
...Mohon maaf disini ada kekerasan / pertarungan, dikira menurut para reader tidak pantas dibaca silahkan diskip ya.👌😬...
.......
.......
.......
Faza dan Tania melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Firgy, perjalanan mereka begitu mulus tidak ada rintangan cuaca ataupun lainnya hingga saat melewati jalan sepi, Faza dan Tania malah di cegat oleh beberapa pereman.
"Za?!" panggil Tania lirih.
"Nggak apa-apa," ucap Faza terpaksa menghentikan motornya karena jalanan sudah di tutup oleh motor enam pereman itu.
"Permisi, Abang-Abang! Kita mau numpang lewat," ucap Faza ramah.
"Lo fikir ini jalanan bapak lo apa, bisa lewat seenaknya aja, turun lo berdua." pekik salah salah satu dari keenam preman itu hingga Faza dan Tania turun dari motor.
"Cantik juga nih cewek," Tania mendengar gumaman salah satu pereman itu.
"Keluarin semua barang-barang berharga kalian, mulai dari dompet kalian, hp kalian dan kontak motor lo sekalian," ucap pria bertato di lengannya.
"Maaf, Bang ...." ucapan Faza terpotong.
"Heh! Di sini nggak ada kata penolakan." pekik pria bertato itu.
"Ini nggak bener, Bang. Memalak orang itu dosa, Bang." ucap Faza membuat Tania menaikkan sebelah alisnya, apakah Faza sedang ketakutan? Fikir Tania.
"Heh! Bocah jangan sok ceramahin kita, lo nggak tahu kita siapa?" pekik yang lainnya pada Faza.
"Tahu kok, pecundang 'kan," ucap Tania membuat Faza terbelalak. Gluk! Faza menelan salivanya kasar.
"Ngomong apa lo barusan?" pekik salah satu preman itu.
"Punya telinga tapi enggak bisa denger, mau gue bantu potongin?" tanya Tania sungguh berani membuat keenam preman itu naik pitam.
"Za, lo bisa berantem 'kan?" tanya Tania pada Faza membuat Faza diam. Ck! Tania berdecak kala Faza tidak merespon. Bugg! Tania menendang perut pereman bertato hingga jatuh ke aspal.
"Bos," pekik kelima permen itu.
"Ternyata bener dia bosnya," gumam Tania lalu menarik tangan Faza untuk menjauh dari preman-preman itu.
"Lo lawan dua dari mereka, biar gue yang lawan sisanya," ucap Tania.
"Gilak lo ya, lo aja yang lawan dua biar gue lawan sisanya sekaligus sama Bosnya." ucap Faza dan Tania hanya patuh saja.
"Gue nggak butuh bantuan bangs*t." Faza dan Tania mendengar pekikkan sang bos preman-preman itu.
"Hajar mereka," titah sang bos preman itu menunjuk Faza dan Tania.
Faza dan Tania saling tatap lalu mereka berdua mengangguk bersama setelah itu mereka bersiap akan melawan kelima preman itu.
Brug ...
Brug ...
__ADS_1
Tangan ketiga preman itu saling beradu satu-persatu dangan tangan Faza, begitu juga dengan kaki mereka saling tendang dan saling tangkis satu sama lain hingga Faza berhasil melumpuhkan dua di antara tiga preman itu.
"Huftt ...." Faza menghela napas untuk menetralkan rasa lelahnya, namun lawannya tersisa satu lagi.
..........
DI bawah lampu jalanan Tania sempat di goda manja oleh dua preman jalanan itu, "Gadis manis, dari pada kita bertarung lebih baik lo ikut kita ke markas saja." ucap preman itu.
"Bener dugaan gue," ucap Tania tersenyum sinis kemudian. Cuih! Tania meludah di wajah salah satu pereman itu.
"Jilat dulu tuh ludah gue," ucap Tania.
"Brengs*k," pekik preman yang di ludahi Tania lalu menyerang Tania.
Preman itu melayangkan pukulan ke arah wajah Tania namun Tania lebih peka dan menghindar ke samping kiri kemudian Tania menggenggam tangan preman itu lalu. Krek! memelintir tangannya ke belakang setelah itu. Brukk! Di tendangnya bokong preman itu hingga menabrak teman dari preman itu sendiri.
"Maju lo berdua," tantang Tania.
"Mati lo jala*g," pekik salah satu preman itu.
Kedua preman itu maju bersamaan dan menghajar Tania secara bersamaan, kedua preman itu melayangkan pukulan dan juga tendangnya ke wajah dan juga perut Tania. Begitu juga dengan Tania yang menangkis dan memukul balik kedua preman itu hingga salah satu dari mereka berdua bisa di taklukkan oleh Tania.
.........
Faza dan satu preman itu masih saling baku hantam, "Lumayan juga nih orang." batin Faza berhenti bertarung dan mundur beberapa langkah untuk mengontrol deru napasnya.
"Cape anak muda," ejek preman itu.
"Lumayan Kakek tua," sahut Faza dengan entengnya hingga preman itu membulatkan matanya marah karena di sebut sebagai kakek tua oleh Faza.
"Gilak, nggak ada aba-aba lagi nih orang," ucap Faza menangkap tangan preman itu.
Brugg! Perut Faza di tendang oleh preman itu, "Aghh! Uhuk uhuk ... gilak," umpat Faza memegangi perutnya.
Preman itu tersenyum penuh kemenangan saat menatap wajah Faza yang menahan sakit.
"Oke, waktunya pembalasan," ucap Faza mulai maju dan menghajar preman itu.
Faza dan preman itu sudah hampir penuh dengan luka tapi untungnya Faza hanya mendapatkan luka di sudut bibir yang berdarah dan kening lalu memar di bagian pipi kiri saja, lain halnya dengan preman itu yang sudah luka di bagian tangannya karena dorongan Faza yang sangat kuat hingga tangannya menyentuh aspal, bagian mulut yang mengeluarkan darah segar karena tendangan dan tinjuan Faza di bagian dada dan punggung preman itu, lalu memar di bagian pipi kiri dan kanan karena tinjuan Faza yang ia layangkan enam kali pukulan tanpa jeda.
..........
Preman itu sangat gesit dalam bertarung hingga beberapa kali Tania mendapat pukulan dari tangannya yang mengeni sudut bibirnya, tak mau kalah dari preman itu, Tania mencari sela kelemahan laki-laki itu. Brugg! Tania menendang bagian masa depan preman itu.
"Eghh ...." ringis preman itu bersimpuh di aspal.
Tania membuang ludah ke sembarang tempat lalu Tania maju beberapa langkah untuk lebih dekat dengan preman itu kemudian Tania menendang wajah preman itu dengan salto. Brugg! Preman itu terpental ke belakang bersamaan dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.
"Selesai," gumam Tania yakin bahwa preman itu sudah tidak sadarkan diri.
"Sayangnya belum, cantik." sahut seseorang dari arah belakang Tania membuat Tania membalikkan badannya untuk menatap siapa yang bicara dengannya.
"Hai, Bos," sapa Tania membuat orang itu tersenyum miring.
"Apa barusan kau memanggilku dengan sebutan Bos," ucapnya.
__ADS_1
"Katakan pada atasanmu, dalam waktu dekat dia tidak akan menginjakkan kakinya di bumi ini lagi," ucap Tania membuat preman itu mengerutkan dahinya.
Bagaimana wanita ini bisa tahu jika mereka masih ada atasan lagi? Fikir preman itu menatap tajam ke arah Tania.
"Aku tidak akan membiarkan musuh lamaku bebas malam ini," ucap Tania berlari untuk memukul preman itu.
Preman itu memelotot saat Tania melompat untuk menyerangnya tapi sayangnya Tania terjatuh ke aspal karena preman itu menghindar dari serangan Tania.
"Kau bukan tandinganku, gadis manis," remehnya pada Tania membuat Tania membalikkan badannya untuk berhadapan dengan preman itu, setelah itu Tania mengambil ancang-ancang untuk bertarung.
"Kau menantangku?" tanya preman itu juga mengambil ancang-ancang untuk bertarung.
Mereka berdua sama-sama menyerang satu sama lain, Tania memukul preman itu lalu preman itu menghindar begitu juga preman itu yang menendang Tania dan Tania menangkis dengan tangannya.
Cukup lama mereka bertarung hingga saat Tania lengah preman itu berhasil menyobek lengan Tania dengan pisau, "Hempp, Brengs*k," sengit Tania memegangi lengannya yang terluka.
Tania menoleh ke arah Faza, di lihatnya Faza masih melawan anak buah preman bertato itu, "Kau kalah, cantik," ucap preman bertato itu membuat Tania menatapnya dan preman itu mengarahkan pisaunya ke wajah Tania.
"Wajah cantikmu akan hancur malam ini," ucap preman itu mengangkat pisaunya dan akan menusukkannya ke wajah Tania. Brugg! Tapi tiba-tiba saja seseorang menendang tangan preman itu hinggan tangan preman itu terpental ke samping bersamaan dengan pisaunya yang terjatuh.
Preman itu menengok ke arah orang asing itu lalu. Brugg! Tubuh preman itu terpental ke samping karena tendangan dari orang asing itu tepat pada bagian pinggangnya kemudian orang asing itu berjongkok di depan Tania.
"Tanganmu terluka," ucap orang asing itu pada Tania.
"Bertahanlah sebentar," ucapnya bangun dan menghadap preman itu.
Tania menyaksikan bagaimana orang asing itu melawan preman bertato itu hingga preman itu mendapatkan luka dan memar di mana-mana, setelah beberapa menit bertarung preman itu akhirnya bisa di kalahkan oleh orang asing itu.
Di saat masih menahan perih di lengannya Tania tersenyum melihat orang asing itu.
"Biar ku bantu," ucap orang itu berjongkok di samping Tania lalu menuntun Tania bangun.
"Terima kasih," ucap Tania.
Brugg ...
Brugg ...
Tanua dan orang asing itu mendengar pukulan dan tangkisan dari arah lain, "Faza?!" panggil Tania ingin berlari menolong Faza tapi orang asing itu menahan Tania.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang membantunya," ucap orang asing itu.
Faza dan preman itu masih bertarung hebat, wajah dan tubuh mereka sudah di penuhi banyak darah tapi siapa sangka mereka berdua sama-sama kuat hingga belum di ketahui siapa yang akan menang di antara mereka. Krekk! Plakk! Faza terperangah karena tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dan membantunya dengan memukul preman itu,
"Mundur !!" pekiknya sehingga Faza mengikuti perkataan orang itu dan membiarkan orang itu melawan preman itu hingga preman itu pingsan olehnya.
"Terima kasih sudah membantu ...." ucapan Faza berhenti kala melihat wajah orang itu.
.......
.......
.......
..... Bersambung .....
__ADS_1