
"Dia adalah K-King," ucap Karamel.
"Kenz? Mereka musuh Kenzi?" tanya Leo di balas anggukkan kepala Karamel.
"The Black Tongue yang nyekap aku sama Justin udah di bunuh sama Kak Kenzi." ucap Karamel mengusap air mata Leo.
"Kamu thu siapa pimpinan geng itu?" tanya Karamel dan Leo mengangguk.
"Orang itu pernah ketemu sama aku di depan kantin bie'em." ucap Karamel dan lagi-lagi Leo menganggukkan kepalanya.
"Dia berasal dari blasteran Indonesia dan China, namanya adalah Zayn Xi Qinglichen." ucap Leo dan Karamel menganggukkan kepalanya.
"Dia enggak tau identitas aku sama Kak Kenzi makanya kita berdua Kak Kenzi enggak mempersulit hidup dia," ucap Karamel.
"Aku yang akan balas dendam ...."
"Untuk apa berurusan sama dia? Kalo bukan mereka yang memulai, aaik aku, Kak Kenzi maupun kamu, enggak ada yang boleh bertindak," pinta Karamel karena sudah merasa lelah menghadapi peperangan ini dan itu.
"Kara, maafin aku! Waktu itu harusnya aku lebih dulu kenal sama kamu." lirih Leo.
"Jangan ngomong kayak gitu, semua sudah jadi masa lalu, sekarang aku 'kan ada kamu," sahut Karamel merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Leo.
..........................
Di luar rumah sakit, pergelangan tangan Niky merasa sakit karena cengkaraman kuat dari Diky namun rasa senang karena Diky menggenggam tangannya mengalahkan rasa sakit pergelangan tangannya.
Diky menarik tangan kuat tangan Niku dan memojokkannya dinding sehingga ringisan Niky terdengar jelas.
"Ada hubungan apa lo sama Dito! Hah?" tanya Diky menatap dalam manik mata Niky.
Degg! Untuk pertama kalinya Niky merasa takut dengan aura keseriusan Diky, tatapan yang sangat dalam hingga menusuk ke dalam ulu hatinya.
"Gu-gue enggak punya hubungan apa-apa sama Dito," sahut Niky membuat Diky mengerutkan dahinya.
"Backstreet," ucap Diky membuat Niky membelalakkan matanya.
"Enggak, gue sama Dito enggak backstreet," bantah Niky dengan nada nyolot.
"Kapan jadiannya?" tanya Diky sinis.
"Lo apaan sih, gue bilang enggak ada hubungan apa-apa juga sama dia," bentak Niky.
"Terus kenapa tadi pagi lo ketemuan sama Dito di cafe Gourmet! Hah?" sentak Diky.
"Enggak ada urusannya sama lo," sengit Niky kesal dengan tingkah Diky yang tiba-tiba membentak dirinya. Gila kali tu orang!
"Gue udah tau jawabannya sekarang. Be*o, be*o be*o !!" sentak Diky memukul-mukul dinding di samping Niky.
"Diky lo apa-apaan sih, gila lo ya mau nyelakain diri lo sendiri." bentak Niky menghalangi tangan Diky agar tidak memukul dinding lagi.
"Pergi lo dari hadapan gue, jangan pernah lo muncul lagi, pergi!" usir Diky membuat Niky terkejut.
"Diky, lo ...."
"Gue bilang pergi lo dari hadapan gue sekarang," usir Diky semakin keras.
"Persetan sama rasa malu gue sendiri," sentak Nik tidak tahan dengan sikap aneh Diky.
"Apa lo enggak pernah suka sama gue? Di dekat gue, apa lo enggak pernah ngerasa gugup. Sekalipun lo natap mata gue, apa jantung lo enggak pernah berdetak kencang. Di saat lo nyentuh gue, apa lo enggak ngerasa bahagia?" tiba-tiba Niky berbicara so'al perasaan.
"Waktu pertama kali kita ketemu, gue emang ngerasa risih karena lo genitnya keterlaluan banget tapi seiring berjalannya waktu gue ngerasa nyaman bahkan gue pengen lo jadi milik gue. Iya mustahil, gue tau perasaan gue enggak akan terbalaskan karena apa? Itu karena gue tau lo dekat sama cewek tapi lo enggak pernah tertarik buat serius sama mereka." bentak Niky.
"Maaf udah pendam perasaan suka dan cinta sedalam ini, gue janji bakal hilangin perasaan ini tapi gue mohon sama lo jangan benci sama gue. Gue mohon Dik." lirih Niky menundukkan kepalanya dan hendak melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Ikut gue," sengit Diky langsung menarik tangan Niky kasar.
Diky mengajak Niky ke parkiran mobil lalu Diky menarik tangan Niky hingga tepat berdiri di salah satu mobil ferrari, Diky membuka pintu belakang lalu Diky menyuruh Niky untuk masuk.
"Masuk," titahnya dingin.
Setelah Niky masuk, Diky ikut masuk dan menutup pintu bahkan menguncinya juga.
__ADS_1
"Lo mau apa?" tanya Niky was-was.
"Lo suka sama gue?" tanya Diky membuat tubuh Niky menegang seketika.
Apakah Diky marah? Atau Diky akan memukulnya? Astaga Niky merasa hidupnya akan berakhir sekarang. Oh tidak, dirinya bisa melawan jika Diky memang akan memukulnya nanti.
"Gue ... maafin gue, gue pasti bakal berusaha buat hilangin perasaan gue ...."
Brakk! Memukul kepala jok mobil.
"Setelah lo ngungkapin perasaan lo ke gue, lo bilang lo mau langsung ngilangin perasaan lo? Segampang itu!?" sentak Diky.
"Gue enggak tau harus apa tapi ... kenapa lo kayak gini? Kenapa lo bentak-bentak gue mulu?" tanya Niky heran.
"Sejak kapan lo suka sama gue?" tanya Diky tiba-tiba nada suaranya menjadi lembut membuat detak jantung Niky berdegup sangat kencang.
Niky menggelengkan kepalanya.
"Diky gue mohon maafin gue, gue manusia biasa yang punya namanya perasaan suka dan cinta. Gue enggak pernah ngira bakal suka sama lo jadi gue mohon maafin gue." pinta Niky mengatupkan kedua tangannya.
Ctakk! Diky kesal dan menjitak kening Niky,
"Gue butuh jawaban dari pertanyaan gue bukan permohonan maaf lo," ucap Diky.
"Sejak kapan lo suka sama gue?" tanya Diky lagi, kini nada suara Diky lebih tegas dari sebelumnya.
"Waktu kelas dua belas, gue pernah izin satu bulan ke California." sahut Niky menurunkan pandangannya ke bawah.
"Selama gue pergi gue selalu ngelamun, dan bayangan muka lo, tingkah konyol lo sama kegenitan lo pasti muncul di benak gue. Setelah sadar dari lamunan, gue tiba-tiba marah dan terus-terusan nanya sama diri gue sendiri, kenapa gue ngelamunin lo? Kenapa harus bayangan muka lo? Kenapa gue ngerasa sedih? Kenapa juga gue harus ngerasa ada yang kurang di hidup gue? Kenapa, kenapa dan kenapa." jelas Niky menerawang jauh ke ingatannya yang dulu.
"Sepupu gue, namanya Nanda. Dia bilang itu cinta, gue lagi ngerasain jatuh cinta sama seseorang tapi gue selalu nyangkal itu, gue bilang itu bukan cinta tapi itu cuma perasaan kesepian aja karena biasanya gue selalu di buat kesel dan marah sama lo tapi saat itu lo enggak ada jadi gue kesepian deh." lanjut Niky.
"Sampai akhirnya empat hari lagi waktu gue di California, gue lihat postingan salah satu murid cewek dari sekolahan lain ... di situ ada elo yang lagi senyum sama dia, namanya Dhea deh kalo enggak salah dan gue ...." Niky menggantung perkataannya dan langsung menatap Diky yang sejak tadi pandangan mata Diky tidak lepas dari wajah Niky.
"Apa?" tanya Diky.
"Gue malu, Dik," ucap Niky membuat Diky mengerutkan dahinya aneh.
"Malu buat lanjut cerita," sahut Niky.
"Gue mau dengar semuanya, lanjut aja," titah Diky.
Niky tampak ragu, bagaimana jika Diky menertawainya? Bagaimana jika Diky mengejeknya? Atau bagaimana jika Diky malah merasa ilfil dengannya?
"Kenapa? Apa karena liat postingan itu lo jadi nangis?" tanya Diky dengan raut wajah sedih membuat jari-jari Niky semakin gencar bergerak gelisah. Tanpa di duga Diky langsung menarik Niky jatuh ke pelukkannya.
"Maaf udah buat kamu nangis, postingan itu bukan aku yang minta tapi dia yang mohon-mohon sama aku, percaya sama aku. Aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia." ucap Diky membuat Niky terpaku akan panggilan Diky yang berubah menjadi 'Aku–kamu'
Niky memejamkan matanya dan Niky bisa merasakan detak jantung Diky sama persis dengan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat. Apakah Diky merasakan hal yang sama dengan dirinya? Atau ini hanya efek interaksi tubuh yang berpelukan dengan perempuan? Diky oh Diky, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, Niky sungguh penasaran di buatnya.
Tringg! Handphone Niky berdering membuat pelukkan keduanya terlepas oleh Niky.
"Sorry, gue angkat telepon dulu," ucap Niky gugup.
"Halo,"
"Di mana lo? Kara nyariin lo nih," ucap Dito.
"Oh, oke oke gue ke sana sekarang," ucap Niky membuat Diky mengerutkan dahinya penasaran siapa yang menghubungi Niky.
"Siapa yang nelepon?" tanya Diky.
"Dito," sahut Niky membuat Diky mengeraskan rahangnya, cemburu dia.
"Kara nyariin gue," ucap Niky melirik Diky sehingga Diky mengangguk sekali lalu Niky hendak keluar dari mobil.
"I love you," ucap Diky membuat Niky tersentak kaget dan urung membuka pintu mobil.
Niky ingin membalikkan badannya namun baru saja bergerak sedikit, Diky sudah lebih dulu mendekap tubuh Niky dari belakang.
"Waktu kamu izin pergi ke California, aku juga ngerasain hal yang sama, aku enggak pernah segitu berlebihannya ngebayangin cewek manapun juga, hari itu adalah kali pertama buat aku ngebayangin kamu. Kamu satu-satunya yang bisa ganggu fikiran aku." ucap Diky tepat di telinga kiri Niky.
__ADS_1
"Aku emang pengecut cuma bisa pendam semua perasaan suka aku ke kamu, sebelum aku mau nembak kamu, aku udah takut di tolak duluan karena ini kali pertama buat aku punya perasaan cinta sama cewek." tambah Diky membuat Niky diam-diam tersenyum senang dan malu juga.
"Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, Niky Gasena Wilson." ucap Diky serius lalu ia membalikkan tubuh Niky menghadap dirinya.
"Apa kamu bersedia mencintai dan menyayangi seseorang yang juga cinta sama kamu, Niky?" tanya Diky membuat detak jantung Niky berdegup sangat kencang.
"Aku cinta sana kamu bukan cuma kata-kata tapi aku cinta sama kamu ...." Diky menggantung perkataannya.
"Dengan setulus hati aku, kamu mau 'kan tunangan sama aku," ucap Diky mengeluarkan sebuah kalung membuat Niky terkejut.
"Tu-tuangan?" beo Niky menutup mulutnya dengan kedua tangannya kaget.
"Aku enggak mau pacaran sama kamu tapi aku pengen kamu langsung jadi istri aku yang juga bakal jadi ibu dari anak-anakku nanti," ucap Diky serius.
"Tapi tunangan ... kita harus ngomongin semua ini sama keluarga ...."
"Setelah kamu nerima aku, aku sama keluarga aku bakal pergi nemuin keluarga kamu di California, aku bakal ngelamar kamu secara resmi di sana." potong Diky.
Niky terharu Diky ingin melamarnya, air mata sudah tidak bisa di bendung lagi, Niky menangis bahagia kala Diky ingin langsung menjadikan dirinya sebagai pasangan hidupnya.
"Ini bukan mimpi 'kan?" tanya Niky.
Diky menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu berharap ini semua cuma mimpi?" goda Diky membuat Niky semakin deras tangisannya.
"Ayolah! Bukannya kamu bahagia, kenapa kamu malah nangis hem." ucap Diky mengusap lembut kedua pipi Niky yang basah.
"Diky, aku cinta sama kamu." isak Niky entah kenapa air matanya tidak mau berhenti mengalir.
"Hei, aku juga cinta sama kamu bahkan cinta aku selamanya cuma buat kamu seorang." ucap Diky memeluk Niky erat
Beberapa menit berlalu suara tangisan Niky sudah mulai mereda namun Diky enggan untuk melepaskan pelukan mereka.
"Jadi gimana? Kamu mau 'kan tunangan sama aku," tanya Diky mengelus rambut Niky.
"Kamu mau denger jawaban aku?" tanya Niky.
"Iya dong ...."
"Iya, aku mau," ucap Niky langsung sehingga Diky pun merasa senang dan memeluk erat Niky
"Akhirnya do'a gue selama ini terkabul juga," batin Diky sangat bersyukur karena do'anya setiap malam untuk di dekatkan dengan jodohnya akhirnya terkabulkan juga, dan tentunya calon jodoh yang selalu Diky sebut adalah Niky.
..............................
"Ke mana sih tu dua umat manusia, di cariin juga, enggak tau batang hidungnya ada di mana sekarang." celoteh Adit celingak-celinguk mencari keberadaan Diky dan Niky.
Beberapa menit Dito menghubungi Niky, Karamel tidak sabaran ingin Niky cepat-cepat menghampirinya alhasil Karamel meminta Adit untuk mencari keberadaan Niky di luar rumah sakit.
"Aih! Nyusahin aja kerjaannya," kesal Adit menendang botol aqua ke sembarang tempat.
"Aw!!!" ringisan keras seorang perempuan membuat Adit terkejut kala botol yang ia tendang barusan, mengenai tepat di bagian kening perempuan itu.
"Anj*r, cewek tomboy." dersis Adit menelan salivanya dengan susah payah.
Adit membalikkan dan hendak kabur, "Mau kabur ke mana lo! Hah?" seketika tubuh Adit menegang kala suara bentakan perempuan itu berada tepat di telinga sebelah kirinya.
"Inalilahi wainalilahi rojiun, gue ucapin selamat tinggal buat dunia ini." batin Adit berserah diri
"Anj*r, mana mau gue mati sekarang woy," pekik Adit dalam hatinya tidak jadi pasrah.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
Ada enggak cowok kayak Diky? Yang enggak suka pacaran tapi pengen langsung nikah?
__ADS_1