
Leo mengeluarkan pistol dan juga belati kecilnya untuk menyerang mafioso Dark Cobra. Sedangkan Karamel memutar-mutar pistolnya dan mengarahkan pada beberapa mafioso Dark Cobra kemudian Karamel menembak ke arah tubuh para mafioso Dark Cobra hingga tumbang. Dorrr! Dorrr!
Leo berjalan mendekati mafioso Dark Cobra lalu Leo menyerang musuh yang mendekatinya. Dor! Srett! Srett! Krekk! Dorr! Bukk! Dengan lihai Leo menembak para mafioso Dark Cobra tepat sasaran hingga darah segar bercucuran di man-mana lalu menusuk dan menyayat tubuh mafioso Dark Cobra yang mencoba untuk menyerangnya dari jarak dekat.
Perlahan dua leader mafia itu mendekat ke tempat Henry dan Rega Ananda.
"Siapa kalian? Kenapa kalian ikut campur urusan kami! Hah?" pekik Andi tiba-tiba, sehingga Leo dan Karamel menghentikan langkah mereka.
"Jangan menghalangi jalan kami, Andi." sengit Karamel membuat Andi terbelalak.
"Kau ...."
Dorr! Andi tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Karamel sudah lebih dulu menembak bagian dadanya, masa bodo jika itu akan membuat Andi mati di tempatnya.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni anak buah bodoh sepertimu," sengit Karamel.
Karamel menatap Rega Ananda yang masih berusaha bertahan hidup dengan terus melawan para mafiosonya, tanpa menunggu lama lagi Karamel bergegas menyerang para anak buah Rega Ananda lalu menghampiri Rega Ananda dan mengunci tangannya di belakang dengan borgol lalu mengangkat pistolnya ke kepala Rega Ananda.
"Kau kalah, Rega Ananda," ucap Karamel.
"Lepaskan ...."
Dorr! Karamel menembak ke arah atas membuat Rega Ananda bungkam.
"Leader Dark Cobra telah di kalahkan," pekik sang pimpinan The Shadow Of The Queen lantang, tentu saja semua orang menatap ke arah Karamel yang sudah berhasil menangkap Rega Ananda.
"Daddy," pekik Henry membuat Karamel menatap tajam dirinya.
"Tangkap dia," titah Karamel dan para mafiosonya menangkap Henry dari belakang.
"Lepaskan aku brengs*k," pekik Henry memberontak.
"Bawa mereka ke markas sekarang," titah Karamel membuat Rega Ananda dan Henry terkejut mendengarnya.
Di balik topeng Leo tersenyum miring melihat Karamel yang begitu sangat tidak sabaran.
..............
Setelah para mafioso kedua mafia itu membawa Rega Ananda dan Henry ke markas, kini Karamel dan Leo datang dengan membawa sebuah kotak.
__ADS_1
"Apa kau sudah menghubungi Fico?" tanya Karamel pada Jessy.
"Sudah," sahut Jessy.
"Setelah Fico sampai, bawa dia ke ruanganku." titah Karamel berlalu pergi bersama Leo ke ruangannya.
Brakk! Tiba-tiba saja Karamel membanting pintu–membuat Leo tersentak kaget.
"Ada apa Kara?" tanya Leo membalikan badannya menghadap Karamel, lalu Karamel melepas topengnya sehingga terlihatlah kedua pipi Karamel yang sudah basah karena air mata.
"Hei ... kenapa kamu nangis?" tanya Leo ikut melepaskan topengnya juga.
"Mama," lirih Karamel membuat Leo speechlees, namun kaki Leo melangkah mendekati Karamel dan memeluk wanita itu.
"Maafin aku gak bisa nepatin janji aku buat nyelamatin semua anggota keluarga kamu, Kara." lirih Leo namun Karamel menggelengkan kepalanya.
"Bukan salah kamu tapi ini salah Henry sama Rega Ananda," sahut Karamel tergugu.
Leo terdiam dengan menepuk-nepuk pundak dan mengelus rambut Karamel, sehingga Karamel menjadi lebih tenang namun beberapa saat kemudian tiba-tiba Karamel terisak kembali.
"Vian, hiks ... hiks ...." gumam Karamel membuat tangan Leo berhenti bergerak dan jantungnya berdegup kencang.
Kenapa Kara memanggil nama kakaknya? —Fikir Leo mengernyitkan dahinya.
"Kara," panggil Leo lembut.
"Vian, kita salah menduga so'al Alex dan Grandma-Mama ... aku gagal menyelamatkan Grandma dan Mamaku, Vian." batin Karamel pada sang almarhum teman curhat dan tangan kanannya itu.
"Dulu atas perintah Rega Ananda, Alex membunuhmu dan kini anak kandungnya telah membunuh dua orang yang aku cintai," batin Karamel merasa terpukul.
"Kenapa harus terjadi pada orang-orang yang aku sayangi, Kenapa? Hiks ... hiks ...." isak Karamel membuat Leo semakin mengeratkan pelukan mereka.
"Kara, kamu harus ...."
"Aku mau bales perbuatan mereka, Leo, aku mau bunuh mereka." ucap Karamel sehingga Leo tersentak kaget akan permintaan Karamel
"Dulu kakak kamu—Vian meninggal gara-gara Alex terus sekarang Mama sama Grendma aku juga sama, dan Henry, dia ... dia yang bunuh Mama sama Grandma aku." isak Karamel sambil mempererat pelukannya.
Leo terdiam lama dengan kerutan di dahinya, ia tidak ingin Karamel melanggar komitmennya dengan sang kakak yang 'tidak boleh membunuh manusia' tapi apakah Karamel akan luluh jika ia memberikan saran lain?
__ADS_1
"Aku ataupun kamu gak ada yang boleh bunuh mereka, Kara." ucap Leo membuat Karamel terkejut dan langsung melepas pelukan mereka.
Apa ini? Bukankah kakaknya telah tiada karena mereka? Bukankah Leo ingin membalas dendam? Lalu kenapa Leo malah berubah fikiran untuk tidak membunuh mereka? — Fikir Karamel menatap wajah Leo yang begitu serius atas ucapannya barusan.
"Kamu gak mungkin lupa 'kan so'al Vian, dia di bunuh ...."
"Kamu harus tau Kara, kematian mereka bakal jadi angin berlalu yang kita gak tau apakah di alam baru mereka nanti, mereka bakal di siksa atas perbuatan jahat mereka atau malah di ampuni karena mereka di bunuh oleh rasa dendam kita." ucap Leo menatap netra Karamel sangat dalam.
"Tapi selagi mereka masih bernapas, penyiksaan dari kita bakal lebih buat hidup mereka menderita," ucap Leo lagi.
"Tapi mereka udah bunuh Vian, Grandma sama mama aku, Leo." sentak Karamel tidak terima akan keputusan Leo.
"Kematian mereka cuma bisa ngilangin jejak penyiksaan mereka doang, Kara" ucap Leo mencengkeram kedua bahu Karamel.
"Apa maksud kamu? Kematian adalah hukuman yang setimpal untuk mereka dapatin, Leo." sahut Karamel tidak mengerti dari perkataan Leo yang mungkin ada maksud tersendiri namun susah untuk ia pahami.
"Mereka bakal mati tapi bukan nyawa mereka ...."
"Jangan buat aku mikir panjang, bisa gak sih," sentak Karamel sangat kesal. Ya kali, otaknya di kira mesin google apa, bisa paham sama kata-kata Leo yang penuh makna ini dan itu.
"Dengerin baik-baik, Rega Ananda selalu percaya diri atas diri dia yang terus berdiri tegap di depan para anak buahnya, dan kita bakal buat Rega Ananda gak bisa berdiri tegap lagi." ucap Leo dengan sangat pelan, agar Karamel bisa paham dengan kata-katanya.
"Rega Ananda selalu merintah anak buahnya untuk ngelakuin kejahatan dengan cara mengangkat tangannya ke udara dan kita bakal buat tangannya mati rasa, biar dia gak bisa angkat tangannya lagi." ucap Leo lagi.
"Kamu paham sekarang?" tanya Leo.
Karamel menatap dalam manik mata Leo yang membuat debaran jantung keduanya berdegup dua kali lebih cepat, Karamel tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Jangan lupa juga tambahannya muka Henry yang selalu dia bangga-banggain, aku bakal buat rusak muka dia pake goresan-goresan belati kesayangan aku." ucap Karamel membuat Leo tersenyum miring.
"Semoga komitmen kamu sama kakak aku bisa kamu pegang selamanya." batin Leo berharap agar Karamel bisa menjaga komitmennya dengan sang kakak—Vian.
Leo sengaja tidak ingin membunuh Rega Ananda dan Henry karena Leo tidak mau Karamel melanggar komitmennya dengan sang kaka, biarlah mereka berdua melakukan kekejaman dengan menyiksa Rega Ananda dan Henry namun untuk membunuh, Leo tidak akan membiarkan Karamel melakukan itu.
"Aku akan berusaha membuat Karamel menjaga komitmen yang kalian berdua buat, Kak." batin Leo seakan-akan berbicara pada sang kakak.
.
.
__ADS_1
.
::: Bersambung :::