
Ke esokan harinya Karamel duduk santai di kolam renang sembari asik teleponan dengan sang abang yang kini kuliah dan tinggal di Malaysia.
"Bang, lo kenapa nggak kuliah di Indonesia aja sih?" tanya Karamel untuk kesekian kalinya.
"Cie kesepian lo ya, makanya ikut Kenzi ke Amerika, jangan nungguin Leo mulu lo." ejek Faza.
"Gue enggak nungguin dia lagi," ucap Karamel.
"Tumben ngelak," ejek Faza.
"Beneran gue nggak nunggin dia lagi, mungkin juga sih," ucap Karamel masih ragu karena perasaan wanita itu terhadap Leo masih sama seperti sebelumnya. Ia masih mencintai Leo!
"Kenapa coba nggak mau nungguin Leo lagi?" tanya Faza dengan nada mengejek.
"Enggak apa-apa, cuma kayaknya bakal sia-sia aja gue nungguin hal yang enggak pasti," ucap Karamel membuat Faza diam lama.
"Kenapa Ra?" tanya Faza pelan hingga menusuk jantung Karamel, wanita ingin menceritakan rasa sakit yang ia rasakan pada Faza namun dirinya tidak mampu untuk melakukan itu.
"Udahlah jangan bahas ...."
"Jangan panggil gue Abang lagi kalo lo enggak emang nggak mau cerita sama gue," ucap Faza mengancam.
"Cerita apaan ...."
"Nada suara lo serek, Ra, kasih tahu gue yang sebenarnya atau gue ke Jakarta sekarang." ucap Faza lagi-lagi mengancam.
"Lo tahu gue sering cengeng ...."
"Setiap lo nangis itu artinya lo lagi keinget Leo jadi kasih tau gue sekarang lo kenapa?" paksa Faza dengan nada tegas.
"Cari nama Jessy Mon Andrea di internet, lo bakal tahu jawabannya di situ." ucap Karamel pelan dan Faza hanya diam mendengarkan.
"Entar kalo udah tahu jawabannya jangan telepon gue ya, Bang." sahut Karamel cepat
"Kenapa emangnya?" tanya Faza.
"Intinya aja, lo jangan khawatir sama gue apa lagi sedih karena gue, gue ikhlas dan baik-baik aja, satu lagi lo nggak boleh marah dan nggak boleh benci sama dia, Oke!" ucap Karamel membuat Faza merasa cemas.
........ ........
...Perusahaan GV Del Nixon Internasional _ Malam...
Henry menutup laptopnya sembari merenggangkan kedua tangannya, sungguh melelahkan dan juga membuat badannya terasa remuk karena kerjaannya hanya duduk dan menatap layar laptop selama berjam-jam.
Henry mengalihkan pandangannya pada dua orang kepercayaannya yang sedang tidur di sofa lalu ia bangun dari tempatnya dan menghampiri mereka.
"Kalian berdua masih mau tetap tidur di sini atau kalian mau pulang sekarang?" tegur Henry membangunkan mereka berdua dengan menepuk bahu mereka satu-persatu.
"Bos kita menjadi gila karena cinta, Di." gumam Luhan mengigau membuat Henry membelalakan matanya.
"What the ... s*it! Apa yang kau katakan, aku gila?" pekik Henry.
"Enghh!" Andi menepis tangan Henry hingga Henry kembali membulatkan matanya.
"Kalian benar-benar membuatku marah sekarang." sengit Henry. Dengan sangat pelan agar mereka tidak bangun, Henry mengangkat kepala Andi dan Luhan untuk bisa sejajar hingga sudah pas, Henry langsung menyatukan kepala mereka berdua.
Duakk....
__ADS_1
"Akhh! Kepalaku." ringis Luhan memegangi kepalanya karena berbenturan dengan kepala Andi.
"Akhh, ****." umpat Andi mengelus kepalanya dengan sangat kuat.
"Sakit?" tanya Henry sehingga Luhan dan Andi mendongak menatap Henry.
"Bos?!" pekik keduanya.
"Bagus jika sakit, itu hukuman untuk kalian karena kalian berdua sudah berani mengigau dengan mengatai Bos kalian gila dan menepis tangan Bos kalian tanpa rasa takut." ucap Henry datar.
"Siapa yang mengigau?" batin Luhan tidak sadar jika dirinyalah yang mengigau.
"Siapa yang berani menepis tangan Bos?" batin Andi tidak sadar akan perbuatannya sendiri.
"Maaf Bos." ucap keduanya serentak.
"Kalian masih mau duduk atau mau pulang?" tegur Henry membuat Luhan dan Andi langsung bangun.
Henry dan dua kepercayaannya langsung berjalan ke arah lift pribadi Henry menuju basement.
..............
...Malaysia _ 23 : 04. PM...
Setelah berkumpul dengan bunda dan ayahnya, Faza langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur. Faza memejamkan matanya untuk iidur, Dua detik, empat detik, enam detik. Faza melebarkan matanya lalu bangun untuk mengambil ponselnya di atas nakas.
"Hampir lupa," gumam Faza sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Pria itu semakin memfokuskan matanya pada layar ponsel sampai beberapa menit kemudian Faza mematikan layar ponselnya.
"Gue nggak salah baca?" gumam Faza.
"Gue nggak salah lihat 'kan?" sambung Faza lagi lalu ia kembali menghidupkan layar ponselnya dan kembali mengamati apa yang sudah ia lihat tadi.
"Kenzi harus tau ini," guman Faza menghubungi adik sepupunya itu, ya Kenzi adalah adiknya karena usia Faza jauh di atas satu tahun dari Kenzi dan Kara.
"Ngapain lo telepon, gue lagi mau masuk kelas," ucap Kenzi malah tidak terima di telepon oleh Faza.
"Gue mau ngomong sama lo tapi lo harus dengarin dulu jangan langsung marah kayak orang kesurupan setan jahat." ucap Faza sedikit menyentak.
"Ngomong tinggal ngomong jangan bawa-bawa setan segala lo," ucap Kenzi tak kalah menyentak.
"Jangan main nyela lo ya," ucap Faza.
"Iya, apaan emangnya ?" tanya Kenzi tak sabaran.
Faza menghela napas panjang lalu ia menceritakan semua kejadian yang ia obrolkan dengan Kara dan juga informasi yang di berikan Kara kepadanya.
....... .......
...Amerika _ Los Angeles (09: 40 AM)...
Setelah mengakhiri panggilan, Kenzi membuka internet dan melihat berita tentang salah satu sahabatnya yang sudah bertunangan dengan model terkenal dari Inggris.
"Bukannya lo udah janji sama gue bakal bahagiain Kara terus Kenapa sekarang lo malah berhubungan sama cewek lain, Bangs*t," pekik Kenzi emosi.
Kenzi sangat sedih karena pengalaman cinta pertama sang adik harus kandas dengan sangat menyakitkan baginya, Kenzi tahu bagaimana sakitnya di tinggal oleh orang yang di cintai karena pria itu pernah mengalaminya.
"Gimana keadaan lo sekarang, Kara." gumam Kenzi menggenggam erat ponsel yang ada foto Leo dan Jessy.
__ADS_1
Kenzi di beritahu oleh Faza untuk tidak menelepon Kara karena Kara sudah memberitahukan keadaannya yang sudah ikhlas dan juga baik-baik saja.
Kenzi sangat marah tapi Faza mengatakan Kara melarang itu, Kenzi ingin membenci tapi Kara juga melarang itu.
"Gue kecewa sama lo, Le." kata itu yang bisa keluar dari mulut Kenzi.
..............................
...Indonesia_ Jakarta...
...Kediaman Keluarga Sinaja....
Kara sudah bangun juga sudah mandi dan langsung menunaikan ibadah salatnya hingga selesai.
"Udara segar kayak gini, enaknya jogging nih." gumam Karamel mengganti pakaiannya dengan tank top putih di padukan oleh jaket hitam berlengan panjang lalu celana hotpans hitam adidas, tak lupa Karamel juga memakai topi hip hop putih yang depannya bergambar mawar hitam dengan sepatu sneakers putih polos.
"Sempurna," gumam Karamel meletakan handuk kecil berwarna putih di lehernya kemudian Karamel keluar dari kamarnya lalu turun ke bawah.
"Non Kara," tiba-tiba suara bik Asih menghentikan langkah Karamel.
"Mau ke mana, Non?" tanya bik Asih.
"Mau godain om-om." ucap Karamel.
Agak heran dengan asisten rumah tangganya ini, tidak lihat 'kah Karamel memakai pakaian olahraga?
"Astaga Non, jangan atuh Non. Kasian pangeran tampan di duain sama om-om." sahut bik Asih membuat kara memakai handsfree iPhonenya lalu pergi tanpa membalas ucapan bik Asih lagi.
"Aduh Non Kara, kebiasaan kalo bibik ngomong langsung di tinggalin gitu aja," ucap bik Asih kembali ke dapur.
Masih di halaman rumahnya, Kara berlari kecil menuju gerbang utama, setelah sampai di gerbang utama Kara duduk sebentar di pos gerbang utama,
"Pagi Pak Idan, pagi Pak Andok," sapa Kara pada kedua security gerbang utama rumahnya.
Pak Idan dan pak Andok yang sedang duduk di dalam pos langsung mendekati sang majikan.
"Pagi Non Kara, mau olahraga pagi ya Non?" tanya pak Idan.
"Iya Pak, sebelum kuliah Kara mau lari pagi dulu," ucap Karamel.
"Nggak bawa bodyguard, Non?" tanya pak Andok khawatir.
Setiap Kara keluar dari rumah, akan selalu ada bodyguard yang mengawasi Kara dari kejauhan tapi kali ini Kara tidak sama sekali memakai pengawasan para bodyguardnya. Entahlah, Kara merasa agak risih jika di awasi terus.
"Enggak pak. Ya udah Kara keluar dulu ya pak," ucap Kara keluar dari gerbang utaman halaman rumahnya.
Kara sangat menikmati olahraga larinya hingga sudah cukup puas, Karamel pun berbalik arah untuk pulang ke rumahnya.
Ketika Karamel berputar arah menuju rumahnya, tiba-tiba saja langkah kaki wanita itu terhentikan oleh dua mobil hitam yang menghalangi jalannya, hingga seorang pria berpakaian formal turun dari salah satu mobil itu.
"Hai, Kakak Ipar," sapa pria itu membuat Karamel mengerutkan dahinya aneh.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...