Sontak Faza menatap Gina yang sedang terbaring di brankar,


...........


...Indonesia_Jakarta...


...19 : 30...


Di ruang makan baik Kevin, Rendi maupun Becca sudah duduk menunggu Leo dan Karamel turun dari tangga.


"Ya ampun, harus banget ya Kakak Ipar nuntun Bos turun tangga sampai segitunya," cengo Becca membuat Karamel tersenyum malu karena ulah suaminya yang possessive itu.


Entah kenapa yang biasanya Kevin akan terlihat kesal melihat kedekatan Leo dan Karamel, kini Kevin malah terlihat biasa saja, "Dasarnya aja lebay," ejek Kevin.


"Kalo Becca udah hamil, lo juga pasti bakal possessive sama dia," sahut Leo membuat Kevin memelotot kaget namun Becca malah tersenyum genit menatap Kevin.


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu," emosi Kevin.


"Maksud Kakak Ipar kalo Becca hamil anak Kak Kevin, entar Kak Kevin juga bakal possessive sama Becca." ucap Becca menaik turunkan alisnya menggoda Kevin.


"Mimpi," ucap Kevin.


"Udahan dulu ya debatnya, kita makan malam dulu." lerai Karamel lalu mereka semua makan malam dengan tenang.


Setelah selesai makan malam, Becca lebih dulu pergi ke ruang keluarga dengan tujuan bermain handphone dan juga laptop.


"Woy bocah, santai banget lo main laptop sambil selonjoran, lagi ngapain lo?" pekik Rendi duduk di sofa tepatnya duduk di bagian kaki Becca yang sedang selonjoran.


Becca tidak menyahut karena fokus menatap dua layar handphone dan laptopnya, mata Becca begitu tajam menatap layar handphonenya lalu tangannya sangat gesit mengetik sesuatu di keyboard laptopnya.


"Anak buah kamu serius banget, lagi ngapain dia?" tanya Leo berbisik namun masih bisa di dengar Kevin dan Rendi.


Karamel menatap ke arah Becca, melihat keseriusan Becca seketika Karamel mengerutkan dahinya seperti sedang memikirkan suatu hal yang entah itu apa.


"Sial, cari mati mereka," umpat Becca tampak kesal.


"Kenape lo bocah?" tanya Rendi namun lagi-lagi Becca diam dan tetap fokus pada layar laptopnya.


"Becca," Karamel memanggil Becca dengan serius namun Becca bergeming dan memutar layar laptopnya ke arah Karamel.


Semuanya melihat peta di layar itu, tapi hanya Karamel yang paham maksud dari peta itu.

__ADS_1


Tak lama dari itu Becca memejamkan matanya sembari menutup kasar laptopnya, "Bos ...."


"Pergilah," sela Karamel hingga Leo, Kevin dan Rendi di buat bingung.


"Becca akan segera kembali," ucap Becca dengan serius kemudian Becca berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar rumah.


"Ke mana dia?" tanya Leo nmaun Karamel malah menatap ke arah Kevin.


"Kak Kevin enggak penasaran Becca mau ke mana?" tanya Karamel membuat Kevin tersentak karena baru saja tanpa sadar dirinya menatap kepergian Becca.


"Ke mana?" tanya Kevin refleks.


"Ciah mulai kepo dia," cibir Rendi.


"Kak Kevin boleh ikutin dia sekarang," ucap Karamel.


"Buat apa?" tanya Kevin.


"Ini kesempatan buat Kak Kevin lihat sisi lain dari Becca," ucap Karamel membuat Kevin berfikir sejenak.


"Gue enggak penasaran," sahut Kevin memalingkan pandangannya.


"Lah gue yang jadi penasaran dong," ucap Rendi menunjuk dirinya sendiri.


Karamel menatap Rendi, "Mungkin anak-anak jalanan itu di ganggu para preman-preman jalanan jadi Becca pergi buat nyelamatin mereka," ucap Karamel membuat tatapan Kevin melembut.


"Anak-anak jalanan?" beo Rendi.


Karamel menganggukkan kepalanya, "Bukan cuma satu atau dua preman tapi lawan Becca bisa sampai sepuluh preman ...." Karamel langsung diam kala Kevin bangkit dari tempat duduknya.


"Mau ke mana lo?" tanya Rendi namun Kevin hanya diam dan hendak pergi.


"Di jalanan ××××× ya Kak tempatnya." ucap Karamel memberitahu lokasi Becca.


"Tempat siapa tuh?" tanya Rendi.


"Becca," sahut Karamel.


"Kamu enggak khawatir sama anak buah kamu?" tanya Leo setelah Kevin pergi.


"Sebelum Becca kembali aku enggak akan mungkin bisa tenang tapi setiap kali aku mau bantuin dia, dia selalu nolak dan bilang enggak mau ngerepotin aku." ucap Karamel.


"Dan kamu tau, setiap dia kembali dari urusan pribadi dia, luka dan lebam selalu ada di bagian tubuh dia." kesal Karamel.


"Terus gimana sama Kevin? Dia 'kan enggak pernah tuh yang namanya ikut perang baku hantam." ucap Rendi khawatir.


Karamel tersenyum miring, "Kalo gitu Becca yang bakal ngelindungin Kak Kevin," sahut Karamel membuat Rendi cengo.


"Bisa-bisa mereka mati duluan, Kar." ucap Rendi.


"Do'ain aja semoga mereka selamat," ucap Karamel dengan tenang, toh pada akhirnya mereka akan selamat.


"Aku mau ke kamar bentar ya, Mas." ucap Karamel meminta izin.


"Biar aku antar ...."


"Enggak usah aku bisa sendiri, kamu temenin Kak Rendi aja ya." ucap Karamel bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menaiki tangga.


Di dalan kamar, Karamel mencoba untuk menghubungi seseorang dan setelah sambungannya terhubung, Karamel langsung memberi perintah pada orang itu.


"Perintahkan beberapa mafioso yang ada di markas untuk melindungi Becca dark jarak jauh," titah Karamel.


"Apakah Becca menantang nyawanya lagi?" tanya Daniel dengan malas.


"Tujuannya untuk menyelamatkan hidup orang lain, Daniel." ucap Karamel.


"Baiklah, Miss. Aku akan melaksanakan perintahmu." patuh Daniel kemudian Karamel mematikan sambungan teleponnya.


"Sebenarnya kalo Becca terluka juga udah biasa tapi kali ini ada kak Kevin, Becca pasti enggak akan biarin orang lain terluka karena dia," gumam Karamel.


"Ini gila sih, tapi semoga aja Becca dapat luka yang parah biar Kak Kevin bisa bantu ngerawat Becca di rumah sakit." ucap Karamel mulai kurang sehat karena berharap anak buahnya mendapatkan luka yang parah.


"Dan setelah itu mereka bisa lebih deket dan pacaran deh," gumam Karamel ternyata ingin mendekatkan Becca dan Kevin.


Tok tok tok ....


Karamel tersentak kaget saat pintu kamarnya di ketok oleh seseorang, "Dasar ratu iblis," ucapnya berdiri di ambang pintu menatap Karamel yang berdiri di depan jendela kamar.


Karamel memutar tubuhnya, "Sejak kapan kamu di situ?" tanya Karamel memelotot.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2