Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 182 — Visual Faza & Karamel


__ADS_3

Faza baru saja tiba di bandara Internasional Kuala Lumpur namun belum juga keluar dari bandara, Faza sudah mendapatkan pesan whatsapp dari seseorang.


Ara—ciwi bar-bar


Aza udah sampai di mana sekarang?


Sontak Faza tersenyum melihat pesan singat itu lalu Faza mengirim fotonya pada sang sepupu tercinta.



^^^Faza^^^


...Udah sampe dibandara, nih mau pulang ke home...


Ara—ciwi bar-bar


Oke hati-hati di jalan ya, maaf gak bisa nganterin ke bandara tadi


^^^Faza^^^


^^^Iya enggak apa-apa kok^^^


Ara—ciwi bar-bar


But lumayan senyuman lo, ganteng juga lo bang.


Faza tersenyum menggelengkan kepalanya lalu Faza hendak membalas pesan Karamel namun tiba-tiba Karamel lebih dulu mengirimkan sebuah foto padanya.


Faza membuka foto itu dan Faza tertawa kecil kala foto dirinya sebelum berangkat ke bandara tadi sore ada di tangan Karamel.



Ara—ciwi bar-bar


Pas banget kan bodyguard gue fotoin lo waktu senyum2 sendiri kayak orang gila 😆


^^^Faza^^^


^^^Dasar lo kurang kerjaan^^^


Ara—ciwi bar-bar


Bodo🤪 ohya udahan dulu ya Za, gue ada tamu soalnya, salam buat om sama tante bay bay.


Faza hanya membaca pesan Karamel lalu Faza melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah di siapkan Karamel untuk mengantarkannya pulang.


Di perjalanan menuju rumah sembari memejamkan matanya, Faza juga menyandarkan kepalanya di kursi jok belakang. Ingatan di mana para sahabatnya tadi bertanya siapa wanita yang sempat Faza incar, membuat Faza senyum-senyum sendiri.


Faza mengangkat kepalanya lalu Faza mengambil handphonenya dari saku bajunya, "Dia cewek yang hampir pernah gue incar," ucap Faza menatap foto Karamel yang dulu hampir pernah memikat hati seorang Faza



"Lo yang pertama, Ra!" gumam Faza menyebutkan Karamel adalah wanita pertama yang ada di hati Faza.


"Tapi gue tetap bersyukur lo jadi sepupu gue," tambah Faza mematikan layar handphonenya lalu menyandarkan kepalanya lagi.

__ADS_1


.....................


...Kediaman keluarga Mahendra—Jakarta)...


Karamel keluar dari kamarnya namun Karamel belum berniat untuk menghampiri mereka.


"Gue harus tau masalah mereka apa," gumam Karamel melangkah turun tangga.


Posisi duduk Kevin dan Rendi membelakangi tangga sedangkan Leo tepat di depan tangga, Leo melihat Karamel turun dari tangga mengenakan pakaian yang berbeda namun wajah Leo tampak merasa kesal karena Karamel memakai piyama berlengan pendek.


Karamel berdiri di belakang Kevin dan Rendi, "Ehem," tegur Karamel, sontak kedua laki-laki itu menoleh ke arah belakang mereka.


Kevin melebarkan matanya lalu Kevin berdiri menghadap Karamel, "Kara, lo-lo kenapa ...."


"Kenapa lo bisa di sini, Kar?" tanya Rendi meluruskan ucapan Kevin yang terbata-bata.


"Gue di sini karena Leo," sahut Karamel tersenyum tipis menatap Leo.


"Maksud lo?" tanya Kevin mengerutkan dahinya.


"Karamel istri gue, istrinya Cleo Rendra Agata yang sah di mata hukum dan agama," ucap Leo menegaskan bahwa Karamel adalah miliknya.


Pernyataan Leo, sontak membuat Kevin dan Rendi melotot tak percaya menatap Leo, Leo berdecih lalu Leo menatap Kevin.


"Karamel udah jadi istri gue," ucap Leo.


"Kara, bukannya lo istrinya Henry ya?" tanya Kevin menatap Karamel yang masih berdiri di tempatnya.


"Udah jadi mantan suami, Kak." ucap Karamel.


...................


...New York...


Setelah berminggu-minggu lamanya sibuk dengan urusan tugas-tugas perkuliahan, hari ini adalah hari senggang Firgy libur kuliah namun tidak dengan Abdi yang ada kelas siang.


Jam delapan pagi, Abdi menjemput Firgy di apartemennya. "Cape banget gue, tugas selalu banyak tiap harinya," keluh Firgy.


Abdi tersenyum melihat Firgy yang sekarang, dulu ketika Abdi mengenal Firgy, anaknya sangat dingin dan acuh tak atuh terhadap lingkungan sekitar.


Namun sekarang Abdi sudah berhasil membuat Firgy tidak sedingin dulu dan sekarang perempuan itu telah menjadi diri sendiri saat sedang berduaan dengan Abdi.


"Kalo cape kenapa mau gue ajak jalan?" tanya Abdi.


"Gue juga butuh refreshing badan biar gue gak jadi gila gara-gara mikirin tugas" sahut Firgy ketus.


"Bukannya lo banyak temen ya? Kenapa enggak have fun bareng temen-temen cewek lo aja?" tanya Abdi lagi.


"Gue 'kan deketnya cuma sama lo, yang lain mah cuma teman biasa doang." sahut Firgy membuat Abdi tersenyum tipis.


Abdi pun berdeham.


"Mau lebih dekat lagi enggak?" tanya Abdi menaik turunkan alisnya.


Firgy bukan perempuan yang polos, tentu Firgy mudah menangkap maksud dari ucapan Abdi barusan tapi apa dugaannya benar demikian?

__ADS_1


"Ehem! Nyetir yang benar, Di." ucap Firgy mengalihkan pembicaraan, dan Abdi tersenyum melihat reaksi Firgy yang menghindar dari pertanyaannya.


"Buat keselamatan lo, gue pasti nyetir yang benar kok." Abdi mulai menggoda Firgy.


"Parah, jantung gue baperan," batin Firgy


"Di, so'al Karamel sama Leo, entar malem kita ngomong baik-baik ya sama mereka." pinta Firgy mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa lo tiba-tiba bahas mereka?" tanya Abdi mengerutkan dahinya.


"Lo bilang Karamel sempat emosi gara-gara lo nyalahin Leo, gue kenal Karamel udah lama banget. Karamel enggak akan pernah asal-asalan buat bela orang lain, apalagi lo bilang Karamel sama Leo udah jadi suami-istri. Itu artinya Karamel yakin kalo tindakan Leo itu enggak salah," ucap Firgy memberi pengertian pada Abdi namun Abdi bergeming.


"Kalo gue di posisi Karamel, gue juga pasti bakal maafin dan mungkin juga gue bakal nikah sama cowok yang udah rela ngorbanin segalanya buat nyelamatin nyawa gue dan keluarga gue." tambah Firgy membuat detak jantung Abdi berdetak lebih cepat.


"Gue kecewa sama Leo!" seru Abdi datar.


"Gue juga kecewa sama lo," ucap Firgy pada Abdi.


"Kenapa gue?" sentak Abdi.


"Enggak," sahut Firgy setelahnya langsung bungkam.


Dua minggu yang lalu sebelum Abdi menceritakan tentang Karamel dan Leo, Firgy tidak sengaja mendengar pembicaraan Abdi dengan salah satu teman kampusnya di taman kampus.


Abdi mengatakan dirinya mencintai Firgy sejak mereka sekolah menengah atas, Abdi sudah dekat dengan Firgy tapi Abdi belum punya keberanian untuk menembak Firgy, sikap Firgy yang selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan saat Abdi menggombali Firgy membuat Abdi merasa Firgy tidak menykainya.


Abdi takut Firgy akan menolak cintanya dan kedekatan mereka selama ini akan hancur jika itu benar terjadi.


"Ya udah entar malam gue ke apartemen lo, kita ngomong baik-baik sama mereka!" ucap Abdi dan Firgy menanggapi dengan anggukan kepala.


..............................


...Kediaman keluarga Mahenda (Jakarta)...


Karamel duduk di samping Rendi, "Hubungan gue sama Henry udah enggak bisa di pertahanin lagi, udah enggak ada kecocokan lagi di antara kita berdua jadi gue mutusin buat cerai sama Henry." ucap Karamel sekenanya.


"Penjelasan kenapa gue bisa nikah sama Leo, itu karena kita berdua saling cinta." tambah Karamel.


"Karamel mantan pacar gue waktu SMA," timpal Leo membuat Kevin diam-diam mengepel tangannya.


Sesak dan sangat sakit mendengar dan melihat kenyataan bahwa Leo adalah suami Karamel.


Kevin bisa merelakan Karamel dengan orang lain namun kenapa takdir harus menunjuk Leo sebagai pendamping Karamel.


Kevin teringat akan setiap pertemuan keluarga besar Mahendra dan Zeferino, Kevin pasti akan bertemu dengan Karamel sebagai istri sepupunya itu.


Apakah Kevin bisa ikhlas? Entahlah Kevin tidak tahu, hatinya terpukul sekarang, dirinya ingin berteriak tidak terima Leo berbahagia dengan wanita yang ia cintai.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2