
Di lantai dua rumah itu Fico berdiri sembari tersenyum ke arah Karamel dengan sang kakak yang duduk di atas kursi roda dengan borgolan di tangan dan kakinya lalu di bungkam mulutnya menatap adegan Leo dan Karamel yang akan segera menikah.
Henry yang duduk di kursi roda memberontak ingin melepaskan diri, "Tidak Kara, aku mohon jangan lakukan ini." batin Henry menangis membalas tatapan Karamel.
"Percumah kau memberontak kak, manisku itu akan tetap menikah dengan pujaan hatinya. Dan kau, kau akan menjadi sampah untuk si manisku. Maka dari itu berhentilah memberontak dan saksikan saja pernikahan mereka." ucap Fico tanpa menatap sang kakak.
"Aku mencintaimu, baby girl. Kau tahu aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku mohon jangan menikah dengannya." batin Henry terus memberontak.
Dari bawah, Karamel terus menatap lekat ke arah Henry sampai Henry menggelengkan kepalanya sembari membatin, "Jangan nikahi dia, Baby girl. Aku mohon jangan!"
"Aku mencintaimu,"
"Baby girl, aku sangat mencintaimu,"
"Aku mencintaimu lebih dari apapun,"
"Aku sangat sangat sangat sangat sangat mencintaimu, Karamel Listra."
Bayangan-bayangan Henry yang mengucapkan kata-kata cinta pada Karamel kembali muncul di benak Karamel, rasanya Karamel ingin muntah karena mengingat cinta palsu Henry selama ini.
"Jika kau benar mencintai aku maka Kau akan lihat bagaimana aku, Karamel Listra membuatmu merasakan sakitnya di tinggalkan oleh orang yang kau cintai, Henry," batin Karamel mengepal tangannya menatap tajam pria yang ada di lantai dua itu, Leo mengikuti arah pandang Karamel lalu Leo menyentuh tangan Karamel yang terkepal sehingga Karamel memutus tatapannya dari Henry dengan beralih pandang menatap Leo.
Leo tersenyum pada Karamel, dengan gugup Karamel ikut tersenyum pada mantan pacar yang akan menjadi suaminya itu.
Sanjaya menjabat tangan Leo, "Ananda Cleo Rendra Agata bin Prasetya Mahendra, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandungku Karamel Listra Nasaji Aramoy binti Sanjaya Adi Sinaja dengan mas kawin berupa uang sebesar enam ratus sembilan puluh dua juta US dollar di bayar tunai." ucap Sanjaya menatap dalam mata Leo.
Henry semakin memberontak sembari menangis mendengar ijab kabul yang di ucapkan Sanjaya barusan.
"Tidak, Pah. Aku masih menjadi menantumu, kau tidak boleh menikahkan Karaku dengan laki-laki lain." isak Henry membatin
"Saya terima nikah dan kawinnya Karamel Listra Najasi Aramoy binti Sanjaya Adi Sinaja dengan mas kawin berupa uang sebesar enam ratus sembilan puluh dua juta US dollar di bayar tunai." dengan satu tarikkan napas Leo mengikuti ucapan Sanjaya, dan alhamdulillah pengucapan Leo berjalan lancar tanpa bengkok-bengkok.
Para saksi yang di undang berteriak 'Sah' begitu juga dengan Kenzi dan Faza yang sangat semangat meneriaki 'Sah' di mata hukum dan agama.
Degg! Tubuh Henry membeku saat mendengar teriakan para saksi yang mengatakan Karamel dan Leo telah sah menjadi pasangan suami dan istri, cintanya telah di miliki oleh pria lain, Henry tidak bisa menerima itu, dirinya menggelengkan kepalanya tidak percaya dan tidak terima.
"Tidak, ini tidak mungkin." batin Henry.
"Tidakkkkk .... Kara adalah milikku. Kau tidak boleh memilikinya Leo." pekik Henry dalam hatinya.
"Ememmm hemp mem emp ...." Fico mengernyit mendengar Henry yang bergumam tak jelas di kursi roda itu.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu, Kak?" tanya Fico menundukan kepalanya menghadap wajah Henry, wajah Fico menjadi datar.
"Fico lepaskan aku, aku harus menghentikan semua ini. Kara tidak boleh menjadi milik laki-laki bajing*n itu." batin Henry menangis.
"Hiks ... hiks ....!!!" Henry hanya bisa mengeluarkan isakan karena dirinya tidak bisa bicara pada adik kesayangannya itu. Fico menghela napas kasihan tapi Fico juga merasa benci dengan kakak yang ia bangga-banggakan ternyata ikut serta dalam membunuh kedua mommynya.
__ADS_1
"Sebelum kau mencintai si manisku, kau seharusnya tahu akibat dari kejahatan yang kau dan daddymu lakukan akan membuat si manisku terluka, Kakak. Tapi kau tidak perduli dengan semua itu hingga takdir menunjukan bahwa kau tidak pantas bersanding dengan si manisku." sengit Fico membuat Henry semakin terisak.
Fico menghela napas lagi, "Kau harus merelakan manisku, Kakak. Karena sebesar apapun usahamu untuk memperbaiki semuanya, kau tetap tidak akan pernah bisa untuk kembali lagi ke sisi si maniskku." ucap Fico penuh penekanan namun Henry menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau.
"Maafkan aku, Kara. Aku menyesal sudah membuatmu terluka. Seharusnya aku tidak mengikuti perintah Daddyku yang akan membuatku kehilangan dirimu." batin Henry menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku, Kara." batin Henry lagi.
...........
Setelah Leo dan Karamel menanda tangani beberapa dokumen penting, kini tamu undangan di persilahkan untuk mencicipi hidangan yang ada.
"Apa kamu haus?" tanya Leo membuat Karamel tersentak kaget karena dirinya melamunkan sesuatu.
"Eng-enggak," sahut Karamel tanpa menatap Leo, oh god! Tiba-tiba saja Karamel menjadi sangat gugup saat bicara dengan Leo yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
"Aku ambilin makanan ...." ucapan Leo terpotong.
"Enggak perlu, aku gak laper." tolak Karamel menunduk canggung, Leo mecicingkan matanya aneh dengan sikap Karamel.
"Ada apa Kara? Kenapa kamu enggak mau natap aku? Apa ada yang salah sama muka aku?" tanya Leo heran sambil kepala pria itu menunduk sedikit agar bisa menatap wajah Karamel yang menunduk.
Glukk! Karamel menelan salivanya karena sepertinya Leo menyadari gelagat Karamel yang menghindar dari tatapan Leo.
"Enggak ada," sahut Karamel masih setia menundukan kepalanya, Leo menggapai dagu Karamel lalu pria itu menariknya agar bisa bertatap muka dengan dirinya.
"Kenapa gue jadi nervous gini ya?" batin Karamel mengalihkan pandangan bola mata ke samping lalu memainkan jemari tangannya yang berkeringat. Leo menatap intens netra Karamel yang tempak gelisah membuatnya semakin tampan karena tatapan Leo pada Karamel benar-benar sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Kara" panggil Leo lembut.
Deggg ....
"Astaga astaga astaga, lo kenapa sih Kara. Jadi salting gini di hadapan Leo. Dulu aja lo berani banget sama dia, lah sekarang? Waktu udah jadi suami, kenapa gue jadi aneh gini. Nervousnya keterlaluan nih." batin Karamel tak karuan.
"Kara" panggil Leo lagi–membuat lamunan Karamel membuyar seketika.
"Iya kenapa?" ucap Karamel langsung menatap Leo. Deg! Meleleh 'kan jadinya saat menatap mata suaminya itu. Untuk beberapa saat mereka berdua saling tatap-tatapan sebelum Leo tersenyum tipis.
"Cantik, kamu kenapa! Hem?" tanya Leo menaik turunkan alisnya, Karamel terbelalak lalu Karamel mendorong tubuh Leo.
"I'm nervous," ucap Karamel jujur namun wajah wanita itu menampilkan kekesalan.
Leo terkejut dengan pengakuan Karamel, "Nervous?" batin Leo.
"Kamu Nervous karena udah nikah sama cowok seganteng aku ya?" tanya Leo dengan nada menggoda Karamel.
"Aku bilang nervous tapi bukan sama kamu." kata Karamel.
__ADS_1
"Bohong dikit nggak apa-apa kok, tapi jangan keseringan ya." ucap Leo membuat Karamel mengingat perkataan Leo yang sama dengan moment di mana mereka berdua bertengkar so'al cinta mereka saat masih sekolah menengah atas.
Karamel memberanikan diri untuk menatap Leo, "Aku mau ngasih kamu cerita tentang aku yang kehilangan kamu, apa boleh?" tanya Karamel tiba-tiba.
Leo tersenyum aneh, "Kamu mau cerita?" tanya Leo dan Karamel mengangguk pelan.
"Jadi maksudnya kita bakal lewatin malam pertama kita, terus aku cuma dengerin cerita kamu, gitu?" tanya Leo menaik turunkan alisnya.
Glukk! Karamel tersentak sembari menelan salivanya dengan susah payah, Kenapa Leo harus membuat suasana canggung di antara mereka sekarang.
"A-apa kamu keberatan?" tanya Karamel.
"Mungkin ...." perkataan Leo terpotong.
"Ehem, kamu pasti mau 'kab jadi bayi singa aku cuma untuk malam ini aja kok?" ucap Karamel dengan wajah memelas.
Leo terdiam menatap wajah penuh harapan Karamel yang begitu menggemaskan di mata Leo. Jika saja sekarang di tempat mereka tidak ramai tamu undangan, mungkin Leo sudah memeluk Karamel dengan menciumi setiap inci wajah menggemaskan istri tercintanya itu.
"Leo, Leoooo ....!" panggil Karamel melambaikan tangannya di depan wajah Leo.
Leo tersentak dari lamunannya, "Em Ya," ucap Leo spontan.
"Kamu lagi mikirin apa?" selidik Karamel menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak, bukan apa-apa." ucap Leo.
"Bohong," sengit Karamel menyipitkan matanya.
"Beneran mau tau, apa yang aku fikirin barusan?" tanya Leo dengan tatapan nakal.
"E em, enggak ... aku udah enggak penasaran." ucap Karamel sudah menebak apa yang di fikirkan Leo pasti menyangkut hal-hal aneh.
"Beneran?"
"Em,"
"Oke, malam ini aku bakal jadi bayi singa kamu, istriku tercinta." ucap Leo menekan kata 'istri tercinta' di akhir kalimatnya
Leo sungguh bahagia karena sekarang Leo bisa memanggil Karamel dengan panggilan 'Istriku' begitu juga dengan Karamel yang tersenyum bahagia mendengarnya, Karamel menatap Leo dengan wajah sumringah karena Leo juga selalu mengerti dirinya.
.
.
.
::: Bersambung :::
__ADS_1